
Sementara itu Zea yang beberapa saat lalu berjalan dengan tergesa-gesa setelah mengambil tote bag miliknya di loker karyawan, masih mengingat pandangan tidak menyenangkan serta cibiran dari karyawan lain menghiasi kepergiannya.
Kini, ia sudah berada di luar perusahaan dan berjalan menyusuri trotoar dengan wajah murung.
"Apa yang harus aku katakan kepada ibu?" keluh Zea sembari menyusuri jalan menuju ke rumahnya.
Ia berencana untuk berjalan kaki karena sambil berusaha menenangkan pikiran. Meskipun ia tahu mungkin kakinya bisa patah karena berjalan jauh.
Sepertinya tidak cukup semua penderitaan yang dialaminya selama ini, hingga harus ditambah dengan dipecat dari pekerjaan pertamanya. Harus ia akui semua itu karena kesalahannya. Akan tetapi, saat ini ia sangat membutuhkan uang.
Setelah kepergian ayahnya, ia berpikir harus bekerja dan melakukan apapun yang bisa menghasilkan uang.
Rencananya adalah sebagian besar penghasilannya akan ditabung karena semangatnya untuk menuntut ilmu belum padam. Bahkan, jika memungkinkan, Zea ingin kuliah sambil bekerja.
"Semangat, Zea! Ini bukan akhir dari segalanya!" teriak Zea kencang mengepalkan kedua tangan ke udara.
Ia mengucapkan afirmasi positif agar semangatnya tetap terjaga.
Zea memutuskan untuk berjalan menuju taman yang tidak jauh dari rumahnya. Sekedar menjernihkan pikiran dan perasaannya.
***
Di lain sisi, terlihat tiga orang pria bertubuh besar mendatangi sebuah rumah mewah dengan halaman cukup luas. Dari wajah keduanya, mereka tampak seperti preman.
"Betul di sini alamatnya?" tanya salah satu di antara pria yang berpenampilan lebih rapi.
"Betul, Bos!" jawab pria dengan pakaian tanpa lengan dan bertato.
Mereka memasuki pekarangan rumah dengan santai. Pria bertato memukul pintu beberapa kali, tetapi tidak ada jawaban.
"Bagaimana, Bos? Apa yang harus kita lakukan?"
Pria bertato itu baru saja akan menggedor pintu lagi saat suara wanita yang baru saja turun dari taksi online mengalihkan atensi mereka.
"Ma, salon yang tadi enak banget, ya? Aku sudah lama enggak ke salon, badanku jadi lengket semua," ucap Aurora senang sembari mengusap lembut tangan dan wajahnya.
"Iya, Mama setuju sama kamu. Enggak salah rekomendasi teman arisan. Bulan depan, kita ke sana lagi, Sayang," ucap Reni dengan wajah berbinar karena merasa jauh lebih fresh setelah melakukan perawatan wajah dan rambut di salon bersama putrinya.
Aurora mengangguk senang mendengar perkataan sang ibu. Tentu saja ia sangat senang karena bisa melakukan perawatan di salon kecantikan yang sering didatangi oleh orang-orang kaya.
"Tapi, bagaimana dengan uangnya, Ma?" Aurora terhenti setelah memikirkan keuangan mereka yang sangat mengkhawatirkan.
Ya, sepeninggal Abraham, keluarga mereka memang kehilangan sosok kepala keluarga dan sumber keuangan. Beberapa peninggalan sang ayah telah dijual untuk kebutuhan sehari-hari.
Bahkan, mobil mendiang ayahnya dan mobil Aurora pun digadaikan. Sementara, uang pesangon dari perusahaan juga sudah menipis.
Semua itu karena kebiasaan Reni dan Aurora yang terlanjur terbiasa dengan kemewahan. Mereka pun memiliki kebiasaan melakukan perawatan mahal di salon dan shopping barang-barang branded.
Reni bahkan masih sering berkumpul dengan geng ibu-ibu sosialitanya. Perkumpulan yang saling memamerkan harta dan kekayaan.
"Itu, sih, gampang, Sayang. Suruh saja si Zea kerja keras, nanti kita yang nikmati hasil kerjanya." Reni terbahak-bahak mendengar ide brilian yang dipikirkannya dan putrinya pun ikut tertawa.
"Sepertinya perawatan mahal di salon itu memang bagus, ya," ujar pria dengan tubuh kekar dan wajah sangar untuk menyadarkan ibu dan anak yang tadi tidak menyadari kedatangannya.
"Iya, memang be ... nar," jawab Reni dengan suara yang semakin lirih pada akhir kalimatnya.
'Ah, mampus! Bagaimana mereka bisa ke sini? Aku belum punya uang lagi!' batin wanita itu cemas.
"Loh, kok, diam? Tadi aja ngobrolnya seru sekali," ujar si pria bertato menimpali.
"Ke-kenapa kalian ke sini?" tanya Reni sembari melangkah mundur, sedangkan Aurora berlindung di balik tubuh ibunya.
"Mereka siapa, Bu? Kok, seram banget." Aurora memegang erat lengan ibunya. Aurora benar-benar sangat terkejut dan ketakutan sekarang melihat dua pria berbadan besar datang ke rumah.
Sementara itu, sang bos tersenyum menyeringai, memandang ke arah wanita di hadapannya.
"Kalau kamu bayar utangmu, kami tidak akan repot-repot datang ke sini mencarimu. Bukan hanya tidak membayar utang, kamu bahkan mengabaikan telepon dariku."
Aurora membulatkan matanya mendengar hal itu. Selama ini ia berpikir keuangan mereka hanya sedang krisis, tetapi nyatanya jauh lebih sangat mengkhawatirkan.
"Mama pinjam uang ke rentenir?" tanya Aurora masih tidak percaya.
"Kamu benar, Nak. Ibumu memiliki hutang sebanyak 200 juta kepadaku. Apa kamu mau melunasinya?" Si bos melangkah mendekati Aurora.
Namun, Reni menghadang dengan merentangkan kedua tangan dan menyembunyikan Aurora di balik tubuhnya.
"Kenapa pinjam uang sebanyak itu, sih? Buat apa?" bisik Aurora tepat di belakang telinga ibunya.
"Itu semua juga karena kamu. Kan, kamu yang mau jalan-jalan dan shopping."
Aurora merasa kesal karena ibunya menuduh semua karena dirinya. Padahal ibunya pun turut andil menghabiskan uang itu.
"Kalian banyak omong! Enggak usah bisik-bisik dan cepat bayar utang kalian!" Hardik si bos garang karena sudah kehilangan kesabaran.
Reni dan Aurora menutup mata karena ketakutan. Kaki mereka seolah-olah kehilangan tenaga.
"Kami pasti membayarnya. Aku janji!" Reni menjawab masih dengan memejamkan mata.
Si bos mendengkus kesal melihat hal itu lalu berkata, "Hei, jangan memejamkan mata seperti itu! Jika ada yang melihat, mereka akan salah paham bahwa aku berbuat jahat kepada kalian. Padahal aku hanya mau menagih uang milikku yang kalian pinjam."
Sontak Reni dan Aurora membuka mata mereka. Namun, setelah membuka mata, melihat pria dengan wajah seram itu semakin mendekat dan mengikis jarak di antara mereka.
"Jika kau bohong, aku akan merusak wajah cantik kalian!" ancam pria itu dengan meletakkan pisau lipat di dahi Reni. Lalu, perlahan menggerakkannya ke bawah hingga ke dagunya.
Reni sangat ketakutan sekarang. Bahkan, untuk sekedar menelan salivanya terasa sangat sulit.
"Ba-baik, Bos," ucapnya gemetaran.
Bahkan kini terlihat biji-biji peluh sudah menghiasi wajahnya yang mulus setelah perawatan di salon yang menghabiskan banyak uang beberapa saat lalu.
"Bagus! Satu minggu lagi, aku akan datang untuk mengambil uangku. Mengerti?" sarkas sang bos dengan tatapan tajam penuh kilatan api.
Sementara itu, Reni dan Aurora terlihat hanya mampu menganggukkan kepala mereka.
Hanya dengan satu gerakan tangan dari sang pemimpin, pria kekar yang berdiri di dekat pintu berjalan mengikutinya.
Setelah langkah kaki para penagih itu tidak terdengar lagi, tubuh Reni dan Aurora luruh ke lantai. Sejak tadi mereka telah kehilangan tenaga, tetapi sekuat tenaga menopang tubuh agar tidak terjatuh.
Kini mereka bisa bernapas lega meski hanya untuk sesaat. Secepatnya harus memutar otak untuk mendapatkan uang sebesar itu dalam waktu satu minggu.
'Apa yang harus kulakukan? Aku sudah tidak mempunyai uang lagi,' gumam Reni yang saat ini mendengar suara dari Zea saat baru pulang dan langsung mendapatkan sebuah ide brilian di otaknya.
'Kebetulan sekali gadis tidak berguna itu datang. Sekarang, hanya dia yang bisa menyelesaikannya masalah ini. Aku bisa menjualnya pada pejabat yang merupakan kenalan dari temanku,' gumam Reni yang saat ini bernapas lega karena sudah menemukan jalan keluar dari permasalahan besar yang dialami.
To be continued...