Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Menyerah mengejar jodohku



Khayra sudah tiba di restoran yang menjadi tempat pertemuan dengan para rekan bisnis sang kakek yang berada di New York bersama dengan asisten pribadi di sebelah kirinya. Ia perasaannya dengan penampilannya serta kuliah paruh baya di sampingnya tersebut.


"Om, apa ini tidak berlebihan? Kenapa harus memakai setelan formal saat hanya akan makan malam? Ini bukan membicarakan tentang bisnis, kan? Rekan bisnis kakek hanya ingin bertemu dengan cucu rahasia yang selama ini tidak diketahui, kan?" Khayra bahkan mengamati penampilannya yang memakai gaun indah panjang berwarna hitam yang dikenakannya.


Ia pun beralih menatap ke arah sosok pria paruh baya yang mengenakan setelan jas lengkap berwarna hitam juga.


"Anda akan mengetahui alasannya sebentar lagi," ucap sang asisten yang tidak ingin menjelaskan panjang lebar karena semenjak dalam perjalanan tadi gadis muda tersebut selalu bertanya mengenai perihal gaun yang diberikannya.


Padahal yang sebenarnya adalah gaun tersebut diberikan oleh sosok pria yang tadi berbicara dengannya untuk meminta bantuan akan melamar malam ini di depan para rekan bisnis atasannya.


Ia tidak mungkin mengatakan semuanya dan memilih untuk menjawab singkat, selalu berjalan menuju ke arah ruangan private yang berada di sudut sebelah kiri dan ditunjukkan oleh waiters.


Tidak ada pilihan lain dan tidak ingin terlihat cerewet, akhirnya khayra hanya mengikuti apa yang didengarnya dan tidak mengungkapkan ada protes lagi.


Meskipun sebenarnya masih merasa tidak puas dengan jawaban dari sang asisten pribadi sang kakek, tapi berusaha untuk menghilangkan sesuatu hal yang dianggap sangat aneh di pikirannya.


Kemudian ia melangkah masuk ke dalam ruangan yang baru saja dibuka pintunya oleh waiters. Hingga ia seketika mengerjakan mata begitu melihat dekorasi di ruangan private tersebut dipenuhi oleh bunga mawar.


"Apa ini?" ucapnya sambil menatap ke arah semua orang yang kini berdiri dari kursi yang diduduki begitu melihat kedatangannya bersama dengan sang asisten.


Ia yang saat ini masih merasa bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, seketika membekap mulut begitu melihat sosok pria yang baru saja membuka pintu yang tadi ditutup oleh waiters.


Khayra melihat sosok pria yang tak lain adalah Aaron terlihat sangat tampan dengan setelan jas berwarna hitam seperti orang-orang yang ada di ruangan tersebut tengah membawa buket bunga mawar merah dan berjalan mendekatinya.


"Tuan Aaron?" lirihnya yang bahkan tidak pernah berpikir jika pria yang baru saja berlutut di hadapannya tersebut akan memberikan kejutan saat itu juga di depan orang-orang dan tentu saja membuatnya merasa sangat terharu sekaligus malu.


Aaron saat ini tersenyum simpul melihat raut wajah terkejut dari wanita yang akan dilamarnya secara resmi di depan semua orang untuk mengungkapkan keseriusannya. Ia yang tidak membuang waktu langsung berlutut sambil memberikan buket bunga mawar serta cincin yang berada di tangan kanan dan kiri.


"Aku ingin mempunyai hubungan yang tak pernah berakhir dan aku berharap itu hanya sama kamu, Anindya. Meskipun namamu sekarang berubah menjadi Khayra, tapi bagiku, kamu tetaplah Anindya-ku. Will you marry me?" ucap Aaron yang masih dalam posisi berlutut sambil membuka kotak berisi cincin berlian yang selama ini disimpannya.


Sementara itu, Khayra yang masih merasa sangat terkejut sekaligus terharu dengan perasaan bergejolak dan bahkan bola matanya berkaca-kaca melihat apa yang dilakukan pria di bawahnya tersebut.


Ia yang belum mengeluarkan suara untuk menjawab lamaran resmi dari pria yang selama ini dicintai, bisa mendengar suara tepuk tangan dari semua orang.


"Terima ... terima ... terima!" sahut semua orang yang berada di ruangan dan menjadi saksi bisu atas sikap romantis serta gentleman dari sosok pria yang melamar di depan mereka tanpa merasa malu dan menunjukkan ketulusan pada wanita yang dicintai.


Khayra bahkan saat ini sudah berkaca-kaca dan tidak bisa menahan bulir air mata yang mewakili kebahagiaan tidak terperi dirasakannya, sehingga membuatnya menyamakan posisi dengan berlutut di hadapan Aaron.


Ia tidak memperdulikan daun wajah terkejut dari Aaron dan seketika memberikan jawaban dengan mengulurkan telapak tangannya untuk menyerahkan jarinya agar dipasangkan cincin berlian yang berkilauan di hadapannya.


Namun, ia tidak jadi melakukannya karena melihat wanita yang sangat dicintainya tersebut menggelengkan kepala dan memberikan kode ketika menatap ke arah jari yang diulurkan padanya.


"Apa kamu ingin aku berubah pikiran?" seru Khayra yang saat ini memberikan kode agar segera dipasangkan cincin indah itu di jari manisnya. Bahkan ia merebut bunga mawar yang berada di tangan Aaron akan memudahkan memasangkan cincin.


Refleks Aaron seketika menggelengkan kepala dan buru-buru mengambil cincin yang berada di kotak berbentuk hati tersebut. Kemudian ia langsung memasangkan pada jari manis lentik itu dan kini semakin terlihat cantik setelah memakainya.


"Cantik," ucap Aaron yang saat ini berbinar wajahnya karena dipenuhi oleh kebahagiaan karena usahanya berhasil untuk membuat sosok wanita yang diperjuangkannya mau menerimanya dan benar-benar melihat ketulusannya.


"Terima kasih karena telah mempercayaiku untuk menjadi suami dan ayah untuk Kenzie. I love you." Aaron yang saat ini melihat Anindya hanya mengganggukkan kepala dan tersenyum dengan bola mata yang masih berkaca-kaca, sehingga membuatnya langsung menghapus bulir air mata yang mewakili kebahagiaan itu dengan ibu jarinya.


"Aku ingin menciummu, tapi tidak tega karena melihatmu menangis seperti ini." Saat baru saja menutup mulut, mendapatkan cubitan di lengannya dan membuatnya meringis menahan rasa nyeri.


"Dasar!" Khayra yang saat ini mengerucutkan bibir karena merasa pria di hadapannya sangat nakal dan tidak tahu malu di depan semua orang.


"Iiish ... sakit, Calon istri." Aaron yang baru saja lengannya akibat cubitan yang meninggalkan rasa panas, mendengar suara dari para pria paruh baya yang dianggapnya berada di pihaknya.


"Cium ... cium!"


"Kapan kami bisa melihat hal yang jauh lebih romantis?" ucap salah satu pria paruh baya dengan rambut memutih yang berada di balik meja.


Aaron seketika membentuk simbol oke dengan mengarahkan jari telunjuk dan ibu jari. Hingga saat ia hendak mencium bibir Anindya, tidak jadi melakukannya begitu melihat tatapan tajam.


"Ini kalau berani!" sarkas Khayra yang saat ini langsung bangkit berdiri. Kemudian mengungkapkan apa yang terlintas di pikirannya.


"Aku memang menerima lamaranmu, tapi bukan berarti kita menikah dalam waktu dekat karena aku masih memikirkan keadaan kakek yang akan dipindahkan ke sini untuk perawatan. Aku harap kamu mengerti dan tidak keberatan dengan keputusanku." Khayra tidak ingin Aaron salah paham dan berharap bisa mengerti.


Aaron yang kini bangkit berdiri, memang sudah menduga jika jawaban Anindya akan seperti itu. "Ya, aku tahu itu. Aku ingin mengikatmu karena you're mine. Aku ingin menunjukkan pada dunia jika kamu hanya milikku dan juga agar pria selenge'an itu tidak mengejarmu lagi."


Khayra seketika terkekeh geli melihat raut wajah menggemaskan yang menunjukkan kecemburuan ketika pria di hadapannya membicarakan tentang Erick.


"Maksudmu Erick? Tenang saja karena aku sudah menolaknya dan dia sepertinya sudah menyerah mengejarku karena sangat lelah tidak diterima dari pertama sampai sekarang." Kemudian ia berbalik badan dan memilih untuk menyapa rekan bisnis dari sang kakek.


Sementara itu, Aaron yang merasa sangat terkejut atas apa yang baru saja didengarnya, seketika kembali merasa lega dan berbinar wajahnya karena berpikir jika tidak mempunyai saingan lagi.


"Alhamdulillah. Akhirnya bocah selenge'an itu sadar dan memilih untuk menyerah mengejar jodohku," seru Aaron yang kini sudah menghiasi bibirnya dengan senyuman lebar dan menghampiri calon istri yang tengah menyapa semua orang.


To be continued...