
Sepanjang perjalanan menuju ke restoran, Zea selalu terngiang kata-kata dari pria di balik kemudi tersebut yang menyatakan bahwa ia dan pria itu tidak mungkin bisa bersama walau apapun yang terjadi.
Antara sakit hati serta sadar mengenai kenyataan, Zea ingin menyingkirkan rasa sukanya pada Aaron mulai hari ini. Padahal sebenarnya ia sering mendengar perkataan dari banyak orang, yaitu sebelum janur kuning melengkung, berarti masih ada kesempatan untuk berharap.
Mungkin saja ada keajaiban yang datang dan membuatnya sedikit berharap. 'Tuan Aaron bahkan menegaskan bahwa aku dan dia bagaikan bumi dan langit. Selamanya tidak akan mungkin pernah bersatu.'
Saat Aaron fokus mengemudi, sedangkan sang ibu kini menoleh ke arah gadis belia yang ada di sebelah kanannya. Kemudian mengungkapkan sesuatu hal.
"Kalau begitu, saat kamu nanti menikah, pakai gaun pengantin yang tadi saja karena sangat cocok untukmu. Aku sudah membelinya dan nanti akan diantar ke rumah." Jenny yang baru mengakhiri perkataan, kono bisa mendengar raut wajah terkejut dari Anindya serta suara bariton dari putranya yang tertawa terbahak-bahak.
Ia menatap ke arah depan di mana putranya berada dengan perasaan kesal dan membuatnya ingin sekali memberikan sebuah pelajaran karena terlalu menyepelekan perkataannya.
Ia berniat untuk memberikan sebuah hukuman nanti ketika putranya turun dari mobil setelah tiba di restoran. 'Awas saja nanti. Aku akan memberi nya pelajaran.'
"Mama ... Mama, buat apa membeli gaun pengantin untuknya sekarang. Dia itu masih bocil dan belum punya pasangan. Mungkin 5 atau 10 tahun lagi ia baru menikah. Nanti gaun yang Mama beli sudah usang atau ketinggalan zaman."
Aaron kini membelokkan mobilnya menuju ke arah restoran favorit keluarganya. Tadi ia berencana untuk membeli ponsel baru terlebih dahulu, tapi karena cacing-cacing di perutnya sudah ramai, menandakan ingin segera diberi makan, sehingga membuatnya memilih untuk ke restoran dulu.
Begitu memarkirkan mobilnya, ia beranjak turun dan saat hendak menuju ke arah pintu masuk restoran. Namun, kembali meringis menahan rasa nyeri saat lagi dan lagi telinganya ditarik oleh sang ibu.
"Mamaaa!" teriak Aaron yang kini mencoba untuk melindungi telinganya. Bahkan ia pun kini mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk melihat apakah ada orang yang melihat perbuatan dari sang ibu.
Ia akan sangat malu jika ada banyak orang yang melihat perbuatan sang ibu. Namun, hal yang paling membuatnya kesal adalah melihat gadis yang baru saja keluar dari mobil malah asyik tertawa saat melihatnya.
"Sudah kubilang jaga mulutmu saat berbicara, Aaron. Lidah itu lebih tajam daripada pedang. Kamu pikir Anindya tidak punya perasaan, apa! Hingga kamu selalu saja berkata kasar padanya!" umpat Jenny yang kini menunjukkan pada Anindya.
"Mama sudah menghukum anak nakal ini, Sayang. Jadi, kamu tidak perlu lagi merasa sakit hati karena perkataannya. Apa yang membuatmu kesal, sudah terbalaskan." Jenny bahkan baru kali ini melihat gadis kecil itu tertawa.
Seolah menjelaskan bahwa Anindya sangat senang melihatnya menghukum putranya. "Sepertinya kamu sangat puas melihatku menghukum putraku?"
Zea yang baru kali ini merasa sangat puas melihat Aaron meringis menahan sakit karena ia tadi berkali-kali diejek oleh pria yang disukainya itu.
Bahkan ia sangat puas saat rasa kesalnya terbalaskan dan diwakili oleh wanita paruh baya tersebut. Refleks ia menganggukkan kepalanya.
"Iya, Nyonya. Saya puas karena kata-kata tuan Aaron seperti tengah mengejek aku tidak laku saja. Aku berjanji akan menikah dengan menggunakan gaun pengantin yang Anda belikan."
"Meskipun tidak tahu kapan, tapi sangat yakin jika gaun itu masih muat kupakai dan juga masih indah serta pantas kukenakan." Zea menghentikan perkataannya dengan tersenyum mengejek pada Aaron.
Bahkan ia menjulurkan lidah untuk membalaskan rasa kesalnya pada Aaron yang masih meringis menahan rasa sakit pada daun telinga.
"Wah ... berani-beraninya kamu mengejekku, bocil! Apa kamu mau aku menarik rambutmu yang dikepang itu?" Aaron benar-benar sangat kesal ketika melihat gadis berkepang dua itu menjulurkan lidah padanya.
Seolah tengah menantangnya dan membuatnya ingin memberikan sebuah hukuman dengan menarik kepang dua itu. Bahkan ia merasa sangat heran ketika melihat gadis itu kembali mengepang rambutnya sendiri saat berada di mobil.
Padahal menurutnya, ia lebih suka melihat gadis kecil itu membiarkan rambutnya terurai panjang di bawah bahu karena terlihat lebih dewasa.
Sedangkan saat dikepang dua, membuatnya merasa seperti pernah bertemu dengannya, tapi saat diingat-ingat, tetap saja tidak mengingat pernah bertemu di mana.
Jadi, ia tidak ingin pusing mengingat-ingat hal itu dan membiarkannya melupakan hal yang mengganggu pikirannya.
"Aku tidak takut karena punya pelindung. Nanti aku akan melaporkan pada nyonya agar Anda kembali dijewer." Zea kembali tertawa dan menjulurkan lidah untuk mengejek Aaron yang kini dilepaskan oleh sang ibu.
Namun, ia yang masih tertawa, membulatkan kedua mata begitu melihat Aaron berlari ke arahnya dan merasa ada bahaya yang mengincarnya, refleks Zea berlari untuk menghindar.
"Lihat saja, aku akan menarik rambutmu!" teriak Aaron yang saat ini langsung berlari begitu sang ibu membebaskan telinganya yang terasa panas.
Ia bahkan mengejar gadis yang terlihat berlari dengan raut wajah penuh ketakutan.
"Nyonya, tolong aku!" teriak Zea yang berlari berputar-putar agar tidak sampai bisa tertangkap pria yang masih terus berusaha mengejarnya.
Sementara itu, Jenny saat ini tertawa melihat putranya dan gadis belia itu main kejar-kejaran seperti anak kecil itu. Bahkan melihat Aaron dan Anindya terlihat seperti kakak beradik yang tengah bertengkar, membuatnya merasa jika impiannya kini menjadi kenyataan.
Ia membiarkan Aaron mengejar Anindya dan tidak menolong gadis yang meminta tolong itu karena berpikir bahwa putranya tidak akan pernah menyakiti.
"Hanya menarik rambut sedikit, tidak masalah, Anindya. Itu malah akan membuat kalian semakin lebih akrab. Jadi, kalian benar-benar akan menjadi adik kakak yang saling menyayangi," lirih Jenny yang saat ini tertawa melihat putranya telah berhasil menangkap Anindya.
"Aaarggh ... sakit, Tuan Aaron!" Anindya kini memegangi rambut yang ditarik dari belakang.
Awalnya ia pikir akan bisa menang karena masih muda dan pasti kekuatannya lebih kuat dibandingkan Aaron yang lebih tua darinya.
Namun, ternyata ia kalah hanya dalam hitungan menit. "Ampun, Tuan Aaron! Aku tidak akan lagi menertawakan Anda saat dijewer nyonya."
Aaron yang merasa sangat puas, kini tersenyum menyeringai dan mendekatkan wajahnya untuk berbisik di dekat daun telinga gadis kecil itu. "Enak saja minta maaf dengan gampang. Tetap kamu harus dihukum seperti ini!"
Kemudian ia kembali menarik rambut yang dipegangnya sambil terbahak. "Ini hukumannya," sarkas Aaron dengan raut wajah senang.
"Sakit, Tuan Aaron. Kenapa nyonya tidak melindungiku?" lirih Anindya yang masih memegangi rambutnya yang ditarik dari belakang.
Hingga ia pun mendengar suara dari wanita yang baru saja disebutkan tadi dan membuatnya tersenyum penuh kemenangan.
"Jika kamu tidak ingin telingamu putus, cepat lepaskan Anindya. Ayo, cepat masuk ke restoran karena Mama pun sudah lapar!" teriak Jenny yang saat ini menatap ke arah Aaron dan Anindya.
Karena tidak ingin kembali mendapatkan jeweran dari sang ibu, kini Aaron melepaskan kuasanya dan ia yang merasa sudah puas, akhirnya melepaskan rambut Anindya.
"Untung saja aku sudah puas," ejek Aaron yang saat ini berbalik badan meninggalkan gadis yang telah ia berikan hukuman.
Sementara itu, Zea mengerucutkan bibir karena merasa sangat kesal saat Aaron sudah berlalu pergi tanpa memperdulikannya.
Ia pun berbalik badan dan bisa melihat siluet bahu lebar dari pria yang saat ini sudah berjalan menuju ke arah pintu masuk restoran.
"Menyebalkan sekali!" umpat Zea mengusap kepalanya yang masih terasa panas karena perbuatan Aaron yang menghukumnya.
Zea berjalan mengikuti langkah kaki ibu dan anak tersebut memasuki restoran dan tanpa diketahui oleh siapapun, ada seseorang yang diam-diam mengambil foto mereka beberapa kali.
Setelah berhasil mengambil beberapa gambar, seorang wanita yang saat ini kembali ke dalam mobil, langsung masuk dan duduk di balik kemudi.
Kemudian mengirimkan foto-foto yang diambilnya tadi kepada sahabat baiknya. "Biar Jasmine bertanya sendiri pada kekasihnya mengenai siapa gadis muda dengan rambut dikepang dua itu yang saat ini bersamanya."
"Bahkan ibu dari Aaron juga terlihat sangat akrab dengan gadis itu. Sepertinya Jasmine harus mengetahui hal ini. Apakah gadis itu adalah saudara dari keluarga kekasih Jasmine?"
Sosok wanita yang merupakan musuh dari Jasmine, kini tersenyum menyeringai karena berpikir bisa membalas dendam pada saingannya yang selalu berada di atasnya dalam hal apapun.
Baik dari masalah pekerjaan, kehidupan pribadi serta percintaan, selalu lebih darinya dan hal itu membuatnya merasa sangat iri melihat kebahagiaan yang didapatkan oleh Jasmine.
Apalagi ia mengetahui bahwa Jasmine terpilih sebagai kandidat untuk model yang mewakili pihak agensi dan akan merintis karir di Paris.
Bahkan hari ini saja ia tiba-tiba disingkirkan dari jadwal karena pihak perusahaan menginginkan Jasmine dan mengganti model secara tiba-tiba.
Awalnya ia yang terpilih untuk mewakili perusahaan sebagai model iklan, tapi ternyata saat hari H, Jasmine-lah yang tiba-tiba mengambil tempatnya dengan alasan jika pihak sana menginginkannya.
Sosok wanita bernama Lisya Kyle itu seketika tersenyum menyeringai ketika mempunyai sebuah ide di kepalanya.
Kemudian mengirimkan sebuah pesan berisi kalimat bernada ejekan.
Sepertinya posisimu akan digantikan oleh gadis kecil itu yang terlihat sangat akrab dengan kekasihmu. Kau mengenal gadis kecil itu, bukan? Bahkan bu dari kekasihmu pun terlihat sangat bahagia melihat interaksi dari keduanya.
Setelah membaca ulang dan tidak ada kalimat yang salah, kini ia tidak membuang waktu dan langsung mengirimkan pesan itu pada Jasmine.
"Apa kau masih punya muka berhadapan denganku, Jasmine?" gumam Lysa yang saat ini beranjak keluar dari mobil karena tadi tidak ingin panas-panasan untuk melihat hasil dari fotonya serta mengirimkan pesan untuk Jasmine.
"Baiklah, kita lihat saja pertunjukan selanjutnya di dalam restoran karena aku sangat penasaran melihat mereka." Kemudian ia berjalan menuju ke arah restoran dan mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari 3 orang yang ingin ia lihat.
Beberapa saat kemudian, ia bisa melihat sosok wanita yang saat ini menghadap ke arahnya, sedangkan kekasih Jasmine serta gadis itu berada di hadapan wanita itu.
"Ternyata di sana," ucap Lysa yang saat ini melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah kursi di belakang kekasih Jasmine agar bisa mendengar pembicaraan mereka dari dekat.
'Bila perlu, aku akan merekam pembicaraan mereka nanti dan mengirimkan pada Jasmine jika ada sesuatu yang menarik," ucap Aaron yang saat ini tersenyum menyaringai karena merasa bahwa apa yang dipikirkannya akan menghancurkan saingannya.
To be continued...