
Aaron memijat pelipis melihat reaksi dari Anindya yang terlihat sangat marah serta kesal padanya karena tidak mau dituduh. Bahkan mendengar pintu kamar mandi yang dibanting. "Dia dengan sangat mudahnya menuduhku, tapi dituduh balik malah marah."
"Dasar wanita! Selalu tidak pernah merasa salah dan selalu menyalahkan laki-laki." Aaron saat ini turun dari ranjang dan mencari ponsel miliknya.
"Jika ia bisa menyalahkanku dengan mudahnya, lalu aku tidak boleh menuduhnya, begitu? Wah ... sungguh luar biasa karena kaum betina." Aaron memeriksa ponselnya untuk melihat apakah sudah ada sinyal.
Begitu melihat sudah ada sinyal, seketika ia merasa sangat lega dan langsung mengirimkan pesan pada sang ibu dengan menjelaskan semuanya. Bahkan ia bisa melihat ada beberapa panggilan tak terjawab dari orang tuanya dan juga pesan yang baru saja dibaca.
Menyatakan bahwa orang tuanya sangat khawatir karena tidak ada kabar. Setelah mengatakan bahwa ia dan Anindya harus menginap di hotel karena hujan deras, ia pun memencet tombol kirim dan di saat bersamaan mendengar pintu kamar mandi di terbuka.
Ia menoleh ke arah kamar mandi dan melihat wanita dengan wajah masam itu keluar dari sana tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dan membuatnya berkacak pinggang.
"Mau ke mana kamu membawa tas?"
"Pulang! Aku mau pulang sendiri! Tidak usah memperdulikan aku!" umpat Zea yang saat ini tidak berniat untuk memakai apapun di wajahnya.
Ia tadi sudah cuci muka agar tidak kucel dan terlihat lebih segar. Dengan mengikat asal rambutnya ke atas, berniat untuk segera keluar dari ruangan kamar. Apalagi sangat kesal pada pria yang tadi menuduhnya tanpa sebab.
"Anindya, tunggu!" teriak Aaron untuk menghentikan sosok wanita yang berjalan menuju ke arah pintu keluar dan tentu saja ia mengejar agar tidak sampai lolos.
Zea sama sekali tidak memperdulikan suara teriakan dari Aaron yang memanggilnya. Bahkan saat ini ia sudah membuka kenop pintu, tapi tidak bisa melangkah keluar karena tangannya ditahan oleh pria yang kembali berteriak yang memanggil namanya.
"Anindya! Apa kau sama sekali tidak mendengarku?" Aaron benar-benar sakit kesal karena melihat sikap keras kepala gadis mungil itu dan tangan yang ditahannya hingga tubuh Anindya terempas ke dadanya.
Zea yang awalnya ingin segera menghilang dari hadapan Aaron, tapi gagal karena sekarang malah berada dalam kuasa pria itu yang mengungkungnya.
Bahkan saat ini tidak bisa berkutik ketika tangan dengan buku-buku kuat tersebut berada pada pinggangnya dan kembali membuatnya serasa ingin meledak.
'Apa yang sebenarnya diinginkan oleh tuan Aaron? Kenapa selalu saja membuatku tidak berdaya seperti ini? Bahkan rasanya jantungku saat ini seperti mau meledak saja.'
Zea mengunci rapat bibirnya dan sama sekali tidak berniat untuk bertanya ataupun mengungkapkan apa yang dirasakan saat merasa kesal pada pria yang membuat hatinya serasa jungkir balik lagi roller coaster.
Sementara itu, Aaron yang ingin menyadarkan gadis mungil di pelukannya agar tidak berpuasa enaknya sendiri.
"Diam dan dengarkan aku, oke! Bukankah tadi kamu merasa sangat terkejut dan langsung menuduhku? Lalu, apakah aku tidak boleh melakukan hal yang sama karena sama sekali tidak punya niat apapun padamu? Kita berdua sama-sama tidak sadar ketika tidur saling berpelukan dan guling pembatas jatuh ke lantai."
Aaron kita kan masih mencengkeram kuat pinggang Anindya agar tidak kabur darinya saat ia menjelaskan apa yang ada di otaknya saat ini. Tentu saja sebelum kembali ke rumah, tidak ingin ada kesalahpahaman di antara mereka dan membuat hubungan renggang.
"Jika kamu menuduh seenak jidat, lalu salahkah aku melakukan hal yang sama, hem?" Kini, Aaron menatap tajam iris kecoklatan sosok gadis yang berada dalam kuasanya.
Ia ingin menyadarkan gadis itu agar tidak sepenuhnya menyalahkannya atas kejadian di atas ranjang yang sama-sama tidak disadari.
Zea saat ini tidak bisa menjawab karena sadar bahwa rasa kesal juga dirasakan oleh pria dengan tatapan yang menusuk tepat di jantungnya saat ini. Hingga ia menggigit bibir bawah bagian dalam untuk menormalkan perasaan yang tidak karuan saat ini.
"Kenapa diam saja saat aku bertanya? Jawab aku sekarang! Apakah aku salah menuduhmu saat kamu terlebih dahulu berpikir aku sengaja berbuat macam-macam padamu?" Aaron benar-benar mengarahkan tatapan tajam menusuk agar gadis di hadapannya tidak lagi menuduh hal yang sama sekali tidak ada dalam pemikirannya.
Bahkan ia semalam tertidur pulas dan tidak tahu apa yang terjadi setelah itu karena Anindya belum tidur. Namun, tidak ingin mengungkapkan hal lain sebelum gadis itu membuka suara untuk berkomentar tentang pendapatnya barusan.
"Kenapa hanya diam saja? Cepat keluarkan semua unek-unek yang ada di hatimu, agar kita sama-sama merasa tenang." Aaron akan tidak peduli dengan pergerakan Anindya yang berniat untuk melepaskan diri darinya.
"Tuan Aaron, lepaskan dulu tangan Anda!" Zea tidak bisa berbicara dengan leluasa jika berada pada posisi sangat intim tanpa ada jarak diantara mereka.
Bahkan saat ini tubuhnya menempel karena pria itu memeluknya dengan sangat erat. Mungkin jika mereka tidak ada kain penghalang yang melindungi, sudah dipastikan kulit mereka menyatu dengan gelombang hangat menerpa.
Aaron seketika menggelengkan kepala karena tidak ingin tertipu dengan gadis mungil di hadapannya tersebut yang mungkin bisa saja kabur darinya dengan berlari keluar ke arah pintu.
"Jawab saja dulu karena aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum masalah kita selesai. Apalagi jika sampai diketahui oleh papa dan mama, bisa-bisa aku dipecat dan dicoret dari kartu keluarga karena melakukan kesalahan yang kamu pikir aku sengaja melakukannya padamu." Aaron bahkan sama sekali tidak mengalihkan tangannya yang berada di pinggang ramping Anindya.
Berbeda dengan Anindya yang merasa sangat gugup berada seintim itu dengan pria yang disukai. Hingga akhirnya ia menyerah dan tentu saja menyadari kesalahan setelah penjelasan pria itu yang mengungkapkan nada protes.
"Tuan Aaron, benar apa yang Anda katakan. Aku aku juga bersalah dalam hal ini karena merasa marah pada saat dituduh tanpa berpikir bahwa tadi juga menuduh Anda tanpa memikirkan perasaan. Maafkan aku dan anggap saja tidak terjadi apapun tadi." Zea kini merasa sangat lega setelah mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.
Hingga ia pun juga merasa jantungnya yang hampir meledak karena posisi sangat penting dan sekarang bernapas lega begitu tangan dengan buku-buku kuat itu membebaskannya dari kuasa.
Refleks Aaron merasa sangat lega begitu melihat reaksi positif dari gadis yang ada di hadapannya tersebut. "Nah ... begitu kan jauh lebih baik. Menyelesaikan segala sesuatu dengan kepala dingin akan mendapatkan jalan keluar secepat mungkin."
Kemudian tidak ingin terus-menerus menghukum Anindya yang diketahuinya tidak nyaman pada posisi intim selama beberapa menit. "Saat memakai ego yang tinggi dan hanya mengandalkan amarah, sudah bisa dipastikan kita tidak akan bisa cepat mendapatkan solusi dari permasalahan yang dihadapi."
Zea yang lagi-lagi menyadari kesalahannya dan juga akhirnya bernapas lega begitu saling mengakui kesalahan.
"Iya, Tuan Aaron. Sekali lagi saya minta maaf karena egois tidak ingin disalahkan setelah menuduh Anda." Kemudian ia mundur beberapa langkah dan membungkuk sebagai permohonan maaf.
"Jadi, sekarang kamu boleh pulang sendiri!" Kemudian Aaron berbalik badan menuju ke arah kamar mandi untuk mencuci muka sebelum meninggalkan hotel dan kembali ke Jakarta.
Bahkan ia tersenyum menyeringai karena merasa yakin jika Anindya tidak akan pergi. Ia sengaja memberikan sebuah hukuman pada gadis itu dan tersenyum menyeringai ketika masuk ke dalam kamar mandi.
'Aku sangat yakin jika ia tidak akan pernah pergi dan akan menungguku. Dasar betina yang keras kepala. Berlagak sok kuat dengan pergi sendirian di pagi buta tanpa mengetahui area sini. Apa ia mau diculik oleh orang tidak dikenal saat asal mencari orang yang bisa mengantarkan?'
Kemudian ia mulai membersihkan diri agar wajahnya segar tidak kuyu ketika hendak meninggalkan hotel.
Di sisi lain, Anindya yang saat ini masih berdiri di tempatnya, kembali mewujudkan bibir karena kesal pada pengusiran dari pria yang sudah menghilang di balik pintu kamar mandi tersebut.
"Iiish ... tuan Aaron benar-benar menyebalkan. Bisa-bisanya ia mengusirku dengan menyuruhku pergi sendiri saat kami sudah saling memaafkan dan mengakui kesalahan masing-masing? Bukankah tadi ia mengatakan jika permasalahan sudah klik?"
"Lalu, kenapa menyuruhku pulang sendiri?" Zea kini menoleh ke arah jendela, di mana keadaan di luar sana masih gelap.
Mendadak ia merasa takut jika pulang sendiri tanpa mengetahui apapun. "Bagaimana jika ada orang jahat yang memanfaatkan kepolosanku ketika meminta untuk diantar ke Jakarta? Mengerikan!"
Zea bergidik ngeri membayangkan hal-hal yang mungkin terjadi. Akhirnya ia memilih untuk menahan rasa malu jika nanti diejek oleh Aaron karena menunggu pria itu keluar dari kamar mandi dan ingin pulang bersama karena merasa jauh lebih aman.
Kini, ia mendaratkan tubuhnya di sofa dan dengan setia menunggu pria di kamar mandi itu keluar. Ia bahkan saat ini tidak mengalihkan pandangannya dari pintu kamar mandi.
'Tuan Aaron pasti akan kembali mengejekku habis-habisan saat melihatku belum pergi. Aaah ... lebih baik diejek oleh tuan Aaron, tapi selamat sampai di rumah, daripada harus pulang sendiri dan belum tentu baik-baik saja,' gumam Zea yang saat ini hanya bisa berkeluh kesah di dalam hati dan beberapa saat kemudian melihat pintu yang dari tadi ditatap terbuka.
Seperti apa yang dipikirkan olehnya, bahwa sosok pria yang baru saja keluar dari kamar mandi tersebut mengejeknya.
"Kenapa belum pergi juga? Bukankah tadi kau sangat arogan dan berniat untuk pergi tanpa memikirkan keselamatan? Aku pikir kamu sudah pergi menawarkan diri pada para penculik yang mungkin akan menjual beberapa organ tubuhmu." Aaron benar-benar puas bisa membuat Anindya mengunci rapat bibirnya.
Bahkan sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun dan hanya diam saat diejeknya. Seolah menyadari kesalahan dan tidak berani melawannya. Puas, merupakan sebuah definisi yang sangat mewakili perasaan yang saat ini.
Aaron berjalan semakin mendekati gadis yang saat ini menundukkan kepala dan tidak bisa membantahnya. "Jika tadi aku tidak melarangmu pergi, sudah dipastikan bahwa kamu akan diculik oleh para penjahat yang mengincar organ tubuhmu."
"Apa kamu tahu harga-harga organ-organ tubuh seperti jantung, ginjal, mata dan lain-lain? Mungkin kamu akan terkejut setelah mengetahui harganya." Aaron tersenyum menyeringai begitu melihat Anindya mengangkat pandangan dan bersih tatap dengannya.
"Tuan Aaron, jangan berbicara seperti itu karena rasanya sangat mengerikan. Bukannya tadi Anda bilang masalah sudah clear? Lalu, salahkah aku jika mengurungkan niat untuk pulang sendiri dan memilih untuk pulang bersama Anda? Tapi malah menakut-nakutiku."
Zea sebenarnya merasa kesal pada sosok pria di hadapannya tersebut, tidak mungkin benar-benar marah karena mengetahui jika Aaron sebenarnya adalah seorang pria yang baik. Hanya saja suka mengerjainya.
Aaron seketika terdapat terbahak-bahak melihat raut wajah memelas dari Anindya. "Baiklah, aku tidak akan mengajakmu lagi. Kita kembali ke Jakarta bersama-sama karena memang masalah sudah selesai dan tidak ada kesalahpahaman di antara kita."
Saat Aaron berniat untuk mengambil jaket yang ada di sofa sebelah tempat duduk Anindya, ia mengingat sesuatu dan kini menoleh ke arah gadis itu.
"Oh ya, nanti saat papa dan mama bertanya mengenai kita menginap di hotel, katakan bahwa aku memesan dua kamar dan kita tidur di tempat yang berbeda. Karena aku khawatir papa dan mama salah paham saat mengetahui kita tidur di kamar yang sama." Aaron kini melihat Anindya menganggukkan kepala tanpa berpikir.
"Siap, Tuan Aaron. Aku akan mematuhi perintah Anda dan menjaga rahasia kita. Apa kita pulang sekarang? Nanti Anda harus bekerja dan saya pun juga mulai pertama kuliah, jadi harus tiba di Jakarta pagi hari." Anindya bangkit berdiri dari posisinya dan melihat Aaron memakai jaket kulit hitam.
"Iya, kita pulang sekarang. Perjalanan makan jauh lebih cepat karena perjalanan masih sangat sepi jam segini. Jadi, bisa tiba di Jakarta lebih awal." Kemudian Aaron memasukkan ponsel ke dalam tas pinggang miliknya.
Kemudian memberikan kode pada Anindya agar berjalan mengekornya. "Let's go!"
"Siap," sahut Anindya dengan wajah berbinar karena merasa senang ketika permasalahan di antara mereka telah selesai.
Hingga ia mengingat sesuatu dan mengambil ponsel di dalam tas selempang miliknya. "Ternyata sudah ada sinyal, Tuan Aaron."
"Iya, aku tahu." Aaron menjawab singkat dan begitu tiba di lobby hotel, membayar dengan menggunakan kartu kredit miliknya.
Hingga ia merasa sangat kesal begitu mendengar suara Anindya dan membuatnya menatap tajam gadis itu.
"Aku telpon Erick dulu untuk memastikan apakah dia selamat. Apakah masih berada di puncak atau sudah di Jakarta." Saat hendak memencet tombol panggil setelah mencari kontak Erick, sangat terkejut ketika ponselnya tiba-tiba direbut oleh Aaron.
"Tidak perlu! Dia bukan bayi yang harus kamu cek keadaannya. Nanti kalian juga akan bertemu di kampus. Jadi, tidak perlu beralasan ingin mengetahui kabar Erick." Kemudian memasukkan ponsel milik Anindya ke dalam tas pinggang.
Ia tidaknya suasana satu minggu sedang baik karena permasalahan mereka sudah selesai, ditambah rasa kesal ketika membahas Erick.
Zea yang tidak ingin mendapatkan kemurkaan dari Aaron, akhirnya hanya diam saja dan tidak mengungkapkan ada protes ketika dilarang untuk menghubungi Erick yang sangat dikhawatirkan.
'Sebenarnya aku tidak hanya mengkhawatirkan Erick saja, tapi juga para anak motor yang lain. Apakah mereka selamat dan tidak terjadi sesuatu hal yang buruk ketika hujan deras kemarin? Aaah ... tapi sudahlah. Jika tuan Aaron tidak mengizinkan, aku bisa apa?' gumam Zea yang kini kembali berjalan mengekor pria dengan bahu lebar tersebut menuju ke arah parkiran.
To be continued...