Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Selamat siang, calon istri



Aaron yang baru saja keluar dari terminal kedatangan, kini langsung naik taksi menuju ke hotel yang akan menjadi tempat yang menginap dan merupakan hotel yang sama dengan Anindya.


Ia kemarin menghubungi salah satu rekan bisnis yang ada di New York dan meminta tolong agar mau membantunya. Kini, ia mengaktifkan ponselnya dan mendapatkan pesan dari sahabatnya yang mengirimkan sebuah video.


Seketika ia tersenyum dan berbinar wajahnya begitu melihat video dari ruangan kamar hotel yang ditempati oleh Anindya sudah dia sedemikian rupa dengan kelopak bunga mawar di sepanjang lantai kamar hingga menuju ke arah ranjang.


Bahkan tepat di depan ranjang itu ada simbol hati yang yang memang spesial untuk Anindya agar mengerti bahwa itu adalah hatinya yang telah diserahkan pada gadis yang telah melahirkan keturunan untuknya.


Ia saat ini langsung mengirimkan pesan balasan ada sahabatnya tersebut yang telah berhasil menyuruh orang untuk menghias ruangan Anindya seperti layaknya pengantin baru.


Begitu mengucapkan terima kasih, kini ia masih melanjutkan melihat video itu berulang kali dan membayangkan ketika Anindya masuk ke dalam kamar dengan mata membulat karena syok sekaligus bahagia atas perbuatan romantisnya.


'Dia pasti sudah masuk ke dalam. Lalu, bagaimana perasaannya? Apakah dia merasa senang, bahagia, terharu atau bahkan mungkin sudah berjengkak-jingkrak di dalam kamar karena hatinya berbunga-bunga melihat ribuan kelopak mawar dibentuk sedemikian cantiknya hanya untuk menyambutnya.'


Aaron bahkan saat ini terlihat tersenyum lebar karena rencana pertamanya telah berhasil dan akan melakukan rencana kedua di ruangan meeting nanti ketika menemui investor.


Ia sudah mengetahui dari sang ayah jika akan bertemu dengan Anindya di dalam ruangan khusus dan di hadapan investor tersebut. Kini, ia mengambil cincin yang disimpan di dalam saku blazer berwarna hitam yang dikenakannya.


Saat membuka kotak berbentuk hati dengan warna merah tersebut, sudut bibirnya terangkat ke atas yang menandakan jika saat ini merasa yakin akan berhasil mendapatkan hati Anindya kembali.


"Akan aku buktikan jika cintamu hanya untukku, Anindya." Ia saat ini melirik mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kiri.


Ia tahu jika waktunya tidak banyak dan harus mengejarnya. Bahwa hanya tersisa 2 jam saja dan membuatnya tidak boleh membuang waktu, tapi kali ini ada yang ingin dilakukan dan membuatnya menatap ke arah sang sopir.


"Tolong berhenti di depan toko bunga."


"Iya, Tuan." Sang supir yang sudah sangat hafal dengan daerah yang dilalui, kini menapa kecepatan menuju ke toko bunga yang tak jauh dari sana.


Sepuluh menit kemudian taksi sudah berhenti di depan toko bunga. "Sudah sampai, Tuan."


"Terima kasih. Aku akan membeli bunga dulu untuk kekasihku," ucapnya yang tidak berhenti tersenyum dengan perasaan senang karena beberapa jam lagi akan bisa bertemu dengan wanita yang sangat dicintai.


Saat melangkah masuk ke dalam toko bunga, ia langsung disambut oleh penjaganya yang menanyakan ini bunga apa dan untuk siapa.


Sementara Aaron yang sudah mengetahui ingin mencari bunga apa untuk diberikan pada Anindya serta sang investor ketika memasuki ruangan meeting. Kini mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari bunga yang diinginkan.


Ia pun menuju ke arah sisi kanan toko yang sangat luas itu dihiasi aneka bunga segar tersebut. "Tolong buatkan dua buket bunga. Satu bunga Lili putih dan satunya bunga Peony. Buat besarnya sama karena aku ingin tidak ada yang lebih besar ataupun lebih kecil dari keduanya."


"Baik, Tuan. Silakan menunggu sambil menikmati minumannya," ucap pegawai yang langsung berkoordinasi dengan rekannya untuk segera melaksanakan pesanan.


Aaron saat ini mendaratkan tubuhnya di tempat yang tersedia sambil menatap dua pekerja yang saat ini tengah mengerjakan pesanannya. "Semoga dua wanita itu sama-sama puas dan tidak saling iri karena aku membelikan mereka bunga berbeda."


Ia mendapatkan ide itu semalam setelah mengetahui arti dari bunga yang merupakan simbol cinta sejati dan kehormatan.


'Aku akan memberikan bunga lili putih untukmu, Anindya. Bunga mawar sudah biasa dan aku ingin yang lebih bermakna. Saat aku memilih lili putih, itu karena tahu jika merupakan bunga yang melambangkan cinta dan kasih sayang.'


'Bahkan memiliki simbol cinta sejati yang murni. Selain itu, bermakna sebagai tanda kesetiaan,' ucapnya yang nantinya akan menjelaskan pada Anindya menyertai mengenai arti dari buket bunga yang diberikannya.


Hingga pandangannya beralih pada sosok wanita yang tengah membuat buket bunga Peony yang dikenal karena kecantikan, keharuman, dan penampilannya yang lembut.


Bahkan ada dalam berbagai warna dan telah menjadi favorit selama berabad-abad. Ia memilih bunga Peony untuk sang investor karena merupakan seorang wanita keturunan kulit putih dan Tionghoa.


Ia yakin investor akan sangat senang menerimanya karena dalam budaya Tionghoa, bunga peony dianggap sebagai raja bunga dan melambangkan kehormatan, kekayaan, dan kehormatan.


'Semoga investor itu mengerti apa maksudku memberikan bunga Peony sebagai bentuk penghormatanku padanya bisa bertemu dengan orang sehebat dirinya yang memiliki banyak aset di mana-mana hanya dengan berinvestasi.'


Aaron yang saat ini masih menunggu sambil sesekali melirik jam tangan miliknya karena waktu semakin bergulir mendekati saat meeting. Ia segera bangkit berdiri dari kursi dan berjalan mendekat begitu dua wanita tersebut selesai.


"Silakan, Tuan. Ini 2 buket pesanan Anda." Wanita dengan mengenakan seragam berwarna putih tersebut langsung menerima kartu debit yang diberikan.


"Tolong dipercepat karena saya terburu-buru." Aaron yang saat ini sudah menerima 2 buket bunga di tangan kanan dan kiri, sangat menjaganya dengan hati-hati agar tidak sampai rusak.


"Baik, Tuan. Sebentar." Dengan gerakan cepat, ia langsung memasukkan kartu debit pada mesin dan menyuruh lihat sebut mengetik PIN nya.


Tidak berapa lama, keluar struk yang langsung diberikan pada pria itu dan juga ada satu lagi yang disimpan sebagai bukti pembayaran non cash.


Setelah mengembalikan kartu pada pembeli, ia pun mengucapkan salam serta terima kasih.


Aaron hanya tersenyum simpul dan buru-buru berjalan ke arah pintu keluar. Ia bahkan seperti orang yang dikejar sesuatu, sehingga mempercepat langkah kakinya agar segera tiba di taksi yang masih menunggunya.


Setelah masuk ke dalam taksi, ia menaruh dengan sangat hati-hati buket bunga di kursi belakang. Merasa jika ia harus segera pergi untuk mengejar waktu yang semakin berjalan, ia memberikan perintah.


"Tolong cepat karena aku buru-buru. Tambah kecepatan biar kita bisa segera sampai di hotel." Aaron yang sedikit merasa lega karena jalanan di kota New York tidaklah sama dengan di Jakarta yang selalu terjebak macet.


"Baik, Tuan." Sang supir yang sudah meninggalkan area butik, kini menginjak pedal gas untuk menambah kecepatan sesuai dengan perintah dari penumpang.


Aaron saat ini merasa yakin jika akan tepat waktu dan tidak akan terlambat saat pertemuan dengan investor. "Masih satu jam lagi. Aku mungkin hanya butuh 10 menit waktu bersiap."


Berbeda dengan Anindya ya pastinya membutuhkan waktu 1 jam untuk merias wajahnya akan terlihat cantik dan mempesona dan artinya hanya dirinya yang bisa melihat pemandangan indah itu.


Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, taksi yang ditumpangi kini sudah berhenti di depan lobby hotel yang akan menjadi tempatnya menginap selama 2 hari.


"Sudah sampai, Tuan." Bergerak keluar menuju ke belakang.


Sang supir yang baru saja mengeluarkan koper dari bagasi, kini langsung menyerahkan pada penumpangnya tersebut yang terlihat kesusahan.


Aaron yang langsung menerima miliknya, kini langsung bergerak cepat ke arah resepsionis dan meminta guest key dari kamar yang sudah di booking oleh sang ayah kemarin.


Sementara sang ayah sudah terbang ke Jakarta pagi ini dan menyerahkan semua urusan tentang investor kepadanya.


Bahkan wajah orang saat ini sudah terlihat memerah karena dipenuhi oleh kekhawatiran jika sampai datang terlambat ke ruang pertemuan. Apalagi mengetahui jika wanita tersebut sangatlah tepat waktu dan tidak menyukai orang yang terlambat.


"Tolong cepat karena saya terburu-buru!" sarkas Aaron yang merasa sangat kesal melihat resepsionis bekerja sangat lambat.


Seorang wanita yang saat ini baru memeriksa kode booking, melirik sekilas ke arah pria yang terlihat marah tersebut. Ia hanya menganggukkan kepala tanpa mengucapkan sepatah kata pun agar bisa fokus dan kini langsung memberikan kunci kamar yang tadi diambilkan oleh rekannya.


Tanpa mengucapkan terima kasih karena terburu-buru, Aaron langsung sedikit berlari menuju ke arah yang masih menunggu turun ke loby. Tentu saja ia merasa gugup jika mengacaukan semuanya dengan datang terlambat, tidak akan mendapatkan tempat untuk bertemu dengan investor itu maupun Anindya.


Begitu pintu kotak besi tersebut terbuka, segera ia masuk setelah beberapa orang keluar. Matanya tidak berkedip menatap ke arah angka digital yang kini bergerak menuju lantai 10.


"Sial! 20 menit lagi! Pasti bisa. Aku akan masuk ke dalam ruangan itu pukul 11.00 kurang 5 menit karena pasti wanita itu akan datang di detik-detik terakhir." Dengan peluh yang bercucuran karena dikuasai oleh kegugupan, itu disebabkan saat membayangkan jika ia datang terlambat.


Tentu saja ia tidak ingin itu terjadi dan langsung berlari secepat kilat sambil menarik kopernya begitu pintu lift terbuka. Ia yang mencari nomor pintu ruangan kamar yang berada di sebelah ruangan Anindya, langsung masuk ke dalam setelah membuka dengan kartu di tangan.


Kembali ia dengan sangat hati-hati menaruh 2 buket bunga itu ke atas meja, lalu langsung membuka semua pakaiannya di sana dan berlari ke arah kamar mandi.


"Aah ... sial! Aku bahkan seperti sedang dikejar hantu," umpatnya yang ini sudah berdiri di bawah guyuran air shower.


Jika biasanya ia selalu mandi sangat lama karena paling suka menggosok tubuhnya, tapi kali ini ia mandi secepat kilat setelah menggosok dengan sabun dan merasa tubuhnya sudah berubah wangi.


Beberapa saat kemudian ia langsung berjalan keluar dari kamar mandi dan mengambil pakaiannya di dalam koper yang baru saja dibuka.


Setelan jas berwana hitam kini dikeluarkannya karena mengetahui jika sang investor menyukai warna itu. Ia bahkan berpakaian setelah sebelumnya menatap ke arah jam tangan yang tadi diletakkan di atas meja.


Tidak hanya itu saja karena sambil menyisir rambutnya yang baru saja ia keringkan dengan hairdryer yang tersedia karena semua fasilitas di kamar hotel itu sangat lengkap dan membuatnya tidak kesulitan memilih apapun.


Saat ia kembali memakai jam tangan mahal miliknya, ia ingin memastikan sekali lagi penampilannya sudah rapi dan tidak ada yang kurang.


Begitu dirasa penampilannya sempurna, kini ia mengambil dokumen miliknya serta tablet yang dimasukkan ke dalam tas kerja. Tak lupa membawa 2 buket bunga yang saat ini dibawa dengan tangan kanannya.


"Semangat! Aku akan bertemu dengan dua orang wanita hebat. Apa Anindya sudah berada di dalam ruangan?" Aaron yang saat ini berjalan keluar dari ruangan kamarnya, melirik ke arah pintu ruangan Anindya.


Ketika tidak ada waktu untuk memeriksa karena khawatir akan terlambat, sehingga hanya berlalu pergi melewatinya dan menuju ke arah lift.


Ia saat ini berusaha menormalkan napas teratur agar tidak gugup ketika akan bertemu dengan wanita pujaan hati. "Rileks, Aaron. Bukan malah gugup bertemu dengan investor itu, tapi malah dengan Anindya."


Refleks ia membulatkan mata karena ketinggalan sesuatu. "Aah ... sial! Cincinnya ketinggalan di satu blazer yang kukenakan tadi. Bagaimana ini?"


Saat Aaron masih bingung memikirkan keputusan apakah mengambil cincinnya atau tidak, kini pintu lift terbuka dan membuatnya melirik mesin waktu di pergelangan tangan kirinya.


Ia seketika mengkalkulasi waktu untuk memperhitungkan apakah nanti tidak terlambat, tapi menggelengkan kepala begitu mengetahui jawabannya.


"Aah ... terpaksa aku menunda melamar Anindya di depan investor itu setelah acara pertemuan selesai." Baiklah. Aku ubah saja rencananya," ucapnya yang kini berjalan keluar dan mencari tahu keberadaan ruangan yang dikatakan berada di lantai 15.


Begitu melihat ada dua penjaga di depan sebuah ruangan, merasa yakin jika itulah tempat pertemuan dengan investor serta Anindya.


Saat ia belum sempat mengeluarkan suara untuk menyapa pria dengan setelan jas lengkap yang sangat rapi tersebut, sudah disebutkan namanya.


"Silakan masuk, Tuan Aaron Nadhif Jonathan!" sahut pria dengan rambut cepak yang memakai setelan berwarna hitam.


Aaron seketika tersenyum simpul dan salah satu pria membukakan pintu untuknya, sehingga ia langsung berjalan masuk ke dalam setelah mengucapkan terima kasih.


Begitu langkah kaki panjangnya masuk ke dalam ruangan pertemuan dengan meja yang berada di tengah dan kursi berjejer rapi, tatapannya berhenti pada dua orang yang saat ini duduk di sebelah kanan meja yang sudah ada papan nama.


Sementara papan namanya berada di sebelah kiri dan ia mendukung hormat sebelum berjalan mendekati dua orang tersebut yang tak lain adalah Anindya serta asistennya.


Ia yang memang hanya sendirian karena sang ayah tidak menyuruh untuk membawa asisten dan menganggapnya mampu sendirian untuk menaklukkan hati investor itu. Padahal ia akan mengalah demi Anindya dan tidak ingin bersaing secara maksimal untuk menunjukkan kemampuannya.


Kemudian menaruh dua buket bunga tersebut ke atas meja di sebelah kirinya saat hendak duduk di kursi. Hingga suara pria yang duduk di sebelah Anindya membuatnya mengalihkan perhatian dari buket bunga yang baru saja ditaruh.


"Selamat datang, Tuan Aaron Nadhif Jonathan."


Sebenarnya Aaron sangat berharap Anindya mau menyapanya, tapi yang terjadi adalah sebaliknya karena hanya diam saja tanpa mau menatapnya. Bahkan ia juga belum menyapa wanita yang nantinya akan diberikan buket bunga lili tersebut.


'Cuek sekali Anindya padaku, seperti tidak pernah mengenalku saja,' gumam Aaron yang saat ini tersenyum dan menyapa pria yang lebih tua darinya tersebut.


"Terima kasih, Tuan ...." Ia lupa nama asisten pribadi Anindya, sehingga tidak bisa melanjutkan perkataannya untuk menyebutkan nama.


Kemudian beralih menatap ke arah sosok wanita yang masih mengunci rapat bibirnya.


"Selamat siang, calon istri," ucapnya dengan tersenyum simpul untuk menguraikan keheningan diantara ia dan Anindya yang seketika menatapnya tajam, tapi sama sekali tidak diperdulikan ataupun membuatnya takut.


To be continued...