Brother, I Love You

Brother, I Love You
99.Sebuah batu



Papa Arya membuka pintu kamar Reyhan setelah mengetuknya terlebih dahulu. Papa Arya melangkahkan kakinya mendekati Reyhan yang duduk bersandar di kepala ranjang, yang sibuk bermain game di ponselnya. Papa Arya mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur, menghadap Reyhan.


"Kamu bau sekali !, sudah berapa hari kamu tidak mandi ?" tanya Papa Arya.


"Kambing gak pernah mandi, tapi harganya mahal, laris lagi kalau pas musim kurban" jawab Reyhan, tanpa menoleh ke arah sang Papa.


"Sampai kapan kamu akan terus mengurung diri di kamar ?. Pantasan Sirin tidak menyikaimu, kamu sih jadi cowok, cemen !" ejek Papa Arya.


"Sampai bidadari turun dari kayangan !" jawab Reyhan asal.


"Kamu pikir bidadari akan naksir melihat penampilanmu seperti ini ?, bau lagi." cibir Papa Arya.


Reyhan diam, tidak membalas perkataan Papanya lagi. Dan air matanya kembali luruh, jatuh mengenai tangannya.


Hati ini sangat sakit Pah !, Reyhan tak ingin jatuh cinta lagi Pah !. Batin Reyhan


Papa Arya meghela napasnya, kemudian mengangkat satu tangannya mengusap kepala Reyhan.


"Jodoh dan maut itu adalah takdir yang tidak bisa di robah manusia, jangan terlalu terpuruk. Karna Tuhan sudah menyiapkan jodoh masing masing hambanya. Diana bukan jodohmu, ada wanita lain yang menunggumu di luar sana. Bisa saja lebih baik dan lebih cantik dari pada Diana" ucap Papa Arya mengulas sedikit senyumnya.


"Kalau bukan Diana bukan jodoh Reyhan, kenapa Tuhan membiarkan hati Reyhan jatuh cinta pada Diana Pah ?" tangis Reyhan lagi seperti bocah, sambil tangannya menghapus air matanya.


Papa Arya menghela napasnya, dia juga pernah muda, pernah mengalami patah hati karna putus cinta,Papa Arya tentu mengerti dengan perasaan anaknya.


"Bukan Tuhan yang membiarkannya, tapi kita yang tidak bisa mengendalikan diri kita dari godaan syetan. Bisa saja kita yang merasakan jatuh cinta dengan lawan jenis kita. Itu adalah tipu daya setan, membuat kita jatuh cinta, supaya kita berbuat maksiat. Bukan jatuh cinta yang sebenarnya" jawab Papa Arya.


"Apa kamu yakin ? kalau kamu benar benar jatuh cinta kepada Diana ?. Coba tanya hati kecilmu !. Bisa saja kamu hanya mengaguminya, atau hanya ingin mengalihkan perasaanmu dari Sirin. Atau karna kamu tak ingin kalah dari adikmu Arsen, yang unggul mendapatkan Sirin" ucap Papa Arya lagi.


"Jangan biarkan dirimu hancur nak !, kamu masih muda, masa depanmu masih panjang" lanjut Papa Arya, menepuk pelan bahu Reyhan. Papa Arya berdiri dari tempat duduknya, melangkahkan kakinya keluar dari kamar Reyhan.


Reyhan yang di tinggalkan Papa Arya, diam sambil memikirkan apa yang di katakan Papanya. Menyelami kembali hatinya, apakah dia benar benar jatuh cinta dengan Diana atau hanya sebatas mengagumi atau hanya ingin memiliki pasangan. Tapi yang Reyhan rasakan saat ini dia benar benar jatuh cinta dengan Diana.


.


.


"Aaryan ! gimana Reyhan ? apa dia sudah mau mandi ?. Aku sudah hampir muntah mencium baunya" tanya Mama Bunga melihat Papa Arya menuruni tangga dari lantai dua.


Mama Bunga yang hamil muda, sudah tidak sanggup mencium bau badan Reyhan yang sudah semingu tidak mandi.


"Sepertinya belum !" jawab Papa Arya.


Mama Bunga menghela napasnya," Dulu aku putus cinta, perasaan tidak segitunya deh !" ucap Mama Bunga. Dia lupa akan dirinya dulu, kalau tidak di seret Mama Indah ke kamar mandi setiap Pagi, dia tidak mau mandi.


"Bahkan kamu lebih susah di urus dari pada Reyhan. Kamu berhasil membuat semua orang sakit kepala karna tingkahmu yang selalu meresahkan" cibir Papa Arya, melingkarkan tangannya ke leher belakang Mama Bunga. Mama Bunga pun memeluk Papa Arya dari samping, mereka sama sama melangkah masuk ke dalam kamar mereka.


Mama Bunga malah tertawa cekikikan, mengingat tingkahnya dulu." Gitu gitu, kamu tetap tergila gila denganku" ucapnya.


"Karna kamu sangat menggemaskan sayang !" Papa Arya menarik hidung setengah mancung mama Bunga.


Setelah masuk ke dalam kamar, dan menutupnya rapat, dan tidak lupa menguncinya. Papa Arya langsung mengangkat tubuh Mama Bunga ala bridal style, membawanya ke arah sofa, mendudukkan tubunya di sana.


"Tidak terasa, anak anak kita sudah besar, rasanya baru aku mengandung dan melahirkan mereka semua. Sebentar lagi kita akan punya dua cucu" ucap Mama Bunga menyandarkan kepalanya ke dada bidang suaminya.


Papa Arya mengecup mesra kening Mama Bunga." Trimakasih sayang ! sudah memberikan kebahagiaan yang berlimpah untukku."


"Aku juga bahagia dengan takdir ini Aaryan !" Mama bunga mendongakkan wajahnya ke arah wajah Aryan.


"Sekarang mari kita bersenang senang !" ucap Papa Arya menaik turunkan kedua Alisnya.


"Kamu ! anak kita lagi patah hati, malah kamu ingin bersenang senang di atas penderitaannya." Wajah Mama Bunga berbinar saat mengatakan itu.


"Itu sudah biasa di rasakan anak muda yang lagi jatuh cinta sayang. Ayolah ! kita juga pernah muda, kita pernah melewati masa masa itu. Tidak perlu terlalu di kawatirkan, nanti kita carikan saja calon istri untuknya" ucap Papa Arya, berdiri dari sofa, memawa Mama Bunga ke arah tempat tidur, dan meletakkannya dengan sangat hati hati.


Setelah itu, terjadilah yang akan terjadi.


.


.


Dokter Aldo menghela napasnya, setelah membuka pintu kamarnya, melihat Diana tidur meringkuk di atas tempat tidur. Sudah seminggu Diana tinggal bersamanya, Diana hanya diam saja, dan tidak pernah keluar dari dalam kamar.


Dokter Aldo melangkahkan kakinya perlahan, meletakkan tas dan almateranya di atas sofa. Kemudian mendekati Diana di atas tempat tidur, setelah membuka sepatunya.


"Diana !" panggil Dokter Aldo, menyentuh lengan Diana. Namun Diana hanya diam saja, pura pura tidak mendengar.


Dokter Aldo mendudukkan tubuhnya di atas kasur, dan bersandar ke kepala ranjang. Dokter Aldo mengulurkan tangannya mengusap kepala Diana yang terbaring miring membelakanginya.


Diana yang mendengarnya pun, hanya diam saja, dan menggigit bibir bawahnya.


"Om janji akan berusaha membuatmu bahagia Diana !. Tetaplah berada di samping Om, mendampingi Om sampai ajal menjemput !" ucap Dokter Aldo lagi.


Dokter Aldo membaringkan tubuhnya, memeluk Diana dari belakang. Dokter Aldo berpikir, jika bukan dia yang memulainya, tidak mungkin Diana yang akan duluan mendekatkan diri kepadanya. Untuk memulai hubungan mereka.


Diana membeku, saat merasakan tangan Dokter Aldo melingkar di perutnya, jantungnya pun berdetak kencang tak karuan.


Dokter Aldo tersenyum, merasakan tubuh Diana kaku di dalam pelukannya. Dokter Aldo pun mengeratkan pelukannya ke tubuh Diana, mencium kepala Diana dari belakang.


"Bicaralah Diana !, jangan Diam terus seperti ini. Om bingung, tidak tau harus melakukan apa ?" bujuk Dokter Aldo. Dengan sengaja mengendus leher Diana dari belakang. Berhasil membuta bulu halus Diana meremang.


Diana semakin kuat menggigit bibir bawahnya, Diana malu, pria yang hampir usang di belakangnya itu, mengetahui kalau ia kegelian.


Dokter Aldo tertawa cekikikan, karna berhasil menjahili Diana. Gadis polos yang sebayaan dengan putrinya.


"Katakan Diana ! kalau kamu mau memulai hidup baru bersama Om !. Om berjanji, akan menjadi suami yang baik untukmu !" rayu Dokter Aldo.


"Om ! sesak ! Diana gak bisa napas" ucap Diana pelan, karna Dokter Aldo memeluknya sangat erat.


Dokter Aldo langsung saja melonggarkan pelukannya.


"Katakan Diana ! kalau kamu mau menjadi istri Om selamanya" ucap Dokter Aldo lagi, megambil tangan Diana, menyematkan jarinya ke selah jari Diana.


"Berikan Diana waktu Om !, Diana masih shok dengan pernikahan ini. Di hati Diana masih ada bang Reyhan" balas Diana, berkata jujur tanpa memikirkan perasaan pria tua di belakangnya.


"Om mengerti !, tapi kita bisa memulainya perlahan lahan. Dan Om akan membatumu membuang Reyhan dari dalam hatimu" ucap Dokter Aldo, Diana pun terdiam.


Dokter Aldo menggeser sedikit tubunya dari tubuh Diana. Kemudian membalik tubuh Diana ke arahnya. Dokter Aldo mengulurkan tangannya merapikan anak rambut Diana yang berantakan di wajahnya.


"Kamu cantik Diana !, Om menyukaimu !" gombal Dokter Aldo, membelai pipi Diana yang sudah merona dan menundukkan pandangannya.


"Apa Om boleh menciummu ?" tanya Dokter Aldo mengulum senyumnya.


Diana semakin menundukkan pandangannya, apa yang harus ia jawab. Diana bingung, menolaknya Diana tidak berani, jika menjawab iya, Diana pasti malu.


Dokter Aldo meraih dagu Diana, mendongakkan wajah Diana supaya menatapnya. Dokter Aldo tersenyum, ia sangat senang menggoda Diana yang malu malu.


"Kamu ingin kita bulan madu kemana istriku ? Hm..!" tanya Dokter Aldo lagi.


"Diana belum siap Om !" jawab Diana.


"Kenapa ?, bukankah cepat atau lambat kita pasti akan melakukannya ?" tanya Dokter Aldo.


Bayangkan saja, seorang suami yang tidak mendapatkan nafkah batin dari seorang istri selama bertahun tahun. Tentu sebagai laki laki normal, Dokter Aldo sudah sangat merindukan hal itu. Melihat Diana selama seminggu tidur di sampingnya tentu ! membuat jiwa kelelakiannya meronta ronta. Tapi Dokter Aldo harus menahannya, karna tak ingin memaksa Diana. Dokter Aldo mengatakan itu, hanya untuk mengetahui bagaimana respon Diana.


Diana diam tidak menjawab.


"Om akan menunggumu siap, tapi tidak masalah kita membahasnya. Mana tau kamu ingin jalan jalan entah kemana, Om akan membawamu kemana pun, yang kamu inginkan."


"Apa kamu ingin kita ke maladewa !, New zeland, Korea, Jepang, Thailand, Dubai, atau ke India mengunjungi istana tuan takur."


Jiah ! apa lagi ? gombalan penakluk hati wanita sudah masuk.


"Katakan kamu ingin kemana sayang !" gombal Dokter Aldo lagi.


Diana yang belum kuat imannya, pun mulai goyah. Godaan pria tua di depannya itu, lebih kuat dari godaan syetan yang terkutuk.


Diana menggeleng gelengkan kepalanya. Meski hatinya sudah di penuhi kupu kupu beterbangan. Diana masih ingat nasehat sang nenek, jadi wanita harus jual jual mahal. Entar rugi kalau jual murah.


"Apa kamu pengen kita soping ?"


Lagi, Diana menggelengkan kepalanya, menunggu umpan yang lebih besar lagi.


"Katakan sayang ! kamu pengen kita kemana ?" tanya Dokter Aldo lagi.


"Gak kemana mana Om !" jawab Diana pelan.


Sabar Aldo !, jangan meyerah untuk mengambil hatinya. Batu yang keras semakin lama akan berlobang jika sering di tetesi air. Anggap saja Diana adalah sebuah batu, tempatmu untuk memahat sebuah bunga. Yang akan terlihat indah nantinya jika kamu sudah berhasil memahatnya. Batin Dokter Aldo.


.


.