
"Bunuh diri saja !, Queen gak peduli !, dan juga Queen gak takut sama hantu. Lebih cepat bang Orion bunuh diri itu lebih bagus. Queen gak repot repot mengurus surat janda. Tinggal minta surat kematian sama Om Aldo, beres !" balas Queen. Tidak terpengaruh sama sekali dengan ancama Orion.
Orion melepas pelukannya dari tubuh Queen," Okeh !, sekarang juga abang akan bunuh diri di kamarmu !."
Orion langsung melangkahkan kakinya ke arah tangga rumah itu, naik ke lantai dua, dan masuk ke kamar Queen.
Sedangkang Queen, dengan santai ia berjalan ke meja makan. Dan mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi kosong. Dan langsung menyendokkan omelet sayur yang di masak Orion untuknya.Dari rasanya Queen tau, Orion yang memasaknya.
"Kak Queen ! kalau bang Orion benaran bunuh diri gimana ?" tanya Arcilla. Dia gak mau sampai ada roh penasaran berkeliaran di rumah mereka, seram.
"Biarkan saja !" jawab Queen santai, menelan makanan di mulutnya.
"Apa kak Queen gak takut, nanti rumah kita di datangi gentayangannya terus ?" tanya Arcilla lagi.
"Cuekin aja, nanti juga gentayangannya capek sendiri !" jawab Queen.
Di dalam kamar Queen, Orion mondar mandir dan sesekali mengeram, gemas karna Queen menghiraukannya. Orion berpikir keras, bagaimana caranya supaya ia bisa menaklukkan hati istri kecilnya itu.
Apa aku benar benar mencoba bunuh diri ya ?. Tapi aku takut mati benaran, aku masih suka bermain gulat di atas kasur bersama Queen. Bagaimana caranya aku mencoba bunuh diri tapi gak mati ?. Batin Orion
Tanpa sadar, Orion berjalan mondar mandir di kamar Queen, sudah hampir satu jam. Memikirkan kira kira adegan seperti apa yang pas untuk bunuh diri tapi tidak mati. Tersadar dari kebodohannya, Orion baru teringat dengan Queen yang tidak kembali lagi ke kamar.Kemana Queen sama Boy ?, batin Orion.
Orion pun memutuskan keluar dari kamar, ingin mencari Queen dan Boy. Dan juga ia ingin sarapan, karna perutnya sudah terasa lapar. Saat menuruni tangga, Orion berpapasan dengan salah satu pembantu rumah itu.
"Bu ! nampak Queen dan Boy dimana ?" tanya Orion.
"Pergi Pak !"jawab pembantu itu.
"Pergi ! kemana ?"
"Gak tau Pak !, tadi pergi baik mobil di antar supir"jawab pembantu itu lagi.
"Trimakasih Bu !" Orion melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga ke lantai bawah, sambil berpikir, kira kira kemana anak dan istrinya itu pergi.
.
.
Di tempat lain
Supir yang membawa Queen dan Boy, memarkirkan kenderaannya di depan sebuah rumah. Queen dan Boy pun langsung turun dari dalam mobil.
"Momy ! ini rumah siapa ?" tanya Boy.
"Rumah teman Momy !" jawab Queen, mengiring Boy berjalan ke arah pintu rumah tersebut, dan langsung membuka pintunya.
"Assalamu alaikum...!!!, tante Diana !!!, Sirin !!!" Seru Queen, melangkahkan kakinya bersama Boy ke arah ruang keluarga.
"Ikh ! Queen gak usah pake teriak teriak kali !" kesal Sirin.
"Kania belum datang ?" tanya Queen, menghiraukan Sirin yang kesal mendengar teriakannya.
"Sepertinya dia gak mau datang !" jawab Diana.
"Kenapa ?" tanya Queen, mendudukkan tubuhnya di salah satu sofa kosong bersama Boy.
"Kania 'kan sudah putus sama bang Ghissam" jawab Sirin.
"Kenapa ?" tanya Queen lagi, mencomot makanan yang tersedia di meja.
"Gak tau !" jawab Sirin." kamu sudah baikan sama bang Orion ?" tanya nya, melihat Queen membawa Boy bersamanya.
"Belum !" jawab Queen kemudian menghela napasnya.
"Kenapa Boy bisa bersamamu ?" Sirin menautkan kedua alisnya ke arah Queen. Di angguki Diana.
"Bang Orion tadi malam ke rumah bersama Boy. Dia menyuruh Boy untuk membujukku. Aku gak tega aja melihat Boy, menangis di depanku."
"Trus ?" tanya Sirin lagi, Diana pun menganggu lagi.
"Aku bawa aja Boy tidur bersamaku" jawab Queen.
"Tante Diana sendiri.. bagaimana kabarnya ?. Sudah isi belum itu perut ?. Atau jangan bilang kamu sama Om Aldo belum melakukannya" tanya Queen tersenyum.
"He um !" Sirin menganggukkan kepalanya, setuju dengan pertanyaan Queen.
Wajah Diana nampak merona, dan menundukkan pandangannya. Enggan menjawab pertanyaan Queen.
"Dosanya besar loh ! gak memberi hak suami !, nanti gak mencium bau surga" ucap Queen lagi. Queen bisa menebak kalau Diana belum menyerahkan dirinya kepada Dokter Aldo.
"Iya !" sambung Sirin." masa kamu gak penasaran ?, enak loh !" lanjut Sirin, menyenggol Diana dengan sikunya sembari tersenyum.
Diana hanya diam saja, dan menggigit gigit bibir bawahnya, sambil memikirkan apa yang di katakan Queen dan Sirin.
"Kasihan sekali Papaku !" ucap Sirin memasang wajah sedihnya ke arah Diana.
"Maaf Sirin ! aku benar benar belum siap !" lirih Diana.
"Apa karna Papaku sudah tua ?, kamu tidak selera melihatnya !" to the poin Sirin, kecewa dengan Diana. Sudah tiga bulanan menjadi istri Papanya, masih belum bisa membuka hatinya kepada sang Papa.
"Bukan seperti itu Sirin !" jawab Diana." Aku ingin melakukannya jika aku sudah mencintai Papamu Sirin!" ucapnya." A..aku belum move on dari bang Reyhan" lirihnya.
Sirin menghela napasnya,"sampai kapan ?" tanya Sirin.
"Aku juga gak tau Sirin !, aku sudah mencoba membuka hatiku, tapi sering kali bayang banyak bang Reyhan mengikutiku" jawab Diana.
"Ya sudahlah ! terserahmu saja, aku hanya kasihan dengan Papaku !" cetus Sirin. Kehamilannya membuat dia gampang kesal sama orang.
"Trus kita di sini ngapain ?" tanya Queen.
"Gak ada !" jawab Sirin, Queen mencebikkan bibirnya.
"Bagaimana kalau kita nonton drathai aja !" usul Diana, mengarahkan pandangannya ke wajah Queen dan Sirin bergantian.
"Ayok !" ujar Sirin setelah seperkian detik berpikir."Kita nontonnya di kamarku aja" usulnya lagi.
"Ayok !" sambung Queen.
Ketiga gadis remaja berstatus istri itu pun, beranjak dari tempat duduk mereka. Berjalan menaiki tangga ke lantai dua rumah itu, masuk ke dalam kamar Sirin.
"Momy !" panggil Boy, wajahnya nampak cemberut, ia tidak suka di cuekin ketiga gadis remaja itu.
Queen membungkukkan tubuhnya, mengangkat tubuh Boy, membawnya ke atas tempat tidur milik Sirin.
"Kita di sini ngapain ?, kenapa kita tidak main bersama Daddy aja ?" tanya Boy.
"Daddy lagi kerja sayang, kita mainnya di sini aja dulu mainnya, sama tante Sirin dan tante Diana" jawab Queen, membaringkan tubuhnya di atas kasur. Kemudian mengusap kepala Boy dari belakang.
"Iya Boy ! ayo sini sama tante !" Diana tangan Boy, supaya Boy berpindah kepadanya.
"Di ! gak ada cemilan ?" tanya Queen.
"Gak ada !, kenapa tadi gak bawa" jawab Diana, membuat Queen mencebikkan bibilnya kesal.
"Aku malas naik turun dari mobil, karna perutku yang besar ini" jawab Queen.
"Sudah berapa bulan itu ?" tanya Diana, mengarahkan pandangannya ke arah perut Queen yang ngelendung.
"Jalan enam bulan" jawab Queen.
"Gak lama lagi dong lahirannya!" ujar Diana.
"Hm..!" balas Queen.
"Sirin juga dah besar perutnya, itu dah berapa bulan ?" tanya Diana lagi kepada Sirin, yang sibuk mencari film di layar laptopnya.
"Lebih muda sebulan dengan kandungan Queen" jawab Sirin. Diana mengangguk anggukkan kepalanya.
"Kamu kapan Di ?, apa kamu gak pengen punya anak ?" tanya Queen lagi." nanti kita biar sama sama punya anak, pasti seru !" ucap Queen.
"Pengen sih !, tapi..." Diana menghela napasnya, ia benar benar belum rela memberikan mahkaotanya kepada pria tua yang sudah menjadi suaminya tuga bulan ini.
"Kamu itu ! sekarang jual jual mahal, nanti tau rasanya, ketagihan, pengen trus tau !" ujar Queen, menghasut sahabatnya,istri perawan Om Aldonya.
Diana diam dan menggigit bibir bawahnya, pikirannya melanyang mengingat benda berharga milik Dokter Aldo yang pernah di pegangnya.
Apa aku coba aja ya ?, kasihan juga Om Aldo, sering tersiksa, menahan hasrat bercintanya setiap kami tidur bersama. Tapi rasanya aku masih berat untuk memberikan perawananku kepada Om Aldo. Batin Diana
"Tuh ! filmnya sudah mulai , laptopnya tarok dimana ?. Biar enak nontinnya ?" tanya Sirin. Karna perutnya dan Queen yang sudah besar, mereka tidak bisa menontot sambil tengkurap di atas kasur.
"Di ujung kasur aja, kita nontonnya duduk menyender kekepala ranjang aja. Susah ni perut, kagak bisa di ajak kerja sama lagi" jawab Queen. Mendudukkan tubuhnya bersandar di kepala ranjang.
"Ini drathai gak ada adegan hotnya 'kan ?. Ada Boy, nanti bisa matanya ternodai" tanya Queen.
"Ada dikit, tutup aja nanti matanya!" jawab Sirin tersenyum, lalu tertawa cekikikan.
"Dasar genit, pantas saja kau bunting duluan" cibir Queen, tak berperasaan.
"Gimana lagi, aku tidak bisa menolak godaan Arsen saat itu" balas Sirin tersenyum, ia tidak akan tersinggung jika Queen yang mengatakan seperti itu padanya.
'Good baby !, faster baby !, good ! ouh ! ah ah ah ah !!!'
"Sirin...!!! film apa yang kamu putar Sirin !!!?, dasar emak emak genit !!!" teriak Queen, sambil tangannya menutup kedua mata Boy yang duduk di pangkuan Diana.
"Hahaha...!!!" tawa Sirin.
"Dasar kamu itu ya !, diam diam menghayutkan. Tampangmu aja yang kelihatan kalem, tapi genitnya minta ampun. Jangan jangan kamu sama Arsenio hampir setiap malam melakukan hubungan suami istri !" maki Queen, gemas dengan sahabat bermuka duanya itu.
"Biar Diana tau, seperti apa itu memakan burung !" gelak tawa Sirin lagi. Ia sengaja memutar film yang mengandung adegan 21+, untuk mereka tonton. Supaya Diana yang masih enggan untuk bercinta semakin penasaran.
"Dari mana kamu tau film itu ?, pasti kamu sudah pernah menontonnya ?. Hayo ngaku !" tanya Queen, menyipitkan matanya, menelisik wajah Sirin.
"Jangankan menontonnya, praktekinnya pun sudah sering" jawab Sirin.
"Aku ini masih perawan tau !, kamu sudah membuat mataku ternoda" ucap Diana dengan bibir mengerucut, meski ia sangat penasaran dengan potongan vidio hot yang sudah di matikan Queen.
"Makanya ! cepat kasih aku dan bang Ghissam adik !" balas Sirin, di sisa sisa tawanya.
"Tunggu saja !" cetus Diana." kamu itu ! gak ada sopannya sama Ibumu !, masa kamu gak malu ?, aku ini istri Papamu !" ucap Diana lagi.
"Sorry !, aku terlalu gemas denganmu, yang terlalu jual jual mahal sama Papa" balas Sirin.
"Iya ! aku akan menyerahkan diriku sama Om, biar kamu puas !" kesal Diana.
"Buktikan saja, aku tunggu kabar kamu hamil, mengandung adik untukku !" ujar Sirin, Diana pun mendengus.
"Momy ! kenapa mata Boy di tutup Mom ?"tanya Boy.
"Ada hantu lewat sayang !" jawab Queen.
"Hantu ? serius Mom ?" heboh Boy, ia sangat penasaran dengan yang namanya hantu, kira kira seperti apa ?.
"Iya sayang !, ini Boy main game di handphon Momy aja ya !." Queen memberikan handphonnya kepada Boy, supaya Boy tidak bosan dan tidak ikut menonton film yang tidak bagus untuk usia balita.
"Kamu bisa menerima Boy, kenapa kamu belum bisa menerima bang Orion ?" tanya Sirin, menajamkan pandangannya ke wajah Queen.
"Aku juga gak tau !, aku malas dan tak suka melihat wajahnya" jawab Queen.
"Terserahmu lah !, dulu aja kamu tergila gila pasanya, sekarang malah kamu bilang tidak suka melihatnya. Bang Orion padahal baik dan sayang padamu. tidak ada manusia yang sempurna Queen !" ujar Sirin lagi.
"Ayo lanjut nonton lagi, aku kesini untuk menghibur diri, bukan untuk membahas masalah" ucap Queen.
Tiba tiba, handphon Queen yang berada di tangan Boy bersering. Queen langsung mengalihkan pandangannya ke arah layar handphonnya. Melihat siapa yang menghubunginya.
Queen mengerutkan keningnya, karna yang no menghubunginya tidak ada nama kontaknya.Siapa ?, batin Queen
"Ada yang telephon Mom !" Boy menyerahkan handphonnya kepada Queen.
Queen mengambil handphonnya dari tangan Boy, dan langsung mendial tombol hijau di layarnya.
"Halo !"
"Non Queen !, Pak Orion di bawa ke rumah sakit !...
.
.
.
.