
Orion kembali ke depan rumah untuk melihat apakah Kezia masih di depan rumah atau sudah pergi. Ternyata masih di depan rumah, seharusnya sudah pergi. Orion melihat Kezia memegang kotak perhiasan yang berisi cincin pertunangan mereka yang ia lempar tadi kepada Kezia.
"Kenapa kamu belum juga pergi Kezia ?" tanya Orion.
"Aku gak mau rencana pertunangan kita di batalkan Orion. Aku malu sama keluargaku, sama teman temanku, sama orang orang kampus" Kezia berbicara menatap Orion dengan mata berkaca kaca.
"Setelah apa yang sudah kamu lakukan ke aku Kezia ?. Memfitnahku dengan kezi Kezia ?" tanya Orion, tidak habis pikir dengan wanita yang di cintainya itu dengan tulus.
Kezia terdiam menundukkan kepalanya," a..aku takut kehilanganmu Orion !. Maafkan aku !" ucapnya, penuh pemyesalan.
"Hatiku sudah terlanjur sakit hati dan kecewa sama kamu Kezia !. Aku sudah tidak bisa melanjutkan hubungan kita lagi" balas Orion.
"Maafkan aku Orion ! beri aku kesempatan sekali lagi !, aku janji akan berobah" mohon Kezia dengan wajah mengiba.
"Selama ini aku sudah menutupi keburukanmu dari keluargaku, supaya mereka senang melihatmu, supaya hubungan kita di restui. Kamu tau karna apa Kezia ?,itu karna aku mencintaimu. Dan sekarang jika pun aku bisa memaafkanmu, apa kamu pikir kamu akan di terima dengan baik lagi di rumah ini ?. Dan aku juga tidak akan menikahi wanita manapun tanpa mendapat restu dari keluargaku. Kamu tau karna apa ?, karna keluarga itu sangat penting bagiku. Sekarang pulanglah !, jangan pernah datang kesini lagi, apa lagi berharap kamu bisa menjadi menantu di rumah ini !. Bawalah cincin itu, anggap saja itu hadiah terakhir dariku !." Setelah berbicara panjang lebar, Orion masuk ke dalam rumah. Menaiki tangga masuk ke dalam kamarnya.
Kezia pun melangkahkan kakinya pergi dari sana, membawa penyesalan yang mendalam. Membawa ke gagalan, gagal menjadi menantu orang kaya. Dan tanpa rasa malu membawa cincin pertunangan yang gagal di sematkan Orion di jari manisnya. Lumayan ! harga cincin itu setara dengan harga satu unit mobil baru. Mungkin Kezia bisa memakainya untuk berpoya poya. Dan apakah Kezia masih punya muka pergi ke kampus, dengan wajah terangkat bak model yang lagi tampil di atas pentas red karpet. Yang selalu membanggakan dirinya menjadi kekasih dari seorang Orion Ozama. Laki laki tampan dan berduit yang selalu menjadi idola dari jaman dahulu kala. Sepertinya Kezia juga lupa, kalau biaya sekolahnya sampai sekarang, dari donasi yang di sumbangkan Papa Arya ke sekolah sekolah sampai perguruan tinggi, untuk murid dan mahasiswa berprestasi. Bagaimana kalau bea siswanya di cabut Papa Arya ?, kenapa Kezia gak berpikiran kesitu ?.
.
.
"Sayang ! gimana keadaan Queen ?, apa dia masih demam ?" tanya Gandi, ia baru pulang kerja, langsung ke rumah sakit, untuk menggantikan istrinya menjaga Queen yang sakit terserang demam tinggi semenjak tiga hari yang lalu.
Vani menggelengkan kepalanya lemah," dari tadi Queen hanya menggumamkan Orion trus Pa !" jawab Vani.
Gandi menghela napasnya, segitunya kah putrinya merindukan Orion sampai sakit.Begitu besarkah cinta putrinya kepada Orion. Ini semua gara gara istrinya itu. Coba istrinya tidak pernah menghasut Queen, yang selalu menanamkan dihati putrinya, kalau Orion calon suaminya. Mungkin gadis kecilnya itu tidak mengalami jatuh cinta di usianya yang belia.
"Pah ! apa kita kasih tau Orion kalau Queen sakit. Supaya Orion menjenguk Queen. Mana tau Queen bisa sembuh Pa !" usul Vani. Ia tidak tega melihat putri cerianya berbaring lemah tak berdaya di atas brankar rumah sakit.
"Queen harus bisa sembuh tanpa Orion sayang !. Queen harus terbiasa hidup tanpa Orion!" tolak Gandi.
"Aku gak tega melihat putri kita seperti ini Pah !" ujar Vani, menghapus air matanya yang sempat keluar. Vani akan menjadi sosok yang lemah jika sudah bersangkutan dengan anak anak.
"Kalau aku bilang gak ! gak Vani !" marah Gandi, Vani langsung terdiam tak berkutik. Suaminya itu memang baik dan romantis, tapi kalau hatinya sudah membeku, susah di cairkan, meski sudah di rayu dengan rayuan maut.
"Bang Orion !" gumam Queen.
Gandi mengalihkan tatapannya ke wajah Queen yang bergumam dengan mata terpejam. Hati Gandi tidak luluh, Queen harus bisa sembuh tanpa sosok Orion. Vani semakin menangis terisak.
Vani berdiri dari kursinya, berjalan ke arah pintu ruang perawatan Queen. Setelah membuka pintunya, Vani memutar tubuhnya ke arah Gandi.
"Aku akan ke rumah Bunga, memberitahu kalau Queen sakit" ujar Vani.
"Coba saja kalau berani !, akan ku ikat kakimu itu !" ancam Gandi.
"Gak apa apa kamu mengikatku !, yang penting bagiku, putriku bisa sembuh !." tantang Vani.
"Pergilah ! aku akan membawa Queen dari sini !. Tanpa memberitahumu kemana aku akan membawanya !" ancam Gandi lagi.
Bagaimana Vani tidak kawatir melihat Queen. Semenjak mereka pindah rumah, Queen tidak mau makan dan minum sama sekali, sehingga Queen sakit dan harus di bawa ke rumah sakit . Dan suaminya itu pun terlalu keras kepada Queen, membuat anak itu ketakutan dengan Papanya.
"Lihat Vani !, putri kita sampai seperti ini gara gara bocah itu !. Apa aku harus mengemis kesana, berlutut, memohon menangis nangis kepada bocah itu, memintanya untuk putri kita ?. Dia sudah menolak putri kita berkali kali Vani !. Kita harus punya harga diri Vani !" ujar Gandi, mengugar kasar rambutnya ke belakang.
"Kalau kamu masih ingin nekat !, aku akan mengirim kalian jauh dari sini !" ancam Gandi lagi.
"Apa kita membiarkan putri kita sakit seperti itu ?. Sudah tiga hari dia di rawat di sini, gak ada perobahan !" tanya Vani.
"Aku akan mendatangkan Dokter anak dan Psikolog terbaik. Kalua bisa aku akan mendatangkan orang yang bisa membuat putri kita melupakan masa lalunya !"Jawab Gandi, hatinya sudah benar benar mengeras.
"Kamu jahat Gandi !" Vani menggeleng gelengkan kepalanya, tidak percaya jika hati suaminya sekeras batu. Vani pun pergi melangkahkan kakinya keluar dari ruang perawatan Queen. Berjalan sambil mengusap air matanya yang berderai.
Sampai di parkiran mobil, Vani masuk ke dalam mobilnya. Dan langsung melajukannya keluar dari parkiran rumah sakit, melajukannya ke jalan raya bergabung dengan kenderaan lain.
Vani tidak terlalu mempermasalahkan jika Orion dan Queen tidak berjodoh. Tapi kenapa suaminya itu terlalu mempermasalahkannya, lebih mementingkan harga diri. Apa karna suaminya itu adalah orang yang hebat, seorang pengusaha tajir di kota mereka tinggal,sehingga harga dirinya sangat tinggi.
Vani memarkirkan mobilnya di halaman rumah yang tampak sederhana. Vani keluar dari dalam mobilnya, berjalan ke arah pintu rumah yang berukuran 6× 12 meter itu. Vani mengetuk pintu rumah itu sembari memanggil nama sahabatnya.
"Tari...!" panggil Vani.
Tiga kali Vani memanggil nama sahabatnya itu, barulah pintu terbuka dari dalam.
"Vani ! ada apa ? kenapa kamu menangis ?" tanya Tari, memeluk sahabatnya membawanya masuk ke dalam rumah.
Vani tidak menjawab, ia hanya menangis terisak dan sesekali terdengar cigukan dari dalam pelukan Tari sahabatnya.
"Sssttt....!" Tari mengusap usap punggung sahabatnya itu, supaya tangis Vani mereda. Setelah itu mungkin Vani bisa bercerita, kenapa dia datang dengan keadaan menangis ke rumahnya.
Setelah tangis Vani mereda, ia pun menceritakan semuanya. Masalah yang terjadi antara keluarganya dengan keluarga Bunga. Sampai Queen sakit di rawat di rumah sakit. Dan Gandi yang berubah menjadi keras kepala, sehingga menyebabkan pertengkaran di antara mereka.
Tari hanya diam tidak bisa berkomentar apa apa selain kata sabar. Kenapa persahabatan mereka seperti akan berhujung di ujung tanduk ?, pikir Tari.
Jika sampai persahabatan mereka hancur, itu sangat disanyangkan.
"Jangan kasih tau Bunga atau siapa pun kalau Queen sakit. Gandi nanti baisa marah kepadaku !" pinta Vani. Ia mendadak ketakutan dengan Gandi, yang menurutnya suaminya itu berobah menjadi dingin.
"Gak usah kawatir !" balas Tari.
"Trimakasih sudah mendengarkan curhatanku !. Aku pulang dulu, Ghaisan dan Arcilla pasti sudah menungguku di rumah !" pamit Vani.
"Ya udah ! hati hati, besok aku akan datang menjenguk Queen !" ucap Tari, yang di angguki Vani.
Vani pun keluar dari dalam rumah Tari, dan langsung masuk ke dalam mobilnya.
.
.