Brother, I Love You

Brother, I Love You
88.Ngidam baby bambu



"Trimakasih sudah menerima Boy sayang !" ucap Orion, menarik Queen ke dalam pelukannya, setelah mengakhiri vc dengan Boy.


"Nama lengkap Boy siapa ?" tanya Queen.


"Boy Angkasa Alfarizqi" jawab Orion tersenyum. Queen menganggukkan kepalanya membalas senyuman Orion.


"Nama yang bagus !" komentar Queen.


"Abang berharap nanti Boy, memiliki derajat yang tinggi, dan selalu di mudahkan rejekinya" ucap Orion, mengatkan kenapa ia memberi Nama Boy Angkasa.


"Amin !" balas Queen."Nanti pulang sekolah kita ke rumah Arsen sama Sirin ya !" ucap Queen lagi, di angguki Orion.


Orion juga ingin melihat tempat tinggal adiknya itu, seperti apa dan bagaimana, dimana mereka tinggal.


Mereka pun sudah sampai di sekolah, dan langsung turun dari dalam mobil.


Sekolah nampak sepi, tidak banyak murid yang hadir, hanya kelas Tiga saja. Karna hari ini adalah hari pertama kelas tiga melaksanakan ujian kelulusan.


"Ayo abang antar ke kelasmu !" Orion menyematkan kelima jarinya ke selah jari Queen, menarik Queen untuk mensejajarkan langkah mereka.


Sampai di kelas Queen akan mengikuti ujian, belum ada orang. Karna mereka tuba di seokalah sangat cepat. Orion membantu Queen duduk, kemudian mendudukkan tubuhnya di kursi yang berada di samping Queen.


"Abang akan menemanimu di sini sebentar, sebelum ada orang datang" ucap Orion, tangannya pun mengusap usap perut Queen, wajahnya berbinar senang, tidak lama lagi ia akan menjadi seorang Ayah yang sesungguhnya."Abang sudah tidak sabar menunggunya lahir Queen !."


"Kita langsung memiliki dua orang anak !" komentar Queen, mengingat ada Boy yang sudah menjadi anak pertama mereka, wajah Queen berbinar juga berbinar saat mengatakan itu.


"Trimakasih ya ! sudah menerima Boy !" ucap Orion.


"Bang Orion sudah mengatakan kalau aku adalah Momy nya. Apa yang bisa kulakukan sekarang, selain menerimanya" balas Queen.


"Karna kamu istriku satu satunya, lantas siapa lagi yang kukatakan Momy nya kalau bukan kamu sayang ?."


"Hm..Aku jadi tak sabar ingin bertemu dengannya. Aku lihat dia bocah yang sangat menggemaskan" ucap Queen tersenyum." Aku benar benar menjadi Mama muda." Queen menundukkan sedikit kepalanya, melihat perutnya yang dari tadi di elus elus Orion.


"Apa kamu senang sayang ?"


Queen menganggukkan kepalanya, mengarahkan pandangannya ke wajah tampan Orion.


Ehem !


Lefleks Queen dan Orion menoleh ke arah pintu.


"Sirin ! Arsen !" ucap Queen.


"Semua siswa siswi tidak ada yang berani masuk, mendengar kalian bermesraan di kelas ini" ucap Arsenio. Masuk ke dalam kelas, mengantar Sirin sampai ke bangkunya.


"Kenapa mereka tidak berani masuk ?" tanya Queen.


"Mereka takut mengganggu !" jawab Arsenio.


"Sayang ! kalau begitu abang pergi dulu. Semangat ujiannya. Awas kalau kamu dapat nilai yang jelek !" ancam Orion berdiri dari tempat duduknya.


Queen mengerucutkan bibirnya, gimana nilainya mau bagus, kalau waktu belajarnya sudah banyak tersita, untuk menangis dan melayani burung hantu suaminya itu.


Sebelum melangkahkan kakinya, Orion pun menjatuhkan satu kecupan di ujung kepala istrinya. Sapai di depan pintu, Orion pun menyuruh murid murid yang berdiri di depan kelas untuk masuk.


"Kalian masuklah !"


"Iya Pak !" jawab seorang siswi, dan langsug melangkahkan kakinya di ikuti yang lainnya. Suka suka anak anak pemilik sekolah ini aja, batinnya.


"Sayang ! semangat ya ujiannya !, aku akan menunggumu di luar" ucap Arsenio, mengacak acak ujung kepala Sirin, lalu pergi keluar dari dalam kelas.


"Sirin kamu sakit apa sebenarnya ?" tanya salah satu siswi. Melihat Sirin wajahnya pucat dan tubuhnya kurus dan lemah.


"Asam lambung !" bohong Sirin.


"Oh !, aku pikir kamu hamil, soalnya Kakakku yang lagi hamil, persis seperti kamu, kelihatan lemah" ucap Siswi itu lagi, dan Sirin pun terdiam.


Untung saja aku hamil saat sudah mau lulus sekolah. Kalau tidak ?, pasti sekolahku sudah terbengkalai, batin Sirin, meghela napasnya.


Bel pertada masuk pun berbunyi, dan ujian pun segera di mulai. Dengan sabar Arsenio duduk menunggu Sirin di bangku yang berada di depan kelas. Sambil berpikir, kira kira usaha apa yang akan ia buka. Semala ini ia tidak pernah membantu usaha Papa Arya, dan abang abangnya. Ia hanya tau meminta duit, dan ngelayapan.


Waktu pun berlalu, ujian hari ini pun selesai, Queen dan Sirin beserta murid lainnya keluar dari dalam kelas.


"Gimana ujiannya ? lancar ?" tanya Arsenio kepada Sirin. Sirin menggelengkan kepalanya, bagaimana mau lancar, di sendiri tidak kurang mempersiapkan diri. Hamil membuatnya malas belajar dan banyak tidur.


"Gak apa apa !" Arsenio melingkarkan satu tanganya kepinggang belakang Sirin, menuntunnya berjalan, melupakan Queen yang berada di dekat mereka.


"Kalian kalau sudah berdua, selalu melupakan keberadaanku !" ketus Queen, mengikuti langkah kaki kedua pengantin baru itu ke parkiran.


"Kamu juga gitu ! kalau ada bang Orion, lupa denganku !" balas Sirin.


Queen mendengus, ia baru beberapa bulan ini, Orion selalu ada di sampingnya. Sedangkan Sirin, semenjak jaman SMP, Arsenio sudah sering bersamanya.


Sampai di parkiran, Arsenio membuka pintu untuk Sirin, dan menuntunnya masuk. Queen yang kesal di cueki, membuka pintu kursi penumpang belakang mobil Arsenio, dan langsung masuk duduk di dalam.


"Nagapain masuk ke mobilku ?, itu mobil kalian !" tegur Arsenio.


"Aku mau ikut ke rumah kalian !" jawab Queen.


Arsenio pun berjalan memutari bagian depan mobilnya ke arah pintu kursi pengemudi, dan langsung membuka pintunya. Setelah duduk dan menutup pintunya, Arsenio langsung melajukannya.


"Bang Orion kamu tinggalin ?" tanya Sirin dari depan.


"Katanya dia lama, bang Orion sendiri yang menyuruhku ikut duluan bersama kalian" jawab Queen.


"Sayang ! mau makan apa ?, tadi pagi kamu makannya cuma sedikit" tanya Arsenio kepada Sirin.


"Pengen makan bayi bambu, di masak santan pasti enak" Queen yang menjawab.


"Minta sama bang Orion !" cetus Arsenio, kenapa pula kakak iparnya itu yang menjawab, padahal yang di tanya Sirin.


"Aku juga mau Arsen !" ucap Sirin, membayangkan makanan yang di katakan Queen, tiba tiba ia juga menginginkannya.


"Ya udah ! sekalian kita ke pasar mencarinya" satu tangan Arsenio terangkat mengusap kepala Sirin dari belakang.


"Aku pengen yang baru di ambil dari rumpunnya" rengek Sirin.


Ciiiiitttttt.....!


"Arsen !!!!!" teriak Sirin dan Queen bersamaan, karna Arsenio melakukan rem mendadak. Dan untuk saja laju mobil itu rendah, sehingga tidak sampai membahayakan kedua wanita hamil itu.


"Apa iya rasanya beda yang di ambil dari rumpunnya sama yang di beli di pasar. Lagi pula dimana aku harus mengambilnya. Aku rasa mengambil itu tidak mudah" cerca Arsenio, masa ia harus ke hutan ?, di sana pasti banyak ular, Arsenio takut itu.


Sirin merajuk, ia pun cemberut mengerucutkan bibirnya.


"Kalau sampai anakku kenapa kenapa, ku potong burung balammu itu dari situ Arsen !" kesal Queen, menarap Arsenio dengan tatapan marah.


Arsenio menjadi pusing dengan kedua wanita hamil di dalam mobilnya. Yang satu merajuk, satunya kesal dan marah.


Arsenio mencebikkan bibirnya, kemudian melajukan kenderaannya kembali, membawa kedua wanita itu pulang ke rumah kontrakan.


Sampai di depan kontrakan, Serin yang masih merajuk, melongos keluar dari dalam mobil, membuka kunci rumah mereka dan langsung masuk. Begitu juga dengab Queen yang kesal, ia pun mengikuti Sirin masuk.


Sirin yang masih berada di ruang tamu, langsung menarik Queen masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya rapat rapat.


"Sirin ! apa kamu betah tinggal di sini ?" tanya Queen, melihat kamar Sirin dan Arsenio sangat kecil dan apa adanya. Queen pun mendudukkan tubuhnya di atas kasur tipis yang ada di kamar itu, di ikuti Sirin duduk di sampingnya.


"Bagaimana lagi, Arsenio gak mau kembali pulang ke rumah Papa Arya. Padahal Papa Arya sama Mama Bunga tadi malam datang ke sini mengajak kami pulang" desah Sirin." aku mengajaknya tinggal di rumah Papa pun dia gak mau." ucapnya lagi, dengan wajah sedihnya.


"Sabar ya !, kamu juga tau Arsenio itu dari dulu keras kepala, bandel dan gengsinya tinggi. Masih saja kau menyukainya, coba kamu bersama bang Reyhan, hidupmu tidak akan seperti ini" balas Quee.


"Bagaimana lagi !, aku mencintai Arsenio, dan aku sama sekali tidak bisa mencintai bang Reyhan."


Queen menghela napasnya, jika Sirin harus menghadapi sikap Arsenio yang keras kepala, dan keadaan yang berubah miskin. Beda cerita dengan dirinya. Yang menghadapi kenyataan suaminya yang sudah perjaka lagi kepadanya. Orion melakukannya dengan wanita lain, saat status mereka menikah sirih.


Queen yang tidak mampu memendam kegundahan hatinya. Tiba tiba memeluk Sirin, dan menangis di pundak Sirin. Yang selama ini Sirinlah yang menjadi teman curhatnya, begitu juga dengan Sirin.


"Queen kenapa tiba tiba kamu menangis ?" heran Sirin, mengusap usap punggung Queen dari belakang. Namun Queen semakin menangis terisak di salam pelukannya.


"Queen !" panggil Sirin


"Biarkan aku menangis sebentar Sirin !" ucap Queen di selah selah tangisnya. Sirin pun diam, membiarkan Queen menangis di pundaknya.


Arsenio, ia memilih pergi ke warung untuk belanja bahan masakan. Ia harus memasak untuk Sirin, karna pasti istrinya itu nanti lapar. Setelah itu mungkin ia akan mengajak abang abangnya ke hutan untuk mencari rebung, seperti permintaan Sirin. Selesai belanja, Arsenio pulang ke rumah, dan langsung pergi ke dapur untuk memasak. Memberikan kesempatan ke dua sahabat itu berdua duaan di kamar.


"Apa yang terjadi ? kenapa kamu menangis ?" tanya Sirin, setelah Queen menghentikan tangisnya.


"Bang Orion.." Queen pun menceritakan kenyataan tentang Orion dari A sampai Z kepada Queen. Meski Queen sadar kalau ia sudah menceritakan aib suaminya, tapi ia tidak sanggub untuk menyimpan beban di hatinya. Dadanya terasa sesak, ia harus meluahkannya, karna Queen tau, Sirin bisa di percaya, tidak akan menceritakannya kepada siapa pun.


"Yang sabar ya !, Seperti yang kamu katakan, bang Orion juga tidak sengaja melakukannya. Kamu terlalu mencintai bang Orion, mungkin karna itu Tuhan terus menguji cintamu dengan terus menunjukkan kekurangan bang Orion. Tuhan ingin melihat, sebesar apa kamu mencintai bang Orion. Benarkah kamu mencintainya dengan tulus. Atau kamu hanya mencintai bang Orion karna kelebihannya selama ini" ucap Sirin.


Queen terdiam, memikirkan apa yang di katakan Sirin.


"Dulu juga kamu terlalu memaksa bang Orion untuk menjadi milikmu. Sampai memintanya menikahimu, padahal waktu itu kita masih SD. Kalian memang pasangan yang unik" ucap Sirin tersenyum, mengingat kekonyolan Queen yang terus berusaha mengejar ngejar cinta Orion.


"Tapi setelah menikah dua minggu dia meninggalkanku selama tujuh Tahun" Queen berbicara mengerucutkan bibirnya.


"Yang pentingkan sekarang bang Orion setia dan sudah kembali. Dan juga emang kamu mau menjalani pernikahan yang sesungguhnya jika bang Orion dulu gak pergi keluar Negri. Bagaimana kalau bang Orion langsung menghamilimu, padahal kamu masih SD, apa kamu mau ?" Sirin bergidik ngeri sambil membayangkan jika Queen hamil saat usaianya masih SD.


"Gak maulah !, ini aja sebenarnya Queen belum siap hamil. Gak tau kenapa, Queen bisa hamil, padahal bang Orion sudah pakai balon" ucap Queen. Queen tidak tau, bang Orionnya memakai balon bocor setiap mereka bercinta.


"Aku juga tidak nyangka, aku bisa langsung hamil, padahal kami melakukannya hanya sekali waktu itu" ucap Sirin.


"Yakin hanya sekali !" cibir Queen.


"Ya..yakinlah !" gugub Sirin, wajahnya merona salah tingkah.


"Yakin setelah perawanmu berhasil di boboli burung balamnya Arsen. Kalian gak minta nambah ?" bisik Queen ke telinga Sirin sembari tersenyum." hayo ! ngaku."


Sirin tidak menjawab, ia hanya tersenyum malu malu, menanggapi pertanyaan Queen.


"Dari wajahmu yang memerah, aku yakin kalian melakukannya lebih dari satu kali" Queen berbicara dengan menyipitkan matanya ke arah Sirin.


Di dapur, Arsenio sibuk sendiri dengan masakannya. Seharusnya kedua wanita itu yang memasak, ini malah terbalik, kedua wanita hamil itu membiarkannya begitu saja memasaj sendirian. Mereka sibuk saling curhat di dalam kamar.


"Assalamu alaikum !" seru dari pintu masuk rumah itu, yang kebetulan tidak di tutup.


"Walaikum salam !" balas Arsenio dari dapur, dari suaranya Arsnio yakin, yang datang itu adalah abang Orionnya. Tidak perlu di tanya, dari mana abangnya itu mengetahui rumahnya. Itu pasti sudah menggunakan kekuatan magignya, melacak keberadaan handphon Queen melaui gps." Masuk !" serunya lagi, enggan meninggalkan masakannya di dalam kuali.


Orion yang berdiri di depan pintu, pun melanglahkan kakinya masuk ke dalam rumah kecil itu. Dan langsung berjalan ke arah dapur tanpa ragu, ia yakin itu memang rumah Arsenio dan Sirin.


"Dimana istriku ?"


"Di kamar !" Jawab Arsenio, sibuk membalik ikan goreng di kualinya." Istrimu ingin makan rebung, tapi harus di ambil sendiri dari rumpunnya" ucap Arsenio, padahal istrinya sendiri yang menginginkan langsung dari rumpunnya, sedangkan Queen hanya menginginkan rebung saja dan tidak harus langsung dari rumpunnya. Arsenio sengaja mengatakan itu, supaya abangnya yang mencarinya.


"Dimana ada rumpun bambu ?" tanya Orion.


"Di hutan !" jawab Arsenio,tersenyum dalam hati.


"Masa iya aku harus masuk hutan ?" Orion menggaruk leher belakangnya yang mendadak gatal. Memikirkan di hutan banyak ular, kera dan binatang sejenisnya.


"Dari pada anakmu nanti lahir ileran..mau ?" ucap Arsenio.


"Telephon Papa aja deh !, Papa pasti bisa menyuruh karyawan kebun mengambilnya di hutan" Orion mengeluarkan handphon dari saku celananya, dan langsung menghubungi Papa Arya.


"Halo ! ada apa Orion ?" tanya Papa Arya dari dalam HP.


"Cucu papa menginginkan rebung langsung dari rumpunnya pa !, Orion gak tau harus cari kemana Pa !" jawab Orion.


"Di perkebunan kelapa sawit kita sepertinya ada. Coba lihat kesana, ada apa gak ?. Nanti minta tolongin sama karyawan disana untuk menemanimu" balas Papa Arya.


Orion menggaruk kepala belakangnya, ia malas sekali kalau mau masuk hutan. Niat mau minta tolong kepada Papa Arya. Malah di suruh mencari sendiri ke perkebunan.


"Orion takut masuk hutan Pa !, nanti di sana banyak ular" ucap Orion.


Papa Arya menghela napasnya, kenapa pula anak anaknya semua takut ular, padahal mereka semua memiliki ular.


"Ya sudah ! Papa akan menyuruh karyawan kebun mencarinya" pasrah Papa Arya.


"Tapi Sirin mau ! Arsen yang mengambilnya langsung !." ucap Sirin tiba tiba datang ke dapur bersama Queen.


Orion yag mendengar rengekan Sirin, langsung mengalihkan tatapannya ke araha Sirin, kemudian beralih ke arah Arsenio, menatap tajam wajah adik pereman setengah jadinya itu.


"Kamu membohongi abang Arsen ?" geram Orion dengan rahang mengeras.


"Gak !" bantah Arsenio." Queen juga menginginkannya" ucapnya.


"Benaran Queen ?, kamu menginginkan rebung harus langsung dari rumpunnya ?."


"Nggak ! Sirin aja tuh !" jawab Queen.


"Dasar kau adik durhaka !, berani beraninya kau membohongiku !" geram Orion. kemudian mengambil ikan yang di goreng Arsenio, dan langsung memakannya.


"Woi ! itu buat istriku !" Tegur Arsenio.


.


.