
Pulang kerja, Jhonatan langsung masuk ke dalam kamar. Tidak akan ada sambutan manis dari istri tercintanya itu. Setiap hari handuk untuk mandi yang selalu menyambutnya dari tangan Sabina.
"Sayang, mandi bareng yuk!" ajak Jhonatan. Sabina langsung menajamkan pandangannya ke wajah tersenyum Jhonatan. Jhonatan menghela napas lemah, tidak bisa membaca ekspresi wajah itu, selain cantik.
Tapi tak di sangka, Sabina menganggukkan kepalanya. Ingat! tanpa senyum.
Tanpa aba aba, Jhonatan pun langsung mengangkat tubuh istrinya itu ke dalam kamar mandi. Menghabiskan waktu sekitar setengah jam di kamar mandi, akhirnya Jhonantan membawa keluar tubuh istrinya itu. Mukanya masih sama, tetap datar meski sudah di cuci bersih.
"Sekarang udah boleh cium?" tanya Jhonatan menurunkan tubuh Sabina di pinggir kasur.
"Di kamar mandikan udah" ucapnya namun kepalanya mengangguk.
"Ulu ulu..! lucunya istriku" Jhontan mencubit gemas kedua pipi Sabina sehingga membuat wanita itu menjerit.
"Sakit Bang !"
Hap!
Jhonatan langsung membungkam mulut istrinya itu dengan ciuman.
"Suka?" tanya Jhonatan setelah melepas ciumannya.
"Lagi" ucapnya tersenyum malu malu.
Jhonatan tertawa kecil, gemas melihat wajah merona istrinya yang malu malu menggemaskan. Jhonatan pun menciumnya kembali.
"Mama ! Papa lagi ngapain?"
Jhonatan dan Sabina langsung melepas ciuman mereka mendengar suara Agam masuk ke dalam kamar mereka.
"Itu tadi Mamanya ke lilipan, Papa lagi meniupnya" jawab Jhonatan, menjauhi Sabina dan segera memakai pakaiannya.
"Tapi Agam lihat, Papa gigit bibir Mama." Agam naik ke atas tempat tidur untuk memeriksa bibir Sabina.
"Mana ada sayang!" bantah Jhonatan.
Takk!
"Sakit Mama" keluh Agam mengusap usap keningnya karna baru saja mendapat sentilan.
"Biar kamu ingat, masuk ke kamar Mama sama Papa ketuk pintu dulu" gemas Sabina pada anaknya.
Agam cemberut dengan mata berkaca kaca, wajah dan ujung nampak merah. Mamanya sering kali galak galak seperti kakek burung gagak.
"Kenapa?" lirihnya.
"Sayang, kamu suka kali marahin anak kita dengan kasar" tegur Jhonatan mengambil Agam dari atas kasur.
"Dia sering gak tau sopan" bela Sabina, ia pun mengambil bajunya dari dalam lemari, lalu memakainya.
"Dia masih kecil, nanti kalau sudah besar, pasti dia paham" ujar Jhonatan.
Sabina tidak membalas ucapan suaminya lagi. Selesai berpakaian, ia langsung keluar kamar menuju dapur mencari makanan.
Tak lama kemudian, Jhonatan dan Agam menyusul. Di meja makan Sabina sudah sibuk memakan kue bika ambon buatan kakak ipar tertuanya.
"Pah! Agam mau itu." Agam yang berada di gemdongan Jhonatan menunjuk kue di depan Sabina.
Hm..anaknya sendiri pun sering takut melihat mula datar istrinya. Seperti apa sih datarnya wajah Papa mertuanya?. Sayang sekali, Jhonatan tidak sempat melihat wajah asli Papa Arya, sudah go it.
"Iya sayang, kita bujuk Mama dulu ya, kita rubah dulu wajah datarnya" ucap Jhonatan mengusap usap kepala anaknya yang ketakutan melihat emaknya sendiri.
Ehem!
Jhonatan berdehem sebelum mendudukkan tubuhnya di samping Sabina." Anak Papa sukanya bika ambonnya?" ucap Jhonatan mengelus perut Sabina yang mulai sedikit menonjol.
Sabina tidak menanggapinya, ia lebih memilij menikmati makanan di mulutnya. Dia tau Jhonatan sedang merayunya.
"Papa mau kue" rengek Agam.
Sabina berdiri dari tempat duduknya, pergi meninggalkan Jhonatan dan Agam beserta bika ambon di atas meja.
"Begini nih ciri ciri istri minta di madu. Anak sama suami di cuekin" gumam Jhonatan gemas.
"Kita cari Mama baru mau?" Jhonatan melihat wajah Agam dengan bibir berbentuk donal bebek, menirukan bibir anaknya yang cemberut.
Agam mengangguk polos, berpikir Ibu tiri akan lebih baik dari Ibu kandung.
"Okeh! di kampus Papa banyak calon Mama. Agam bisa memilihnya" ujar Jhonatan senang.
"Coba saja!"
Jhonatan langsung menaik turunkan jakunnya melihat Sabina tiba tiba berdiri di sampingnya dengan tatapan horor.
"Papa, Agam takut Mama" Agam menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Jhonatan.
Jhonatan menghela napasnya. Begini nih menikahi anak bontot. Egoisnya kebangetan, susah di ajak dewasanya.
"Lihatlah, anakmu sendiri sampai takut melihatmu" desah Jhonatan.
"Aku gak suka kamu melakukannya saat melakukan kesalahan" ucap Sabina.
"Tapi jangan mendidiknya dengan keras, apa lagi sampai melukai fisiknya.Setelah besar nanti dia bisa menjadi semakin tidak terdidik, karna sudah terbiasa di kerasin" nasehat Jhonatan.
"Kalau begitu kamu saja yang mendidiknya, itu juga tanggung jawabmu kan" cetus Sabina mengarahkan pandangannya ke arah lain.
"Kamu itu keras kepala sekali, setiap aku mengingatkanmu, selalu saja kamu gak terima" balas Jhonatan tidak kalah cetusnya.
"Kamu slalu saja menyalahkanku, tapi anakmu yang bandel. Kalau dia bisa di bilangin dengan baik, gak mungkin aku mengingatkannya dengan kasar. Dan juga aku hanya menyentil keningnya pelan. Gak penah berbekas!" marah Sabina meninggikan suaranya.
"Sabina! rendahkan suaramu!. Aku ini suamimu!" bentak Jhonatan terpancing emosi.
"Suami yang tidak bisa memenuhi kebutuhan istrinya" cibir Sabina langsung berlalu.
Jhonatan terdiam.
Benar, Jhonatan memang tidak bisa memenuhi kebutuhan Sabina. Bahkan temoat tinggal Jhonatan nompang di rumah Sabina. Jhonatan hanya mampu memberi makan, bayar pembantu dan air listrik rumah tempat tinggal mereka.
Jhonatan tidak mampu membeli mobil mewah, tas tas mewah, baji baju mewah, perhisana mewah dan lainnya. Semua Sabina dapatkan dari abang abangnya.
Jhonatan adalah anak berasal dari keluarga sederhana. Tidak punya apa apa, dia bisa lanjut kuliah karna mendapat bea siswa. Dengan menjadi Direktur si kampu milik Orion. Jhonatan harus bisa membutuhi kebutuhan rumah tangganya, dan membantu perekonomian orang tuanya.
Jhonatan bisa menikah dengan Sabina, itu karna perjodohan yang di lakukan oleh Pak Orion, Abang tertua Sabina. Mereka menikah bukan atas dasar suka sama suka.
"Papah" lirih Agam
Refleks Jhonatan tersadar dari lamunannya.
"Mama marah banget ya sama kita?" tanya bocah berusia lima Tahun itu.
"Kita yang sabar ya!" ucap Jhonatan.
Agam menganggukkan kepalanya.
Mereka memang sudah sering mendapat amukan dari putri raja itu, buka kali ini saja.
"Kita keluar yuk! sepertinya ada odong odong lewat" ajak Jhonatan, mencari hiburan untuk mereka berdua.
Agam kembali menganggukkan kepalanya.
Jhonatan berdiri dari tempat duduknya, membawa Agam keluar rumah.
Sore hari begini di depan rumah, biasanya rame dengan anak anak di dampingi emaknya. Apa lagi saat odong odong lewat. Semua emak emak pada mendampingi anak anak mereka naik odong odong yang menyerupai kereta api. Panjaaaaaang banget!. ada lima gerbong.
Sampai di depan gerbang, Jhonatan langsung menyetop odong odong yang kebetulan lewat. Di setiap gerbong sudah banyak anak anak dan emak emak di dalamnya. Jhonatan yang menggendong Agam, masuk dan duduk bergabung bersama emak emak dan anak anak.
"Ibunya mana Pak?" tanya emak yang duduk di samping Jhonatan.
"Emaknya lagi hamil muda Bu. Gak bisa jagain anaknya main" jawab Jhonatan tersenyum tampan. Tampan banget, emak emak itu sampai terpesona.
"Pah! jangan senyum, di sini calon mama barunya udah gendut gendut" bisik Agam ke telinga sang Papa.
.
.