Brother, I Love You

Brother, I Love You
107.Menghangatkan tubuhnya



Selesai membeli perhiasan, Dokter Aldo pun membawa Diana ke salah satu tempat makan di dalam mall itu. Karna Diana sudah sangat lapar. Sampai di dalam restoran, Dokter Aldo menarik kursi untuk Diana, dan membantu Diana untuk duduk. Kemudian menarik satu kursi untuknya, duduk di samping Diana.


"Selamat malam Pak ! mbak ! mau pesan apa ?" tanya seorang pelayan restoran.


"Sayang ! mau makan apa ?" tanya Dokter Aldo dengan suara lembutnya, mengusap kepala Diana dari belakang.


"Sate ayam Om !" jawab Diana


"Itu aja sayang ? minumnya apa ?"tanya Dokter Aldo lagi, tersenyum, senang melihat wajah Diana sudah mulai cerah, dan ada semangat. Sepertinya istri kecilnya itu sudah mulai termakan umpa, dengan membawanya belanja belanja.


"Mie goreng sama jus jambu Om !" jawab Diana, mengulas sedikit senyumnya.


"Tambah ayam bakar sama nasi, air mineral dan cofee" sambung Dokter Aldo.


"Ada lagi Pak ?" tanya pelayan wanita itu, setelah mencatat pesanan Diana dan Dokter Aldo.


"Itu aja !" jawab Dokter Aldo.


"Di tunggu ya Pak !" balas pelayan itu, lalu undur diri.


Tak bisa menahan diri melihat wajah Diana yang tadi tersenyum. Dokter Aldo pun mengecup kening Diana dari samping. Membaut Diana malu, karna di lihat para pengunjung lain.


Semoga saja orang pada mengira aku putrinya, bukan istrinya,Aku sungguh malu. Batin Diana


Tak lama kemudian seorang pelayan pun datang membawa pesanan mereka.


" Silahkan Pak ! mbak !" ucap pelayan itu, sambil meletakkan makanan dan minuman di atas meja.


" Trimakasih !" balas Dokter Aldo, pelayan itu pun segera undur diri.


Dokter Aldo pun menarik mie goreng yang di pesan Diana tadi ke depannya.


"Om ! mie goreng itu 'kan untuk Diana !" protes Diana, dengan bibir mengerucut.


Dokter Aldo tersenyum, kemudian mengusap kepala Diana." Om akan menyuapi sayang !."


"Diana maunya makan sendiri Om !" tolak Diana.


"Tapi Om pengen menyuapimu sayang !, ayo minum dulu !" balas Dokter Aldo, mengambil jus jambu milik Diana, dan mendekatkannya ke bibir Diana.


Tanpa bisa menolak, Diana terpaksa meminum jus dari tangan Dokter Aldo. Setelah itu, Dokter Aldo menyuapkan mie goreng ke mulut Diana.


"Aa !" ucap Dokter Aldo, supaya Diana menerima suapannya. Dengan terpaksa Diana pun membuka mulutnya menerima suapan Dokter Aldo.


"Om kapan makannya ?" tanya Diana melihat Dokter Aldo terus menyuapinya.


Dokter Aldo mengangkat satu tangannya, mengusap rambut Diana dari belakang, sembari mengulas senyumnya."Setelah kamu kenyang sayang sayang !, aa ! buka lagi mulutnya" jawab Dokter Aldo sambil menyuapkan mie goreng ke mulut Diana lagi.


Om Aldo sangat baik, coba saja Om Aldo tidak terlalu tua?, mungkin ini sudah memang takdirku, aku harus belajar ikhlas menerimanya, mungkin inilah yang terbaik untukku. Batin Diana, menerima suapan dari Dokter Aldo.


Om berharap kamulah wanita terakhir dalam hidup Om Diana !. Om sangat berharap banyak padamu. Om akan berusaha memenuhi semua keinginanmu Diana !, selagi itu baik. Batin Dokter Aldo


Dokter Aldo pun menyuapi Diana sampai mie goreng itu habis. Kemudian barulah Dokter Aldo memakan makanannya. Dan Diana pun lanjut memakan sate ayamnya.


.


.


Waktu berlalu


Kini mereka sudah sampai di rumah, Dokter Aldo memarkirkan kenderaannya di depan pintu masuk rumahnya. Di lihatnya Diana sudah terkantuk kantuk duduk di sampingnya. Mungkin istri kecilnya itu sudah capek dan kekenyangan makan.


Setelah mematikan mesin mobilnya, Dokter Aldo langsung turun, berjalan memutari bagian depan mobilnya ke arah pintu di samping Diana. Setelah Dokter Aldo membuka pintunya, ia pun langsung menggendong Diana keluar dari dalam mobil.


"Diana jalan sendiri aja Om !" ucap Diana tersadar Dokter Aldo menggendongnya.


"Om melihat kamu sudah sangat ngantuk sayang !, biar Om meggendongmu saja" balas Dokter Aldo, tak ingin menurunkan Diana dari gendongannya. dokter Aldo pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


"Cie cie cie ! main gendong gendong nih ye...!" goda Dokter Ghissam yang baru pulang dari rumah sakit.


Diana yang mendengar suara Dokter Ghissam pun malu, ia menyembunyikan wajahnya ke dada bidang Dokter Aldo.


"Gimana lagi, Mama kecilmu tadi minta di gendong masuk ke dalam rumah" balas Dokter Aldo tersenyum, berniat ikut menggoda Diana dingendongannya.


"Doakan saja semuanya lancar !" balas Dokter Aldo.


"Lanjut Pa !" ucap Dokter Ghissam lagi, kemudian berjalan ke arah dapur, untuk minum.


Dokter Aldo pun melanjutkan langkah kakinya berjalan ke arah kamarnya. Setelah berhasil membuka pintunya, Dokter Aldo pun masuk membawa Diana di dalam gendongannya. Dokter Aldo meletakkan Diana di atas tempat tidur dengan sangat hati hati. Kemudian mendudukkan tubuhnya di samping Diana, dan membuka sepatu yang menempel di kaki Diana, lalu meletakkannya di lantai.


"Tidurlah ! kamu sudah sangat ngantuk !" ucap Dokter Aldo. Di angguki Diana karna ia sudah sangat ngatuk.


Dokter Aldo mengusap kepala Diana, kemudian berdiri dari pinggir kasur. Ia harus kembali ke mobil untuk memindahkan barang belanjaan mereka tadi ke dalam rumah.


Setelah selesai memindahkan barang berlanjaan mereka ke dalam kamar. Dokter Aldo pun masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan diri. Setelah selesai Dokter Aldo langsung keluar, di lihatnya Diana benar benar sudah tertidur pulas di atas tempat tudur. Dokter Aldo tersenyum, entah apa yang membuatnya tersenyum, Dokter Aldo pun tak tau. Yang ia tau dia sangat senang dan bahagia melihat Diana ada di atas tempat tidurnya.


Selesai berpakaian, Dokter Aldo pun menyusul Diana ke atas tempat tidur, membaringkan tubuhnya di samping Diana, dan memeluk tubuh Diana, tidak lupa mengecup kepala Diana sebelum memejamkan matanya. Berharap esok hari, ranjang yang sudah lama dingin itu, menghangat kembali. Menghangatkan tubuhnya yang sudah lama kedinginan.


.


.


Di tempat lain


"Sirin !! buka pintunya Sirin !!" teriak Arsenio dari luar.


"Kamu tidur di luar aja Arsen !!, setiap malam kamu selalu pulang larut malam !!. Kamu semakin merasa bebas ngelayapan di luar sana !!, karna sudah tidak ada lagi yang menghukummu !!" balas Sirin berteriak dari dalam rumah.


"Aku kerja Sirin !!" ucap Arsenio.


"Jam sembilan toko sudah tutup !, Jam sepuluh seharusnya kamu sudah sampai di rumah Arsen !!. Ini sudah jam dua belas baru kamu pulang !!. Apa kamu lupa punya istri ? Ha !!!. Aku lagi mengandung anakmu Arsen !!!, tapi kamu tidak peduli denganku !!." teriak Sirin sambil menangis dari dalam rumah.


"Kalau kamu gak mau membuka pintunya, ya sudah !. Aku pergi !, aku bisa tidur di toko !" ucap Arsenio dari luar, kemudian melangkahkan kakinya dari depan pintu, berjalan ke arah mobilnya.


Sirin mengeram dan langsung membuka pintu di belakangnya, kemudian melempar kipas angin berukuran kecil ke arah Arsenio.


Prankk !!!


"Dasar kamu cowok egois !, maunya menang sendiri !!!. Kamu jahat Arsen !!!, kamu menyebalkan !!!, aku membencimu Arsen !!!" teriak Sirin.


Arsenio mengambil kipas yang lepar Sirin dari tanah. Kemudian membawanya ke arah pintu. Dan langsung memeluk Sirin yang menangis di pintu masuk rumah mereka. Arsenio membawa Sirin masuk ke dalam rumah dan langsung mengunci pintunya rapat rapat.


"Aku capek Sirin ! aku lelah, pagi harus sekolah, pulang sekolah harus ngurus toko, belum lagi di rumah aku harus masak, nyuci, beresin rumah, nyerika !. Aku butuh hiburan Sirin !. lagian aku hanya nongkrong di cafee aja sama teman temanku, itupun hanya sesekali saja bukan setiap malam. Aku gak main perempuan dan gak mabuk mabukan. Dan aku juga setiap malam pulang ke rumah !, apa itu salah ?. Aku juga butuh bergaul Sirin !" ucap Arsenio, setelah melepas pelukannya.


"Tapi aku butuh kamu Arsen !!"


"Sudahlah Sirin ! aku mau tidur, besok aku harus sekolah lagi" ucap Arsenio, masuk ke dalam kamar, dan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.


"Kalau kamu besok mau sekolah !, kenapa masih begadang ?" tanya Sirin.


Arsenio tidak menjawab, ia malah menutup telinganya dengan bantal. Ia malas meladeni Sirin yang marah marah.


"Arsenio !!!" pekik Sirin.


"Diamlah Sirin !, jangan sampai tetangga kita keberatan karna teriakanmu itu !" tegur Arseni.


"Biarkan saja !, biar kita di usir dari rumah ini" balas Sirin.


Arsenio menghela napasnya, lalu beranjak dari kasur, berjalan ke arah Sirin yang masih berdiri di pintu kamar mereka. Kemudian menarik Sirin membawanya ke arah kasur, membaringkannya di sana.


"Ayo tidurlah ! jangan menangis lagi !" ucap Arsenio, membaringkan tubunya di samping Sirin. Setelah menyibak baju Sirin ke atas, Arsnio pun mengusap usap perut Sirin.


"Kamu tau aku gak bisa tidur kalau perutnya gak di elus, masih saja kamu pulangnya lama. Seharian aku gak ada temannya di rumah, apa kamu gak kasihan ?" isak Sirin.


"Sssttt....! besok aku gak ngulangin lagi !, tidurlah !." Arsenio menghapus air mata Sirin dari pipinya, kemudian mengecup pipi Sirin dari samping.


"Kemarin juga kamu bilang gitu !, tapi buktinya ?."


Arsenio diam tidak menjawab lagi, ia memilih memejamkan matanya, dengan tangannya yang masih mengusap usap perut Sirin.


.


.