Brother, I Love You

Brother, I Love You
108. Positif



"Sayang ! kamu ikut aja ke rumah sakit ya !, nanti kalau kamu sendiri di sini, kamu melamun lagi sayang !" ucap Dokter Aldo, menenggelamkan wajahnya ke leher Diana dari samping, menggosok gosokkan brewoknya di sana. Yang berhasil membuat Diana kegelian dan merinding si bulu roma.


"Terserah Om saja !" balas Diana, menggigit bibir bawahnya.


"Ya udah ! sana mandi duluan !, atau mau mandi bareng Om !" goda Dokter Aldo, menggosong hidungnya ke telinga Diana.


Blush !


Wajah Diana langsung memerah salah tingkah. Merasakan geli dan darahnya berdesir seketika.


"Diana mandi sendiri aja Om !" balas Diana, melepaskan diri dari pelukan Dokter Aldo, langsung turun dari atas tempat tidur, berjalan cepat masuk ke dama kamar mandi. Setelah menutup pintunya rapat, Diana menyandarkan tubuhnya di pintu dan memegangi dadanya.


Ya ampun ! Papanya Sirin genit banget ya !, sudah tua juga, sebentar lagi punya cucu. Batin Diana.


Diana menghela napasnya panjang, untuk menentralkan detak jantungnya yang tidak karuan.


Dasar tua tua keladi !, maki Diana dalam hati.


Diana pun segera membersihkan dirinya. Setelah selesai, Diana baru sadar, kalau dia lupa membawa handuk dan bajunya ke kamar mandi.


Aduh ! kok aku lupa sih ?, bagaiman nih ?, batin Diana, menggigit bibir bawahnya, sambil berpikir.


Diluar kamar, Dokter Aldo yang menyadari Diana lupa membawa handuk dan pakaianpun, sudah menyiapkannya meletakkannya di atas sofa dari tadi.


Sepertinya anak itu malu meminta tolong !, batin Dokter Aldo, melihat pintu kamar mandi di kamar itu tak kunjung terbuka.


Dokter Aldo pun berdiri dari pinggir kasur, berjakan ke arah sofa. Mengambil handuk dan baju yang sudah di siapkannya tadi, membawanya ke arah pintu kamar mandi.


"Sayang !, mandinya sudah siap ?, ini handuk dan bajunya sudah Om ambilin sayang !" sahut Dokter Aldo sambil mengetuk pintu kamar mandi tersebut.


Ceklek !


Pintu kamar mandi itu pun terbuka sedikit saja. Diana mengeluarkan satu tangannya, supaya Dokter Aldo memberikan handuk dan baju ke tangannya.


"Trimakasih Om !" balas Diana menutup pintu kamar mandi itu kembali.


Tak lama kemudian, pintu kamar mandi itu terbuka kembali. Nampak Diana keluar dari dalam, sudah memakai pakaian lengkap, dengan kepala menunduk, malu dengan Dokter Aldo. Karna Dokter sudah memegang pakaian dalamnya. Dan juga tadi sudah sempat membuatnya merasa kegelian.


Dokter Aldo tersenyum, kemudian berdiri kembali dari tempat duduknya. Menghampiri istri cabe cabeannya yang menunduk malu.


"Kenapa ?" tanya Dokter Aldo memeluk tubuh Diana dari belakang.


Diana menggelengkan kepalanya, sambil menggigit bibir bawahnya.


"Apa yang membuatmu malu sayang ?,Hm..!" tanya Dokter Aldo lagi, mengulum senyumnya. Apa kira kira gerangan yang membuat istri cabe cabeannya itu malu ?. Padahal Dokter Aldo belum melakukan apa apa kepada istrinya itu.


"Gak ada Om !" jawab Diana menunduk.


"Ya udah ! Om mandi dulu, siap siaplah !" Dokter Aldo melepas pelukannya, kemudian berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


.


.


"Waktu berlalu


Dokter Aldo memarkirkan kenderaannya di parkiran khusus di kawasan rumah sakit miliknya. Seperti sudah kebiasaan Dokter Aldo, Setelah keluar dari dalam mobil, ia akan membukakan pintu untuk Diana.


"Ayo sayang !" ucap Dokter Aldo membantu Diana turun dari dalam mobil. Setelah menutup kembali pintunya. Dokter Aldo menautkan kelima jarinya ke selah selah jari Diana. Menggandeng tangan Diana masuk ke dalam gedung rumah sakit, berjalan langsung masuk ke ruangannya.


Hari ini tidak ada jadwalnya untuk periksa pasien. Ia akan bekerja di ruangannya saja, sebagai peminpin rumah sakit.


Dokter Aldo berjalan ke arah kursi hangatnya, tanpa melepas tautan tangannya dari tangan Diana. Dokter mendudukkan tubuhnya di kursi, kemudian menarik Diana supaya duduk di pangkuannya.


"Diana duduk di sofa aja Om !" tolak Diana, berusaha turun dari pangkuan Dokter Aldo.


Namun Dokter Aldo menahan tubuh Diana supaya tetap duduk di pangkuannya."Tapi Om ingin kamu duduk di pangkuan Om sayang !" balas Dokter Aldo.


Diana pun diam dan pasrah di pangkuan Dokter Aldo, meski sebenarnya ia merasa tak nyaman, karna merasa ada yang bergerak gerak dari bawah tubuhnya.


Apa itu yang bergerak gerak, kok semakin mengetasnya ?. Apa itu..?, Diana menggigit gigit bibir bawahnya. Ya Tuhan..!, batin Diana lagi, setelah menebak apa yang mengeras di bawah pantatnya.


Seketika wajah Diana merona, otaknya sudah traveling kemana mana, membayangkan yang mengeras di bawah tubuhnya memasuki tubuhnya.


"Om ! Diana duduk di sofa aja ya !" ucap Diana, semakin tidak nyaman.


"Kenapa ?" Tanya Dokter Aldo menahan senyumnya.


"Ng..ngak nyaman Om !" gugub Diana, mengalihkan wajahnya ke arah lain.


"Itu milikmu sayang !" ucap Dokter Aldo.


Diana diam, ia menggeser tubuhnya dari benda yang mengeras di bawahnya itu.


"Kenapa sayang ?, apa kamu tidak menyukainya ?" goda Dokter Aldo lagi, ia sangat suka melihat wajah Diana yang memerah salah tingkah, terlihat sangat cantik di mata Dokter Aldo.


"Diana belum siap Om !" jawab Diana pelan, hampir tak terdengar.


"Maaf Om !" Diana menundukkan kepalanya, merasa bersalah, karna Dokter Aldo sudah baik dan sayang kepadanya, namun Diana belum bisa membalasnya.


Dokter Aldo, mengambil satu tangan Diana, mendekatkannya ke bibirnya lalu mengecupnya."Om memang sangat menginginkannya Diana !, tapi Om tidak ingin memaksamu. Om ingin kita melakukannya jika kita berdua sama sama siap dan ikhlas. Kita melakukannya, karna memang kita berdua senang melakukannya, bukan hanya sekedar melakukan kebawajiban suami istri saja" ucap Dokter Aldo.


Diana terdiam, masih setia menundukkan kepalanya. Om Aldo sangat baik, dia sangat menjaga perasaanku. Meski dia sangat menginginkanku, tapi Dokter Aldo menahannya, dia tak ingin memaksaku, batin Diana.


"Maaf Om !" ucap Diana lagi.


"Gak apa apa sayang !" balas Dokter Aldo, mengusap rambut Diana dari belakang. Kemudian Dokter Aldo pun memulai perkerjaannya, membiarkan Diana tetap berada di pangkuannya.


Setengah jam


Satu jam


Satu setengah jam


"Om ! Diana capek !, bosan !, ngantuk !" rengek Diana yang masih duduk di pangkuan Dokter Alo.


"Apa kamu ingin makan sesuatu sayang ?" tanya Dokter Aldo. Diana berpikir sebentar, lalu menganggukkan kepalanya.


"Kamu beli sendiri ke kantin gak apa apa ?" tanya Dokter Aldo, Diana menganggukkan kepalanya lagi sambil tersenyum. Ia suntuk di ruangan itu, apa lagi di kekep terus sama pria tua itu. Rasanya Diana sangat bosan, ia pengen jalan jalan keliling rumah sakit itu.


Dokter Aldo pun mengeluarkan dompet dari saku belakang celananya, memberikannya pada Diana." Bawa dompet Om aja, beli makanan apa saja yang kamu inginkan" ucapnya.


"Gak usah Om ! Diana bawa duitnya aja, kawatir dompetnya jatuh, nanti hilang semua kartu ajaib Om !." ucap Diana tersenyum, membuka dompet Dokter Aldo, menarik beberapa lembar uang berwarna merah dari sana. Kemudian langsung turun dari atas pangkuan Dokter Aldo.


"Diana pergi dulu Om !" pamit Diana.


"Iya sayang !" balas Dokter Aldo, juga tersenyum. Senang melihat Diana sudah tidak terpuruk lagi.


Setelah Diana pergi, tak lama kemudian terdengar ada yang mengetuk pintu ruangannya.


Tok tok tok !


"Masuk !" sahut Dokter Aldo, mendengar ada yang mengetuk pintu ruangannya.


Pintu ruangannya pun terbuka dari luar.


"Selamat pagi Om !"


"Orion ! Queen ! silahkan masuk !" ucap Dokter Aldo. Melihat Orion dan Queenlah yang datang.


Dokter Aldo membuka laci meja kerjanya, mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih dari dalam. Kemudian berdiri dari kursinya, menghampiri Orion dan Queen yang sudah duduk di sofa.


Dokter Aldo mendudukkan tubuhnya di sofa yang bersebrangan dengan Orion dan Queen. Kemudian meletakkan amplop di tangannya di atas meja sofa.


"Kenapa kalian masih harus melakukan tes DNA ?, seharusnya itu tidak perlu lagi. Bagaimana pun hasilnya, toh kalian sudah menjadi orang tua Boy" tanya Dokter Aldo.


"Hanya untuk memastikannya saja Om !" jawab Orion.


"Itu hasilnya, Om sama sekali tidak membukanya, jadi Om tidak tau hasilnya sama sekali." Dokter Aldo menunjuk amplop di atas meja dengan dagunya.


"Trimakasih Om !" Orion mengambil amplop itu dari atas meja, kemudian memberikannya kepada Queen."Bukalah !" ucapnya.


Queen menghela napasnya, menerima amplop hasil tes DNA Boy dan Orion. Kemudian perlahan Queen membuka amplop itu dengan jantung berdebar. Queen mengeluarkan isi amplop itu perlahan, dan membuka lipatannya. Dan kemudian membaca isi amplop itu seksama.


Sedangkan Orion, ia menundukkan kepalanya, jantung yang sama berdebarnya dengan Queen. Ia juga tidak tau sama sekali siapakah ayah kandung dari Boy.


"Bang Orion..!" guman Queen, melihat hasil tes DNA Boy dan Orion. Tangan Queen bergetar, sampai surat hasil tes DNA itu jatuh begitu saja dari tangannya.


Tak terasa Air mata Queen luruh tak terbendung begitu saja, Queen menundukkan pandangannya, memandang perutnya yang sudah mulai membesar, dan mengelusnya. Queen pun menangis terisak.


"Queen..!" lirih Orion, kemudian mengambil surat hasil tes DNA yang terjatuh ke lantai, kemudian membacanya.


Tangan Orion bergetar, melihat hasilnya Positif. kalau dia sendirilah ayah kandung dari Boy. Detak jantung Orion berpacu lebih kencang lagi, Perasaannya campur aduk. Antara bahagia dan kawatir. Bahagia karna Boy yang dia rawat selama ini adalah darah dagingnya. Kawatir dengan Queen, terpukul dan tidak bisa menerima kenyataan.


Boy ! anak Daddy !, batin Orion, rasa sayang itu langsung bertambah berkali lipat kepada Boy.


Queen masih terus menangis terisak, dengan kenyataan yang ada. Queen sangat kasihan dengan bayi yang masih berada di dalam perutnya. Ternyata bukan anak pertama Orion, bukan cucu pertama keluarga Alfarizqi.


Bibir Queen bergetar, hatinya begitu perih, rasanya ia sudah tidak sanggup lagi, terus di terpa cobaan yang selalu membuat dadanya sesak. Seolah olah mencitai Orion adalah sebuah kesalahan, sehingga ia merasa terus mendapat hukuman dengan kenyataan yang menyakitkan.


"Sayang !" panggil Orion lirih, menarik Queen ke dalam pelukannya.


"Jangan menyentuhku bang Orion !!!" sentak Queen tiba tiba. Membuat Orion dan Dokter Aldo sampai terlonjak.


"Abang juga tidak menginginkan kenyataan ini Queen !" ucap Orion.


"Seharusnya dulu bang Orion tidak pergi keluar Negri !!!. Meninggalkanku bertahun tahun dengan status menggantung. Seharusnya bang Orion menceraikanku !, Jika bang Orion sudah bersentuhan dengan wanita lain. Bukan malah meresmikan pernikahan kita, setelah ternoda. Seharusnya bang Orion jujur dari awal. !" tangis Queen.


.


.