Brother, I Love You

Brother, I Love You
254. Istri muka datar ( Spesial Sabina)



"Oek oek oek..."


Sabina membuka kelopak matanya, mendengar samar samar orang muntah dari dalam kamar mandi. Suara orang muntah itu sangat jelas karna pintunya tidak di tutup rapat. Dia tau itu Jhonatan suaminya yang muntah. Sabina yang masih ngantuk pun kembali memejamkan matanya. Waktu subuh belum masuk, masih ada waktu lima belas menit lagi.


"Sayang! sayang!" panggil Jhonatan dari dalam kamar mandi. Dari tadi dia muntah muntah, istrinya itu cuek aja.


Sabina membuka matanya kembali." Apa?" sahutnnya turun dari atas tempat tidur menyusul Jhonatan ke kamar mandi.


"Sakit Yang!" ringis Jhonatan manja.


"Kenapa ngeluh? kan keiginan Abang sendiri Sabin hamil." Biar hatinya keras, tapi kalau sudah mendengar suaminya meringis, hatinya langsung luluh.


"Kenapa setiap kamu hamil, aku trus yang ngidam?." Jhonatan mengusap usap perutnya.


Wajah Sabina hanya datar saja melihat Jhonatan mengeluh. Ugh! istrinya itu, apa tidak punya eksprei lain. Seringan datar seperti tak punya hati.


"Lebih sakit lagi melahirkan. Seharusnya Abang bisa ngerasainnya" balas Sabina menuntun Jhonantan keluar dari kamar mandi.


Tuh 'kan, selalu seperti itu.Siapa yang hamil?, siapa yang merepotkan?. Bukannya Sabina yang di perhatikan, malah suaminya itu yang harus di prihatinkan kondisinya.


Sabina pun membantu Jhonatan berbaring di atas kasur, lalu menyelimutinya. Setelah itu keluar dari kamar dan pergi ke dapur untuk membuatkan jahe hangat.


Jhonatan yang berada di atas kasur menghentakkan sebelah kakinya. Coba saja istrinya itu mau mencium bibirnya, pasti mualnya langsung hilang. Tapi istrinya itu sangat bersih, dia tidak mau menciumnya saat bangun tidur, sebelum sikat gigi, katanya, bau.


Tak lama menunggu, Sabina kembali ke dalam kamar dengan membawa segelas jahe hangat dan meletakkannya di atas nakas.


"Aku sudah membawakan jehe hangat. Abang minumlah" suruh Sabina. Jhonatan menatapnya tajam dan cemberut. Dia ingin Sabina meminumkannya padanya, tapi istrinya itu tidak peka dengan hal seperti itu. Dasar istri muka datar.


"Yang, kepalaku pusing banget" ringis Jhonatan mencari perhatian.


Sabina mendudukkan tubuhnya di pinggir brankar dan langsung menijat mijat kepala Jhonatan. Dia tau suaminya itu tidak benaran pusing, tapi sudahlah. Sabina sudah tidak heran lagi dengan sikap Jhonatan yang sering mencari perhatiannya.


Melihat ekspresi wajah Sabina datar saja saat memijat kepalanya. Jhonatan mendengus dalam hati.


Ya Allah! apa tidak bisa dia memperlihatkan ekspresi kawatir, cinta atau sayang?. Begini amat punya istri. Batin Jhonatan


"Abang kenapa?" tanya Sabina melihat Jhonatan memandanginya.


"Cium boleh?"


"Abang belum mandi dan sikat gigi" jawab Sabina.


Jhonatan mendudukkan tubuhnya dan langsung turun dari atas karus. Tanpa aba aba mengangkat tubuh Sabina masuk ke kamar mandi.


"Sambil mandi, kita ciuman." Jhonatan memutar kran air di belakang Sabina dan...


Selesai sarapan, Sabina mengantar suaminya ke depan pintu yang akan berangkat kerja dan Agam anak mereka yang akan berangkat sekolah.


Jhonatan mengecup kening istri muka datarnya itu. Lalu berjongkok di depan Sabina untuk mencium bayi mereka yang belum lahir.


"Anak Papa, Papa berangkat kerja dulu ya!. Jangan rewel, kasihan Mama. Dan jaga Mama baik baik, okeh!" ucapnya konyol.


"Pah! kok adek bayinya yang jaga Mama?. Gimana caranya?, adek kan masih bobo di dalam perut Mama" tanya Agam, bodoh sekali Papanya itu.


"Oh iya, Papa lupa." Jhonataa kembali berdiri, menghela napas lemah melihat raut wajah istrinya yang tidak tersenyum sama sekali. Padahal ia sudah sengaja membuat lelucon.


"Udahlah Pah, wajah Mama gak usah di pikirin. Kata Paman Elang, wajahnya Mama sudah seperti itu dari lahir" ujar bocah laki laki itu.


"Ya udah deh, yuk kita berangkat" ucap Jhonatan lemah meraih tangan Agam hendak melangkah. Namun langkahnya terhenti saat merasakan sesuatu yang kenyal dan basah menempel di pipinya.


"Cari duit yang banyak suamiku" ucap Sabina tersenyum, tapi hanya sedikit. Tapi itu mampu membuat hati Jhonatan meleleh.


"Masya Allah, istriku cantik banget" ucapnya mengusap dada.


"Mama pasti ada maunya tuh Pa" ujar Agam melihat ekspresi Sabina dari bawah.


"Gak apa apa deh Nak. Yang penting Mamanya sering tersenyum sama Papa" balas Jhonatan.


Sabina semakin melebarkan senyumnya, hanya sebentar." Aku mesan tas, nanti Abang bayarin ya."


Benar kata Agam, ternyata anak mereka lebih mengenal Ibunya dari pada Bapaknya.


"Baiklah sayangku mmuah!" Jhonatan melangkahkan kakinya lunglai setelah sempat mengecup bibir istrinya itu


"Gak apa apa Nak, Papa ikhlas jika uang Papa habis demi senyum Ibumu"balas Jhonatan menyusul masuk ke dalam mobil.


"Agam sering tersenyum sama Papa gak pernah di bayar." Agam mengerucutkan bibirnya.


Jhonatan menghela napasnya," hadeh!" desahnya.


"Agam juga mau di beliin mobil mobilan baru" rajuknya semakin mengerucutkan bibirnya.


"Minta sama Paman paman Agam aja ya. Papa lagi gak punya uang. Papa gajiannya masih lama. Dan Papa harus membayar tas Ibu kamu lagi. Pusing pala Papa tau mikirinnya" ucap Jhonatan frustasi.


Dia seorang pekerja, bukan seorang pengusaha. Jelas uangnya tidak sebanding dengan Paman paman anaknya. Dan si Putri Raja keturunan Raja Arya itu, masih saja banyak permintaannya.


Masih mending di minta. Seperti barusan, pesan tas diam diam, yang di suruh bayar siapa?.


Jhonatan pun melajukan perlahan kenderaannya keluar dari pejarangan rumah, menuju sekolah Agam, setelah itu baru melaju ke kampus tempatnya bekerja.


Sedangkan Sabina yang di tinggal pergo anak dan suaminya, kembali masuk ke dalam rumah. Mengelus elus perutnya dengan muka datar.


Perasaan muka Papa Arya gak datar datar amat deh.


Kerumah bang Bilal ah! kangen dengan Baby Han, batin Sabina.


Selesai mengganti bajunya dan merias sedikit wajahnya. Sabina pun keluar dari dalam rumah, dan meminta supir untuk mengantarnya.


Sampai di rumah Bilal, ternyata rumah Abangnya itu tidak ada orang. Kata penjaganya, sedang pergi ke pesantren. Terpaksa Sabina memutar haluan ke rumah Abangnya Darren.


Sampai di sana, Abang Darren dan Kakak iparnya juga tidak ada. Kata penjaganya lagi pergi liburan. Sabina terpaksa putar haluan lagi ke rumah Abangnya Arsen.


Sampai di sana, Abangnya gak ada, kata Kakak iparnya lagi kerja. Ialah, ini masih pagi, orang pada sibuk mencari nafkah.


"Sabin ke rumah Bang Orion aja deh. Sabin kan pengennya ketemu Abang Arsen" ujar Sabina tanpa perduli perasaan Kakak iparnya itu.


"Kesana aja, lagian aku gak nerima tamu" kesal Ibunda Sirin cetus.


Sabina tersenyum sedikit, lalu memutar tubuhnya keluar dari rumah Abang Arsennya itu.


"Bilang aja mau minta duit sama Abangmu" cibir Ibu Sirin pelan. Sudah tau kebiasaan adik iparnya itu meminta pajak penghasilan sama Abang abangnya.


Kini Sabina sudah sampai di rumah Abangnya, Orion.


"Abang Orion mana Kak?" tanya Sabina lada Queen.


"Di kamar sedang sakit" jawab Queen dengan raut wajah sedih dan kawatir. Sebab suaminya itu dari tadi malam gak bisa tidur, dan terus terbatuk batuk.


"Sakit apa?" kini raut wajah Sabina yang datar berubah kawatir.


"Biasa penyakit orang tua" jawab Queen melangkahkan kakinya ke dalam kamar, yang langsung di ikuti Sabina.


"Uhuk uhuk uhuk..! Queen ambilin abang air hangat" gumam Orion sambil terbatuk.


"Makanya Bang, jangan suka bakar duit" ucap Sabina mendekati Orion yang terbaring di atas kasur.


"Kapan abang bakar duit?" dengus Orion mendudukkan tubuhnya melihat Sabina datang.


"Merok*k" jawab Sabina.


.


.


#Hai apa kabar semua, keluarga besar Raja Arya dan Ratu sejagat?. Sabina datang untuk mengobati kerinduan kalian.


Semoga semuanya sehat wal afiat. Amin!


#Hm..! othor ada cerita baru nih, ramein yuk. Judulnya.1: Menantu bayaran dan


2: My Wife Drabia


Trimaksih