
"Jean !"panggil Darren saat tangannya berhasil membuka pintu kamarnya.
Jean yang duduk di sofa sambil menonton tivi langsung menoleh ke arah Darren yang melangkah ke arahnya. Jean mengulas senyumnya, ia belum tau harus memanggil Darren apa.
Semenjak keluar dari rumah sakit, Jean dan Khanza sudah tinggal di kediaman Alfarizqi. Tentu itu atas permintaan Mama Bunga. Jika tidak, Darren tidak akan berani membawa Jean masuk ke dalam rumah itu. Meski Jean menempati kamar Darren, tapi itu bukan berarti mereka tidur bersama. Darren tidur mengungsi ke kamar lain. Karna mereka belum menikah.
"Ini baju kebayanya !" Darren memberikan paper bag kepada Jean.
Jean pun menerimanya, tanpa mengucapkan apa apa.
Darren pun mendudukkan tubuhnya di samping Jean, dan satu tangannya terulur mengusap kepala Jean. Melihat Jean masih nampak kaku terhadapnya.
"Bapak gak kerja hari ini ?" tanya Jean, melihat Darren bersantai santai di jam sembilan pagi. Biasanya Jam tujuh pagi, Darren sudah berangkat ke kantor.
"Aku bukan Bapakmu !" cetus Darren. Masih saja Jean sering memanggilnya Bapak, padahal mereka sudah mau menikah.
"Jadi aku harus manggil apa ?. Manggil abang, tapi tuaan aku" tanya Jean tanpa melihat Darren.
"Panggil sayang gitu !" jawab Darren.
Bagaimana bisa Jean memanggil sayang kepada Darren. Lidahnya terasa kaku untuk mengatakan itu. Entahlah ?, jujur Jean masih tidak percaya kalau dia akan menikah dengan Darren, si bocah imut yang dulu sering memborong es jualannya.
Jean menghela napasnya pelan sebelum mengatakan sesuatu kepada Darren. Ia akan berusaha menyenangkan hati laki laki di sampingnya yang terlihat mukanya masam.
"Darren !" panggil Jean.
Darren langsung menoleh dengan wajah sumiringah. panggilan itu jauh lebih bagus dari pada di panggil Bapak oleh calon istrinya sendiri.
"Apa sayangku ?" tanga Darren.
"Gak bagus kita berdua duaan di dalam kamar. Kita belum menikah, nanti syetan datang menggoda kita. Dan juga nanti bisa menimbulkam fitnah" jawab Jean.
Darren menghela napasnya dan langsung berdiri dari samping Jean. Tinggal satu rumah, bukan berarti mereka bebas berdua duaan. Jean akan selalu menyuruhnya cepat keluar dari kamar, setiap ia datang ke kamar itu, untuk sekedar menyapa atau menanyakan kabar. Tapi Darren sangat suka dengan sikap Jean yang seperti itu. Berarti itu artinya, Jean wanita baik, lebih tepatnya janda terhormat, janda yang bisa menjaga kehormatannya.
"Baiklah cintaku !" Darren pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu. Tidak ada cium ciuman ataupun kecup kecupan. Karna Jean melarangnya keras.
Sampai di lantai bawah, Darren melangkahkan kakinya ke arah kamar orang tuanya. Meski besok ia dan Jean akan melangsungkan pernikahan, namun rumah itu nampak lengang. Tidak ada persiapan apa apa. Karna mereka hanya akan menikah di KUA saja, sesuai permintaan Jean.
"Ma ! Pa !" panggil Darren sambil mengetuk pintu kamar orang tuanya. Namun tidak ada terdengar sahutan dari dalam.
Darren berdecak, bisa menebak pasti orang tuanya itu sedang dalam urusan pribadi. Darren pun meninggalkan tempat itu dengan mengerutu tidak jelas. Darren bingung mau kemana, akhirnya ia melangkahkan kakinya ke arah kamar Bilal. Sepertinya ia akan malas malasan hari ini di atas kasur.
Di dalam kamar pasangan suami istri yang sudah tak muda lagi itu. Kedua insan yang saling mencintai sampai kakek dan Nenek itu. Tengah bergumul bersatu padu di dalam selimut. Saling meluahkan rasa cinta yang tiada habisnya.
"Trimakasih sayang !" ucap Papa Arya mengecup kening Mama Bunga yang masih tengkurap di atas tubuhnya.
"Kembali kasih Aaryanku sayang !" balas Mama Bunga, juga mencium kening pria tua yang berada di bawah tubuhnya.
Papa Arya pun memindahkan Mama Bunga ke sampingnya, memeluk tubuh istrinya itu dengan erat. Papa Arya membelai wajah Mama Bunga, wajah yang sudah puluhan Tahun menemaninya. Meski wajah itu bisa di bilang sudah tak cantik lagi. Bagi Papa Arya wajah itu masih terlihat cantik.
"Trimakasih sudah menemaniku sejauh ini !" ucap Papa Arya mengulas senyum di bibirnya.
Mama Bunga pun mengulurkan tangannya mengelus wajah Papa Arya. Wajah itu sudah terlihat keriput, tidak setampan dulu lagi.
"Trimakasih juga sudah mencintaiku sedalam ini !" balas Mama Bunga." Trimaksih sudah banyak berkorban untuk menjagaku dan hartaku" ucapnya lagi.
"Aku mencintaimu dan sangat mencintaimu !. Kamu dan anak anak adalah tujuan hidupku" balas Papa Arya.
Mama Bunga memindahkan kepalanya ke atas dada Papa Arya, dan mengeratkan pelukannya." Kita sudah tidak muda lagi, jujur yang paling ku takutkan adalah, kamu pergi duluan, sebelum putri kita Sabina menikah."
Papa Arya mengusap usap kapala istrinya yang juga sudah mulai di penuhi uban itu."Mati bukanlah takdir buruk. Kita harus mencintai kematian kita sendiri. Karna mati..itu artinya kita kembali kepada sang pencipta. Masalah anak anak terutama putri kita, itu bukan urusan kita lagi, di saat kita sudah mati. Tanggung jawab kita sudah lepas di Dunia ini. Biarkan itu manjadi urusan Allah" terang Papa Arya dengan suara lembutnya.
"Dan juga, Sabina memiliki eman saudara sebagai penggantiku. Aku yakin mereka akan menjaga putri kita dengan baik" ucap Papa Arya lagi.
"Aku ingin mati bersama denganmu Aaryan. Seperti orang tua kita, tidak ada yang meninggalkan atau di tinggalkan. Aku gak mau hidup tanpamu meski hanya sehari saja, rasanya aku gak sanggup."
Papa Arya semakin mengembangkan senyumnya mendengar penuturan istrinya itu."Aku pun begitu sayang !, semoga saja Tuhan mengambil kita bersama sama" balas Papa Arya.
"Tapi kasihan anak anak kalau kita sama sama pergi" ucap Mama Bunga lagi.
"Tuhan pasti menabahkan hati mereka, seperti kita" balas Papa Arya.
"Ayo mandi !, sepertinya Reyhan dan Yumna sudah akan sampai. Jangan sampai anak manjamu itu datang, kita masih keadaan kacau begini." Papa Arya pun berusaha mendudukkan tubuhnya.
"Aku gak menyangka kalau kita akan mendapatkan cucu kembar. Hm..! rasanya aku gak sabar menunggu cucu kita itu lahir, pasti sangat lucu lucu" ujar Mama Bunga, sambil melilitkan selimut ke tubuhnya.
"Bagaimana kalau kita nambah anak lagi !" ucap Papa Arya konyol.
"Mana bisa lagi, sel telorku sudah habis kamu produksi setiap hari" balas Mama Bunga.
Papa Arya menarik Mama Bunga yang hendak melangkah sampai jatuh ke atas pangkuannya." Masa sih habis ?, tapi rasanya kok masih sama nikmatnya dari dulu."
"Ish ! kau ini !, genitnya gak berkurang kurang dari dulu. Udah tua juga" decis Mama Bunga.
"Kamu juga sudah tua, masih suka di genitin !" balas Papa Arya merekahkan senyumnya.
.
.
Sore hari, Bila melajukan kenderaannya ke arah persantern tempatnya menimba Ilmu Agama. Sudah sebulan ia tak mengunjungi pesantren itu karna kesibukannya belajar mengelola harta Mama Bunga. Bilal sudah rindu dengan pesantren itu, lebih tepatnya rindu mendengar kajian ilmu Agama dari para Kiyai di pesantren itu. Selain untuk memperdalam ilmu Agamanya, di pesantren itu, Bilal juga menjadi guru pengajar untuk tingkat madrasah. Tapi selama sebulan ini, Bilal ijin untuk tidak bisa mengajar.
Sampai di pesantren, Bilal menpikan kenderaannya tepat di depan warung makan miliknya. Tentu dengan kehadirannya memakai mobil mewah, mengundang perhatian orang orang disekitar sekolah, terutama para santri.
Bilal membuka pintu di sampingnya, dan langsung turun berjalan masuk ke warung nasi ramasnya.
"Ustadz Bilal !" sapa orang yang bekerja di warungnya itu. Tidak percaya melihat Bilal lah yang keluar dari mobil mewah itu.
"Assalamu alaikum !" sapa Bilal tersenyum, melihat para santri dan pekerjanya melihatnya tak berkedip.
"Assalamu alaikum !!" Bilal meninggikan nada suaranya, untuk menyadarkan orang orang yang berada di warung itu.
"Walaikum salam !" balas semuanya serentak.
"Mobil itu mobil bos tempatku bekerja sekarang" jawab Bilal tanpa ada yang bertanya.
"Ustadz Bilal kerja dimana sekarang ?. Pantas saja kamu tidak pernah pulang ke sini lagi" tanya temannya Bilal bernama Indra.
"Kerja jadi supir, kebetulan bosku hari ini gak kemana mana. Jadi aku bisa membawa mobilnya ke sini" jawab Bilal. Yang sampai sekarang menyembunyikan statusnya sebagai anak orang kaya.
"Baik benar itu bosnya !" ujar Indra, percaya aja apa yang di katakan Bilal.
"Alhamdulillah !" Bilal mengulas senyumnya.
"Ukhti Hani terus mencarimu ke sini. Dia menanyakan alamat rumahmu" ucap Ustadz Indra, sambil tangannya sibuk memasukkan lauk ke dalam plastik, karna ada yang memesannya.
Bilal mengerutkan keningnya, Bukankah dia menolak lamaranku ?, untuk apa lagi dia mencariku ?. Batin Bilal
"Kamu kasih tau ?" tanya Bilal.
"Iya !" jawab Indra
Bilal menghela napasnya, karna alamat rumah yang di beritahu sahabatnya Indra itu adalah alamat rumah mendiang Uyutnya dari Papanya, yang berada di sebuah permukiman warga. Rumah itu adalah rumah sederhana yang di huni sebuah keluarga yang kurang mampu.
"Ya sudah ! aku ke masjid dulu" pamit Bilal karna ia belum melaksanakan kewajiban shalat Asharnya."Assalamu alaikum !" ucapnya lalu pergi.
"Walaikum salam !" balas Indra dan para santri yang sedang menikmati makan di warung itu.
"Hani ! Hani !" panggil Susi mengoyang goyangkan lengan Hani, dengan bernapas ngosngosan karna baru berlari dari luar masuk ke dalam asrama.
"Ish ! apa sih Susi ? aku lagi tidur" gumam Hani yang lagi tidur, semakin mengeratkan pelukannya ke guling kesayangannya.
"Ustadz Bilal datang !" jawab Susi.
Hani langsung membuka matanya dan langsung duduk menoleh ke wajah Susi yang berdiri di sampingnya.
"Serius ?"
"Aku melihat Ustadz Bilal masuk ke masjid" jawab Susi.
Hani pun langsung turun dari atas tempat tidur, dan langsung meraih jilbabnya dan langsung memakainya.
"Assalamu alaikum ! aku pergi dulu !" pamit Hani langsung berlari keluar dari asrama menuju ke masjid.
Sampai di masjid, Hani tidak melihat satu pun sendal ada di luar. Pertanda tidak ada orang di dalam masjid. Hani mengerucutkan bibirnya, berpikir kalau Susi sedang mengerjainya. Hani pun mendudukkan tubuhnya di pinggir teras masjid. Kemudian menopang dagunya dengan kedua tangannya.
Ustadz Bilal ! kamu kemana ?. Aku gak mau sampai kakek menyuruhku menerima lamaran orang lagi. Karna aku hanya menginginkan dirimu. Batin Hani
Sudah sebulan Bilal tidak pulang ke pesantren, selama itu juga Hani tidak pernah melihat Bilal. Membuat hatinya sudah rindu berat kepada Habiby Qolby.
Allah ! jadikanlah Ustadz Bilal menjadi imamku !. Menjadi temanku untuk menggapai surga bersamamu. Karna di hati ini telah terselip namanya. Batin Hani lagi
Melihat hari mulai beranjak senja, Hani pun meninggalkan masjid itu, kembali ke asrama putri.
.
.
Di rumah Kiyai Husen.
"Sepertinya aku tidak bisa mengajar di sini lagi Kiyai. Kesibukanku sangat padat, aku tidak bisa membagi waktuku Kiyai !" ucap Bilal kepada Kiyai Husen.
"Gak apa apa Ustdaz Bilal, tapi bagaimana dengan cucuku ?" tanya Kiyai Husen tersenyum.
"Bukankah Ukhti Hani sudah menolak lamaranku Kiyai ?" tanya balik Bilal.
"Aku belum mengatakan siapa yang akan mengkhitbahnya waktu itu. Dia sudah menolaknya" jawab Kiyai Husen." Dia berpikir kalau orang yang akan mengkhitbahnya itu bukan Ustadz" lanjutnya.
Bilal mengulas senyumnya.