
"Queen ! kamu kenapa menangis sayang ?. Dan ini kenapa bawa koper segala ?, kamu berantem sama Orion ?" tanya Mama Vani kepada putrinya.
"Queen gak sanggup lagi Ma !, Queen capek Ma !, Queen lelah Ma !" ucap Queen menundukkan kepalanya.
"Apa masalahnya karna Boy ?" tanya balik Mama Vani.
"Ternyata Boy anak kandungnya bang Orion Ma !" jawab Queen.
Mama Vani pun membawa Queen untuk duduk di sofa." Lantas apa masalahnya sayang ?, Bagaimana pun terjadinya Boy, kamu sudah tau. Dan bang Orionmu tidak sengaja melakukannya dengan ibunya Boy !" tanya Mama Vani.
Queen menghapus air matanya yang tidak berhenti keluar semenjak dari rumah sakit tadi." Queen lelah Ma !, Queen butuh sendiri untuk menata hati Queen Ma !, tanpa ada bang Orion di samping Queen. Queen butuh waktu Ma !" jawab Queen.
"Apa kamu tidak kasihan dengan Boy ?, dia pasti mencarimu !. Setaunya kamulah ibu kandungnya nak !" ucap Mama Vani, mengusap kepala Queen dari belakang.
Queen terdiam, dia tidak memikirkan itu sebelumnya. Hatinya terlalu sakit menerima kenyataan.
Mama Vani menghela napasnya, bagaimana pun juga, putrinya itu masihlah berusia labil, dan mungkin karna lagi mengandung, emosinya tidak stabil.
"Kenyataannya bukan aku ibu kandungnya Ma !" balas Queen. Sepertinya hatinya lagi mengeras karna di kuasai emosi.
Mama Vani pun menarik putrinya ke dalam pelukannya. Sekarang putrinya butuh sandaran, butuh dukungan darinya. Percuma di ajak bicara, jika hati putrinya dalam keadaan tidak baik baik saja. Mama Vani pun mengusap usap punggung Queen dari belakang, untuk menenangkan hati Queen yang sedang gundah.
.
.
"Daddy ! Momy dimana Daddy ?" tangis Boy di dalam pangkuan Orion.
"Momy pergi belajar sayang !, nanti kalau Momy nya sudah selesai belajar, pasti kembali" jawab Orion mengusap kepala Boy.
"Kenapa Momy belajar terus Daddy ?, kenapa gak bawa Boy ikut belajar ?" tanya Boy lagi di selah selah tangisnya.
"Kalau Boy ikut, gurunya bisa marah sama Boy. Tempat Momy belajar, orang yang sudah besar semua. Di sana tidak ada anak anak" jawab Orion. Menahan tangisnya, ia harus terlihat tegar di depan Boy. Dengan terpakasa ia harus berbohong kepada Boy, seperti yang di lakukannya selama ini.
"Gurunya galak Daddy ?"
"Iya sayang !, ayok kita tidur, ini sudah malam" ucap Orion, membaringkan tubuh Boy di sampingnya.
"Momy...!" tangis Boy
"Sssttt....!, anak Daddy adalah anak yang pintar, anak daddy tidak boleh cengeng. Anak daddy harus menjadi anak yang kuat" ucap Orion, dengan suara tercekat.
Orion mendekap Boy ke dalam pelukannya, mengusap usap punggung dan kepala Boy dari belakang, dengan perasaan yang sangat hancur.
.
.
Hari berlalu, berganti bulan.
Orion memilih menyibukkan dirinya untuk menyelesaikan proyek kampus yang sedang ia bangun. Karna tak ingin berlarut larut dalam kesedihan. Sebagian gedung kampus itu pun sudah selesai, dan sudah bisa di pakai untuk proses belajar mengajar.
"Reyhan !" panggil Orion kepada adiknya, Reyhan yang berdiri di sampingnya pun menoleh." Kelola lah kampus ini, aku yakin kamu pasti bisa. Dan semua hasilnya kamu masukkan ke rekening Queen. Untuk anakku yang berada di dalam kandungannya. Kampus ini kuwariskan untuknya. Setelah anak itu besar nanti, serahkan kampus ini kepadanya" ucap Orion, dengan pandangan lurus ke depan, memandang gedung kapus yang berdiri di depannya.
"Maksud bang Orion ?" Reyhan mengerutkan keningnya.
Tak terasa Orion pun meneteskan air matanya." Aku mendapatkan pekerjaan baru di tempat lain. Aku akan meninggalkan kota ini dalam waktu yang tidak bisa kutentukan. Aku butuh tempat baru untuk menata hatiku" jawab Orion.
"Apa kamu tidak ingin melihat anakmu lahir ?" tanya Reyhan lagi.
"Bagaimana bisa aku melihat anakku lahir, jika Queen sendiri tidak mau bertemu denganku !" jawab Orion.
Sudah sering kali ia mendatangi rumah mertuanya untuk bertemu dengan Queen. Untuk membujuk Queen supaya mau pulang ke rumah mereka, namun Queen sama sekali tidak mau menemuinya, dan mengunci dirinya di kamar setiap Orion datang.
"Apa itu artinya bang Orion dan Queen akan bercerai ?" tanya Reyhan lagi.
"Queen menginginkannya" jawab Orion.
"Berusahalah mempertahankannya !, cobalah membujuk Queen lagi"ucap Reyhan.
"Untuk apa Rey ?" Orion mengeraskan rahangnya, menahan kesedihan mendalam di hatinya."Sudah cukup aku mengalah dari dulu Rey !. Jika dia hanya mencintai kelebihan yang ada pada diriku, untuk apa Rey ?. Aku bukanlah manusia yang sempurna yang tak luput dari dosa Rey."
"Aku sangat mencintai Queen Rey !, tapi apa yang bisa kulakukan jika dia tidak mencintaiku lagi ?. Dan aku tidak mau memberikan harapan kepada Boy lagi Rey. Kasihan Boy jika dia terus mengharapkan kehadiran Queen sebagai Momy nya." Orion menghela napasnya, kemudian berbicara lagi." Ini memang semua salahku, menyembunyikan Boy dari Queen selama ini."
Orion menghela napasnya lagi," tapi ya sudahlah !, mungkin kami berjodoh sampai di sini saja !."lanjut Orion lagi.
"Aku mendukung apa pun keputusanmu bang Orion !. Tenang saja, aku akan mengelola kampus ini untuk keponakanku." balas Reyhan, menepuk pelan bahu Orion.
"Kapan bang Orion akan berangkat ?" tanya Reyhan.
"Besok !, aku akan membawa Boy dan pengasuhnya" jawab Orion.
"Secepat itu ?, kenapa begitu mendadak ?."
"Aku mendapat panggilan kerja itu seminggu yang lalu. Dua hari lagi, aku sudah harus bekerja" jawab Orion.
"Pulanglah saat Queen melahirkan nanti, bagaimana pun juga, Queen masih istrimu, dan yang di dalam kandungannya itu adalah anakmu !" ujar Reyhan.
"Lihat nanti saja !" jawab Orion. Kemudian memutar tubuhnya berjalan ke arah tempat ia memarkirkan mobilnya.
Orion masuk ke dalam mobilnya, dan langsung melajukannya. Ia ingin segera pulang, karna Boy sudah pasti menunggunya di rumah.
.
.
"Queen ! pikirkan lah baik baik sayang !. Jangan sampai kamu menyesal nantinya !" bujuk Mama Vani, kepada putrinya.
"Ma ! biarkan sementara seperti ini dulu Ma !." balas Queen yang duduk bersandar di atas kasur.
"Sudah dua bulan kamu meninggalkan Orion sayang !" ujar Mama Vani.
"Itu belum sebanding dengan tujuh Tahun Ma !"balas Queen, sibuk dengan handphon di tangannya.
"Apa kamu berniat menghukum Orion selama tujuh Tuhun ?" tanya Mama Vani.
"Bahkan itu belum setimpal Ma !" jawab Queen.
Mama Vani menghela napasnya, melihat putrinya itu begitu keras kepala. Mama Vani berdiri dari hadapan Queen. Ia sudah tidak tau lagi bagaimana cara membujuk Queen supaya mau kembali kepada Orion.
"Besok Orion akan berangkat ke kota lain, dia akan bekerja disana. Mungkin dia akan menetap di sana bersama Boy" ucap Mama Vani, kemudian keluar dari kamar Queen.
Queen hanya diam saja, tak terasa air matanya luruh kembali. Hatinya masih mencintai Orion, tapi ia tidak sanggup lagi jika harus melanjutkan pernikahan mereka. Karna kenyataan yang menyakitkan.
Mama Vani menuruni anak tangga kelantai bawah rumahnya. Menemui suaminya yang menunggunya di ruang keluarga bersama Papa Arya.
"Bagaimana Vani ?" tanya Papa Arya
Papa Arya sengaja datang ke rumah Gandi dan Vani. Untuk mengabari kalau Orion memutuskan untuk meninggalkan kota mereka. Karna sudah putus harapan untuk mengharapkan Queen bisa menerimanya dan Boy.
Mama Vani menggeleng gelengkan kepalanya, kemudian menghela napasnya. Kemudian mendudukkan tubuhnya di samping Papa Gando suaminya.
Ketiga orang tua itu pun menghela napas masing masing. Bingung bagaimana cara menyatukan suami istri itu kembali. Keduanya sama sama keras kepala, dengan ego masing masing.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang ?. Mereka baru saja menjalankan pernikahan mereka, sudah berpisah!" desah Papa Arya.
"Aku juga bingung !" balas Papa Gandi, kemudian menghela napasnya lagi.
Papa Arya memijat pangkal hidungnya, pusing dengan masalah masalah anak anaknya. Selesai masalah Arsenio, Di gantikan dengan Reyhan, selesai itu, di gantikan Orio dan Queen, yang berada di ambang perceraian.
Papa Arya berpikir, setelah anak anaknya besar, ia bisa menikmati masa tua dengan tenang. Karna perkejaannya sudah bisa di bantu dan di gantikan anak anaknya. Tapi nyatanya, tidak !. Malah Papa Arya semakin bertambah beban pikiran.
"Kalau begitu, saya pulang dulu, saya akan mencoba membujul Orion, supaya mau datang kesini membujuk Queen kembali" pamit Papa Arya. Kemudian berdiri dari tempat duduknya.
"Iya Pak !, kami juga akan berusaha membujuk Queen kembali" balas Mama Vani.
Papa Arya pun segera pergi meninggalkan rumah besannya itu.
.
.