
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, gegas Arsenio keluar kelas setelah guru yang mengajar di kelas mereka keluar terlebih dahulu. Arsenio melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah kelas Sirin. Menunggu Sirin di depan kelasnya.
"Arsen !" sapa Sirin, melihat Arsenio berdiri di depan pintu kelasnya.
"Ayo pulang !" ucap Arsenio, meraih tangan Sirin, menyematkan jarinya di selah selah jari Sirin.
Sirin menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Kemudian mensejajarkan langkahnya dengan langkah Arsenio.
"Queen gak jadi ikut ?" tanya Arsenio
"Gak tau !, sepertinya dia lagi gak mood, kata Diana tadi, Nala mengganggunya" jawab Sirin.
Arsenio menghela napasnya," Dari dulu ke dua orang itu tidak pernah berhenti bersaing" ucap Arsenio.
"Yang satu angkuh, yang satu suka cari masalah" sambung Sirin.
"Siang ini kamu mau makan apa ?" tanya Arsenio setelah mereka berada di dalam mobil.
Sirin berpikir sebentar, lalu menjawab." Pengen makan ayam geprek pake sambal matah."
Arsenio menganggukkan kepalanya, satu tangannya terangkat mengusap kepala Sirin, kemudian melajukan kenderaannya keluar dari area sekolah.
Arsenio memarkirkan kenderaannya tepat di depan rumah kontrakan mereka. Setelah mematikan mesinnya, Arsenio membuka pintu di depannya dan langsung turun dengan menenteng kantong plastik yang berisi makanan dan botol air minum mineral berukuran besar. Di ikuti Sirin dari pintu sebelahnya.
Tanpa mereka sadari para pencari berita sudah mengintai dari jauh dan kaca jendela masing masing. Dan mengira ngira berapa harga mobil yang terparkir di depan kontrakan tetangga baru mereka. Tentu benak para emak emak berdaster itu bertanya tanya, kenapa anak orang kaya yang memiliki mobil harganya setara dengan harga rumah, mengontrak di kontrakan sempit ?.
"Sirin ! selesai makan, aku tinggal dulu gak apa apa 'kan ?" tanya Arsenio, sambil menyuapi Sirin makan.
"Kemana ?" tanya Sirin setelah menelan makanan di mulutnya.
"Cari pekerjaan !" jawab Arsenio, Sirin menganggukkan kepala, kemudian menerima suapan dari tangan Arsenio.
"Gak usah ngerjain apa apa, kamu belajar saja, sebentar lagi kamu ujian kelulusan. Nanti biar aku aja yang membersihkan rumah ini" ujar Arsenio lagi, Sirin mengangguk lagi sambil mengulum senyum. Arsen mengacak acak ujung kepala Sirin, gemas.
"Satu ronde yuk !"
Blush !
Wajah Sirin langsung berobah warna, memerah seperti tomat matang. Melihatnya, Arsenio menjadi tertawa cekikikan.
Tanpa aba aba Arsenio langsung saja menyambar bibir Sirin, menciumnya dalam dan lama.
"Pindah ke kamar yuk !" ajak Arsenio, setalah melepas pagutannya.
Sirin yang malu malu tapi kecanduan, menganggukkan pelan kepalanya sembari menggigit bibit bawahnya. Arsenio berdiri dari tempat duduknya, kemudian menarik Sirin supaya berdiri, dan menarik tangan Sirin berjalan masuk ke dalam kamar.
Kurang lebih satu jam berlalu, kini Arsenio sudah terlihat segar dan tampan dengan pakaian santai yang ia kenakan. Sedangkan Sirin masih terbaring di atas kasur, dengan wajah lelah dan mata ngantuk.
"Aku pergi dulu ya !, nanti mau di bawain makan apa ?" tanya Arsnio, mengusap kepala Sirin.
"Belum tau !, nanti aku kabarin" jawab Sirin.
"Ya udah ! istirahatlah !" Arsenio yang duduk di samping Sirin pun, berdiri lalu melangkahkan kakinya ke luar kamar, setelah mencatuhkan satu kecupan di kening Sirin.
"Hati hati !" seru Sirin dari dalam kamar
"Oke sayang !" sahut Arsenio.
Setelah keluar dari pintu, Arsenio pun menutupnya kembali. Berjalan ke arah mobil seharga dengan satu unit rumah. Setelah masuk ke dalam mobil, Arsenio langsung melajukannya perlahan.
"Hei Bu kokom !, itu penyewa kontrakanmu benar sudah suami istri ?. Mereka masih anak sekolah loh !" tanya seorang ibu berdaster kepada Ibu Khomariah si pemilik kontrakan.
"Kata Evan anak saya begitu, dia sudah melihat buku nikahnya. Dan sepertinya juga mereka sudah melapor kepada RT" jawab Ibu khomariah.
"Pasti kedua anak itu sudah terlanjur basah, sapai menikah muda seperti itu. Sepertinya mereka anak orang kaya" komentar Ibu berdaster satunya.
"Sepertinya begitu !, lakinya 'kan anak dari pemilik Sekolah Harapan, jelaslah mereka anak orang kaya. Dan kata Evan istrinya anak pemilik Rumah Sakit Budi Mulia" ungkap Ibu Khomariah.
"Sepertinya mereka di usir dari rumah !, kasihan sekali mereka" ucap temannya yang satu lagi.
"Kasihan juga sih !, mereka masih sangat muda, tapi sudah harus menanggung beban berat. Tapi bagaimana lagi, kadang kalau anak gak di kasi pelajaran, akan menganggap semuanya sepele" timpal temannya lagi.
"Sepertinya ceweknya itu lagi hamil, tadi pagi aku mendengarnya muntah muntah" ucap ucap tetangga yang satu dinding dengan rumah kontaran Sirin dan Arsenio.
"Sepertinya begitu !, aku melihatnya tadi pagi, wajah cewek itu kelihatan agak pucat dan lemah" timpal temannya.
Semakin lama anggota geng gosib itu pun semakin bertambah. Sibuk membicarakan tetangga baru mereka, suami istri remaja yang terdampar di kontrakan sempit.
.
.
Arsenio memarkirkan mobilnya di sebuah parkiran Mall, dan langsung turun dari dalamnya berjalan masuk ke dalam Mall tersebut.
Sampai di dalam mall, Arsenio mendatangi sebuah counter HP, tapi bukan counter milik Papanya.
"Bang ! mau jual HP" ucap Arsenio kepada penjaga counter itu. mengeluarkan handphonnya dari saku celananya, meletakkannya di atas etalase.
"Kenapa kamu menjualnya kesini ?, bukankah kalian memiliki counter HP juga" heran penjaga counter itu.
Penjaga counter itu tidak langsung menjawab. Kemudian memutar mutar Handphon Arsenio di tangannya. Menelisik setiap sudut dan permukaan HP itu.
"Handphon mu ini masih baru, tapi kalau sudah di pake tetap saja namanya secen" komentarnya.
Arsenio mencebikkan bibirnya lagi, karna karyawan counter itu bertele tele." Cepat katakan berapa harganya ?" desak Arsenio.
Karyawan counter itu mencebikkan bibirnya." Kau gak sabaran sekali, aku lagi mikir kira kira berapa yang pas untuk HPmu ini."
"Kami hanya bisa membelinya setengah harga dari harga barunya. Dan kamu mau ganti dengan HP yang mana ?."
"Yang harganya satu juta lewat sedikit" jawab Arsenio.
"Okeh !" karyawan counter itu, langsung saja mengeluarkan HP baru dari dalam etalase, dan meletakkannya di depan Arsenio." kemudian mengambil sisa uang dari harga HP itu, meletakkannya di depan Arsenio.
"Silahkan di hitung ! jumlah uangnya sudah pas atau tidak?" ujar Laki laki lemah gemulai itu.
"Tidak perlu !, kalau kau berani membohongiku, akan kurontokkan gigimu itu , biar pacarmu tidak menyukaimu lagi" ancam Arsenio, mengepalkan tinjunya ke arah karyawan counter itu.
"Kau jadi cowok kasar sekali" kesal penjaga counter itu.
Setelah selesai memasang kartu dan memorikatnya ke handphon barunya yang seharga satu juga tiga ratus lima puluh ribu itu. Arsenio segera pergi meninggalkan konter itu, berjalan ke arah sualayan yang menjual peralatan dapur dan bahan makanan.
Arsenio menarik satu troli lalu mendorongnya. Sering mencuci piring sewaktu di rumah orang tuanya. Arsenio menjadi sedikit mengenal peralatan dapur, jadi ia tidak terlalu bingung, hanya tinggal mengingat ingatnya saja.
Satu jam berlalu, kini Arsenio sudah mengantri di kasir dengan troli yang penuh di depannya.
"Semuanya dua juta...dek !" ucap kasir itu, setelah menghitung semua belanjaan Arsenio.
Tanpa menjawab, Arsenio pun mengeluarkan uang dua juta sekian dari saku celananya, memberikannya kepada kasir tersebut. Setelah selesai, Arsenio pun meninggalkan kasir itu, mendorong troli belanjaannya keluar dari mall sampai ke parkiran.
Sisa uang hanya tinggal tiga juta lagi, cukup sampai kapan ?. Aku harus segera mencari pekerjaan. Belum lagi aku harus memikirkan biaya servis mobil ini, bayar kontrakan bulan depan, air listrik, bensin, biaya makan, biaya chek upnya Sirin. Batin Arsenio, menghela napas beratnya, kemudian melajukan kenderaannya keluar dari parkiran mall menuju jalan pulang.
Sampai di depan rumah, Arsenio langsung turun dari dalam mobil, berjalan ke araj bagasi. Mengambil belanjaannya dari sana dan membawanya masuk ke dalam rumah. Setelah selesai mengambil belanjaannya yang ada lima kantong besar. Arsenio pun melihat Sirin ke dalam kamar, kira kira apa gerangan yang di kerjakan istrinya ?.
"Sirin ! ya ampun sayang !" Arsenio mendekati Sirin yang tidur hanya dengan pakaian dalam saja, tubuhnya nampak basah bercucuran keringat.
"Panas baget ya ?" tanya Arsenio kepada Sirin yang terlelap, melap keringat Sirin dengan tissu. Betapa kasihannya Arsenio melihat istrinya yang kepanasan.
"Arsen ! kamu sudah pulang ?, aku haus banget, air minum kita habis" gumam Sirin, terbangun karna merasakan sentuhan Arsenio.
"Sebentar aku tadi membeli air minum untuk kita" Arsenio gegas pergi ke ruang depan, dan langsung membuka belanjaannya, mengeluarkan botol ari mineral dari dalamnya, membawanya ke dalam kamar.
"Duduklah !" suruh Arsnio membuka tutup botol di tangannya, meminumkannya kepada Sirin.
Gluk gluk gluk gluk.........................!
"Ah ! 'ukh !" desah Sirin kemudian bersendawa setelah menghabiskan hampir separoh isi botol berukuran besar itu.
"Ya ampun Sirin !" ucap Arsenio, lalu tertawa cekikikan. Melihat Sirin minum dengan begitu rakus, sampai tumpah tumpah mengalir di tubuhnya.
"Haus banget !" ucap Sirin.
"Mandi gih ! biar badannya segar" suruh Arsenio, mengacak acak gemas ujung kepala Sirin.
"Siap mandi, aku mau makan" ucap Sirin beranjak dari kasur berjalan keluar kamar menuju kamar mandi.
Kamar mandi berukuran kecil, tidak ada shawer, tidak ada bathtub, apa lagi pemanas air. Yang ada hanya ember besar dan gayung.
Setelah Sirin masuk ke dalam kamar mandi, Arsenio pun mengeluarkan semua isi belanjaannya dari dalam kantong plastik. menata dan meletakkannya di tempat yang seharusnya. Sangat banyak, mulai dari penanak nasi, kompor, tabung gas, panci, kuali, piring, gelas, baskom dan kawan kawannya di dapur. Dan arsenio juga tidak lupa membeli kipas untuk mereka supaya mereka tidak kepanasan di dalam rumah petak satu kamar itu.
Dan tidak lupa lemari berbahan kain, dan tikar kecil untuk alas kasur yang menjadi saksi bisu cinta mereka memulai hidup baru, dan keperluan lainnya yang benar benar mereka butuhkan.
"Arsen ! kamu membeli ini semua ?" tanya Sirin baru keluar dari kamar mandi. Tadi saat keluar dari kamar, ia tidak memperhatikan belanjaan Arsenio di ruang depan.
"Iya !"
"Kenapa gak mengajakku tadi kalau kamu mau belanja" Sirin berbicara dengan mengerucutkan bibirnya.
Kalau kamu ikut, beda cerita nanti ,batin Arsenio. Sudah hapal dengan Sirin yang hoby belanja barang barang yang tidak perlu sama seperti Queen.
"Aku kawatir kamu kelelahan" jawab Arsenio.
"Aku 'kan pengen jalan jalan juga !"
"Cepat pakai bajumu kalau gak ingin ku makan !" ancam Arsenio, melihat Sirin cemberut, berdiri di depan pintu kamar mandi hanya menggunakan handuk saja.
"Ikh ! kamu selalu menyebalkan !" Sirin berjalan masuk ke dalam kamar mereka dengan bibir maju lima senti.
Langsung saja angin kipas angin menerpa rambut basahnya dari atas.
"Arsen ! kamu juga beli kipas ?, dapat duit dari mana ?" seru Sirin dari dalam kamar.
.
.