Brother, I Love You

Brother, I Love You
145. Lebih cantik, paling cantik, tercantik



"Elang..!" panggil seorang gadis berlari ke arah Elang. Elang pun memutar tubuhnya, tersenyum kepada gadis pujaan hatinya itu.


Gadis itu langsung memeluk Elang, Elang pun langsung mengecup keningnya.


"Apa sudah baikan ?" tanya Elang, melingkarkan satu tangannya ke leher kekasihnya itu, membawanya berjalan masuk ke gedung kampus tempat mereka menimba ilmu.


"Sudah !" jawab gadis itu.


Sekali lagi, Elang mengecup kening gadisnya itu dari samping." Maaf ! aku gak bisa menemanimu saat kamu sakit" ucapnya.


Gadis yang tingginya hanya sampai ketiaknya itu menganggukkan kepalanya sembari tersenyum." Tak masalah !, aku sudah biasa sendiri" balasnya.


"Sabar ya ! aku pasti membawamu kepada keluargaku, tapi tunggu waktu yang tepat. Bang Reyhan beberapa hari lagi akan menikah, setelah itu baru aku memperkenalkanmu kepada keluargaku" ucap Elang.


"Apa kamu yakin keluargamu akan menerimaku ?.Bagaimana kalau orang tuamu menolakku ?, apa kamu akan meninggalkanku ?."


"Hei ! pemikiran macam apa itu ?, orang tuaku tidak seburuk itu. Mereka orang orang yang baik, mereka pasti menerimamu" balas Elang, memandang wajah gadis yang sudah di pacarinya satu Tahun itu.


"Aku takut kamu meninggalkanku !, aku tidak punya siapa siapa lagi selain kamu" ucap wanita itu dengan wajah sedih.


"Tenanglah ! biarkan itu nanti menjadi urusanku. Kalau mereka menolakmu, aku akan terus membujuk mereka sampai mereka menerimamu"ucap Elang, mengecup kening gadisnya itu dengan penuh perasaan.


"Yuk ! sebentar lagi masuk, jangan sampai kita terlambat masuk. Nanti kita tidak di perbolehkan masuk" ajaknya, menarik tangan gadis itu, masuk ke kelas mereka.


.


.


"Nanti setelah makan siang antar Queen ke rumah sakit ya bang Orion !" ucap Queen, sibuk dengan pensil warna di tangannya.


"Iya sayang !" balas Orion, sibuk dengan laptop di depannya.


"Dibagian depan kampus ini, Queen mau buat kebun bunga. Sekalian nanti buat lahan praktek, mahasiswa jurusan pertanian" ucap Queen.


"Iya sayang !"


"Apa Queen bisa kuliah mengambil dua jurusan sekaligus ?" tanya Queen, tanpa menoleh ke arah Orion.


"Bisa sayang ! asal otak dan tenagamu mampu. Kamu masih punya kewajiban lain, selain menjadi mahasiswa" jawab Orion.


Queen menghela napasnya," seharusnya aku tidak menikah muda, biar aku bisa sekolah lebih bebas" ucapnya.


"Itu sudah resikomu sayang !, kenapa dulu memaksa abang menikahimu ?" balas Orion.


"Karna bang Orion oragnya suka di paksa" jawab Queen santai.


"Bilang aja terpesona dengan ketampanan abang" balas Orion.


"Bukan ! Queen hanya tak suka di kalahkan wanita manapun. Apa lagi si Kezia Kezia itu !, sok kecantikan aja !" cetus Queen, sampai sekarang masih tak suka dengan gadis yang ingin merebut bang Orionnya itu.


"Memang dia cantik !" bela Orion, mengulum senyumnya, Orion yakin Queen pasti marah kepadanya, karna sudah memuji cewek lain.


Yang benar saja, Queen langsung memutar tubuhnya ke arah Orion, memandang Orion tajam, setajam silet. Kemudian melempar pensil warna, mengenai kening Orion.


"Sakit sayang !" keluh Orion


Queen mendengus, kemudian kembali meutar tubunya ke arah meja tempatnya menggambar.


Orion berdiri dari kursinya, berjalan menghampiri Queen. Menggendong tubuh Queen tanpa aba aba.


"Bang Orion !" kaget Queen.


Orion pun mendudukkan Queen di atas meja kerjanya. Tanpa aba aba langsung mencium bibir Queen, menciumnya dalam, kemudian melepaskannya, dan menangkupkan kedua tangannya di sisi wajah Queen.


"Tapi ini lebih cantik !" Orion mengecup pipi kanan Queen." Yang paling cantik !" mengecup pipi kirinya." yang tercantik !" terakhir mengecup bibir Queen.


Queen tersenyum, hatinya sangat senang mendapat pujian dari Orion. Bagaiman pun juga, Queen masihlah remaja labil yang masih puber.


Cup !


Lagi, Orion mengecup bibir Queen yang senyum senyum tak jelas.


"Apa kamu sangat senang di bilang cantik Queen ?" tanya Orion, tersenyum sampai menampakkan gigi giginya yang berjejer rapi.


"Queen memang cantik !"jawab Queen. Kemudian menyembunyikan bibir atasnya.


"Iya sayangnya aku !, kamu memang cantik ! makanya abang suka" balas Orion. Kemudian menurunkan Queen dari atas meja. Membawanya duduk ke kursinya, mendudukkan Queen di pangkuannya. Kemudian kembali mengerjakan pekerjaannya.


.


.


Siang hari seperti permintaan Queen. Mereka pun pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Sirin. Kini mereka sudah sampai di depan pintu ruang perawatan Sirin. Tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu, Queen langsung membuka daun pintu di depannya sambil mengucap salam.


"Queen !"


Queen langsung menoleh ke arah sofa." Mama !" ucap Queen, melihat mama Vani berada di ruangan itu. Queen pun melangkahkan kakinya ke arah Vani, dan langsung menyalam tangan Mamanya.


"Mama apa kabar ?" tanya Queen.


"Baik sayang !, bagaimana dengan cucu mama ?" tanya balik Mama Vani, mengelus perut Queen.


"Baik nenek !" jawab Queen tersenyum, menirukan suara anak kecil.


"Assalamu alaikum Ma !" sapa Orion, menyalam mama Vani, kemudian mengecup ujung kepala wanita yang menjadi ibu keduanya itu.


"Walaikum salam sayang !" balas Mama Vani, mengusap kepala Orion dengan sayang. Mama Vani sangat senang dan bahagia, karna do'anya terkabul, menjadikan Orion menantunya.


"Queen ! Bang Orion !, kalian kesini mau ngapain ?. Kok aku gak di sapa ?" protes Sirin dari atas brankar.


"Maaf ! lupa !" balas Queen, kemudian berjalan ke arah brankar.


"mana makanan untukku ?" tanya Sirin.


"Ini aku bawain salad buah" Queen meletakkan kantong plastik di tangannya ke atas nakas.


"Hai tante Diana ! apa kabar ?" sapa Queen, kepada Diana yang berbaring di samping Sirin, sibuk dengan handphon di tangannya.


"Arsen mana ?" tanya Queen, tidak melihat Arsenio di ruangan itu.


"Pergi ke toko" jawab Sirin. Queen pun mengangguk anggukkan kepalanya.


Kemudian Queen pun naik ke atas brankar itu.


"Gak ada Kania, kurang seru !" ucap Queen.


Biasanya mereka slalu berkumpul berempat, kini mereka tinggal bertiga. Karna orang tua Kania, tidak mengijinkan Kania dekat dekat dengan Sirin dan Ghissam.


"Bagaimana lagi !, kita tidak bisa memaksa orang untuk suka dengan kita" jawab Sirin, seketika pandangannya meneduh. Karna perbuatan Ibunya, banyak orang memandangnya dan Ghissam sebelah mata.


Queen pun menarik Sirin ke dalam pelukannya. Mengusap usap punggung Queen dari belakang." Jangan terlalu di pikirkan tentang penilaian orang. Yang perlu kamu pikirkan adalah kesehatanmu dan bayimu. Dan yang perlu kamu ingat, kita satu keluarga sangat banyak" ucap Queen.


"Jangan merasa sendiri, kami slalu ada untukmu. Masalahmu, masalah kami juga. Kesedihanmu, kesedihan kami juga. Kebahagiaanmu, kebahagiaan kami juga" ucap Queen lagi.


"Trimakasih Queen, kamu adalah sahabat terbaikku !" balas Sirin tersenyum.


"Jadi aku siapa ?" sungut Diana, tak terima Sirin mengatakan hanya Queen sahabat terbaiknya. Meski kenyataannya begitu, karna Sirin dan Queen sudah kenal sejak bayi.


"Kamu adalah Ibu tiri terbaik sejagat raya" jawab Sirin, lalu tertawa cekikikan.


Diana mendengus kemudian mengerucutkan bibirnya.


Jika ketiga gadis remaja itu bercerita dan bercanda, sambil memakan salad buah yang di bawa Queen di atas brankar. Kalau Orion, ia menikmati bermanja manja di lengan Mama Vani.


Tok tok tok !


Refleks mereka semua yang ada di ruangan itu menoleh ke arah pintu.


"Assalamu alaikum !"


"Walaikum salam" balas mereka semua.


"Ya elah ma ! kirain tadi siapa !" ucap Orion, ternyata ratu sejagatlah yang datang.


"Kamu pikir siapa yang datang ?, ibu wali kota !" tanya ratu sejagat, melangkahkan kakinya ke arah brankar Sirin, yang memiliki tiga pasien. Mama Bunga pun mengusap kepala Sirin, kemudian mencium keningnya.Mama Bunga sangat menyayangi putri dari mantan kekasih tersayangnya itu.


"Bagaimana keadaanmu dan cucu mama sayang ?" tanya Mama Bunga, meletakkan kantong plastik yang berisi beraneka ragam buah buahan di dalamnya.


"Baik Ma !" jawab Sirin mengulas senyumnya.


"Mantan calon mantu ! gimana kabarnya ?, apa udah jebol itu gawang ?. Si Aldo kira kira buas gak ?. jadi penasaran tuh sama burungnya" tanya Mama Bunga sama Diana.


Membuat wajah Diana langsung memerah salah tingkah.


Takk !


"Aw !" keluh mama bunga karna ada yang mengetok kepalanya.


"Sudah tua, tapi mulutmu gak berobah, masih saja lemes dan asal nyampah !" ucap Dokter Aldo yang tiba tiba datang.


"Aku kangen sama kamu Al !, mumpung gak ada Aaryan pelukan yuk !" ajaknya, mengedip ngedipkan matanya ke arah Dokter Aldo.


Takk !!!


"Aw !!!" keluh mama Bunga lagi. Kini jitakannya lebih kuat.


"Kamu mau ngajak perang sayang ? Hm..!" gemas Papa Arya, kemudian menjewer telinga mama Bunga yang tertutup jilbab.


"Gak Aaryanku sayang ! aku hanya kangen saja masa masa kecil kami yang sama sama mandi di empang" jawab Mama Bunga nyengir sambil tangannya memegangi tangan Papa Arya yang masih menjewer telinganya. Mama Bunga tidak serius mengajak Dokter Aldo berpelukan. Ia hanya bermaksud menggoda Diana, apakah Diana cemburuan.


"Oh ! kalau begitu ayok ! biar aku tenggelamin kalian berdua sekalian di empang" ketus Papa Arya.


"Makanya ! jangan suka maling pacar orang. Istrinya kan jadi susah move on !" cibir Dokter Aldo.


Tambah panaslah hati pria yang sudah berusia lima puluhan itu.


"Enak saja bilang aku belum move on !, kalau malingnya ganteng bin tampan gini. Jelas dong aku klepek klepk melihatnya." Mama Bunga berbicara sambil membelai pipi Papa Arya, kemudian menjinjitkan sedikit kakinya, mengecup pipi pria yang masih terlihat tampan, meski di bagian bagian tertetu wajahnya sudah mulai bergaris garis.


Mendapat pujian seperti itu, berubah senanglah hati pria yang tampannya kebagatan di waktu muda itu. Papa Arya pun memeluk pinggang Mama Bunga, dan mengecup pipinya.


Dokter Aldo mendengus, Dokter Aldo akui mantan gurunya itu memang tampan, lebih tampan darinya. Tapi kalau Dokter Aldo juga termasuk pria yang tampan dan pintar.


"Sayang ! keruanganku yuk !" ajak Dokter Aldo kepada Diana.


"Mau disini !"rajuk Diana.


Diana masih kangen ngumpul ngumpul dengan Queen dan Sirin. Semenjak mereka libur sekolah, mereka jarang sekali bertemu. Dan jiga nanti setelah masuk kuliah, mereka juga pasti jarang bertemu karna mengambil jurusan yang berbeda.


"Ayo temani dulu hubby mu ini makan siang sayang !"bujuk Dokter Aldo lagi. Diana mengerucutkan bibirnya, tapi tetap turun dari atas brankar.


"Selesai makan, kamu bisa ke sini lagi" ucap Dokter Aldo, merangkul pinggang Diana dari belakang, dan mengecup kening Diana dari samping.


"Al ! jangan pergi dulu !" cegah mama Bunga saat Dokter Aldo melangkahkan kakinya.


"Ada apa ?" Dokter Aldo mengarahkan pandanganya kepada Mama Bunga dan Papa Arya yang sudah duduk di sofa.


"Nanti saat pernikahan Reyhan, kamu sebagai pamannya, Kamu yang akan menjadi saksi pernikahan Reyhan dari pihak laki laki"jawab Mama Bunga." Kamu dan Diana harus berangkat bareng kami nanti" ucap Mama Bunga lagi.


"Kenapa harus aku ?" Dokter Aldo mengerutkan keningnya.


"Siapa lagi ?" tanya balik mama Bunga.


"Orion !" jawab Dokter Aldo.


"Kamu dan Orion !" balas mama Bunga.


"Baiklah ! kalau begitu aku dan istriku pergi dulu." Dokter Aldo pun membawa Diana keluar dari ruang perawatan Sirin.


.


.