Brother, I Love You

Brother, I Love You
223. Kawin lari



"Umi ! Hani maunya sama ustadz Bilal Umi !" tangis Hani di dalam pelukan Umi Fatimah.


Umi Fatimah diam, ia hanya bisa mengusap usap kepala Putrinya.


"Kalau kalian ingin membuatku malu, silahkan kalian ambil keputusan sesuai keinginan kalian !."


Umi Fatimah langsung mengarahkan pandangannya ke arah pinti kamar Hani. Menatap suami ke duanya itu dengan berlinang air mata.


"Bagaimana dengan kebahagiaan Hani, Abi ?" tanya Umi Fatimah, berbicara dengan bibir bergetar.


Ustadz Hamzah terdiam tidak bisa menjawab.


"Pentingan mana? rasa malu Abi atau kebahagiaan keponakanmu ini ?" tanya Umi Fatimah lagi.


Lagi Ustadz Hamzah terdiam. Tentu ia juga memikirkan kebahagiaan keponakannya itu. Tapi jika Hani menolak lamaran keluarga Pak Ilham. Mau di taroh di mana mukanya ?. Meski Pak Ilham sendiri mengatakan jangan memaksa Hani.


"Aku gak mau putriku di korbankan Abi !" bela Umi Fatimah.


"Lakukanlah apa yang ingin kalian lakukan !." Ustadz Hamzah langsung meninggalkan tempatnya berdiri, berjalan masuk ke dalam kamarnya.


"Umi !" tangis Hani, setelah pamannya itu pergi dari kamarnya.


Umi Fatimah ikut menangis terisak, apa yang bisa ia lakukan untuk putrinya. Supaya putrinya mendapatkan haknya memilih pendamping hidupnya.


.


.


Bilal masuk ke dalam rumah orang tuanya, ia pun melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar Papa Arya dan Mama Bunga. Bilal mengetuk pintu itu sambil mengucap salam.


"Assalamu alaikum Ma ! Pa !, boleh Bilal tidur di kamar Mama sama Papa ?" sahut Bilal.Malam ini ia ingin menumpahkan kegundahan hatinya kepada ke dua orang tuanya.


"Walaikum salam !" sahut dari dalam. Tak lama kemudian pintu di depannya pun terbuka dari dalam.


"Bilal ! anak Mama kenapa menangis ? hm..!." Mama Bunga mengangkat ke dua tangannya mengelus pipi anaknya itu.


Bilal langsung menghamburkan tubuhnya memeluk Mama Bunga." Ma ! Bilal terlambat melamar Hani Ma !. Bilal di dahului teman Bilal sendiri Ma !" adunya.


"Ayo masuk dulu sayang ! cerita sama Mama !." Mama Bunga melepas pelukan Bilal, menarik Bilal masuk ke dalam kamar. Di sana Papa Arya sedang duduk di sofa sambil menonton teve.


Papa Arya berdecak melihat anak manjanya itu menangis karna kalah gercep mendapatkan perempuan. Kenapa pula anaknya itu tidak pintar seperti dirinya. Melakukan segala hal untuk mendapatkan wanita.


"Ayo cerita sama Mama, kanapa anak Mama ini bisa keduluan orang ?." Mama Bunga mengusap usap kepala Bilal yang menangis bersandar di dadanya.


Bilal pun menceritakan dari A sampai Z, kenapa ia bisa keduluan orang melamar Hani.


"Kenapa gak kamu ajak aja Hani kawin lari !" celetuk Papa Arya enteng.


Bilal langsung menghentikan tangisnya, mengarahkan pandangannya ke wajah Papa Arya yang tersenyum.


"Yang benar aja Pa ?." Bilal tidak percaya dengan ide konyol Papanya itu. Dia seorang ustadz, apa kata orang orang nanti. Apa Papanya ingin namanya viral ?. Seorang ustdaz di pesantren melarikan putri dari pemilik pesantren. Apa gak kena kasus penculikan dia nanti.


Papa Arya berdecak lagi, melihat ke bodohan anak bontot keduanya itu.


"Bukankah Hani menyukaimu ?, suruh dia kabur dari pesantren !" ucap Papa Arya, memberi ide menyesatkan.


"Aaryan ! kamu ada ada aja!. Jangan mengajari anakku ajaran sesat" gemas Mama Bunga.


"Tapi Hani sendiri juga menerima lamaran orang itu !" ucap Bilal.


"Yakin ?, jangan bodoh !, Mama kamu dulu kalau gak dipaksa, mana mau menikah dengan Papa" ujar Papa Arya." Dan kamu bilang tadi, Pamannya yang mengatakan kalau Hani juga menerima lamaran temanmu itu, Bukan Hani langsung. itu artinya Hani terpaksa menerima lamaran temanmu itu" terang Papa Arya.


"Aaryan ! aku gak mau, kamu mengajari anak kita hal konyol seperti itu. Cukup kamu yang licik, jangan mengajari anakku !" Mama Bunga berbicara merapatkan gigi giginya.


Papa Arya menepuk bahu Bilal yang duduk di sampingnya." Cinta harus di perjuangkan nak !. Anak Papa tidak cemen seperti ini.Sebelum ijab kabul terlaksana, kamu masih punya kesempatan. Bukankah temanmu itu juga tau, kalau Hani menyukaimu. Seharusnya dia tidak melamar Hani dengan memanfaatkan kekuasaan mereka di pesantren itu. Berarti itu namanya temanmu itu sudah mengibarkan bendera perang kepada kamu" ucap Papa arya panjang lebar.


Papa Arya pun berdiri dari tempat duduknya." Tunjukkan kalau kamu itu anak Papa !" ucapnya lagi. Kemudian melangkahkan kakinya ke arah ranjang, membaringkan tubuhnya di sana.


"Gak ! aku gak setuju ide konyol kamu itu Aaryan !. Masih banyak perempuan soleha di luar sana. Bahkan yang lebih baik dan lebih cantik dengan Hani itu." ujar Mama Bunga.


"Kamu harus punya harga diri sayang !, lepaskan saja si Hani itu. Jangan mengikuti ide konyol Papamu. Papamu itu orang sinting kalau sudah berurusan dengan cinta" ucap Mama Bunga kepada Bilal.


Bilal diam berpikir memikirkan apa yang di katakan Papanya. Hati Bilal bimbang, untuk mengikuti saran bodoh Papanya itu.


"Sabar ya !, kalau kalian memang berjodoh. Tuhan akan mempertemukan kalian dengan caranya. Tak perlu terlalu pikirkan, ikhlaskan saja" ucap Mama Bunga menenangkan anak ke enamnya itu.


Bilal pun menganggukkan kepalanya, mencoba untuk ikhlas.


"Sssttt...! sudah ! jangan menangis lagi. Ayo kita tidur, mama sudah mulai ngantuk." Mama Bunga pun mencium kening Bilal.


Lagi Bilal menganggukkan kepalanya, kemudian berdiri mengikuti Mama Bunga berjalan ke atas kasur.


"Ma ! Pa ! Bilal tidur di kamar Bilal aja ya !" ucapnya, setelah melihat Mama Bunga membaringkan tubuhnya di atas kasur.


"Kenapa ?" Mama Bunga mengarahkan pandangannya ke wajah Bilal.


"Gak ada Ma !, Bilal pengen sendiri aja" jawab Bilal, melangkahkan kakinya ke arah pintu.


"Terserah anak Mama aja sayang !" balas Mama Bunga.


Melihat Bilal sudah keluar, Papa Arya langsung turun dari atas kasur, berjalan ke arah pintu dan langsung menguncinya.


"Sayang !" panggil Papa Arya merekahkan senyumnya ke arah Mama Bunga.


"Kamu itu ! makin tua makin menjadi aja !." Mama Bunga geleng geleng kepala, paham akan panggilan sayang suaminya itu.


"Itu karna semakin lama, kamu semakin nikmat sayang" balas Papa Arya.


"Terserahmu sajalah !" pasrah ratu sejagat yang sudah di tindih Papa Arya.


.


.


Sirin menghela napasnya," belum ada jawaban" jawabnya.


Dokter Aldo pun menghela napasnya, kemudian mengambil secangkir kopi yang di sediakan istrinya dari atas meja, lalu menyesapnya.


"Papa akan minta tolong Calixto untuk menggantikan Arsen. Calixto pasti bisa meminpin perusahaan itu" ucap Dokter Aldo.


"Terserah Papa saja, yang penting, suamiku bisa terbebas dari tanggung jawab perusahaan itu" balas Sirin, menyuapkan roti tawar yang sudah di kasih selai ke dalam mulutnya.


"Aku rasa memang Calixto yang tepat untuk menggantikan Arsen. Karna Calixto sudah terbiasa membantu Reyhan mengurus perusahaan" sambung Diana, meletakkan nampan tang berisi beberapa gelas susu di atas meja.


Sirin pun langsung meraih satu kelas susu dari atas nampan, dan langsung menegaknya." Semoga aja dia mau, aku ingin sebelum aku melahirkan, Arsen sudah kembali ke sini" ucapnya, meletakkan gelasnya di atas meja.


"Nanti Papa akan mencoba menemuinya !" ucap Dokter Aldo.


"Anak anak ! ayo sarapan !" seru Diana kepada kedua putri, dan ke dua cucunya yang sedang bermain boneka di ruang keluarga.


"Mama masak apa ?" tanya Nora, mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan, kemudian meraih gelas susu dari atas meja.


"Mama gak masak, kita sarapan roti aja" jawab Diana mendudukkan tubuhnya di samping Dokter Aldo.


"Biasanya Ocil suka masak mie goreng !"ucap Arsi, duduk di samping Nora.


"Ocil lagi malas masak !" balas Diana, menyiapkan roti ke mulutnya.


"Ma ! Pa ! kapan kita jalan jalan ?" tanya Dinda.


"Tanya Papa !" cetus Diana.


Suaminya itu selalu sibuk bekerja, jarang sekali punya waktu untuk keluarga.


"Pa ! kapan kita jalan jalan ?" tanya ulang Dinda, menatap sang Papa yang nampak sudah tua.


"Nanti sayang !, kalau Papa pas lagi libur" jawab Dokter Aldo.


Dinda langsung mengerucutkan bibirnya." Ini 'kan hari minggu, kenapa gak sekarang aja ?."


"Ya udah ! nanti siang kita jalan jalan, tapi pagi ini Papa bekerja dulu !" pasrah Dokter Aldo, melihat wajah masam kedua putrinya dan istrinya.


"Hore !" seru Dinda kegirangan.


"Mama ! Ayah mana ?" tangis Gaia tiba tiba teringat dengan Ayahnya yang sudah sebulan lebih tidak pernah di lihatnya.


"Ayah lagi kerja cari duit sayang !" jawab Sirin mengusap kepala putrinya yang duduk di sampingnya.


"Ayah !!! Ayah !!!" tangis bocah kecil itu. Tentu dia kangen dengan Ayahnya, yang biasa setiap hari dilihatnya.


"Sebentar lagi Ayah datang, jangan menangis lagi ya !" bujuk Sirin, menghapus air mata Gaia.


"Gaia mau Ayah Ma !" tangisnya lagi.


"Mau telepon Ayah ?" tanya Sirin. Gaia menganggukkan kepalanya.


Sirin mengambil handphonnya dari atas meja, dan langsung melakukan panggilan vidio. Namun panggilan itu tidak di angkat.


"Gaia mau Ayah Mama !" tangis Gaia lagi.


"Iya sayang ! kita coba lagi ya ! telepon Ayah !"bujuk Sirin. Mencoba kembali menghubungi Arsenio.


"Halo nyonya ! Bapak lagi sakit !" ucap dari sebrang sana.


"Sakit ! sakit apa Bi ?. Tadi malam dia masih baik baik aja." panik Sirin langsung, bercampur kawatir.


"Tadi pagi kami menemukannya di dalam kamar dalam keadaan tidak sadar nyonya, Bapak demam tinggi" jawab Pembantu yang menemani Arsen di rumah sakit itu.


"Tolong jaga suami saya ya Bu !, kami akan segera kembali ke sana !" ucap Sirin dan langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Pa ! kami akan kembali sekarang ke luar Negri. Arsen sakit di rawat di rumag sakit Pa !" ucap Sirin berurai air mata.


"Papa akan mengantar kalian ke sana !" balas Dokter Aldo.


Sirin tidak menjawab, ia pun bergegas pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua rumah itu untuk mengambil barang barangnya.


"Ayah !" tangis Gaia semakin kencang, mendengar Ayahnya lagi sakit.


"Sssttt...! Ayah Gaia pasti baik baik saja sayang. Jangan menangis ya !" bujuk Diana, mengambil Gaia ke gendongannya.


"Sayang ! gak apa apa 'kan?, aku tinggal beberapa hari dulu!" tanya Dokter Aldo kepada Diana.


"Gak apa apa By !" jawab Diana, sambil tangannya mengusap usap kepala Gaia yang terus menangis.


"Trimakasih sayang !, gak salah dulu aku mempertahankanmu untuk menjadi ibu anak anak kita. Meski terkesan memaksa" balas Dokter Aldo tersenyum, lalu mengecup kening Diana dari samping.


Diana mengerucutkan bibirnya, tapi matanya nampak berbinar bahagia. Tentu Diana tidak lupa dengan tingkah bodohnya dulu. Berbulan bulan mengurung diri di kamar.


"Ya udah !, kalau begitu hubbymu ini ke kamar dulu, menyusun barang barang." Dokter Aldo pun melangkahkan kakinya ke arah kamar mereka.


Arsi yang masih duduk di kursinya, hanya diam dengan mata berkaca kaca, mendengar Ayahnya sakit. Ia berjanji di dalam hati, tidak mau jauh dari orang tuanya lagi. Kalau orang tuanya sakit, ia bisa merawatnya sendiri.


"Bang Arsen pasti sembuh !" ucap Nora, mengusap lembut bahu Arsi.


Malah Arsi menekuk bibirnya ke bawah, perlahan keluar isak dari mulutnya.


"Arsi ! jangan menangis ya !, Ayah pasti sembuh !." Diana berjalan mendekati Arsi, mengusap kepala bocah berusia sepuluh tahun itu.


"Kangen sama Ayah !" isak Arsi.


.


.