Brother, I Love You

Brother, I Love You
240. Kasih adik



"Umi ! kami ikut ke pesantren ya !" ucap Annisa kemudian menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Annisa !" tegur Yasmin.


Hani mengulas senyumnya, satu tangannya terangkat mengusap kepala Yasmin dari belakang."Gak apa apa !, Umi senang kalau kalian ikut" ucapnya.


"Nanti ngerpotin Umi !" Yasmin menatap Hani dengan tatapan meneduh.


Hani semakin mengembangkan senyumnya."Bukankah Yasmin dan Annisa sekarang sudah menjadi putri Umi ?. Kenapa menjadi merepotkan ?, bukankah mengurus kalian sudah menjadi kewajiban Umi ?" tanya Hani lembut.


"Kami kesepian di rumah!, apa lagi saat makan, gak ada orang tua" mulut pedas turunan ratu sejagat itu mengeluarkan suara lagi.


Berhasil melunturkan senyum Hani. Hani pun mengarahkan pandangannya ke wajah Bilal yang duduk di sampingnya. Hani menatap teduh Bilal dengan wajah sedih dan merasa bersalah.


"Annisa memang bicaranya seperti itu sayang !. Dia anak yang manja, tapi sebenarnya dia tidak bermaksud menyinggung kita. Kamu harus terbiasa menghadapi sikap manjanya, dan mulutnya yang lemes, tidak punya saringan" ucap Bilal tersenyum, satu tangannya mengusap kepala Hani dari belakang.


"Iya Umi!, Annisa itu mulutnya keturunan mendiang Nenek Ratu sejagat" sambung Yasmin tersenyum.


Annisa mengerucutkan bibirnya, yang mirip dengan bibir sang ratu sejagat.


"Umi nanti jangan heran, kalau nanti Annisa akan sering minta tidur sama Umi dan Ayah!. Kalau itu turunan dari Ayah sendiri. Sudah besae masih suka tidur dengan orang tua" kemudian Yasmi tertawa kecil setelah menceritakan kemanjaan Ayahnya dulu.


"Kata mendiang kakek dulu, Ayah masih sering minta tidur sama kakek dan nenek, padahal saat itu Ayah sudah berdakwah kesana kemari" cerita Yasmin lagi.


"Masa sih ?" Hani tidak percaya.


"Itu karna Ayah, orang yang sayang sama orang tua" jawab Bilal tersenyum.


"Tapi kata Kakek, Ayah dulu anak yang paling keras kepala, suka ngamuk kalau kemauannya gak di turuti. Makanya kakek mengirim Ayah ke pesantren" sambung Annisa.


"Ayah dulu waktu kecil, suka pipis...


Hap !


Annisa langsung menghentikan ocehannya, karna mulutnya tersupal paha ayam goreng. Annisa pun menarik paha ayam itu dengan menatap tajam sang Ayah sebagai pelaku.


"Itu dulu Ayah masih berusia tiga Tahun" jelas Bilal.


Hani dan Yasmi tertawa cekikikan melihat bibir Annisa yang belepotan sambal. Kemudian Annisa pun membalas perbuatan Ayahnya, memasukkan paha Ayam di tangannya ke mulut sang Ayah, yang di balurin ke sambal terlebih dahulu.


"Ayah jangan mengelak !" ucap Annisa tersenyum.


"Jangan sayang !, Ayah gak kuat makan sambal banyak banyak" bujuk Bilal kepada putrinya.


"Ayolah Yah !. Ayah yang memulainya !, kita lagi berada di tempat umum, jangan mengundang perhatian orang orang !" Annisa tersenyum penuh kemengan.


Dengan terpaksa, Bilal menerima suapan ayam goreng yang berlumur sambal dari tangan Annisa.


"Jangan heran Umi, mereka selalu seperti itu!" ucap Yasmin kepada Hani.


Hani semakin mengembangkan senyumnya, ia sungguh bahagia.Tuhan memberinya kesempatan memiliki keluarga yang sempurna. Memliliki dua orang putri meski buka dia Ibu kandungnya.


"Minum minum minum ! hah ! hah ! pedas !" Bilal mengipas ipas mulutnya dengan tangan, karna kepedasan.


Dengan sigap Hani langsung memberika Bilal minum, kemudian melap bibir Bilal yang belepotan dengan sambal.


Annisa yang berhasil mengerjai Ayahnya, tertawa cekikikan. Habis! Ayahnya yang duluan memulainya.


Selesai menghabiskan makanan mereka, seperti permintaan Annisa tadi. Annisa dan Yasmin pun ikut pulang ke pesantren. Mereka akan tinggal di sana sampai selesai acara resepsi.Sampai di depan rumah milik Hani, mereka pun langsung turun dari dalam mobil dan langsung masuk ke dalam rumah.


"Kamar Umi mana?" tanya Annisa.


Hani mengulas senyumnya, kemudian berjalan ke arah pintu kamarnya dan langsung membukanya." Ini !" jawabnya.


Annisa langsung masuk, kemudian merebahkannya tubuhnya di atas tempat tidur. Bilal yang sudah tau kebiasaan putrinya itu, membiarkannya saja. Sama seperti dirinya, Annisa juga suka tidur dengan orang tua meski sudah besar.


Yasmi pun ikut masuk, tidak mau ketinggalan. Dia juga merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Sayang ! sepertinya kita harus tambah kasur di kamar ini" ucap Bilal kepada Hani.


"Ayah tidur di kamar lain, kami mau tidur sama Umi !" ujar Yasmin.


"Enak saja !, itu Uminya milik Ayah, bukan milik kalian" tolak Bilal, ikut membaringkan tubuhnya di atas kasur.


"Untuk malam ini, Umi milik kami" ucap Yasmin lagi.


Betapa bahagianya Hani saat ini, dia menjadi rebutan Bilal dan kedua putrinya. Hani pun mencari selimut untuk ke dua putri sambungnya. Kemudian mengambil bantal ke kamar lain.


"Kalian mau di kasih adik gak?" tanya Bilal tersenyum.


Yasmin dan Annisa langsung saling berpandangan. Tentu mereka senang di kasih adik, tapi melihat Umi Hani mereka yang sudah tidak muda lagi, apa masih bisa?, pikir mereka.


"Serius Yah! kamu mau di kasih adik?" antusias Annisa. Tentu Annisa yang paling senang di kasih adik, karna dia tidak punya adik.


"Doakan saja, semoga terkabul" jawab Bilal mengusap kepala Annisa yang berada di dekat kepalanya.


"Pasti Annisa doain Yah!. Akh ! jadi gak sabar pengen segera punya adik!" girang Annisa.


"Iya Yah!, Yasmi pasti doain, semoga Umi di segerakan hamil" sambung Yasmin, tentu ia sangat senang jika di kasih adik lagi.


Hani yang mendengar pembicaraan anak dan Ayah di balik pintu. Seketika jantungnya berdegub kencang. Hani memegangi dadanya, apakah dia masih bisa hamil?, mengingat usianya yang sudah empat puluh satu Tahun. Hani tentu menginginkan itu, tapi Hani tidak berani terlalu berharap. Apa lagi dulu waktu bersama suami pertamanya, dia tidak pernah hamil.


Hani pun melangkahkan kakinya masuk membawa dua bantal di tangannya.


"Sayang! sini !" Bilal menepuk kasur di sampingnya supaya Hani membaringkan tubuh di sampingnya.


Malam ini mereka akan bobar (bobo bareng) di kasur yang sama. Untuk kasur itu berukuran king size, jadi mereka berempat muat untuk tidur, meski sempit sempitan. Bilal sudah biasa dengan suasana seperti itu dari dulu.


Hani pun membaringkan tubuhnya di samping Bilal, dan Bilal langsung memeluknya supaya tidak jatuh dari kasur, karna Hani berbaring di bagian pinggir kasur. Sedangkan Annisa berada di tengah tengah, dan Yasmi di pinggir kasur sebelahnya.


"Kamu harus terbiasa tidur sempit sempitan sayang!" ucap Bilal mengecup kening Hani.


"Yah! Annisa mau peluk Umi!" gumam Annisa yang memeluk Bilal.


"Gak! kamu tidurnya lasak, nanti Uminya habis kamu timpa" tolak Bilal. Karna tidur putrinya yang satu itu sangat lasak. Dan tubuhnya juga besar, kawatir istrinya yang bertubuh kurus itu, habis di timpa paha besar Annisa.


Annisa mengerucupkan bibirnya," Ayah pelit!" sungutnya.


Bilal pun mengangkat tubuh Hani, memindahkannya ke samping Annisa. Nanti kalau Annisa sudah ketiduran, ia bisa memindahkan Hani dari samping Annisa.


.


.


Pagi hari, pulang dari masjid Bilal yang masuk ke rumah, melangkahkan kakinya ke arah dapur yang terdengar riuh dengan suara kicauan ketiga wanita kesayangannya yang sedang sibuk memasak.


"Assalamu alaikum kesayangan kesayangan Ayah!" sapa Bilal tersenyum. Bilal mendekati satu persatu ketiga kesayangannya itu, mengecup keningnya satu persatu.


"Walaikum salam Yah !" balas Yasmin dan Annisa.


"Walaikum salam Abang !"balas Hani.


"Mana kopi buat Ayah?" Bilal mendudukkan tubuhnya di kursi menja makan.


"Sebentar Bang!" Hani langsung menyeduk gelas kopi yang sudah ia siapkan dari tadi. Kemudian memberikannya kepada Bilal.


"Ayah! bagaimana kalau kita bangun rumah di sini aja?"tanya Annisa tiba tiba.


Sontak Bilal, Hani dan Yasmin menoleh ke arah Annisa yang sedang memotong motong sosis di atas talenan.


"Annisa juga ingin belajar ilmu Agama di sini" ucap Annisa lagi.


"Kamu mau pindah sekolah di ke sini?" tanya Yasmin, yang sibuk membuat telor mata sapi di kuali.


"Gak juga, tapi pulang sekolah Annisa bisa belajar Agama di sini" jawab Annisa.


"Apa gak ke jauhan, bolak balik dari sini ke sekolah Harapan?. Nanti kamu capek sayang, dan juga kenapa gak sekalian pindah sekolah ke sini?" tanya Bilal.


"Teman teman Nisa semua di SMA Harapan" jawab Annisa.


"Annisa nanti bisa berbagi Ilmu dengan teman teman Annisa di sekolah." Annisa tersenyum ke arah Bilal dan Hani yang duduk berdampingan di meja makan.


"Terserah kamu saja!" ujar Bilal." Tapi untuk membangun rumah, itu prosesnya lama. Lagian kita tidak punya lahan di sini. Kita harus mencari lahannya dulu, baru bisa membangun rumah" tambah Bilal.


"Kenapa harus membangun rumah lagi, kita bisa tinggal bersama di sini" sambung Hani.


"Rumah Umi terlalu sederhana ! Ops ! hehehehe...! maaf Umi !" cengir Annisa karna keceplosan, sambil menggaruk lehernya yang mendadak gatal.


"Hm..! sepertinya Umi perlu minta dana sama Ayah kalian untuk merenopasi rumah ini" Hani tersenyum dan menaik turunkan kedua alisnya ke arah Annisa dan Yasmin.


"Ayah gak punya uang !" ucap Bilal, menyesap kopi buatan istrinya.


"Bilang aja Ayah pelit!" cibir Yasmin.


"Enak aja bilang Ayah pelit!" dengus Bilal.


"Ayah itu bukan pelit!, tapi pelit!" Annisa ikut mencibir Ayah mereka.


"Umi! nanti kita tidur bertiga ya !. Ayah jangan di bolehin masuk ke kamar. Kita biarin aja Ayah tidur sendirian" ujar Yasmi kepada Hani.


"Eits ! gak bisa, Umi kalian milik Ayah !. Ayo sayang ! kita ke kamar!" Bilal berdiri dari kursinya, kemudian menggendong tubuh Hani membawanya keluar dari dapur.


"Abang ! malu ada anak anak !" seru Hani dari gendongan Bilal.


"Hahahaha....! gak usah malu Umi !" seru Annisa dari dapur.


"Seandainya kamu tidak mengijinkan Ayah menikah dengan Umi Hani. Mungkin kita tidak pernah melihat Ayah sebahagia itu!" ucap Yasmin.


Tawa Annisa langsung berhenti, dan mengarahkan pandangannya ke wajah Yasmin.


"Itulah yang di katakan, jodoh itu misteri!. Diantara Mama dan Ayah, bukan karna siapa yang salah dan yang benar di dalam perceraian mereka. Tapi Tuhan memiliki cara untuk menyatukan cinta Ayah dan Umi Hani. Seperti Adam dan Hawa, di pisahkan dengan waktu yang cukup lama, kemudian di pertemukan kembali. Semuanya adalah takdir yang kuasa" ucap Yasmin lagi.


"Begitu juga dengan Mama, dengan bercerai dengan Ayah. Mama menemukan kebahagiaannya dengan laki laki lain. Bukan karna Ayah buruk, tapi hati memiliki keinginan tersendiri. Mungkin tidak ada pada Ayah, tapi Mama bisa menemukannya di pria lain" tambah Yasmin lagi.


"Tapi Annisa nanti, hanya ingin menikah sekali seumur hidup" ucap Annisa.


"Semua orang menginginkan itu, tapi kembali lagi ke takdir Tuhan" balas Yasmin, mengambil sosis yang di potong potong Annisa, memasukkannya ke dalam tumisan bumbu nasi gorengnya.


Di dalam kamar, suara decapan terdengar terus bersahut sahutan. Lidah dan bibir keduanya terus saling menyerang tidak ada yang mau kalah. Seperti orang yang sama sama kehausan, Bilal dan Hani terus saling meneguk rasa manisnya cinta mereka. Lidah mereka saling membelit, bibir mereka saling menyesap.


Bilal melepas pagutan mereka, kemudian memandang wajah Hani dengan senyum merekah di bibirnya, sampai menampakkan gigi giginya yang berjejer rapi.


"Lagi?" tanya Bilal.


Hani yang malu malu, menganggukkan kepalanya pelan. Bilal langsung tertawa cekikikan. Bilal mengangkat kedua tangannya, mengusap usap gemas sisi kanan dan kiri kepala Hani. Kemdian Bilal mengecup kening Hani, dan berpindah mencium bibir Hani kembali, yang langsung di sambut Hani.


Tok tok tok !


"Ayah ! Umi ! basi gorengnya sudah masak !. Sudah di siapkan di atas meja !" seru Annisa dari luar.


Bilal pun melepas ciumannya," Ya ! Ayah sama Umi akan segera keluar!" sahut Bilal dari dalam kamar.


"Putri kita sudah memanggil kita untuk sarapan!" ucap Bilal kepada Hani.


Hani menganggukkan kepalanya.Sekali lagi Bilal mencium mesra bibirnya, sebelum mereka keluar. Setelah Bilal melepas ciuamnya lagi, ia pun melap bibir basah Hani dengan tangannya, kemudian menarik Hani keluar kamar.


.


.