Brother, I Love You

Brother, I Love You
250. Cantik dan Imut



Setelah membantu Hani duduk di kursi meja makan. Sabina berpamitan untuk memanggil suaminya ke kamar.


"Kak ! aku panggil Bang Jho dulu."


Hani menganggukkan kepalanya, dan Sabina pun melangkahkan kakinya ke arah tangga rumah itu.


Rumah itu adalah rumah warisan dari kakek uyutnya/ atau Kakek samsul. Ratu sejagatlah yang mewariskan rumah itu kepada putri satu satunya. Tapi rumah itu sudah di renovasi habis karna bangunannya sudah tua dan ketinggal model.


Sampai di lantai dua, Sabina membuka pintu kamarnya tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


"Bang Bilal dan Kak Hani datang !. Mereka menunggu di bawah untuk makan" ucap Sabina.


"Kamu bicara pada siapa ?" tanya Jhonatan memandang Sabina yang merajuk dari tadi.


Sabina tidak menjawab, ia langsung keluar dari dalam kamar.


Jhonatan hanya bisa menghela napasnya, kemudian mengikuti Sabina keluar kamar.


"Sabin !" panggil Jhonatan menangkap sebelah tangan Sabina yang masih di pertengahan tangga.


"Apa?" jawab Sabina tanpa melihat Jhonatan.


"Apa kamu masih marah?, aku minta maaf !."


"Kamu berhak atas diriku, kamu tidak perlu minta maaf" Sabina menarik tangannya dari genggaman Jhonatan. Kemudian melanjutkan langkahnya ke arah meja makan.


"Terserahmu saja!" Jhonatan kesal, ia memilih mengalah untuk kebaikan bersama. Jhonatan pun mengikuti langkah Sabina dari belakang.


Sampai di meja makan, Jhonatan menyapa Bilal dan Hani. Di sana juga sudah ada putri mereka bersama pengasuhnya. Sedangkan Agam duduk di samping Bilal.


"Sudah lama Bang?" tanya Jhonatan mendudukkan tubuhnya di kursi yang biasa ia duduki.


"Baru sampai!" jawab Bilal


Jhonatan menganggukkan kepalanya."Ayo bang ! Kak ! silahkan makan!" ucapnya ramah.


"Trimakasih !" balas Bilal tersenyum.


Setelah si pemilik rumah selesai mengisi piringnya dengan nasi dan lauk pauk. Barulah Bilal mengisi piringnya. Bilal dan Hani akan makan sepiring berdua. Karna Hani nantinya akan makan sedikit saja. Dan Bilal lah yang akan menghabiskan sisanya. Setelah membaca doa, Bilal pun menyuapkan nasi dan lauk pauk ke mulut Hani.


"Aa ! buka mulutnya sayang !"ucap Bilal.


Dan Hani langsung membuka mulutnya menerima suapan dari Bilal.


"Bagaimana enak ?" tanya Bilal kepada Hani.


Hani menganggukkan kepalanya," Enak !."


"Sayang ! buka mulutnya biar kusuapi!" Jhonatan menyendok nasi di piringnya dan mengarahkannya ke mulut Sabina.


Sontak Sabina menajamkan netranya ke wajah Jhonatan dengan wajah datarnya. Melihat itu Jhonatan hanya bisa menghela napasnya.


Melihat interaksi suami istri itu, Bilal dan Hani pun diam. Mereka tau suami istri itu lagi tidak baikan. Tapi mereka tidak ingin ikut campur. Karna masalah keduanya hanyalah masalah sepele dalam berumah tangga.


"Ehem !"


Bilal berdehem, membuat adik dan adik iparnya itu tersadar dengan keberadaan mereka di meja makan.


"Papa ! Mama masih marah ?" tanya Agam kepada Jhonatan.


"Papa gak tau sayang !. Muka Mamanya kan sama datarnya, marah atau tidak marah!" jawab Jhonatan mengejek istrinya.


"Kenapa Papa suka sama Mama?. Mama 'kan gak suka tersenyum!" tanya Agam lagi, kemudian menyendokkan nasi ke mulutnya.


"Paman Orionmu memaksa Papa, supaya suka sama Mama!" Jhonatan melihat Sabina dari sudut matanya. Ingin melihat bagaimana reaksi Sabina mendengar jawabannya.


"Pergi saja kalau terpaksa!" cetus Sabina tanpa melihat Jhonatan.


Jhonatan mengulum senyumnya.


Hani yang mendengar jawaban Sabina, langsung menghentikan kunyahannya. Sontak Hani teringat masa lalunya yang terpaksa harus menerima lamaran Hidayah. Tentu itu dulu sangat sakit rasanya, dan tidak mudah melewati setiap harinya.


"Kenapa sayang ?" tanya Bilal melihat perubahan wajah Hani.


Hani menggelengkan kepalanya dan kembali mengunyah makanan di mulutnya.


Maaf bang Hidayah, bukan maksudku berpaling darimu. Tapi aku membutuhkan pendamping hidup. Terlebih Tuhan memberikanku dan Bang Bilal untuk menggapai cinta kami. Aku berharap Bang Hidayah mengikhlaskanku. Seperti Bang Bilal dulu mengikhlaskanku menikah denganmu, batin Hani.


"Sayang !" tegur Bilal lembut melihat Hani seperti melamun.


Sontak Jhonatan dan Sabina menoleh ke arah Hani.


"Kak Hani kenapa ?" tanya Sabina.


"Kakak gak apa apa, hanya teringat Almarhum Abah sama Umi" jawab Hani tersenyum masam.


Sabina pun terdiam, pandangannya meneduh karna langsung teringat dengan mendiang kedua orang tuanya.


Dan Bilal menghela napasnya dalam, di dalam hati ia langsung mendoakan kedua orang tua dan mertuanya, dengan menghadiahkan Alfatihah.


**


"Aku menyesal Aaryan, kita tidak menyekolahkan semua anak anak kita ke pesantren!" ucap Bunga yang berdiri di samping Arya.


Arya mengusap kepala Bunga dari belakang," Aku pun begitu sayang!. Ini salahku !, kamu dan anak anak adalah tanggung jawabku !" balas Aaryan.


Bunga mengulas senyumnya begitu pun dengan Arya, saat merasakan sejuk dan wanginya udara yang menyapa tubuh mereka.


"Aaryan ! ini sangat wangi !"ucap Bunga menghirup dalam udara sejuk itu.


"Itu Bilal anak kita lah yang memberikannya sayang !. Dia anak yang soleh, dia selalu mendoakan kita!" Meski mata Arya nampak berkaca kaca mengatakan itu, namun wajahnya bampak berbinar.


"Bilal ! anak Mama !" lirih Bunga merindukan anak gajahnya yang sudah berubah menjadi kuda putih.


Meski dulu Bilal anak yang keras kepala dan pemarah. Tapi setelah besar, dia menjadi anak yang soleha. Dan Hani lah gadis yang membuat hati anak mereka itu melunak.


"Aaryan ! aku ingin menemui Bilal dan Hani !" mohon Bunga kepada suaminya.


"Lihat putri kita !" Arya menghela napasnya, sedih melihat putri kesayangannya itu."Aku gagal mendidiknya Bunga !, dia sama keras kepalanya denganku !" lirih Aarya.


Bunga juga menghela napasnya," anak anak jaman sekarang memang seperti itu. Tidak mau memiliki banyak anak"ucapnya.


"Trimakasih sayang ! kamu sudah memberiku banyak anak. Kamu rela mengorbankan dirimu demi kebahagiaanku. Aku mencintaimu Bunga ku!" ucap Arya kemudian mengecup ujung kepala istrinya.


**


Melihat malam mulai larut, Bilal dan Hani pun berpamitan untuk pulang.


"Gak nginap di sini aja Bang?" tawar Sabina kepada Bilal.


"Besok abang banyak kerjaan, lain kali saja" Bilal berdiri dari tempat duduknya. Kemudian membantu Hani berdiri dari sofa.


Tadi setelah selesai makan malam, mereka berpindah ke sofa ruang tamu, hanya sekedar mengobrol ngobrol.


Sabina mendekati Hani, mengulurkan tangannya mengelus perut besar Kakak iparnya itu.


"Nanti kalau mau lahiran, kabari ya Kak !" ucap Sabina.


Hani menganggukkan kepalanya, tangannya ikut mengelus perutnya.


"Kakak sama Abangnya pulang dulu, mainlah ke rumah !" tawar Hani dengan wajah tersenyum ramah.


"Okeh !" Sabina sekedar menipiskan bibirnya, itu pun hanya sebentar.


"Assalamu alaikum !"


"Walaikum salam !"


Setelah Sabina dan Jhonatan membalas salam mereka. Bilal dan Hani langsung meninggalkan kediaman Adiknya itu.


Sepeninggal Bilal dan Hani, Jhonatan yang berdiri di samping Sabina, langsung mengangkat tubuh istrinya itu, menggendongnya ala bridal style.


"Bang Jho !!!" Sabina menatap Jhonatan marah.


"Aku ingin kamu memberiku anak lagi sayang !. Setuju gak setuju, aku akan membuatmu hamil lagi!" ucap Jhonatan.


Sabina diam menatap Jhonatan dengan wajah tanpa ekspresi.


Sampai di dalam kamar, Jhonatan langsung melempar Sabina ke atas ranjang dan langsung menindihnya, membuat Sabina hanya bisa pasrah.


.


.


Sampai di halaman rumah mereka, Bilal menghentikan laju kenderaannya. Di lihatnya Hani sudah tertidur di sampingnya. Bilal membuka pintu di sampingnya dan langsung turun. Bilal melangkahkan kakinya ke arah pintu di samping Hani dan langsung membukanya.


"Sayang ! sudah sampai, ayo bangun !" Bilal mengelus pipi cabi Hani dengan lembut.


"Abang ! Hani malas jalan, ngantuk !" manja Hani, melingkarkan tangannya ke leher Bilal.


"Kamu berat banget sayang!, susah gendongnya!."


"Gak mau !" Hani mengerucutkan bibirnya.


Bilal menghela napasnya pasrah, kalau sudah seperti itu, Bilal terpaksa harus menggendok gajah duduknya itu masuk ke dalam rumah. Tanpa bicara lagi, Bilal pun mengangkat tubuh Hani, meski dengan bersusah payah.


Istrinya itu besar sekali bobot tubuhnya. Karna Hani hamilnya tidak mengalami ngidam mual muntah sama sekali. Malah sangat suka makan, membuat badannya gemuk, kiloannya naik tiga kali lipat.


Sampai di dalam kamar, Bilal meletakkan Hani dengan sangat hati hati di atas tempat tidur. Bilal membuka jilbab Hani dan menggerai rambut panjang Hani kesamping.


Setelah puluhan Tahun, aku tidak menyangka masih memiliki kesempatan bisa memilikimu Hani. Maafkan aku dulu, karna tidak mengakui rasa cintaku kepadamu, batin Bilal.


Bilal mengelus pipi gemuk Hani dengan jempol tangannya, tanpa melepas netranya dari wajah Hani.


Aku tidak mau nama baik kita berdua rusak saat itu. Dan aku juga ingin memulai hubungan cinta kita dengan kata halal Hani, batin Bilal lagi.


"Aku tau ! aku ini cantik dan imut!" Hani membuka kelopak matanya, mengambil tangan Bilal dari pipinya, lalu mengecupnya.


Bilal mengulas senyumnya,"makanya aku menyukaimu sejak pertama melihatmu!."


"Dulu kamu sangat gemuk!.."


"Tapi menggemaskan !"potong Bilal." Seperti tubuhmu sekarang. Gemuk dan menggemaskan !" lanjutnya.


"Adek bayi kita sangat suka makan, sama seperti Ayahnya dulu" Hani mengarahkan pandangannya ke perutnya, dan tangannya mengelusnya.


"Aku sudah tidak sabar menunggunya lahir!" Bilal ikut mengelus perut Hani.


"Ayo tidur ! peluk aku !" ajak Hani.


"Sebentar !" Bilal berdiri dari tempat duduknya, berjalan ke arah kaki Hani, untuk membuka sedal dan kaos kaki istrinya itu.


Kemudian Bilal berjalan ke arah lemari, mengambil pakaian untuk mereka berdua. Setelah Bilal mengganti pakaian Hani dengan daster ibu hamil, baru Bilal mengganti pakaiannya. Kamudian menyusul Hani ke atas tempat tidur.


"Peluk !" manja Hani.


Cup !


Satu kecupan Bilal daratkan di bibir Hani, kemudian mendekap Hani ke dalam pelukannya, lalu memejamkan matanya untuk istirahat, begitu juga dengan Hani.


.


.


"Sayang ! ayo sahur !, katanya mau ikut puasa !" Bilal membangunkan Hani dari tidur lelapnya.


"Astaqfirullohal azim !, bang ! aku ketiduran. Aku belum masak menyiapkan makan sahur kita bang !" heboh Hani langsung mendudukkan tubuhnya.


Hari ini adalah puasa pertama Ramadhan, meski dalam keadaan hamil, Hani ingin mencoba berpuasa. Kalau nanti tidak kuat, Hani akan membatalkan puasanya.


Bilal mengulas senyumnya, dan satu tangannya mengacak acak ujung kepala Hani."Bibi sudah menyiapkannya !" ucapnya.


Meski di rumah itu ada pembantu, sebagai istri yang soleha, yang ingin mengumpulkan pahala sebanyak banyaknya. Menyiapkan makanan untuk suami itu adalah ladang pahala bagi Hani. Sangat di sanyangkan menurut Hani, jika orang lain yang menyiapkan makanan untuk suami dan keluarganya.


Bilal pun membantu Hani untuk turun dari atas kasur, menuntunnya berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah selesai, mereka sama sama keluar.


Sampai di meja makan, Bilal menarik satu kursi, kemudian membantu Hani duduk. Setelah itu baru Bilal menarik kursi untuknya, duduk di samping Hani. Di meja makan itu hanya mereka berdua, Karna Annisa memilih untuk tinggal di pesantren setelah pulang sekolah.


"Kalau tidak kuat puasanya, nanti jangan di paksa ya !. Kamu bisa menggantinya nanti setelah melahirkan" ucap Bilal saat meyendok nasi menarohnya ke atas piring.


Hani menganggukkan kepalanya, sambil tangannya terus mengusap usap perut besarnya, merasakan perutnya sedikit sakit. Tapi Hani ingin berpuasa di hari pertama.


"Ayo buka mulutnya!" Bilal menyuapkan nasi beserta lauk ke mulut Hani. Kemudian menyuapkannya ke mulutnya.


Sudah menjadi kebiasaan mereka makan satu piring berdua, dan Bilal selalu menyuapi Hani makan.


Selepas sahur, mereka tidak lagsung tidur. Mereka akan menunggu waktu subuh, supaya tidak ketiduran dan melewatkan shalat subuh. Dan juga tidak bagus jika langsung tidur setelah lepas makan sahur. Karna bisa berakibat asam lambung naik.


"Sayang ! aku ke masjid dulu ya !" pamit Bilal melihat jam hampir masuk subuh.


"Iya Bang !" balas Hani dari atas tempat tidur.


"Jangan lupa shalat !" ucap Bilal lalu mengecup kening istrinya itu kilas.


Hani menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Dan Bilal pun langsung melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar.


Tak lama kemudian, suara azhan sudah terdengar berkumandang. Suara itu terdengar sangat merdu. Hani sangat mengenal pemilik suara itu.


Ya Allah ! trimakasih sudah memberiku kesempatan untuk memiliki Ustadz Bilal, Batin Hani tersenyum.


Kemudian Hani segera turun dari atas tempat tidur, berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu. Setelah selesai Hani langsung keluar.


"Aw !"keluh Hani merasakan tiba tiba perutnya sakit.


Ya Allah ! apa sudah waktunya aku melahirkan ya ?, batin Hani mengusap usap perutnya yang sakit.


seketika jantung Hani berdetak kencang tidak karuan. Bahagia bercampur waswas.


Karna tidak merasakan ada cairan keluar, Hani pun segera melaksanakan shalat subuh, karna sakit perutnya sudah hilang.


Tak lama kemudian Hani selesai shalat, terdengar pintu kamar itu terbuka dari luar, Hani mengarahkan pandangannya ke arah pintu. Nampak Bilal masuk sambil mengucap salam.


"Assalamu alaikum sayang !"


"Walaikum salam bang !"


"Kamu kenapa sayang ?" Bilal melangkahkan kakinya ke arah Hani dengan kening mengerut, melihat wajah Hani menengang.


"Tadi perutku terasa sakit, tapi hanya sebentar!" jawab Hani.


Bilal mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur menghadap Hani. Kemudian mengulurkan tangannya mengusap perutnya, sambil mengecup kening istrinya itu.


"Kita ke rumah sakit ya!" ajak Bilal.


Tentu Bilal sudah tau kalau istrinya itu akan segera melahirkan. Karna ia sudah berpengalaman dari istrinya yang pertama.


Mendengar Bilal mengajaknya ke rumah sakit, wajah Hani semakin menegang. Ia akan segwra melahirkan, Hani tidak bisa membayangkan seperti apa sakitnya. Dia hanya mendengar dari ibu ibu lainnya kalau melahirkan itu sangat sakit. Seperti tulang tulang kita di patahkan sekaligus.


Bilal menyentuh tangan Hani, menyematkan jarinya di jari tangannya. Menggenggam tangan itu erat dan sedikit meremasnya. Kemudian Bilal menarik Hani perlahan ke dalam pelukannya. Mengusap usap punggung dan kepala Hani dari belakang.


"Rileks sayang ! semuanya akan baik baik saja" ucap Bilal mengecup lama ujung kepala Hani.


"Aku takut !" ucap Hani pelan.


" Ayo tarik napas..keluarkan perlahan. Berdoa dan berzikirlah, perbanyak istigfar dan bersalawat" suruh Bilal.


Hani pun langsung melakukannya.


Dan Bilal pun melantunkan salawat nariah untuk menenangkan hati istrinya itu, supaya tidak terlalu takut untuk menghadapi persalinan. Hingga Hani ketiduran di dalam pelukannya.


.


.