Brother, I Love You

Brother, I Love You
78. Hukuman



Karna Queen terus menangis, terpaksa Orion membawa Queen meninggalkan ruang makan, supaya tidak mengganggu.


"Arsen ! kenapa lama sekali makannya, aku sudah sangat lapar."


Pergi satu datang satu lagi. Ini drama apa yang akan di mainkan pasangan ini?, batin Elang.


Setelah Orion membawa Queen yang menangis, sekarang Sirin yang datang, dengan wajah lemah dan pucat.


Arsenio langsung menghampiri Sirin, memarik Sirin untuk duduk di kursi kosong di sampingnya.


"Mau makan apa ?" tanya Arsenio lembut. sirin mengarahkan pandangannya ke semua makanan yang terhidang di atas meja. Kemudian menggelengkan kepalanya, mengatakan tidak ada yang dia pengen makan.


"Pengen makan apa ?, biar aku cariin" tanya Arsenio lagi.


Sirin diam sambil berpikir, sambil tangannya menggaruk leher belakangnya.


Krik krik krik.....!


Ruang makan itu mendadak hening, menunggu jawaban Sirin, pengen makan apa ?.


Ini preman setengah jadi, bisa juga berbicara lembut. Batin Papa Arya, memperhatikan anak ke empatnya itu memperlakukan Sirin. Anak yang sering membuatnya sakit kepala, dengan ulah dan tingkahnya persis seperti istrinya. Anak yang paling sering dia hukum, di rumah dan di sekolah, untungnya otaknya pintar.


"Pengen makan nasi yang di piringmu !" jawab Sirin akhirnya, setelah berpikir seperkian menit.


Arsenio mengusap kepala Sirin sembari tersenyum. Merasa lega, karna Sirin tidak meminta yang muluk muluk.


"Mau di suapin ?" tanya Arsenio, dan Sirin mengangguk. Arsenio langsung menyuapkan makanan di piringnya ke mulut Sirin.


Mama Bunga yang melihat ke romantisan Arsenio dan Sirin. Sekelebat kenangannya dengan Dokter Aldo terlintas di benaknya.


Al ! anak anak kita mengulang kembali kisah kita. Aku memang tidak mencintaimu lagi, tapi kamu masih memiliki tempat spesial di hatiku. Kamu adalah orang yang paling mengerti aku, melebihi seorang pacar. Aku senang melihat anak anak kita ada yang berjodoh. Sekarang kita menjadi besan. Ternyata, rencana Tuhan itu lebih indah dari rencana kita. Batin Mama Bunga


"Kakak Sirin kenapa tidurnya di kamar bang Arsen ?" celetuk Bilal, terdengar kumur kumur, karna mulutnya penuh makanan. Berhasil membuyarkan lamunan Mama Bunga.


"Bilal jangan bicara sambil menguyah, nanti bisa lidahnya kegigit" tegur Mama Bunga kepada anak paling kecilnya.


Tanpa Mama Bunga sadari, pria matang yang duduk di sampingnya, wajahnya sudah berubah masam.


"Sudah Arsen ! aku gak mau lagi."


"Baru dua sendong Sirin. Sedikit lagi ya !" bujuk Arsenio. Karna Sirin baru memakan sedikit nasi di piringnya.


"Gak mau lagi !" regek Sirin manja.


"Tapi anak kita butuh nutrisi sayang..!" bujuk Arsenio lagi. Sirin menggelengkan kepalanya, perutnya benar benar tidak bisa menerimanya lagi.


"Ya udah !, aku buatin susu mau ?" pasrah Arsenio, Karna Sirin jarang sekali makan, dan itu pun sangat sedikit.


"Iya ! tapi yang rasa strawbery" jawab Sirin.


Arsenio pun beranjak dari kursinya, untuk membuatkan Sirin segelas susu hamil.


Apa nanti Didi sayangku akan manja seperti Sirin ya ?, kalau kami sudah menikah. Ga sabar jadinya untuk menikah. Batin Reyhan, menerawang ke masa depan yang belum jelas.


Tak lama kemudian Arsenio datang membawa segelas susu hamil, meletakkannya di depan Sirin. Dan kembali duduk di kursinya.


Usai makan malam seperti permintaan Papa Arya. Arsenio dan Sirin pun menemui Papa Arya di kamarnya, di sana juga ada Mama Bunga.


"Iya Pa ! ada apa?" tanya Arsenio, berjakan ke arah sofa yang ada di kamar itu, tanpa melepas tautan tangannya dari tangan Sirin.


"Kalian berdua duduklah !" suruh Papa Arya.


Arsenio dan Sirin pun segera duduk di sofa yag bersebrangan dengan ke dua orang tua itu.


"Karna kalian sudah melakukan kesalahan besar. Papa akan memberi kalian hukuman" ucap Papa Arya, menatap intens wajah suami istri remaja itu.


Arsenio menajamkan pandangannya ke wajah Papa Arya, dia sudah biasa mendapat hukuman dari Papa. Dan sekarang kira kira hukuman apa yang akan di berikan orang tuanya kepadanya dan Sirin.


Sedangkan Sirin, ia dari tadi hanya menunduk, tidak berani melihat mertuanya.


Papa Arya meletakkan sebuah kunci dan amplop berwarna coklat di atas meja sofa, kemudian berbicara." Ini kunci rumah peninggalan kakek Papa yang ada di daerah XX. Papa sudah menyuruh orang membereskannya, kalian tinggal menempatinya. Dan itu uang Papa rasa cukup untuk biaya kalian sebelum kamu mendapat pekerjaan."


"Papa mengusir kami ?" tanya Arsenio. Ia tidak percaya, orang tuanya akan mengungsikan mereka secepat itu dari rumah orang tuanya. Arsenio tau dimana letak rumah peninggalan uyutnya itu. Rumah itu berada di permukiman warga, dan ukurannya juga kecil.


"Itu hukuman untuk kalian yang sudah mencoreng nama baik Papa!" ucap Papa Arya lagi, bernada santai, meski ia kecewa dengan perbuatan anaknya itu.


"Papa keterlaluan !, Sirin lagi sakit, dan aku juga belum sembuh total. Papa tega langsung menyuruh kami keluar dari rumah ini !" marah Arsenio.


Tanpa mengambil kunci dan amplop berisi uang itu. Arsenio menarik Sirin keluar dari kamar orang tuanya. Sampai di dalam kamarnya, Arsenio langsung menyusun barang barangnya ke dalam koper.


"Arsen ! jangan marah seperti itu. Kita sudah berbuat salah. Wajar jika Papa memberi hukuman kepada kita" ucap Sirin, menyentuh bahu Arsen, yang sibuk memasukkan baju dan buku bukunya ke dalam koper.


"Aku tau !, tapi tidak bisakah Papa membiarkan kita tinggal di sini, sampai aku sembuh total, dan aku mendapatkan pekerjaan ?" balas Arsenio.


"Bagaimana kalau kita tinggal di rumah Papaku saja ?" tawar Sirin. Sontak Arsen menghentikan gerakan tangannya dan mengalihkan pandangannya ke arah Sirin yang berdiri di sampingnya.


"Papaku sama Papa kamu pasti sudah sepakat memberikan kita hukuman. Kalau kamu gak percaya, besok cek aja atm mu !, di blokir apa tidak. Menurutku atm kita berdua sudah di blokir, makanya Papa tadi memberikan uang kepada kita" jawab Arsenio, kemudian menghela napasnya.


"Ya sudahlah Sirin !, kalau kamu benar mencintaiku, ikutlah denganku, kita tanggung berdua resiko perbuatan kita" ucap Arsenio lagi.


"Trus kita mau tinggal di mana ?, dan kita makan apa ? kalau kita tidak punya uang. Dan uang yang di kasih Papa tadi pun kamu tidak mengambilnya" tanya Sirin.


"Kita cari kontrakan saja !, ayok !" ajak Arsenio, setelah selesai menyusun barang barangnya.


"Sekarang ?"


"Kita sudah di usir dari rumah ini, untuk apa lagi berlama lama di sini ?" jawab Arsenio. Kekesalannya kepada orang tuanya sudah sampai di ubun ubun. Gengsinya sudah mengalahkan segalanya, ia tidak bisa lagi menunggu hari esok untuk pergi meninggalkan rumah tempatnya di besarkan itu.


Sirin menganggukkan kepalanya pelan, kemudian menarik kopernya mengikuti langkah kaki Arsenio keluar kamar.


"Arsen ! Sirin !" panggil Mama bunga melihat anak dan menantunya sama sama membawa koper hendak keluar rumah.


"Ma ! Arsen minta maaf !, Arsen sama Sirin pergi Ma !. Pendosa seperti kami tidak pantas tianggal di rumah ini" ucap Arsenio, tanpa menoleh ke arah Mama Bunga.


"Ini sudah malam nak !, kalian mau kemana ?" tanya Mama Bunga dengan berurai air mata.


"Mencari tempat yang pantas untuk kami Ma !, tempat dimana orang orang bisa menerima kami" jawab Arsenio, tanpa sadar air matanya mengalir dari sudut matanya.


"Assalamu alaikum Ma !" ucap Arsenio, kemudian membuka pintu di depannya, menarik Sirin keluar.


Papa Arya yang masih duduk di sofa tadi, tak kalah bersedih, ia pun menangis. Menangisi dirinya yang gagal mendidik anaknya sendiri. Dia malu dengan dirinya sendiri, sebagai guru. Tapi untuk mendidik anak sendiri, ia tak becus.


Papa Arya juga berat mengusir anak dan menantunya dari rumah. Tapi ia harus melakukan itu, sebagai contoh konsekuensi bagi anak anaknya yang lain, bagi siapa yang berani melakukan perbuatan haram itu. Supaya anak anaknya yang lain menjauhkan pikiran mereka dari dosa besar itu.


"Aaryan ! apa tidak ada hukuman yang lain ? selain menyuruh mereka pergi dari rumah ini !. Kamu keterlaluan Aaryan !. Sembilan bulan aku mengandungnya, melahirkannya bertaruh nyawa !. Membesarkan dan merawatnya dengan tanganku sendiri, kamu semudah itu menjauhkannya dariku !" tangis Mama Bunga sudah kembali ke dalam kamar.


"Kemarih sayang ! jangan mencercaku seperti itu." Papa Arya menarik tangan istrinya, dan mendudukkannya di pangkuannya."Jangan berprasangka burung padaku, aku juga sedih melakukannya, jangan kamu pikir aku tidak menyayangi mereka. Tapi aku harus memberi mereka sedikit hukuman. Anak kita itu sungguh terlalu nakal dan bandel, selalu membuatku resah dan marah. Percayalah ! mereka pasti baik baik saja."


"Sirin lagi hamil, dan ini sudah malam, entah kemana mereka mau pergi" tangis Mama Bunga lagi, dipelukan Papa Arya.


"Anak itu sifatnya persis sepertimu, sangat nakal" ucap Papa Arya tersenyum, sambil menghapus air matanya. Kemudian menghapus air mata istrinya, dan menjatuhkan satu kecupan di keningnya.


"Trimaksih ya sudah melahirkan anak anak nakal untukku !" ucap Papa Arya lagi tersenyum.


.


.


Di kamar lantai dua rumah itu, Orion mengaruk kepalanya kasar, frustasi karna Queen tidak berhenti menangis dari tadi.


"Queen ! jangan menangis terus !, abang pusing melihatmu seperti ini sayang !. Coba hitung sudah berapa jam kamu menangis dan merajuk."


"Bang Orion gak boleh pergi !."


"Iya ! abang gak jadi pergi, udah ya nangisnya !" bujuk Orion.


"Bang Orion pasti bohong !"


"Abang serius Queenaraku sayang !, istriku yang cantik !" gombal Orion bernada frustasi.


"Mana paspor bang Orion ?, biar Queen yang simpan" tanya Queen.


"Di rumah kita sayang ! abang gak bawa" jawab Orion.


"Suruh Pak Ahmad menjemputnya sekarang juga !" perintah Queen, menyebut nama supir pribadi mereka.


"Iya, tapi Queen berhenti menangis ya !"


"Tunggu sampai paspor bang Orion sampai di tangan Queen dulu, baru Queen berhenti menangis" balas Queen.


Orion menghela napas pasrah, karna tidak bisa mengelabui Queen. Otak licik Queen selalu saja berhasil mengalahkannya. Ada pula orang menangis menawar durasinya.


Orion yang gemas melihat tingkah istrinya pun, memarik baju Queen ke atas sampai lepas dsdi kepala.


"Bang Orion mau ngapain ?" kaget Queen.


"Mau mengajak istri abang bercinta lah !" jawab Orion, dan langsung menyambar bibir Queen yang sudah bengkak karna kelamaan menangis. Yang pastinya menangis di buat buat. Dan tangannya sudah merambat kemana mana, yang berhasil menghentikan tangis Queen.


"Bang Orion !" rengek Queen manja.


"Apa sayangku ?"


Queen tidak menjawab, ia pun memejamkan matanya, menikmati siraman madu cinta di sekujur tubuhnya.


.


.


Sementara itu di tempat lain.


Arsen menghentikan mobilnya disebuah rumah kontrakan. Kontrakan itu adalah milik orang tua sahabatnya.


Sirin yang duduk di samping Arsenio, memutar pandangannya keluar kaca mobil. Sirin melihat mereka berada di lingkungan perumahan sederhana.


"Sirin ! ayo turun !" ajak Arsenio, setelah mematikan kontak mobilnya.


"Kita akan tinggal di sini ?"tanya Sirin.


"Iya !" jawab Arsenio, lalu membuka pintu di sampingnya, dan langsung turun. Begitu juga denga Sirin.


Arsen mengeluarkan handphon dari saku celananya, untuk menghubungi sahabatnya kalau ia sudah sapai.


Setelah Arsen menutup telephonnya, tak lama kemudian temannya, anak pemilik kontrakan itu pun datang.


"Apa gerangan yang terjadi ?" tanya Evan, bingung kenapa anak orang kaya seperti Arsen, ingin mengontrak di kontrakan sederhana milik orang tuanya. Dan Evan juga heran, Sirin ikut bersama sahabatnya itu.


"Panjang ceritanya, mana kunci kontrakannya ?" Arsenio menengadahkan tangannya kepada Evan.


"Tunggu ! Apa kalian akan tinggal satu rumah ?. Di sini tidak di ijinkan tinggal satu rumah, laki laki dan perempuan kecuali yang sudah menikah" ujar Evan.


Arsenio mencebikkan bibirnya, kemudian membuka kancing tas ranselnya. Arsenio pun mengeluarkan dua buku kecil berwarna hijau dan merah, memberikannya kepada Evan.


"Apa ini ?" bingung Evan, mengerutkan keningnya. Melihat kedua buku kecil yang bergambar burung garuda berwarna emas, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Arsenio meminta penjelasan.


"Buku nikah !" jawab Arsenio." mana kunci rumahnya, istriku sudah kedinginan." Arsenio kembali menengadahkan tangannya.


"Nikah ? Kapan kalian menikah ?. Parah kamu Sen !, pasti kamu sudah membobol Sirin 'kan ?. Makanya kalian di usir dari rumah" cerocos Evan.


"Jangan kencang kencang ngomongnya !,mana kuncinya !" kesal Arsenio. Sirin dari tadi hanya diam menunduk saja, malu kepada Evan temannya Arsen. Apalagi Evan langsung bisa menebak kalau mereka di usir dari rumah karna sudah berbuat lebih.


"Nih !" Evan meletakkan kunci rumah di tangannya ke tangan Arsenio."besok kalian harus melapor ke RT, bawa foto copy ktp dan foto copy buku nikah. Kalau tidak siap siap menunggu warga berdemo ke sini" ujarnya.


"Aku tau !" dengus Arsen, berjalan ke arah pintu kontrakan, tanpa melepas tangan Sirin, dan membuka pintunya.


"Mungkin rumahnya masih agak kotor, karna kamu mesannya mendadak, belum sempat di bersihkan" ucap Evan lagi.


"Kamu harus membantuku membersihkannya" perintah Arsenio. Mencari saklar lampu dan langsung menghidupkannya.


"Ini sudah mulai larut malam, aku sudah mulai ngantuk, dan besok juga aku harus sekolah" elak Evan, dan langsung meninggalkan tempat itu.


"Dasar sahabat durhaka" maki Arsenio. Biasanya juga temannya itu begadang, ini malah mendadak ngantuk seperti anak mami.


"Sudah ! kita bersihkan tempat kita untuk tidur saja. Yang lainnya kita bisa mengangsurnya besok hari" ucap Sirin lembut sambil memutar pandangannya ke setiap sudut ruangan tiga kali empat meter itu.


.


.