Brother, I Love You

Brother, I Love You
259.Aku tidak akan menghalangimu



Jhonatan memarkirkan mobilnya di halaman sebuah rumah mewah. Setelah mematikan mesin mobilnya, Jhonatan langsung turun berjalan ke arah pintu rumah itu.


"Assalamu alaikum!" sahut Jho sambil menekan bel di dekat pintu.


"Queen ! siapa yang datang?" teriak seorang pria yang tampak sudah tua dari dalam kamarnya.


"Sebentar!" seru wanita bernama Queen itu dari arah dapur, lalu melangkahkan kakinya ke arah pintu masuk rumah itu, untuk membukakan pintu pada tamu yang datang.


"Jho" ucap Queen.


"Bang Orionnya ada?" tanya Jhonatan.


"Ada ayo silahkan masuk. Lagian memang kemana pria tua itu mau pergi?" ujar Queen, lalu melangkah ke arah kamarnya dengan Orion.


"Bang Orion, Jho datang" lapornya pada sang suami yang duduk di sofa sambil menonton tv.


"Kenapa kalau dia datang?" tanya pria tua itu.


Queen memutar bola mata malas. Bukankah pertanyaan itu salah? Seharusnya suaminya itu bertanya 'kenapa dia datang?, atau untuk apa dia datang.'


"Jho nanyain Abang, mungkin ada perlu" ujar Queen.


Pria tua bernama Orion itu pun beranjak dari tempat duduknya, melangkah keluar kamar. Di ruang tamu sudah ada Jho duduk di sofa, hanya sendiri.


Jhonatan pun berdiri dari sofa menyalam pemilik kampus tempatnya bekerja.


"Assalamu alaikum Bang" sapa Jhonatan.


"Walaikum salam" balas pria itu." Ada apa? kenapa kau datang sendirian. Mana Sabina dan Agam?" cerca Orion setelah duduk di sofa yang bersebrangan dengan Jhonatan.


"Di rumah Bang" jawab Jhonatan menghela napasnya pelan.


"Ada apa mencariku?" tanya pria berusia lanjut itu lagi.


"Gini Bang, aku mau resign bang" jawab Jhonatan dengan pandangan meneduh.


Orion dan Queen sama sama terdiam dan menajamkan pandangan mereka ke wajah Jhonatan.


"Kenapa?" tanya Queen.


Jhonatan menghela napasnya kasar sebelum memberi alasannya." Aku ingin pergi merantau Bang" jawabnya.


Orion dan Queen saling berpandangan.


"Maaf Bang, bukan bermaksud apa apa" Jhonatan menundukkan kepalanya, wajahnya nampak memerah ingin menangis." Sabina terus menuntutku masalah keuangan kami. Dia tidak terima dengan gajiku mengurus kampus Bang. Jadi aku ingin mencari pekerjaan yang gajinya lebih besar. Maaf Bang, bukan maksudku tidak bersyukur dan tidak tau terima kasih. Tapi aku harus melakukannya untuk membahagiakan Sabina. Aku harus mencari uang yang banyak untuknya." Tak tahan menahan kegundahannya, akhirnya air mata Jhonatan pun tumpah.


Orion dan Queen pun semakin terdiam.


"Kamu ingin merantau kemana?" tanya Orion.


" Lamaranku sudah di terima di salah satu perusahaan luar Negri Bang" jawab Jhonatan. dua minggu meninggalkan Sabina, diam diam Jhonatan memasukkan lamaran ke sebuah perusahaan di luar Negri.


"Sabina dan Agam kamu bawa?" tanya Orion.


Jhonatan menggelengkan kepalanya." Agam akan bersama orang tuaku Bang..."


"Sabina?" potong Orion cepat.


Jhonatan semakin menunduk," sudah dua minggu kami pisah rumah Bang" jawabnya.


Orion dan Queen sama sama bernapas lemah. Ternyata rumah tangga adik mereka sedang tidak baik baik saja.


"Maaf Bang" lirih Jhonatan.


"Queen, ambil handphon abang di kamar" suruh Orion pada istrinya.


Tanpa menjawab Queen pun beranjak pergi ke kamar, dan tak lama kemudian kembali dengan membawa handphon Orion di tangannya. Orion pun langsung menghubungi nomor Sabina, dan juga Bilal, menyuruhnya segera datang ke rumahnya, untuk menyelesaikan masalah rumah tangga Sabina dan Jhonatan.


Kurang lebih dua jam menunggu, Sabina datang bersama Bilal dan Hani.


"Assalamu alaikum!" seru Ustadz Bilal Albiruni Aaryan Putra Alfarizqi, saat memmasuki rumah Orion.


"Walaikum salam" balas Orion, Queen dan Jhonatan bersamaan.


Sabina yang berjalan di belakang Bilal, menundukkan pandangannya saat tak sengaja pandangannya bertubrukan dengan Jhonatan. Sudah dua minggu Jhonatan meninggalkannya, tentu Sabina rindu dengan pria tampan itu.


"Ada apa Bang Orion menyuruh kami datang ke sini?" tanya Bilal setelah mendudukkan tubuhnya di sofa kosong di samping Abangnya.


"Rumah tangga Sabina dan Jhonatan sedang tidak baik karna masalah keuangan. Sabina selalu menuntut Jhonatan uang yang banyak. Dan sekarang Jhonatan ingin pergi merantau, katanya untuk mencari uang yang banyak untuk Sabina" jawab Orioan gamlang.


Sabina yang duduk di samping Hani, diam dengan kepala menunduk tak berani mengangkat kepalanya.


"Benar begitu Sabina?" tanya Bilal mengarahkan pandangannya ke arah putri raja Arya itu.


"Assalamu alaikum!"


"Walaikum salam!"


"Siapa yang mengundang kalian datang ke sini?" tanya Orion melihat adik adiknya beserta istri berbondrong bondrong datang ke rumahnya. Untuk para anak anak dan cucunya kagak ikut. Bisa bisa buat ngasi makannya habis beras satu karung.


"Tuh, menantu paling bontot" tunjuk Sirin ke arah istri dari ustadz Bilal itu.


"Kamu yang mengundang mereka?" tanya Bilal pada Hani.


Hani cengengesan, lalu menganggukkan kepalanya.


"Sebenarnya ada acara apa?" tanya Arsen, mendudukkan tubuhnya di samping Sabina. Tadi Sirin mengatakan kalau di rumah abang tertua mereka itu ada acara makan makan bersama, sampai sampai Arsenio langsung pulang dari perusahaan.


"Ajari tuh Adik kesayanganmu, bagaimana caranya hidup miskin yang selalu bersyukur" ujar Orion kepada Adik ke tiganya itu.


"Emang Sabin kenapa?" Arsenio melihat Orion dan Sabina bergantian.


Sabina menangis terisak, mendengar suara Orion yang tak bersahabat.


"Sabina, mumpung kita berkumpul di sini, bicaralah. Katakan, kenapa Jhonatan sampai meninggalkanmu dan ingin mengundurkan diri dari kampus" tegas Orion.


Dia yang menjodohkan Sabina pada Jhonatan, jadi dia ingin mendengar langsung penjelasan Sabina, apa yang terjadi sampai Jhonatan meninggalkan rumah.


Sabina semakin menangis terisak, sampai pundaknya terlihat bergetar. Karna merasa saat ini sedang di hakimi abang abangnya. Entah apa yang dilaporkan Jhonatan pada Abang Orionnya.


"Sabin!" Arsen yang duduk di samping Sabina, menarik Adik kesayangan mereka itu ke dalam pelukannya. Meski dia paling preman, tapi dia Abang yang paling dekat dengan Sabina."Ada apa?" tanya Arsenio lembut.


"Apa salah jika aku ingin sukses seperti kalian?" isak tangis Sabina di dalam pelukan Arsenio.


Dia adalah wanita yang pintar dan cerdas. Dia punya mimpi, impian dan cita cita, apa itu salah?.


Semua terdiam sesaat.


"Jadi sekarang mau mu bagaimana?" tanya Orion melembutkan suaranya. Salahnya juga, menikahkan Sabina dengan pria miskin. Tapi menurut Orion, Jhonatan adalah pria yang baik dan penyayang.


Sabina menghentikan tangisnya dan menghapus air matanya dengan tangannya sendiri, kemudian melirik tajam ke arah Jhonatan.


"Terserah dia, aku gak mengusirnya, dia sendiri yang pergi dari rumah" jawab Sabina.


Dua minggu di tinggal suami, rasanya sakit banget.


Semua yang ada di ruangan itu menghela napas.


"Kalau gak ada salahnya, gak mungkin Jhonatan angkat kaki dari rumahmu Sabina!" tekat Orion. Adiknya itu memang sedikit agak keras kepala. Maklum saja, dia anak paling bontot, dan perempuan satu satunya.


"Aku hanya ingin bekerja, dia gak bolehin karna takut aku di goda laki laki lain di luaran sana. Tapi dia gak mampu memenuhi kebutuhanku!" seru Sabina, kembali air matanga mengalir.


"Tidak untuk di perusahaan milik Bima" sambar Jhonatan.


Langsung saja mata para ipar iparnya tertuju padanya.


"Kamu gak tau Sabina. Bima pernah menghinaku karna miskin. Kalau kamu bekerja di perusahaannya, dia akan semakin menghinaku. Meski aku miskin, tapi aku punya harga diri. Setidaknya istriku tidak mencari uang di bawah kekuasaannya" jelas Jhonatan.


"Dan juga, kebutuhanmu yang mana yang tidak kupenuhi?" tambah Jhonatan.


"Semenjak menikah, kamu gak pernah membeli mobil baru untukku, gak pernah beli perhiasan atau kebutuhan mewah lainnya. Kamu hanya memberiku makan aja."


"Sabina!!!" bentak Orion emosi." Ya Tuhan, anak ini" gumama Orion memegangi dadanya.


"Ya ! aku memang gak sanggup, dan gak akan pernah sanggup!" balas Jhonatan berteriak dengan air mata mengalir di pipinya.


"Seharusnya Bang Orion tidak menikahkanku dengan pria miskin seperti dia!!" balas Sabina menangis, dia lagi hamil membuat emosinya susah di kontrol.


Orion mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Orion memilih Jhonatan, selain pintar, Jhonatan adalah pria yang baik, pintar dan rajin. Soal harta, seharusnya Sabina tidak terlalu memikirkannya. Bukankah salama ini mereka saudara saudaranya selalu membagi uang pada Sabina. Sabina tidak pernah kekurangan apa pun secara materi.


"Abang minta maaf" lirih Orion ikut menangis.


"Dia pergi membawa Agam dariku" tangis Sabina." Pergi aja! tapi jangan menjauhkan Agam dariku!" teriak Sabina. Sudah dua minggu ia tidak pernah melihat Agam anaknya, tentu Sabina sudah kangen.


Dia memang bersalah, tapi tidak seharusnya Jhonatan meninggalkannya dalam keadaan hamil.


"Aku membawa Agam supaya kamu bebas untuk mengejar karirmu. Jika dia bersamamu aku kawatir Agam akan terlantar" bela Jhonatan.


"Dia anakku, gak mungkin aku akan menelantarkannya" geram Sabina menatal tajam Jhonatan.


"Sudahlah Sabina, biarkan Agam di asuh orang tuaku. Berkarirlah, aku tidak akan menghalanginya lagi. Aku pikir, kita tidak perlu ribut ribut, percuma. Karna bagi wanita modren sepertimu, berkarir itu lebih penting dari pada rumah tangga." Jhonatan menjeda kalimatnya sebentar." Aku minta maaf karna selama ini belum bisa menjadi suami yang kamu banggakan, belum bisa membuat hidupmu bahagia dengan materi. Jujur, aku tidak akan sanggup sampai kapan pun."


Jhonatan berdiri dari tempat duduknya, berpamitan pada para abang abang iparnya.


"Assalamu alaikum" lirih Jhonatan melangkahkan kakinya.


Bruk!


"Sabina!"


.


.