
Pagi hari, Jhonatan yang turun dari dalam angkot langsung berjalan masuk ke gerbang sekolah. Sekolah mulai tampak rame, karna sebentar lagi sudah waktunya masuk.
Tintintin!
Suara klakson mobil itu terpaksa membuat Jhonatan menepikan mobilnya. Lima mobil mewah beriringan masuk ke dalam halaman sekolah. Jhonatan sudah bisa menebak siapa saja yang ada di dalam mobil itu.
Siapa lagi kalau bukan, putri dan para cucu ratu sejagat.
Mata Jhonatan silau memandang kelima mobil mewah itu. Apa lagi melihat siswi cantik yang terpopuler di sekolah itu keluar dari dalam mobil berwarna hitam mengkilat. Jhontan semakin sadar diri, jika ia tak pantas menyukai gadis dari keturunan Alfarizqi itu.
Siswi terpopuler itu adalah Sabina. Selain karna dia cantik dan putri dari pemilik sekolah itu. Sabina juga siswi yang pintar dan cerdas. IQnya di atas rata rata, menuruni otak sang Papa.
"Tante Sabin! tunggu!" seru Syauqi, keponakan Sabina dari Abang pertamanya.
Sabina memutar tubuhnya ke arah Syauqi, tanpa senyum.
"Apa?"
"Momy menitil bekal untukmu" Syauqi memberikan kotak makanan pada Sabina.
Wajah cantik Sabina langsung terlihat bersedih. Langsung teringat dengan Papa dan Mamanya yang sudah tiada.
'Apa yang membuatnya bersedih?. Ya Allah, kenapa hatiku sakit ya melihat wajah sedihnya?.' batin Jhonatan yang masih memperhatikan keluarga pemilik sekolah itu.
"Tante jangan bersedih seperti itu. Arsi juga jadi ikut sedih. Ingat Kakek sama Nenek" ujar anak pertama dari abang ke empat Sabina itu.
"Iya Tante, nanti Kakek sama Nenek bisa ikut sedih" sambung Sabeel, anak pertama dari Abang ke tiga Sabina.
"Iya Sabin, ayok kita masuk sebentar lagi akan bel" aja Khanza, anak sambung Abang Sabina yang ke lima.
Sabina pun menganggukkan kepalanya sambil menepis air matanya yang sempat menetes, lalu melangkahkan kakinya bersama Khanza, Syauqi, Sabeel dan Arsi.
Tuhan, jika kamu mengijinkan, aku ingin sekali bisa menghapus kesedihannya, memeluk tubuh itu, dan bisa menghiburnya, batin Jhonatan dari kejauhan.
Jhonatan hanya bisa memperhatikan gadis yang di sukainya itu dari kejauhan, tanpa berani mendekatinya.
Sabina, gadis pertama membuatnya jatuh cinta saat pandangan pertama. Gadis cantik, pintar, wajahnya yang jarang tersenyum membuat Jhonatan tertarik, penasaran dengan gadis itu. Tapi Jhonatan tidak punya keberanian mendekatinya mengingat status sosial mereka seperti langit dan bumi.
Kilas balim selesai
.
.
Pagi hari, Sabina bangun lebih cepat dari biasanya. Sabina keluar dari dalam kamar, langsung menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan dan bekal Agam ke sekolah. Dan Sabina juga membuat jahe hangat untuk Jhonatan suaminya. Karna pas bangun tidur, biasanya suaminya itu muntah muntah.
Pagi ini Sabina akan pergi memenuhi undangan interviw di salah satu perusahaan. Meski di bilang keras kepala, Sabina sudah bertekat untuk bekerja. Dia tidak betah berdiam diri di rumah dengan keadaan tidak punya uang. Sabina tidak bisa hanya hidup mengandalkan gaji suaminya yang tak seberapa. Ya, mungkin sekarang masih cukup, bagaimana nanti jika anak anak mereka sudah besar?. Tentu kebutuhannya akan semakin bertambah. Sabina juga memikirkan masa depan anak anak mereka. Setidaknya nanti ada harta yang diwariskan untuk anak anak.
Dan juga belum lagi Sabina harus memikirkan kedua mertua dan pendidikan adik adik Jhonatan yang berjumlah tiga orang. Itu yang membuat Sabina tidak bisa hanya diam saja.
Mungkin kebutuhan sehari hari, bisa dikatakan cukup. Tapi tidak hanya itu yang di pikirkan. Sebagai wanita, jujur Sabina memiliki keinginan hidup, seperti kehidupan yang di berikan orang tuanya. Sabina sudah biasa hidup berlebihan, jadi dia tidak biasa hidup berkecukupan, itu intinya.
Memang sih! Sabina mendapat warisan harta dari orang tuanya. Malah lebih banyak lagi di banding abang bangnya. Dan Sabina juga selalu mendapatkan persenan uang dari semua saudara saudaranya. Meski begitu, tetap saja perekonomiannya jauh di bawah abang abangnya.
Bukan maksud Sabina tidak bersyukur. Tapi apa salahnya jika seorang istri ingin bekerja, membantu perekonomian keluarga?. Mama Bunga juga dulu bekerja meski sudah menjadi Ibu. Bahkan Papa Arya mendukungnya.
Dulu juga Papa Arya bisa mengembangkan bisnis penjualan HPnya sampai merambat ke seluruh kota di Indonesia, setelah Mama Bunga bisa mengelola sekolah peninggalan Kakek Samsul. Jadi apa salahnya, jika Sabina bekerja membantu suminya cari nafkah, untuk memperbaiki keuangan mereka.
Selesai membuat sarapan, dan menyiapkan bekal untuk Agam. Sabina kembali ke dalam kamar membawa segelas air jahe hangat.
Sampai di kamar, Sabina mendengar Jhonatan muntah muntah dari kamar mandi. Sabina pun meletakkan jahe hangat di tangannya di atas meja nakas, lalu menyusul Jhonatan ke kamar mandi.
"Sayang" ringis Jhonatan memegangi perutnya saat merasakan tangan Sabina memijat leher belakangnya.
Sabina hanya diam saja
"Oek oek oek...! sakit Yang" ringis Jhonatan lagi, menangis.
"Nikmati aja" ujar Sabina mencuci wajah dan mulut Jhonatan.
Sabina meronta ronta, namun Jhonatan tidak peduli. Dia terus mengisap sari sari cinta dari mulut istrinya itu, sampai dia puas.
"Abang!" pekik Sabina kesal.
Jhonatan malah tersenyum," trimakasih sayang" ucapnya.
Sabina melangkah kesal ke arah shawer, Jhonatan mengikutinya. Dan mereka pun mandi bersama.
Selesai dari kamar mandi, Jhonatan langsung bersiap siap pergi bekerja. Melihat Sabina juga bersiap siap memakai baju formal. Jhonatan mengerutkan keningnya.
"Kamu mau kemana?"tanya Jhonatan.
"Aku ada panggilan interviw" jawab Sabina tanpa menoleh ke arah suaminya.
Jhonatan terdiam sejenak, ternyata istrinya itu diam diam memasukkan lamaran ke perusaan lain.
"Kamu serius mau bekerja?" tanyanya menekan amarah karna istrinya itu tidak bisa di bilangin.
"Iya" jawab sabina sambil mengoleskan krim ke wajahnya.
Jhonatan menghela napasnya. Yang di pikirkannya adalah Agam dan bayi di dalam perut Sabina, jika istrinya itu bekerja.
"Bagaimana dengan Agam?" tanya Jhonatan lagi.
"Nanti kalau aku sudah bekerja, aku akan menyewa baby sister untuk menjaganya" jawab Sabina santai.
Jhonatan menelan sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya. Menahan supaya tidak emosi yang berhujung pertengkaran.
"Terserah kamu saja" Jhonatan langsung keluar dari dalam kamar.
Sabina diam saja dan terus merias wajahnya.
Bukan bermaksud egois melarang Sabina untuk bekerja. Jhonatan hanya tidak mau anak anaknya kurang perhatian langsung dari orang tua. Jhonatan tidak mau anak anaknya mengalami apa yang dia rasakan. Kurang kasih sayang dan perhatian orang tua, karna kedua orang tuanya sibuk mencari nafkah. Jika Ayahnya sibuk menarik angkot, Ibunya menjadi buruh cuci piring di sebuah restoran. Kedua orang tuanya di habiskan untuk bekerja. Karna jika satu orang yang bekerja, tidak akan cukup untuk memenuhi makan sehari hari.
Jhonatan melangkahkan kakinya ke arah kamar Agam. Di lihatnya anak itu sudah selesai mandi, dan sedang memakai baju sendiri.
Anaknya itu memang sangat pintar, masih kecil sudah bisa mandi sendiri, bahkan mengurus diri sendiri untuk berangkat sekolah.
"Agam" panggil Jhonatan melihat anaknya yang tidak menyadari kedatanganya karna sibuk mengancik baju sekolahnya.
"Sebentar lagi siap Pah" ucap Agam tanpa melihat Jhonatan.
Jhonatan pun melangkahkan kakinya mendekati sang anak."Pintar banget sih anak Papa" puji Jhonatan mengusap kepala anaknya itu.
"Kan anak Papa" ucap bocah itu.
Jhonatan mengulas senyumnya lalu berjongkok di depan Agam. Agam adalah pengobat hatinya ketika sakit hati dengan sikap istrinya. Meski Agam tidak membelanya, tapi Agam selalu membuatnya terhibur.
"Sini Papa bantuin" ucap Jhonatan menyingkirkan tangan Agam yang sibuk mengancing kemejanya.
"Huh! Papa bikin Agam malu aja" keluhnya karna memancing bajunya sendiri tidak beres.
Jhonatan semakin mengulas senyumnya." Agam masih kecil, wajar kalau belum bisa. Lagian kenapa gak menunggu Mama datang ke sini untuk memakaikan bajumu?."
"Nanti Mama capek Pah."
"Kau memang anak Papa" setelah memasang celana bocah itu. Jhonatan pun merapikan rambut Agam dan memberi wajahnya sedikit bedak.
"Sudah selesai, ayok!" Ajak Jhonatan menyambar tas Agam dari atas meja belajarnya.
Saat memutar tubuhnya ke arah pintu, ternyata Sabina sudah berdiri di ambang pintu.
.
.