
Bilal menggeliatkan tubuhnya, terbangun dari tidurnya saat mendengar HPnya berdering pertanda ada panggilan masuk. Bilal meraih ponsel dari atas nakas tanpa membuka matanya. Matanya masih sangat mengantuk, karna baru saja dia tidur setelah malakukan ibadah malamnya.
"Ya ! Halo ! Assalamu alaikum!" sapa Bilal setelah mendial tombol hijau di layar ponselnya.
"Walaikum salan ustadz Bilal !" balas Ustadz Indra dari sebrang telepon.
"Ada apa ustdaz ?" tanya Bilal, dengan mata terpejam.
"Kiyai Husen barusan meninggal di rumah sakit ustdaz Bilal" jawab ustadz Indra.
"Innalillahi wa innailahi rozi'un !" Bilal terperanjak dan langsung mendudukkan tubuhnya.
"Bukankah Kiyai Husen tadi baik baik saja, bahkan tadi masih ikut shalat berjamaah ?" tanya Bilal.
"Kata Ustasz Hamzah, Jam sebelah tadi Kiyai mengalami sakit perut. Dan mereka pun membawanya ke rumah sakit, dan sudah sempat di rawat. Dan barusan Ustadz Hamzah memberi kabar ke pesantren, kalau Kiyai sudah berpulang ke rahmatullah" jawab Ustadz Indra.
"Ya ! saya akan segera ke sana sekarang!.Assalamu alaikum!." Bilal langsung mematikan sambungan teleponnya, setelah Uztadz Indra membalas salamnya.
Bilal turun dari atas tempat tidur, dan bersiap siap akan pergi ke pesantren. Setelah selesai, Bilal keluar dari kamar, berjalan ke arah pintu keluar tanpa ingin mengganggu istirahat orang tuanya. Nanti setelah sampai di pesantren, ia akan mengabari orang tuanya.
Bilal masuk ke dalam garasi, dan langsung masuk ke dalam salah satu mobil milik ratu sejagat, dan langsung melajukannya keluar dari pekarangan rumah.
Kurang lebih satu jam perjalanan, Bilal baru sampai di pesantren. Para santriwan dan santriwati sudah ramai di rumah Kiyai Husen membacakan surah Yasin kepada almarhum Kiyai Husen selaku pendiri pesantren. Bilal pun bergabung dengan Para santriwan, ikut mendoakan almarhum.
Sampai azhan subuh terdengar berkumandang, barulah para santriwan dan santriwati berhenti mengaji. Setelah selesai shalat subuh, mereka akan melanjutkannya kembali. dan ke betulan jenazah Kiyai Husen juga belum di pulangkan dari rumah sakit.
Bilal yang hendak berdiri dari tempat duduknya, mengarahkan pandangannya ke arah pintu rumah Kiayi Husen, karna melihat Hani bersama Uminya keluar dari dalam rumah untuk pergi ke masjid. Nampak wajah Hani sembab dan masih terlihat sesekali terisak. Wajah ceria gadis itu sudah tak kelihatan sedikit pun. Membuat hati Bilal terenyuh, ingin memeluk gadis itu, memberinya kedamaian.
Aku yakin ! Hani belum tau sama sekali, kalau pria yang melamarnya itu adalah aku. Batin Bilal, melangkahkan kakinya dari halaman rumah pendiri pesantren itu.
Bilal menghela napasnya, untuk sementara ia harus menunda waktu untuk melanjutkan niatnya melamar Hani. Karna tidak mungkin dalam keadaan berduka, ia melamar Hani kembali.
Jam sepuluh pagi, Jenazah Kiayi Husen pun sudah selesai di makamkan di dekat masjid pesantren itu. Bergabung bersama makam para keluarga pendiri pesantren itu.
Melihat Hani bersedih di samping pusara sang Kakek. Bilal hanya bisa menghela napasnya, mantap ke arah Hani dengan tatapan meneduh.
Ya Allah ! tabahkan hatinya menerima kematian Kakeknya. Batin Bilal mendoakan gadis bernama lengkap Ummu Hani itu. Bilal melangkahkan kakinya meninggalkan area pemakaman itu.
Tidak ada yang bisa Bilal lakukan kepada kekasih hatinya itu, selain mendoakannya. Karna Hani bukan wanita yang menjadi haknya.
.
.
Esok harinya
Seperti sudah menjadi rutinitasnya, Setiap pekerjaannya mengurus harta ratu sejagat. Bilal pun melajukan kenderaannya ke arah pesantren tempatnya menimba ilmu Agama. Sampai di pesantren ia akan memarkirkan mobilnya di depan warung makan miliknya.
"Aku gak yakin kalau kamu bekerja sebagai supir!" ujar Ustdaz Indra kepada Bilal.
"Kenapa Ustadz gak yakin, lantas pekerjaan seperti apa yang bisa kita lakukan ?. Kita tidak punya ijazah sarjana atau pun diploma" tanya balik Bilal.
Karna ijazah mereka hanyalah ijazah pesantren tingkat SMA sederajat. Karna mereka tidak malanjutkan pendidikan mereka ke bangku perkuliahan. Dan Bilal juga bukanlah orang yang ber otak encer seperti Papa Arya dan saudara saudaranya.
"Kamu bisa membawa mobil majikamu itu setiap kali datang ke sini sampai larut malam" jawab Ustadz Indra.
"Aku hanya bertugas mengantar jemput putri dan cucu cucunya sekolah. Setelah itu aku bebas memakai mobil itu kemana saja" jelas Bilal."
"Kadang aku curiga, siapa kamu sebenarnya ?. Aku sering merasa kalau kamu itu bukan berasal dari keluarga sederhana" Ustadz Indra memicingkan matanya ke arah Bilal, menelisik pakaian yang di kenakan Bilal.
Bilal menghela napasnya, melihat kecurigaan sahabatnya itu. Jika waktu kecil Bilal membanggakan dirinya sebagai anak pemilik sekolah Harapan. Malah sekarang ia tidak ingin ada yang tau kalau dia adalah anak dari pemilik sekolah Harapan grup. Karna Bilal tak ingin ada yang mengagung angungkannya, menyanjung dan memuji mujinya karna harta milik orang tuanya.
Bukan Bilal tidak bersyukur, menjadi anak yang terlahir dari keluarga kaya. Menurut Bilal itu adalah harta orang tuanya. Sedangkan hartanya hanyalah warung makan nasi ramas itu.
"Aku adalah Bilal !, bos dari warung makan ini." Bilal melangkahkan kakinya ke arah salah satu kursi kosong. Seperti biasa, ia akan makan malam di sore hari.
"Ya ya ! ustadz adalah bos !, ini silahkan makan bos !." Ustadz Indra pun meletakkan sepiring nasi yang di ramas dengan ayam goreng bumbu beserta sayur dan kuahnya, tidak lupa sambalnya.
Selesai melaksanakan Shalat isya di masjid pesantren. Para santriwan dan santriwati beserta keluarga dan para warga di sekitar pesantren pun, melangsungkan acara tahlilan untuk almarhum Kiyai Husen dan mendiakan beliau supaya di lapangkan kuburnya.
Acara tahlilan itu pun berlanjut tujuh hari berturut turut. Dan selama itu juga, Bilal tidak pernah melihat Hani. Mungkin Hani tidak penah keluar dari rumah kakeknya, pikir Bilal.
Bilal menghela napasnya, berpikir kalau mendiang Kiyai Husen tidak sempat menyampaikan salamnya kepada Hani, yang ingin mengkhitbahnya. Melihat Hani yang tidak mengganggunya lagi sebelum Kiayi Husen meninggal.
.
.
"Bang Ghissam benaran gak mau sama sekali menggantikan Arsen ?" tanya Sirin kepada abangnya yang duduk di sofa yang bersebrangan denganya itu.
"Bukan abang gak mau Sirin !, tapi abang gak punya ke ahlian dalam berbisnis. Dan juga, untuk waktu dekat ini, kamu tau sendiri kakakmu akan melahirkan" jawab Dokter Ghisaam.
"Aku sudah sebulan di sini bang !. Aku pikir hati abang akan luluh, ternyata hati abang sekeras batu. Aku juga lagi hamil bang !!!, sebentar lagi akan melahirkan. Kalian mau yang enak enak saja menerima hasil perusahaan itu tanpa ada ikut membantu !!!" marah Sirin kepada Dokter Ghissam.
Mata Sirin pun mengarah kepada Elisa istri abangnya yang datang membawa nampan berisi minuman dan makanan di atasnya. Entah ! ia tak suka melihatnya, karna bisa hidup enak menerima hasil perusahaan yang di kelola Arsenio.
"Enak sekali kalian, bisa hidup enak tanpa berusaha keras !. Abang pikir, abang bisa membeli perhiasan yang di pake kak Elisa itu tanpa hasil uang perusahaan itu ?. Bisa membangun rumah sebesar ini, membeli mobil mewah dan barang branddet lainnya !" maki Sirin.
Sepertinya kesabarannya sudah habis untuk membujuk abangnya supaya mau menggantikan Arsenio mengurus perusahaan warisan Kakek Haris.
"Perusahaan itu di wariskan kepada bang Ghissam. Tapi malah bang Ghissam tidak mau mengelolanya. Kalian memperbudak suamiku !" ujar Sirin lagi.
"Abang gak bisa mengelola perusahaan itu Sirin. Abang gak mengerti sama sekali Dunia bisnis" jelas Dokter Ghissam lagi.
Bagaimana ia bisa mengerti Dunia bisnis, karna dia hanya mengambil jurusan kedokteran saja. Meski perusahaan kakeknya itu, memproduksi alat alat kesehatan.
"Bahkan dulu Arsen belum lulus sekolah, sudah di suruh Kakek untuk belajar mengelolanya. Bahkan Arsen masih bisa sambil kuliah. Bang Ghisam juga bisa belajar kalau memang mau" balas Sirin.
Elisa yang sudah duduk di samping Ghissam hanya diam saja melihat kemarahan adik iparnya itu.
"Kalau bang Ghissam gak mau dan gak peduli sama sekali. Kita jual aja perusahaan itu. Aku gak mau lagi tinggal di luar Negri. Aku juga ingin tinggal dekat dengan Mama dan Papa" ujar Sirin.
Dokter Ghissam menghela napasnya. Jujur ia tidak punya keahlian sama sekali untuk mengurus perusahaan.
"Seharusnya dari dulu bang Ghissam belajar bisnis. Bukankah Bang Ghissam dari dulu sudah tau, kalau bang Ghissam pewaris perusahaan itu ?" cerca Sirin lagi.
"Sepuluh Tahun atau tiga belas Tahun lagi, anak anak kita sudah pada besar. Bang Ghissam bisa menyuruh mereka menggantikan bang Ghissam nanti." lanjut Sirin lagi.
"Abang bisa belajar kepada Arsen untuk sementara waktu. Arsen juga tidak akan langsung melepaskannya perusahaan itu begitu saja kepada Bang Ghissam. Arsen pasti mendampingi abang, sampai bang Ghissam bisa" tambah Sirin lagi.
Ghissam pun terdiam sambil berpikir.
Sirin meminum minuman yang ada di atas meja tanpa di persilahkan, kemudian langsung berdiri.
"Mau pulang ?biar abang antar !" tawar Dokter Ghissam kepada adiknya.
"Gak usah ! aku di antar supir" jawab Sirin." Mama sudah tua !, aku yakin kalian tidak mau mengurusnya" ucapnya.
"Siapa bilang ?" kesal Dokter Ghissam.
"Buktinya kalian membiarkan Mama tinggal sendirian. Kalian tidak memikirkan Mama yang kesepian. Aku tau bang Ghissam kecewa atas perbuatan Mama dulu, aku bahkan lebih kecewa lagi karna membuat Arsenio celaka. Tapi Mama sudah berobah, dan dia tetap Mama kita. Wanita yang melahirkan kita. Tidak pantas Bang Ghissam menaroh dendam sama orang tua" oceh Sirin lagi.
"Kamu terus saja berprasangka buruk sama abang. Mama yang menolak untuk tinggal sama kami. Katanya dia lebih nyaman tinggal sendiri" sanggah Dokter Ghissam tidak terima.
"Bang Ghissam pikirkan saja, pilih perusahaan itu di jual atau di biarkan bangkrut sendiri. Setelah itu, jangan mengharapkan harta Papa, karna itu warisan untukku dan adik adik."
Sirin pun langsung melangkahkan kakinya keluar dari rumah abangnya itu, dengan sisa sisa amarahnya.
.
.
Visual Bilal dan Hani, biar ngehalunya tambah lancar.
.
.