Brother, I Love You

Brother, I Love You
126. Aku tak berdaya



Selesai menunaikan kewajibannya kepada sang khalik. Reyhan duduk bersila di atas sajadahnya, membuka kitab suci Alqur'an langsung ke surah Arrahman. Reyhan pun melantunkannya secara perlahan.


'Fa bi ayyi alaa 'i rabbikumaa tukazzibaan !'


( Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan).


Saat Reyhan membaca penggalan kalimat istimewa dalam surah ar rahman itu. Hati Reyhan bergetar, matanya berkaca kaca. Mengingat betapa bodohnya ia sempat terpuruk karna di tinggal menikah oleh Diana, wanita yang bukan haknya. Lihatlah ! saat ia belajar mengiklaskan, Tuhan menggantinnya dengan wanita yang jauh lebih baik.


Reyhan pun bersungguh sungguh untuk menghapal surah yang memiliki akan makna tentang nikmat Tuhan itu. Surah yang memiliki manfaat bagi siapa yang membacanya.


Reyhan harus cepat bisa menghapal surah itu, supaya ia bisa lebih cepat menikahi Yumna, gadis pilihan Papa Arya untuknya.


Setelah hampir dua jam Reyhan duduk bersila di atas sajadahnya. Reyhan pun menyudahi hapalannya. Karna ia tidak akan bisa menghapal surah itu hanya satu malam, ia akan mengangsurnya.


Setelah merapikan alat sholatnya, Reyhan pun membaringkan tubuhnya di atas kasur. Dengan posisi terlentang, menaroh satu lengannya di atas keningnya. Kemudian melafaskan dalam hati, surah Ar rahman yang baru di bacanya, kira kira sudah sampai ayat berapa yang melekat dalam otaknya. Sampai tak sadar, ia pun ketiduran.


.


.


Di salah satu kamar di lantai bawah rumah keluarga Alfarizqi itu. Darren tidak bisa tidur, ia terus membolak balikkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Karna wajah wanita berstatus janda beranak satu itu terus menari nari di kepala dan pelupuk matanya.


Darren sangat tersiksa dengan perasaannya. Entah ?, begitu banyak wanita di Dunia ini. Darran menjatuhkan hatinya untuk pertama kalinya kepada janda beranak satu itu. Seminggu yang lalu, saat pertama kali ia melihat wanita penjual es lilin, sambil menggendong seorang bayi. Di depan pagar SD HARAPAN, saat menjemput Bilal adiknya ke depan gerbang. Jantung Darren berdebar sangat kencang, hatinya juga bergetar. Hatinya begitu sakit dan terluka melihat perjuangan wanita itu berjualan di bawah terik matahari hanya menggunakan payung.


Oh Tuhan ! apa yang harus aku lakukan. Aku masih kecil, belum cukup umur, untuk menjalin hubungan dengan seorang wanita. Dan Papa pasti akan memarahiku jika aku mendekati wanita berstatus janda itu. Tapi untuk mengusir wanita itu dari hati dan pikiranku, aku tak berdaya Tuhan !. Batin Darren


Jika dia jodohku, dekatkan Tuhan !. Jika bukan jodohku, hapus rasa ini Tuhan. Aku sungguh tersiksa. Batin Darren lagi, berdo'a dalam hati.


Usianya masih empat belas Tahun, dan masih duduk di bangku kelas dua SMP. Bahaimana bisa ia pantas menjalin hubungan dengan seorang wanita yang sudah memiliki anak ?. Kenapa logika dan perasaan sering kali tak sejalan ?,pikir Darren.


Apa yang di kataka bang Elang itu benar ya ?, aku hanya mengaguminya, bukan jatuh cinta. Tapi kenapa aku merasa tak begitu ?. Batin Darren lagi


Darren menghela napasnya, karna ia bingung sendiri dengan dirinya sendiri. Ia tau dan sadar, jatuh cinta dengan wanita berstatus janda itu, salah. Tapi Darren tak sengaja melakukannya, jatuh cinta kepada wanita yang jauh di atasnya itu.


Karna tak bisa tidur, Darren pun memutuskan keluar dari dalam kamarnya. Entah mau kemana, Darren sendiri pun bingung. Saat ini ia butuh udara segar untuk menenangkan pikirannya.


"Darren ! mau kemana ? kenapa belum tidur ?."


Daren yang melangkahkan kakinya ke arah pintu samping rumah itu, menghentikan langkahnya. Lalu memutar tubuhnya ke arah belakang.


"Papa !" ucap Darren.


"Kamu mau kemana nak ?, ini sudah jam sepuluh malam. Besok kamu harus sekolah, gak bagus kalau kamu begadang, besok kamu bisa menganguk di kelas" nasihat Papa Arya, kepada anak ke limanya itu.


"Darren gak bisa tidur Pa !, Darren ingin mencari udara segar sebentar Pa !" jawab Darren.


"Kenapa ? apa kamu ada masalah ?" tanya Papa Arya lagi. Darren menggelengkan kepalanya, dengan sedikit menunduk.


"Ayo cerita sama Papa, apa gerangan yang membuat anak Papa ini tidak bisa tidur!." Papa Arya pun melangkahkan kakinya mendekati Darren, merangkulkan sebelah tangannya ke leher Darren, membawanya ke teras samping rumah.


"Ayo cerita sama Papa, apa yang mengganjal di hatimu, sampai membutuhkan udara segar?" ucap Papa Arya lagi, meletakkan gelas kopinya di atas meja di depan mereka.


Darren menghela napasnya dengan kepala menunduk. Apa yang harus ia katakan kepada Papanya ?. Apakah ia harus berterus terang tentang hatinya yang jatuh cinta kepada seorang janda ?. Bagaimana nantinya tanggapan Papanya. Dan Darren juga malu untuk menceritakannya.


"Sekarang anggap Papa temanmu !, ada apa nak ?." Papa Arya menyentuh bahu Darren, sontak membuat Darren mendongakkan kepalanya.Menajamkan pandangannya ke wajah Papa Arya yang juga menatap tajam dirinya.


"Apa yang Papa lakukan saat Papa pertama kalinya jatuh cinta dulu ?" tanya Darren.


Membuat Papa Arya langsung mengembangkan senyumnya. Ternyata anaknya itu tidak bisa tidur karna jatuh cinta.


"Kira kira kepada gadis yang mana anak Papa ini jatuh cinta ?" tanya Papa Arya, menepuk nepuk bahu Darren.


"Masalahnya dia bukan seorang gadis, melainkan seorang janda" jawab Darren jujur.


"Uhuk uhuk uhuk uhuk...!" langsung saja Papa Arya tersedak air ludahnya sendiri. Kaget denga pernyataan putranya yang masih beranjak remaja itu.


Darren pun menundukkan kepalanya.


"Sebelum Papa jatuh cinta kepada ibumu, Papa pernah jatuh cinta kepada wanita lain. Papa juga mengalami apa yang kamu rasakan sekarang.."


"Trus apa yang Papa lakukan waktu itu ?" potong Darren langsung.


"Papa tidak melakukan apa apa. Papa membiarkan saja perasaan itu begitu saja, tanpa mengungkapkannya kepada wanita itu. Karna menurut Papa itu biasa di rasakan setiap orang. Semua orang pernah mengalami jatuh cinta, bahkan berkali kali mengalami jatuh cinta. Bahkan setelah memiliki pasangan dan menikah pun bisa saja orang merasa jatuh cinta. Apa setiap kita merasakan jatuh cinta, harus kita ungkapkan kepada orang itu ?. Atau kita harus menjalin hubungan dengannya ?, tidak !. Karna menurut kita, kita jatuh cinta, belum tentu kita jatuh cinta yang sebenarnya. Bisa saja kita hanya mengaguminya, atau sekedar menyukainya" jelas Papa Arya.


Papa Arya pun terdiam memperhatikan raut wajah Darren yang hampir menangis, menceritakan wanita yang di sukainya itu. Papa Arya menghela napasnya, melihat mata anaknya menyimpan cinta untuk wanita berstatus janda itu.


"Dari mana kamu tau wanita itu seorang janda ?" tanya Papa Arya.


"Darren bertanya sama penjual lain Pa !" jawab Darren.


"Tapi kamu masih kecil nak !, tidak pantas kamu menjalin hubungan dengan wanita itu. Buka maksud Papa tidak mengijinkannya karna status sosialnya. Tapi karna kamu belum waktunya menjalin hubungan dengan wanita mana pun. Dan tak mungkin juga kamu mengajak wanita yang sudah memiliki anak berpacaran buka ?, apa nanti kata orang. Dan juga wanita seperti itu, membutuhkan pria dewasa, bukan pria beranjak remaja. Abaikanlah rasa jatuh cintamu itu, dan pokuskanlah belajar" nasihat Papa Arya.


"Tapi Pa.."


"Tidak ada tapi tapian nak !, dengarkan Papa Darren !. Pokuslah belajar, supaya kamu pintar, dan nanti menjadi orang yang sukses. Bila kalian berjodoh, Tuhan akan mempertemukan kalian di depan penghulu. Dan saat kamu sukses, kamu bisa mengeluarkannya dari kesusahan. Kalau sekarang kamu menjalin hubungan dengannya, kamu hanya bisa menambah beban pikirannya." potong Papa Arya.


Darren pun menundukkan kepalanya." iya Pah !" patuhnya.


"Ya sudah !, ayo tidur, ini sudah larut malam, jangan begadang lagi."


Papa Arya pun berdiri dari kursinya, berjalan masuk ke dalam rumah. Melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya san sang ratu.


Begitu juga dengan Darren, melangkah gontai masuk ke dalam kamarnya.


.


.


Subuh menjelang


Reyhan terbangun dari tidurnya, karna mendengar HPnya berbunyi. Tapi bukan bunyi Alram melainkan bunyi pesan masuk. Reyhan meraih handphonnya dari atas meja nakas, dengan mata terpejam. Kemudian membuka kelopak matanya, lalu membuka pesan masuk ke HPnya itu.


📩Assalamu alaikum akhi !, apakah akhi sudah bangun ?. Maaf jika mengganggu, nanti jam sepuluh saya akan kembali ke kota B. Semoga do'a kita terkabul, untuk bertemu di depan penghulu, amin !.


Teyhan mengembangkan senyumnya membaca pesan dari calon bidadari surganya. Kemudian membalas pesan itu.


📨walaikum salam zamila !, jika di ijinkan, saya akan menemuimu nanti di bandara.


Yumna langsung membaca balasan pesan dari Reyhan dengan tersenyum, dan langsung membalasnya.


📩Silahkan akhi.


📨Trimakasih !.


Balas Reyhan.


Yumna yang berada di samping kakak sepupunya, langsung memeluknya, dan langsung memekik kegirangan.


"Yumna ! ini masih pagi buta, ada apa dengan dirimu, memekik seperti itu ?" kesal Shahia.


"Bang Reyhan nanti katanya akan menemuiku di bandara Kak !" jawab Yumna.


"Apa kamu sudah jatuh cinta sama pria itu ?" tanya Shahia lagi.


"Astagfirullohal azim !" ucap Yumna." belum saatnya aku jatuh cinta padanya, nanti setelah kami menikah !" ucapnya lagi.


"Kamu itu di depan orang, kalemnya..masya Allah !. Tapi kalau di depan keluarga, kamu itu tidak ada bedanya dengan bocah lima Tahun. Kakak rasa si Reyhan itu belum tau sifat aslimu yang sering menyebalkan, dan memiliki tingkat ketengilan yang sangat tinggi seperti Om Yudhi !" ujar Shahia.


"Hehehe....!"cengir Yumna, mengeratkan pelukannya kepada Kakak sepupunya itu.


"Ayo kita cepat kemas kemas, waktu itu nanti tidak akan terasa. Satu jam sebelum penerbangan kita sudah harus di bandara" ujar Shahia lagi.


"Yumna masih malas Kak !, Kakak aja ya yang beresin barang barang Yumna !" bujuknya.


"Bagaimana nanti jika suamimu tau sifat aslimu ?. Aku gak bisa bayangin, dia pasti shok !." Shahia menggeleng gelengkan kepalanya, melihat adik sepupunya itu.


"Aku ini cantik Kakakku sayang !, dia pasti mencintaiku !" balas Yumna.


"Terserahmu saja !, kamu slalu bikin kepala Kakak pusing. Cepatlah menikah, biar kakak tak perlu lagi harus menemanimu kemana mana" oceh Shahia, kelada putri dari Kakak Ibunya itu.


"Sebentar lagi, kak Shahia tenang saja" balas Yumna. Membaringkan tubuhnya kembali ke kasur. Membiarkan kakak sepupunya sendiri membereskan barang barang mereka.


.


.