
"Queen ! apa sama sekali tidak ada rasa kasihan di hatimu kepada Boy ?. Dia hanya mengetahui hanya kamulah Momy nya" bujuk Orion, dengan air mata bercucuran di wajahnya.
"Bukankah wanita yang melahirkan Boy adalah orang kaya ?. Bagaimana bisa bang Orion mengadopsi anak dari keluarga yang mampu ?. Jika bang Orion katakan, Boy berasal dari keluarga tidak mampu, atau memungut Boy dari jalanan, baru Queen percaya. Dan bukankah sekarang yang menjaga Boy itu pamannya ?. Bagaimana bisa orang kaya memberikan anggota keluarga mereka di adopsi orang yang perekonimiannya jauh di bawah mereka ?. Itu gak lucu bang Orion" cerca Queen.
Orion diam tidak bisa menjawab pertanyaan pertanyaan Queen. Karna logika Queen sangat benar.
"Kenapa bang Orion diam ?" tanya Queen.
"Apa yang ingin kamu dengar dari mulut abang Queen ?" lirih Orion.
"Kejujuran !"
Orion yang duduk di samping Queen di pinggir kasur. Mengambil kedua tangan Queen, lalu menciumnya.
"Apa itu artinya kamu mencurigai abang, menghianatimu Queen ?" lirih Orion.
"Iya !" jawab Queen.
"Sekarang kamu ingin abang bagaimana ?" tanya Orion lagi.
"Jujur !"
"Bukankah abang sudah katakan Queen !, setelah Boy di sini, kita melakukan tes DNA, apakah Boy itu darah dagingku atau bukan" ucap Orion.
"Kehadiran Boy, tidak di terima orang tua wanita yang melahirkannya. Karna Ibu Boy meninggal setelah berhasil melahirkan Boy. Mereka membenci Boy !, menganggap Boy adalah penyebab kematian putri mereka. Hanya Jhon yang menerimanya. Jhon mempercayakan Boy kepadaku menjadi Ayahnya, karna Jhon tau kalau aku punya istri. Bersama kita, Boy bisa memiliki orang tua yang lengkap" jelas Orion.
Meski Orion tidak melakukan tes DNA kepada Boy !. Tapi Orion yakin, Boy bukanlah anak kandungnya. Mengingat Jeslin melahirkan Boy setalah tujuh Bulan tinggal bersamanya. Itu Artinya Jeslin sudah hamil sebelum kejadian itu. Jeslin memanfaatkan keadaannya.
Orion juga menerima tawaran Jeslin, karna tidak tega dengan bayi yang berada di perut Jeslin jika harus di gugurkan. Jiwa kemanusiaannya meronta ronta, mendengar Jeslin akan menggugurkan bayinya. Tapi Orion tau, itu hanya ancama Jeslin saja kepadanya. Sebenarnya Jeslin hanya butuh tempat bersembunyi dari kedua orang tuanya, karna terlanjur hamil, dan tidak tau siapa Ayah dari bayi itu. Saat melahirkan Boy, siapa menduga musibah datang, Jeslin menghembuskan napas terakhirnya setelah berhasil mengeluarkan Boy dari perutnya. Dan jika Jeslin juga bukan adiknya Jhon sahabatnya, Orion juga takkan menerima Jeslin tinggal di apartemennya waktu itu.
"Kenapa tidak pamannya saja yang mengurusnya?, bukankah Paman Boy menerimanya ?." tanya Sirin lagi.
"Jhon kawatir, orang tuanya menyakiti Boy." jawab Orion.
"Bukankah sahabatmu itu memiliki banyak uang ?. dia bisa membeli rumah untuk Boy, dan menyewa baby sister khusus."
"Queen ! yang kamu katakan itu benar !, Jhon pasti bisa melakukan itu untuk Boy !. Tapi Queen !, anak seperti Boy, butuh sosok orang tua. Butuh sosok Ayah dan Ibu"jelas Orion, mencoba memberi Queen pengertian." Apa kamu tidak memiliki rasa kasihan sedikit pun ?."
Queen terdiam menajamkan pandangannya ke wajah Orion, mencoba mencerna apa yang di katakan Orion.
"Boy adalah anak yang baik dan lucu. dia juga anak yang pintar. Dia merindukanmu meski dia tidak pernah melihatmu. Dia selalu menanyakan, kapan dia bisa bertemu Momy nya ?. Dia akan memandangi fotomu jika ia merindukanmu" ucap Orion, tersenyum getir.
"Abang mohon Queen ! bukalah sedikit hatimu untuk Boy !." mohon Orion, mencium kedua telapak tangan Queen bergantian.
Queen diam, ia pun menarik tangannya dari genggaman Orion.
"Bagaimana kalu bang Orion membohongiku ?" tanya Queen. Orion menghela napas beratnya.
"Terserah padamu Queen !" pasrah Orion.
Jika suatu saat rahasianya terbongkar, dan Queen tidak menerimanya. Apa yang bisa Orion lakukan, selain pasrah pada nasib. Melihat Queen begitu sulit menerima Boy, Orion yakin, Queen tidak bisa menerima kenyataan dirinya yang sudah tidak perjaka lagi kepada Queen.
Queen pun terdiam, ia menjauhkan tubuhnya dari Orion, berjalan ke arah kaca menuju balkon kamar mereka. Entah ! sulit bagi Queen untuk percaya. Sebenarnya Queen tidak masalah Orion yang mengadopsi Boy.Hanya saja Queen merasa janggal dengan alasan Orion. Tentu sebagai seorang istri yang lama berpisah dari suaminya, menaroh curiga kalau Boy itu anak dari Orion.
"Queen..!" lirih Orion, melihat Queen diam saja.
"Jemputlah Dia !, meski pun dia anak kandung bang Orion, aku akan menerimanya" ucap Queen dengan bibir bergetar, dan air mata mengalir deras di pipinya.
Aku bukan orang bodoh bang Orion !, jika kamu tidak punya hubungan apa apa dengan wanita yang melahirkan Boy. Tidak mungkin kamu mengadopsi Boy secara diam diam. Pasti kamu mengabariku bang Orion. Pasti kamu bertanya dulu kepadaku, meminta pendapatku. Apakah aku setuju atau tidak. Bukan memberitahunya sekarang, setelah pernikahan kita di resmikan. Setelah Boy bersamamu selama tiga Tahun. Saat kau ingin membawa Boy masuk ke dalam rumah tangga kita. Batin Queen, menangis terisak.
Orion mendekati Queen yang berdiri di dekat kaca, dan langsung memeluknya, menjatuhkan dagunya di atas pundak Queen.
"Jangan berpikir kalau aku menghianatimu Queen. Abang mencintaimu Queen, sangat mencintaimu !" tangis Orion.
"Queen sudah katakan, jemputlah anak itu bang Orion" lirih Queen.
"Nanti kita akan sama sama menjemputnya !" ucap Orion.
.
.
"Dek ! kamu lagi hamil ya ?" tanya sorang ibu ibu kepada Sirin, saat ia mengambil jemuran di depan rumah kontrakan mereka.
"Iya Bu !" jawab Sirin lirih.
"Kalian terlanjur ya ?" tanya tetangga satu dinding dengan kontrakan mereka.
Sirin diam tidak menjawab, Sirin malu untuk mengakuinya. Ia pun memaksakan senyumnya. Kenapa tetangga mereka itu begitu kepo dengan kehidupannya.
"Ngaku aja dek ! gak usah malu !" ucap tetangga mereka itu lagi. Kemudian mendekati Sirin." Kalau lagi bercinta, suaranya jangan kencang kencang dek !, rumah kontrakan ini, bukan dinding kedap suara. Setiap kalian bercinta, suamiku jadi minta jatah terus" ucapnya pelan kepada Sirin.
Blush !
Wajah Sirin langsung memerah merona salah tingkah.
"Maaf Bu ! Sirin masuk ke dalam dulu" pamit Sirin, langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
Tetangga Sirin yang bertubuh jumbo itu pun tertawa cekikikan, melihat Sirin malu salah tingkah, kemudian kembali ke teras rumah kontrakannya dan duduk di salah satu kursi berbahan plastik yang ia beli dari pedagak pecah belah keliling.
Sirin yang sudah berada di dalam rumah, menutup wajahnya. Ia masih malu, karna tetangga mereka mendengar suara suara laknatnya dan Arsenio saat bercinta. Bagaimana ini ?, Sirin jadi malu untuk keluar rumah. Melihat tetangga mereka bermulut ember itu, Sirin yakin, pasti ibu ibu tetangga mereka sudah menceritakannya kepada ibu ibu lain, geng gosip di gang itu.
"Arsen..!" rengek Sirin seperti ingin menangis, tapi wajahnya terlihat sedikit ada senyuman.
Sirin malu dapat teguran dari tetangga satu dinding mereka. Tapi mengingat percintaannya dengan Arsen saat memanjakan tubuhnya, Sirin senang dan bahagia. Mendadak Sirin merindukan Arsenio, padahal baru dua jam yang lalu Arsenio pamit pergi untuk mencari pekerjaan.
Layaknya anak remaja yang lagi kasmaran seperti orang yang baru jatuh cinta. Membuat Sirin senyum senyum sendiri, padahal ia dan Arsenio sudah lama berpacaran. Ya ! sekarang Sirin lagi kasmaran, Sirin lagi jatuh cinta, jatuh sejatuh jatuhnya kepada cinta Arsenio Edgar Alfarizqi.
.
.
Di tempat lain
Arsenio memarkirkan mobilnya di sebuah pinggir Danau yang tidak jauh dari pinggir jalan. Arsenio meyandarkan kepalanya ke sandaran kursi mobilnya, lalu memejamkan matanya. Ia sudah lelah mencari lowongan kerja, entah sudah berapa toko, kios dan cafee yang ia tanyakan, satu pun tidak ada yang menerima karyawan baru. Sekarang Arsenio lagi bingung, kemana ia harus mencari pekerjaan. Ia harus segara bekerja, jangan sampai duit pegangan mereka habis, ia belum mendapatkan pekerjaan. Mau makan apa mereka ?.
Apa aku jual mobil ini saja ya ?, tapi nanti kasihan Sirin kemana mana harus naik angkot. Batin Arsenio, kemudian menghela napasnya kasar.
Untuk menjadi kuli atau mengerjakkan pekerjaan kasar lainnya, Arsenio tidak akan mampu, karna tubuhnya yang masih lemah. Dan juga untuk pekerjaan seperti itu, tidak bisa setengah hari. Sedangkan Arsenio, dari pagi sampai siang harus sekolah lagi.
Melihat hari sudah mulai senja, Arsenio pun melajukan kenderaannya meninggalkan pinggir danau itu. Karna pasti Sirin sudah menunggunya di rumah. Dan ia juga sudah rindu dengan istrinya itu.
Sampai di depan rumah, Arsenio langsung turun dari dalam mobilnya, setelah ia mematikan mesinnya terlebih dahulu. Arsenio melangkahkan kakinya berjalan ke arah rumah petak yang ganya memiliki lebar tiga meter itu. Dan Arsenio pun mengetuk pintunya sembari mengucap salam.
"Arsen ! kamu sudah pulang ?" wajah Sirin nampak berbinar saat menanyakan itu. Entah apa yang membuat wajah istri dari Arsenio itu terlihat bahagia. Apa istrinya itu mendapat sembako gratis dari RT, atau kupon sembako murah ?, pikir Arsenio.
Arsenio pun mengembangkan senyumnya, satu tangannya terangkat mengacak acak ujung kepala Sirin. Meski usia Arsenio lebih muda satu Tahun dari Sirin. Tapi itu tidak kelihatan, baik dari wajah, maupun Sifat. Karna Sirin memiliki sifat yang sangat manja.
Setelah Arsenio menutup pintu, Sirin langsung memeluk tubuh Arsenio.
"Ada apa ? Hm..!" heran Arsenio.
Sirin mendongakkan kepalanya ke wajah Arsenio," kangen !" ucapnya.
Arsenio yang gemas, pun mengecup bibir Sirin singkat. Baru juga di tinggal beberapa jam, istrinya itu sudah kangen.
"Aku mandi dulu, nanti baru kita kangen kangen, oke !" Lagi Arsenio mengecup bibir Sirin, kemudian melangkahkan kakinya tanpa melepas pelukan Sirin di pinggangnya.
Seperti kata Arsenio, malam harinya mereka pun kangen kangenan di atas kasur tipis mereka. Entah sudah berapa lama mereka saling berpagutan, tapi kelihatannya mereka masih belum ingin melepaskannya. Perlahan lahan satu persatu, pakaian mereka pun berserakan di lantai. Sirin yang tadinya berada di atas pangkuan Arsenio, kini sudah terbaring pasrah di bawah kungkungannya. Penyatuan pun terjadi, tapi kini meraka melakukannya diam diam. Ah ! tetangga sebelah itu, bikin malu saja.
Tok tok tok !
Tok tok tok !
Tok tok tok !
"Arsen ! ada orang datang, berhenti dulu" ucap Sirin.
"Nanggung sayang ! sebentar lagi"
Tok tok tok !
"Mana tau itu penting !" ucap Sirin lagi.
"Ini lebih penting sayang !"
tok tok tok !
"Ikh ! Arsen !"
"Sebentar lagi !"
Tok tok tok !
Tok tok tok !
tok tok tok !
Akhirnya Arsenio menjatuhkan tubuhnya di samping Sirin. Dengan rasa kesal, ia pun memungut celananya dan langsung memakainya.
Siapa sih itu ?, kesal Arsnio, melangkahkan kakinya keluar kamar. Untuk melihat siapa yang datang mengganggu kesenangan mereka.
"Bang Reyhan !" ucap Arsenio setelah membuka pintunya.
Reyhan yang berdiri di depan pintu, menyipitkan matanya, menelisik tubuh Arsenio yang penuh dengan peluh, dan rambut acak acakan.
"Olah raga malam ?" tanya Reyhan.
"Iya !" jawab Arsen santai, memutar tubunya berjalan ke arah sofa panjang yang sudah usang di ruang tamu mereka.
Tanpa di suruh masuk Reyhan masuk begitu aja.Reyhan memutar pandangannya ke seluruh ruanga kecil itu. Ruang tamu yang sama besar dari kamar mandinya. Kemudian Reyham melangkahkan kakinya ke arah dapur. Dapurnya sangat kecil, hanya berukuran dua meter kali satu meter setengah, menurut perkiraan Reyhan. Di samping dapur, ada kamar mandi berukuran satu meter setengah persegi. Di lihat dari panjang dinding kamar itu, Reyhan bisa mengaganya, Tiga meter kali dua meter setengah.
Reyhan menghela napasnya, melihat isi dapur adiknya itu hanya ala kadarnya. Puas memeriksa tempat tinggal adiknya yang mendadak miskin itu. Ia pun kembali ke ruang tamu.
"Kalau kamu tidak mau menerima bantuan cuma cuma, bekerjalah denganku !" tawar Reyhan berdiri di depan Arsenio.
"Aku gak mau !" tolak Arsenio mentah mentah.
Reyhan menghela napasnya, adiknya itu sungguh keras kepala dan memiliki gengsi yang tinggi.
Tak lama kemudian terdengar deru mobil berhenti di dekat rumah kontrakan mereka.Reyhan yang berdiri sejajar dengan pintu, menoleh keluar.
"Assalamu alaikum !"
Arsen langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu, mendengar suara wanita yang sangat ia rindukan.
"Mama !" gumam Arsenio dengan mata berkaca kaca, ia pun langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Apa Mama sama Papa boleh masuk !" tanya Mama Bunga berdiri di depan pintu.
.
.