Brother, I Love You

Brother, I Love You
165. Makan terpisah



Elang memarkirkan kenderaannya di halaman rumah orang tuanya. Setelah mematikan mesinnya, ia langsung turun dan berjalan masuk ke rumah tempatnya di besarkan itu.


Elang mengucap salam, sembari berjalan ke arah ruang makan rumah itu. Elang tau saat ini keluarganya waktunya makan malam.


"Elang !" tegur Mama Bunga, melihat anak ke tiganya pulang.


"Selamat malam Ma ! Pa !" ucap Elang, menyalam tangan kedua orang tuanya. Kemudian mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan yang biasa ia duduki. Elang mengambil piring kosong di atas meja, mengisinya dengan nasi dan lauk pauk, lalu memakannya.


Elang mengerutkan keningnya sambil menguyah makanan di mulutnya. Melihat semua yang ada di meja makan itu diam dan memandanginya.


"Ada apa ?, kenapa kalian melihatku seperti itu ?" tanya Elang setelah menelan makanan di mulutnya.


"Apa istrimu tidak memasak untukmu ?" tanya Reyhan.


"Malam ini aku menyuruhnya tidak memasak, karna aku ingin makan di sini !" jawab Elang santai. Lalu menyuapkan makanan ke mulutnya lagi.


"Kamu biarkan istrimu makan sendiri ?" tanya Reyhan lagi.


"Kami sudah terbiasa makan terpisah !" jawab Elang lagi.


Bagaimana lagi, pernikahannya memang sudah di restui. Tapi istrinya tidak dianggap bagian dari keluarga Alfarizqi. Dan Elang tidak di ijinkan membawa Naysila ke rumah itu.


Mama Bunga menghela napasnya pelan, ia belum berhasil mendamaikan hati suami yang keras kepala itu. Sedangkan Papa Arya diam saja, memakan makanan di piringnya dan bergantian menyuapi ratu sejagat yang menyusui Sabina kecil di pangkuannya.


"Bang Elang mau tidur di sini ?" tanya Darren.


"Iya !"


"Bilal tidur sama bang Elang ya !" tawar si anak gajah.


"Gak ! Bilal tidur sama Mama sama Papa aja !" tolak Elang. Bilal langsung mengerucutkan bibirnya.


"Iya ! tidur sama abang !" Elang tersenyum, satu tangannya terangkat mengacak acak ujung kepala Bilal.


"Kalau kamu tidur di sini ?, lalu istrimu gimana ?" tanya Sirin.


"Tidur di rumahlah !" jawab Elang.


"Iya tau !, Sendiri dia ?"tanya Sirin lagi.


"Hm..!" jawab Elang." Arsen mana ?" tanyanya, melihat Arsen tidak ikut makan.


"Di kamar lagi sakit !" jawab Sirin, meneguk air minum dari gelasnya sampai habis.


Kemudian Sirin berdiri dari kursinya, mengambil piring kosong ke dapur. Sirin ingin menyiapkan makanan untuk Arsen.


"Ma ! Pa ! Kak Yumna !, Sirin duluan ke kamar !" pamit Sirin, setelah menyiapkan makanan dan minuman di atas nampan. Sirin mengangat nampatnya dari atas meja, membawanya ke kamar.


Selesai makan malam, semua anggota keluarga, pun masuk ke kamar masing masing. Yumna yang baru selesai membereskan dapur, masuk ke dalam kamarnya dan Reyhan di lantai dua rumah itu. Yumna meletakkan nampan berisi segelas susu dan sepiring buah anggur di atas meja sofa, lalu mendudukkan tubuhnya di samping Reyhan yang sedang menonton tv.


"Ada apa Almira sayang ?" tanya Reyhan lembut, melihat Yumna menyandarkan kepala ke lengannya.


"Tadi Yumna belanjain mama lagi !" ucap Yumna mengerucutkan bibirnya. Sambil tangannya meraih sebelah tangan Reyhan dan memainkan jari jarinya, kemudian memasukkan jari telunjuk Reyhan ke lobang hidungnya, mencari upil.


Reyhan yang gemas melihat tingkah istrinya yang jorok itu, pun langsung menarik tangannya. Dan menarik hidung Yumna dengan tangan sebelahnya.


"Sakit habib !" keluh Yumna semakin mengerucutkan bibirnya.


"Biar tangan Yumna gak kotorlah !" jawab Yumna, tertawa cekikikan.


"Sepertinya kamu itu suka sekali minta di hukum sayang ?" ucap Reyhan, menarik kepala Yumna, menenggelamkannya di bawah ketiaknya.


"Habib ! Yumna gak bisa napas, ketiak Habib bau !" ucap Yumna dari bawah ketiak Rayhan.


"Makanya jangan suka ngupil pake jari orang !" gemas Reyhan lagi. Sudah sering sekali Yumna mengupil dengan menggunakan jari tangannya.


"Yumna lagi kesal sama mama !. Mama sudah sering nyuruh Yumna belanja, tapi Mama tidak pernah mengasih duitnya. Uang jatah bulanan Yumna 'kan jadi berkurang !" sungut Yumna.


"Jadi apa hubungannya dengan jari telunjukku sayang ?, Hm..!." Reyhan belum juga melepas kepala Yumna dari bawah ketiaknya.


"Habib harus menambah uang jatah bulanan Yumna !" jawab Yumna.


Reyhan pun melepas kepala Yumna, lalu menarik Yumna, memindahkan Yumna ke atas pangkuannya. Reyhan membuka hijab instan Yumna, dan melatakkannya di sofa sebelahnya. Kemudian Reyhan membuka ikatan rabut Yumna, dan menggerainya dengan jari tangannya. Reyhan sangat suka melihat wajah Yumna tanpa hijab. Sangat cantik dua kali lipat dengan rambut gelombangnya yang berwarna kepurangan. Reyhan membelai rambut Yumna dan wajah Yumna bergantian.


"Maafin Mamaku ya !" ucap Reyhan memandang intens manik mata Yumna yang juga menatapnya." Aku yakin Mama tidak bermaksud buruk kepadamu. Dia tidak memberikan uang belanjanya, aku rasa karna mama menganggapmu putrinya. Bukan sama kamu saja dia melakukan itu, Sama Queen juga dia seperti itu !" ucap Reyhan lagi.


"Aku memberitahu itu sama Habib, nanti Habib pikir Yumna boros, asal ngabis ngabisin uang !" balas Yumna menundukkan pandangannya.


Reghan meraih dagu Yumna dengan lembut. Reyhan mengulas senyum manis di bibirnya." Uang yang habib berikan sama kamu, itu sudah menjadi milikmu. Terserah Almira mau di apakan itu duit. Habib yakin istriku yang cantik ini pasti menggunakannya ke hal hal yang bermanfaat. Nanti Habib akan mengganti uang belanjaan mama. Soal untuk jatah bulanan maafin Habib, Habib belum bisa menambahnya sayang. Habib butuh modal untuk proyek baru, do'a in proyeknya lancar ya !. Nanti Habib kasih bidadari surga Habib ini uang yang banyak !" rayu Reyhan lembut. Kemudian Reyhan mengecup kilas bibir Yumna.


"Maaf Habib !" ucap Yumna, menundukkan pandangannya lagi.


Reyhan menarik Yumna ke dalam pelukannya, lalu mengecup ujung kepala yumna." Gak apa apa sayang !. Aku juga minta maaf, sudah mengajakmu serumah dengan orang tuaku" balas Reyhan.


Reyhan melepas pelukannya lagi, menjauhkan sedikit tubuh Yumna, supaya ia bisa melihat wajah Yumna kembali." Kalau kamu tidak nyaman kita tinggal di sini. Kita bisa pindah sayang ! gak apa apa !" ucap Reyhan.


Yumna menajamkan pandangannya ke manik mata Reyhan. Kemudian Yumna menggelengkan kepalanya. Jika mereka pindah, Yumna kawatir mertuanya akan tersinggung nantinya, Mertuanya merasa menyusahkannya.


Dan juga hanya masalah uang, selain itu, mertuanya sangatlah baik. Meski tinggal satu rumah, mertuanya tidak pernah mencampuri urusan rumah tangga mereka.


Lagian mereka belum punya anak, nanti Yumna akana merasa kesepian tinggal sendiri di rumah. Apa lagi Reyhan sering pergi ke kota lain, meninjau proyeknya yang lagi berjalan.


"Gak usah Habib !" jawab Yumna.


"Aku tidak mau istriku ini merasa tidak nyaman atau tertekan !" ucap Reyhan, membelai belai wajah Yumna.


"Aku gak tertekan Habib !, hanya saja jatah uangku berkurang !" balas Yumna berbicara manja, lalu menyandarkan kepalanya di dada bidak Reyhan.


"Mumpung malam minggu, Jalan jalan Yuk !"ajak Reyhan. Tangannya mengusap usap rambut Yumna dari belakang.


"Kemana ?" Yumna mendongakkan kepalanya.


"Mutar mutar keliling kota aja !" jawab Reyhan.


Yumna tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya." Pakai motor" ucapnya.


"Boleh !" balas Reyhan tersenyum.


Reyhan meraih buah anggur dari atas meja, lalu menyuapkannya ke mulut Yumna, baru menyuapkan ke mulutnya.


.


.