Brother, I Love You

Brother, I Love You
234. Menerima lamaran



"Assalamu alaikum Ukhti Hani !" sapa seseorang itu sudah berdiri di depan Hani dan Ustadz Ikbal.


Hani tidak menjawab, ia sibuk menangis terisak di dalam pelukan Ustadz Ikbal.


"Hani ! tidak bagus jika tidak menjawab salam seseorang !" tegur Ustadz Ikbal lembut, mengusap usap kepala Hani yang tertutup Hijab.


"Walaikum.. salam.. Ustadz !" balas Hani terbata, karna ia sampai menangis cigukan.


Ustadz Bilal melengkungkan bibirnya ke atas, dengan mata berkaca kaca. Begitu besarkah cinta seorang Hani kepadanya ?. Sampai Hani menangis saat melihat kalau dia lah laki laki yang melamarnya.


"Ukhti Hani ! aku kesini untuk melamarmu ! menjadikanmu wanita halalku. Halal untukku memandangnya, halal untukku memikirkannya, halal untukku merindukannya, halal untukku beribadah bersamanya, halal untukku mencintaimu." Ustadz Bilal menjeda kalimatnya, kemudian berbicara lagi." Aku berharap lamaranku kali ini, tidak mendapat penolakan lagi !."


Hani yang masih mengis cikugan di dalam pelukan Ustadz Ikbal, menghapus air matanya, berusaha menghentikan tangisnya.


"Bagaimana ? apa lamaran Ustadz kondang itu di terima ?" tanya Ustadz Ikbal kepada adik sepupunya itu.


Ustadz Ikbal mengecup kening adiknya itu dengan mata berkaca kaca. Sudah cukup rasanya ia melihat adiknya itu menderita batin selama puluhan Tahun. Sekarang sudah saatnya adiknya itu meraih kebahagiaannya.


Hani pun menganggukkan kepalanya yang masih bersembunyi di dada bidang Ustadz Ikbal, mengatakan ia menerima lamaran Ustadz Bilal yang sangat ia cintai itu.


"Alhamdulillah.." seru semua orang yang ada di ruangan itu.


Kedua kaka ipar Hani pun mendekatinya, mengambil Hani dari pelukan Ustadz Ikbal. Sedangkan Ustadz Bilal kembali ke tempat duduknya tadi dengan wajah berbinar bahagia, dan senyumnya pun tak luntur meski matanya berkaca kaca.


Kedua putrinya Yasmin dan Annisa langsung mendekatinya. Memeluk tubuhnya dan mencium kedua pipinya bersamaan. Yang langsung di balas Bilal dengan mengecup kedua ujung kepala putrinya itu bergantian.


"Trimakasih !"lirihnya.


.


.


Kilas balik


Setelah mendengar curahan hati sang Ayah waktu itu melalui vc. Yasmin langsung menelepon Ibunya, menanyakan soal rencana rujuk Ayahnya.


"Assalamu alaikum Ma !" sapa Yasmin dari layar ponselnya.


"Walaikum salam !" balas Aqeela tersenyum kepada putrinya.


"Bagaimana dengan kabar Mama ?, mama sehat ?" tanya Yasmin.


"Alhamdulillah sehat sayang !, bagaimana dengan putri mama ?" tanya balik Aqeela.


"Alhamdulillah sehat Ma !" jawab Yasmin.


"Bagaimana dengan sekolah Yasmin ? lancar ?" tanya Aqeela lagi.


"Lancar Ma !" jawab Yasmin." Ma ! apa Mama sama Ayah akan rujuk ?" tanyanya.


Aqeela tidak langsung menjawab, ia menautkan kedua alisnya ke arah putrinya di layar HP. Kenapa putrinya itu bertanya seperti itu ?, pikirnya. Sedangkan Bilal belum ada bicara apa apa kepadanya, untuk mengajak rujuk.


"Kenapa menanyakan itu sama Mama sayang ?. Sedangkan Ayahmu tidak ada mengajak Mama untuk rujuk. Dan Mama tidak mungkin rujuk dengan Ayahmu sayang, karna.. Ma..mama selama ini sudah me..menikah dengan laki laki lain." jawab Aqeela gugub di akhir kalimatnya.


Yasmin langsung terdiam, dan menajamkan pandangannya ke wajah Ibunya yang nampak merona dan menunduk. Menikah ? kenapa Ibunya itu menikah diam diam tanpa memberitahu mereka anak anaknya.


"Kapan Ma !" tanya Yasmin dengan suara lemahnya.


"Susah empat Tahun sayang !" jawab Aqeela.


"Kenapa Ma ?, kenapa gak kasih tau Yasmin dan Aqeela ?" tanya Yasmin lagi bernada kecewa, tak terasa air matanya pun jatuh dari sudut matanya.


"Mama ingin menjaga perasaan adikmu Annisa Nak !. Kamu tau sendiri seperti apa Annisa adikmu. Dari dulu ia tidak bisa menerima perceraian Mama dengan Ayahmu !" jelas Aqeela, juga ikut menangis.


"Maafin Mama nak ! maafin Mama sudah membuatmu kecewa sama Mama !" isak Aqeela.


Yasmin pun terdiam tidak bisa berbicara apa apa lagi. Bukan masalah baginya jika Ibunya menikah dengan pria lain. Itu hak Ibunya, karna Ibunya sudah bercerai dengan Ayahnya lima Tahun yang lalu. Hanya saja Yasmin kecewa, kenapa Ibunya itu diam diam menikah ?, tanpa memberitahunya.


"Maafin mama sayang !" tangis Aqeela lagi.


"Gak apa apa Ma !, Yasmin hanya memikirkan Annisa" balas Yasmin.


"Itu juga yang Mama pikirkan selama ini, sehingga Mama diam diam menikah dengan suami Mama yang sekarang" ucap Aqeela sambil menghapus air matanya.


"Yasmin akan segera pulang Ma !. Semua masalah di keluarga kita harus di selesaikan Ma" ucap balas Yasmin.


Aqeela masih menangis terisak.


"Oh ya Ma !, sepertinya Ayah juga akan menikah" ucap Yasmin.


Aqeela menghentikan tangisnya, menajamkan pandangannya ke wajah Yasmin yang berada di layar ponselnya." Dengan siapa ?" tanyanya.


"Yasmin juga belum tau Ma !. Kata Ayah temannya waktu di pesantren dulu" jawab Yasmin.


Aqeela tersenyum hambar.


"Gak apa apa Nak ! memang sudah waktunya Ayah kalian menikah lagi. Dia sudah terlalu lama hidup sendiri. Dia pasti membutuhkan sosok istri di sampingnya" ucap Aqeela.


Yasmin menghela napasnya, kenapa dulu Ibunya itu meminta cerai dari Ayahnya ?. Kurang apa Ayahnya itu coba ?. Sudah ganteng, bertanggung jawab, seorang ustadz, secara ekonomi juga mapan. Ayahnya itu bisa di katakan, laki laki yang mendekati kata sempurna.


Selesai bertelepon dengan Ibunya, Yasmin pun keluar dari kamar asramanya. Yasmin akan meminta ijin untuk pulang sebentar ke Indonesia. Ia harus mengurus masalah yang terjadi pada orang tuanya. Lebih utamanya, Yasmin harus membantu kedua orang tuanya memberikan Adiknya Annisa perngertian, kalau kedua orang tua mereka sudah tidak bisa bersama lagi.


Yasmin sangat kawatir dengan adiknya itu, karna dulu waktu kedua orang tua mereka bercerai. Annisa sempat terpuruk dan sakit.


.


.


Setelah mendapat ijin cuti, Yasmin langsung pulang ke Indonesia. Tugasnya untuk memberi adiknya Annisa pengertian.


"Dengarkan Kakak Annisa !" ucap Yasmin kepada adiknya yang duduk menangis di atas kasur.


Sekarang mereka berada di rumah Ibu mereka. Di ruang tamu, para keluarga besar mereka sudah berkumpul, termasuk Ayah mereka Bilal dan Ayah tiri mereka, beserta keluarga baru dari Ibu mereka.


"Mama jahat ! Ayah jahat !, mereka gak ngertiin Annisa !" tangis gadis berusia 16 Tahun itu.


"Annisa !"panggil Yasmin lembut."dengarkan Kakak ya !, tidak ada satu pun suami atau istri yang menginginkan bercerai. Setiap orang yang menikah itu, selalu berdoa supaya pernikahan mereka langgang, termasuk Ayah dan Mama !" jelas Yasmin.


"Tapi takdir !, takdir membuat mereka harus bercerai !. Semua terjadi atas ke hendak Allah !. " jelas Yasmin lagi.


Yasmin pun menarik Annisa ke dalam pelukannya." Biarkan Ayah sama Mama menentukan kebahagiaan mereka masing masing. Jika kamu menghalanginya, nanti kamu sendiri yang akan menyesal, karna tidak pernah melihat kedua orang tua kita bahagia" tambah Yasmin lagi.


"Bagaimana dengan kita ?, kenapa mereka tidak memikirkan kita ?" isak Annisa lagi.


Sulit baginya menerima kenyataan, ternyata selama ini Ibunya sudah menikah lagi dengan laki laki lain.


"Mereka pasti memikirkan kebahagiaan kita. Buktinya, mereka masih menyayangi kita" jawab Yasmin." Lihat Mama !, dia rela menyembunyikan pernikahannya demi menjaga perasaanmu dan Kakak. Tentu itu tidak mudah bagi Mama, menyembunyikan pernikahannya. Mama harus membagi waktunya dengan kita dan suaminya" jelas Yasmin lagi.


"Jodoh !Rejeki ! maut adalah misteri. Kita tidak tau apa yang akan terjadi kepada kita di kemudian hari. Allah akan menkehendaki apa yang ingin ia kehendaki. Tidak bagus meyalahkan orang tua, dan berprasangka buruk kepada mereka. Karna selain hati mereka terluka karna perceraian. Hati mereka juga terluka memikirkan anak anak mereka yang terluka akibat perceraian. Namun, mereka tidak bisa berbuat apa apa selain pasrah dengan takdir" ucao Yasmin lagi menenangkan adiknya.


"Jika pernikahan sama sama melukai hati mereka. Maka perceraian adalah solusi terakhir dari pasangan suami istri. Mungkin dengan cara bercerai, keduanya bisa mendapat kebahagiaan masing masing. Kita sebagai anak, tugasnya mendoakan, mendukung mereka" timpal Yasmin lagi, tangannya dari tadi tidak berhenti mengusap usap kepala adiknya itu.


Setelah mendengar rentetan nasehat dari kakanya. Annisa pun mulai bisa berdamai dengan keadaan keluarga mereka yang sekarang. Kalau kedua orang tua mereka tidak bisa bersatu kembali.


Kilas balik selesai


.


.


"Saya rasa tidak perlu menunda waktu lagi. Mengingat mereka yang sudah lama saling menyukai, dan Saudari Hani juga sudah menerima lamaran adik kami Ustadz Bilal. Bagaimana kalau malam ini juga kita menikahkan mereka ?" ujar Orion dari tempat duduknya.


Sontak semuanya menoleh ke arah Orion. Kemudian Ustadz Ikbal dan Ustadz Amar pun saling berpandangan.


Menurut Orion buat apa harus menunda waktu untuk menghalalkan sepasang kekasih yang lama di pisahkan oleh waktu itu. Mengingat keduanya juga sudah tak muda lagi. Dan juga niat baik tak baik di tunda tunda, lebih cepat lebih baik.


"Saya rasa mereka juga sudah tak sabar untuk di nikahkan !" ujar Orion lagi tersenyum.


Ustasz Ikbal dan Ustadz Amar masih diam saling berpandangan, memikirkan pendapat Orion. Abang tertua dari Ustadz Bilal itu. Sedangkan Hani, ia duduk menunduk di tengah tengah kedua kakak iparnya.


"Ayah ! bagaimana menurut Ayah ?. Kami juga setuju apa yang di katakan Paman Orion !" ujar Yasmin, di angguki Annisa yang duduk di samping kiri Bilal.


"Coba kalian tanya calon Umi kalian sayang!. Bersedia gak dia Ayah halalkan malam ini ?" tanya Balik Bilal merekahkan senyumnya.


Hani yang mendengar suara Bilal, semakin menundukkan pandangannya.


"Umi Hani ! bersediakah menjadi Ibu kami malam ini ?. Ayah kami sudah tak sabar untuk memiliki Umi malam ini juga !" tanya Yasmin lalu tertawa kecil, dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


Membuat semua orang di ruangan itu ikut tertawa. Sontak membuat wajah Hani langsung memerah salah tingkah. Mengerti kemana arah pembicaraan putri tertua dari Ustadz Bilal itu.


"Cie cie cie ! Umi Hani malu nih ye !" goda Annisa memperhatikan wajah Hani yang merah merona.


"Kalian jangan menggodanya sayang !. Gak lihat wajah Umi kalian sudah sangat merah" ucap Bilal kepada kedua putrinya.


"Hani ! bagaimana ? apa kamu bersediah menikah malam ini ?" tanya Ustadz Ikbal kepada adiknya. setelah berunding dengan Ustadz Amar. Mereka setuju dengan pendapat Orion, untuk menikahkan kedua sejoli yang sudah sangat lama terpisah oleh waktu itu.


Hani malah semakin menundukkan kepalanya. Entah apa yang membuatnya menjadi mendadak pemalu.


Queen dan Sirin yang melihat calon menantu baru keluarga Alfarizqi itu, mendekati Hani. Mereka pun menganbil Hani dari pelukan ke dua kaka iparnya. Mereka berdua pun memeluk Hani.


"Selamat bergabung di keluarga Alfarizqi !" ucap Queen dan Sirin bersamaan.


Hani mengulas senyumnya, kemudian menganggukkan kepalanya pelan.


Queen dan Sirin pun tersenyum.


"Kalian bisa melihat kalau calon adik ipar kami ini sudah menganggukkan kepalanya, pertanda setuju !" ucap Queen sebagai menantu tertua di keluaraga besar Alfarizqi itu.


"Kalau begitu ! bersiap siaplah !" ucap Ustadz Ikbal.


Kemudian Ustadz Ikbal pun mengajak semua kamu lelaki di rumah itu untuk duluan ke masjid. Sedangkan kamu wanita, membantu Hani untuk bersiap siap.


.


.