
Dugaanku benar, perawat rumah sakit ini ada yang terlibat. Baiklah satu orang sudah ketahuan. Sekarang aku harus mencari pelaku yang sebenarnya, batin Reyhan.
Tunggu tunggu tunggu !, kapan orang itu keluar dari ruangan itu ?. Kenapa tidak ada tertangkap kamera. Padahal cctv hidup setelahnya. Batin Reyhan lagi.
Reyhan mengerutkan keningnya, berpikir keras, dari mana orang yang di duga pembunuh sebenarnya itu keluar ?.
Ada yang tidak beres dengan perawat yang menemukan si bocah brengs*k itu saat sudah menjadi mayat.Batin Reyhan, menggigit gigit bibir bawahnya, sembari mengangguk anggukkan kepalanya pelan.
Reyhan mengambil handphonnya dari atas meja. Setelah menghidupkan layarnya, ia pun menelephon seseorang.
.
.
Di lorong rumah sakit, tepatnya di depan kamar mayat. Dewi dan suaminya, sama sama duduk di bangku tunggu, menangis dan saling berpelukan, karna kehilangan anak semata wayang mereka. Jasat anak mereka belum bisa di bawa pulang, karna masih di butuhkan untuk penyelidikan lanjutan.
"Anak kita sudah gak ada Yah !" tangis Dewi, entah sudah berapa lama ia menangis, semenjak kabar kematian anak mereka.
"Sabar Ma !" balas Suaminya, mengusap usap punggung istrinya, meski ia sendiri juga masih meneteskan air mata.
"Aku pikir mereka adalah orang yang baik !, ternyata aku salah, mereka ternyata pendendam Yah !. Mereka dendam samaku Yah !" tangis Dewi lagi.
"Ayah rasa bukan mereka yang melakukannya Ma !. Kalau mereka menginginkan Ismail meninggal. Tidak mungkin mereka mau menanggung biaya operasi Ismail. Mereka pasti membiarkan anak kita mati perlahan karna kehabisan darah.Dan bisa saja Dokter Aldo menghabisi nyawa anak kita di meja operasi, dengan alasan, anak kita tak bisa di selamatkan" jelas suami Dewi itu.
"Jadi siapa yang membunuh anak kita Pah ?" tangis Dewi lagi.
"Ayah juga gak tau Bu !"
.
.
Di tempat lain
Seorang wanita yang tak muda lagi, tertawa terbahak bahak di dalam kamarnya, setalah mendapat kabar dari anak buahnya.
"Akhirnya aku punya kesempatan membalaskan dendamku Arya !. Mungkin kamu sudah lupa denganku, karna hidupmu terlalu bahagia dengan istrimu. Tapi aku tidak akan lupa, bagaimana dinginnya menghabiskan malam di balik jeruji besi" monolog wanita yang masih terlihat cantik itu, mengeraskan rahangnya, pandangannya lurus ke depan dari balkon kamar apartemennya, seolah ia bisa melihat kehancuran musuhnya dari jarak jauh.
"Untuk sementara kalian bersembunyilah ke hutan, lakukan peyamaran supaya tidak ada yang mengenal kalian" suruhnya kepada anak buahnya melalui sambungan telepon, dan langsung menutup sambungan teleponnya.
Wanita itu pun menghubungi seseorang, setelah tersambung, ia pun memberikan perintah kepada anak buahnya yang lain.
"Habisi orang orang bodoh itu !" perintahnya.
"Baik bos !" balas dari sebrang telephon.
Wanita itu langsung mematikan sambungan teleponnya, matanya menyipit, bibirnya pun ia tari ke samping, menyeringai licik.
Aku akan menghancurkan anak kalian, sehancur hancurnya?, seperti kalian menghancurkan hidupku. Batinnya.
wanita itu pun mengeluarkan rokok dari bungkusnya, setelah menyelipkannya di selah jari tengah dan telunjuknya, ia pun menyalakan mancis, membakar ujuk rokoknya, sambil mengisapnya dalam. Sedalam dendam nenek lampir yang kehilangan tongkatnya. Lalu menghembuskannya perlahan.
.
.
Hari pun sudah malam, dari tadi Queen masih terus menangis, terbaring di atas tempat tidur, sampai mata, bibir, dan hidungnya sudah bengkak.
"Queen ! susah sayang ! jangan menangis terus !" bujuk Mama Vani.
"Iya Queen !, kami juga ikut sedih tau !.. kasihan dedek bayinya !" sambung Sirin.
"Iya Queen !" timpal Diana, di angguki Kania. Dari tadi siang mereka tidak pulang dari rumah Queen dan Orion. Malam ini mereka juga berencana menginap di rumah Queen, untuk menghibur Queen.
"Queen mau bang Orion Ma !, Queen gak mau sampai harus terpisah dari bang Orion Ma !" ucap Queen dalam tangisnya.
"Iya sayang !, Orion pasti bebas sayang !" bujuk Mama Vani, tangannya mengusap usap kepala Queen dengan sayang." Kamu makan ya !"bujuk Mama vani, sudah waktunya makan malam, Queen tidak mau makan. Ia hanya menangis dan menangis di atas tempat tidur.
"Queen mau bang Orion Ma !"
"Queen !, ingat sayang ! kamu sedang hamil, kalau kamu seperti terus, akan berpengaruh dengan pada bayimu sayang !..Ayo duduk !, biar Mama suapin" bujuk Mama Vani lagi. Membantu Queen duduk bersandar di kepala tempat tidur.
"Bang Orion..!" tangis Queen.
Mama Vani pun mengambil piring yang berisi nasi beserta lauk pauk dari atas meja nakas.Menyendoknya lalu menyuapkannya ke mulut Queen.
"Ayo sayang buka mulutnya, kasian cucu Mama kelaparan" ucap Mama Vani, perlahan Queen pun membuka mulutnya, menerima suapan dari Mama Vani.
.
.
Arsenio, calixto, dan Ghaisan, sama sama menghentikan laju motor mereka, setelah berhasil menghadang mobil yang membawa tiga orang perawat yang di duga, orang yang bekerja sama melenyapkan Ismail. Ketiga orang perawat laki laki itu pun turun dari dalam mobil yang di sewa mereka, untuk mengantar mereka bersembunyi ke hutan. Menurut mereka ketiga remaja itu, bukan lawan berat mereka, pasti sangat mudah mereka kalahkan.
Begitu juga dengan Arsenio, Calixto dan Ghaisan, mereka turun dari motor masing masing, dan membuka helem masing masing. Dan langsung beralan mendekat tanpa rasa takut.
Jika Reyhan melakukan peretasan cctv rumah sakit. Tugas Arsenio, melakukan peretasan cctv jalanan. Papa Arya, meretas no telepon yang pernah menghubungi ketiga perawat itu. Pasti dari sana bisa di ketahui informasi, siapa di balik pembunuhan ismail, dan apa motif orang itu, dan mengapa membuat Orion terlibat. Menurut Papa Arya, perawat itu pasti ada yang menyuruhnya.
"Mau lari kemana kalian ?" tanya Arsenio.
Bukh !
"Aakh !"
Bukh ! Bukh ! Bukh ! bakh ! bukh ... !
"Ahk !"
"Akh !"
Jerit dua laki laki temannya lagi, karna mendapat pukulan dari Calixto dan Ghaisan adik Queen. Mereka tanpa aba aba langsung saja melayangkan tinju kepada ketiga perawat yang melarikan diri itu.
Bukh bakh bukh bakh bukh !
perkelahian pun terjadi, baku hantap saling tonjok dan saling menendang lawan. Sampai akhirnya ke tiga remaja itu dapat melumpuhkan ketiga laki laki dewasa yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit milik Dokter Aldo.
"Jangan kalian pikir kalian bisa lari" geram Arsenio.
Bukh !
"Cepat katakan ! siapa yang menyuruh kalian ?" Arsenio berbicara dengan mengeraskan rahangnya. Emosi Arsenio memuncak, sampai wajahnya bergetar. satu tangannya, menarik kuat kerah baju pria yang berkisaran 23Tahunan itu.
Bukh !!!
Lagi, Arsenio melayangkan tinju perut pria yang berprofesi sebagai perawat itu, yang ikut dalam bermain main menjebak abangnya.
"Cepat katakan !!!" gertak Arsenio.
Bukh !!!
"Akh !!!"
Meski tubuh Arsenio tidak terlalu besar, tapi ia memiliki tenaga yang kuat untuk memukul orang. Entah latihan dari siapa ?, sepertinya menurun dari Mama Bunga. Jika semua saudaranya memiliki jiwa lebih humoris, beda dengan Arsenio, sifatnya lebih dingin dan arogan, pantang di senggol orang lain.
"Bagaimana kalau kita jadikan dulu mereka bahan olah raga kita?. Sepertinya seru !, sebelum kita menyerahkannya kepada polisi !" ucap Calixto, menyeringai.
"Ide bagus !" balas Ghaisan adik Queen tersenyum menaik turunkan alisnya ke arah Calixto dan Arsenio bergantian.
Meski tadi sempat kewalahan, melawan lawannya, akhirnya Ghaisan mampu juga melumpuhkan lawannya, karna dengan sesekali di bantu Arsenio. Mungkin karna tubuhnya yang masih kecil, dan usianya masih terlalu muda untuk melawan orang yang jauh di atasnya. Untung saja dia pernah belajar pencak silat, meski tak sampai mendapat sabuk hitam.
Bukh bakh bukh bakh bukh !
"Aaaa..Aaa..Aaa..!!!!" teriak ketiga perawat laki laki yang mencoba melarikan diri ke arah hutan itu. Karna ketiga remaja itu sama sama melayangkan tinju yang bertubi tubi ke wajah mereka, dan sesekali ke perutnya.
Puas menjadikan ke tiga perawat laki laki itu menjadi objek, melatih kekuatan mereka. Kertiga remaja itu pun menghempaskannya ke jalan raya dengan kuat.
"Cepat kalian katakan !, siapa yang menyuruh kalian, kalau kalian masih ingin hidup!" ancam Arsenio, menginjakkan kakinya di perut lawan, dan perlahan menekannya. Matanya pun menyorot tajam kepada pria yang di duga melakukan pembunuhan kepada Ismail.
Suara sirene mobil polisi terdegar, pertanda polisi sudah datang menyusul mereka. Arsenio pun mengangkat kakinya dari atas perut penjahat itu, dan menarik supaya berdiri.
Mobil polisi itu pun berhenti tidak jauh dari mereka. Para polisi pun turun dari dalam. Yang ternyata ada Elang dan Ghissam di dalamnya.
"Tangkap mereka !" perintah polisi itu kepada anak buahnya.
"Siap komandan !"
Para anggota polisi itu, langsung melangkakan kaki mereka ke arah Arsenio, Calixto dan Ghaisan yang sama sama memegangi perawat sialan yang wajahnya tak berbentuk lagi, alias bonyok bonyok.
Tiga orang polisi itu, langsung memborgol ketiga penjahat itu, Menariknya masuk ke dalam mobil polisi.
"Kalau begitu kami permisi saudara Elang dan Dokter Ghissam" pamit polisi yang datang bersama mereka.
"Silahkan Pak Polisi !" balas Elang dan Ghissam bersamaan.
Prok prok prok !!!
Elang dan Ghissam sama sama bertepuk tangan, sambil tersenyum, mengagumi ketiga adik adik mereka yang masih remaja itu, karna sudah mampu mengalahkan pria yang lebih besar dari mereka.
"Elang ! sepertinya kita harus berlatih pada mereka !" ucap Ghissam.
"Sepertinya begitu !, kita hanya berani bermain di balik layar saja" balas Elang." Kemarilah adik adik !" seru Elang, merentangkan kedua tangannya, begitu juga dengan Ghissam. Supaya ke tiga remaja itu datang memeluk mereka.
Arsenio, Calixto dan Ghaisan, wajah mereka sama sama sumiringah. Kemudian sama sama berlari ke arah kedua abang mereka. Dan kelima kakak beradik yang berbeda darah itu pun saling berpelukan di bawah temaran pencahayaan bulan.
"Kalian sangat hebat !" puji Elang.
"Kalian yang melatih kami !" balas ketiga anak remaja itu.
"Ayo kita pulang !"ajak Dokter Ghissam, dan mereka pun melepas pelukan mereka.
"Huaaa....!!!" tangis Ghaisan tiba tiba. sontak ke empat abang abangnya itu penoleh kepadanya." Ketampananku berkurang karna kena tonjok !" ucapnya.
"Ya elah ! kirain apa !" cibir Arsenio.
"Sakit tau !" ucap Ghaisan, mengerucutkan bibirnya. Sepertinya sudah dapat di pastikan pipinya sudah membiru, karna sempat terkena bogeman lawannya tadi.
"Nanti abang obati, okeh !" ucap Ghissam." Mana kunci motormu ?" tanyanya, dan menengadahkan tangannya kepada Ghaisan.
Ghaisan merogoh saku celananya, mengeluarkan kunci motor bebek dari dalamnya, memberikannya kepada Dokter Ghissam.
"Ya elah Ghaisan ! duit Bapak lo banyak !, Ganti motor gede kek !" ejek Dokter Ghissam, mengambil kunci dari tangan Ghaisan.
"Itu motor kelihatannya aja bebek, tapi kecepatannya.. bwah !, kecepatan tiger" ujar Ghaisan.
Terbukti !, kecepatan motornya mampu mengimbangi motor Arsenio dan Calixto. Karna mesin motor itu sudah di modivikasi sedemikian rupa di bengkel milik Om David mereka.
"Nih kunci motorku ! bang Elang yang bawa motornya, tenagaku sudah terkuras habis!" Arsenio memberikan kunci motornya kepada Elang. Karna ia benar benar kelelahan, kehabisan tenaga dan emosi.
"Aku siapa yang nyupirin ?" tanya Calixto, dia juga sudah lelah, adu jotos denga orang yang jauh di atas usianya, di tambah lagi perutnya sudah lapar, karna belum makan malam.
"Minta tolong aja sama Om jin yang di hutan, sapa tau ada yang mau !" usul Elang.
"Kaburrrrrrrr...............!!!!!!!!!!!!"
Ketiga sepeda motor itu sama sama menancam gas, dari jalan yang berada di tengah tengah hutan itu.
.
.
Di kamar yang di tempati Papa Arya dan Mama Bunga. Papa Arya yang duduk bersandar di kepala ranjang. Sibuk memperhatikan layar laptop di pangkuannya, dan sesekali jari tangannya bermain main di atas keyboart laptopnya, dan satu tangannya lagi, sibuk mengusap usap kepala istrinya yang tidur di sampingnya.
Papa Arya sedikit menyunggingkan senyumnya, setelah menemukan apa yang ia cari. Tidak hal yang mudah baginya, jika hanya meretas no telepon saja.
... 'Ternyata kamu yang bermain main !, Sepertinya kamu menganggap sepele dengan keluargaku. Baiklah Zoya !, sepertinya kamu ingin di jebloskan lagi ke penjara. Jangan pikir, karna kamu berada di luar Negri, saya tidak bisa menemukanmu dan menangkapmu.' batin Papa Arya...
.
.
Di dalam sel tahanan
Dari tadi mulut Orion tidak berhenti mengunyah dan sesekali berlatih berjalan tanpa tongkat. Ia bosan, dan hanya itu yang bisa ia lakukan. Mungkin kalau boleh memegang HP di dalam penjara, mungkin ia bisa mengerjakan pekerjaannya, atau bermain game.
Aku rasa kecelakaan yang menimpaku juga adalah paktor di sengaja. Tapi siapa yang di balik itu semua. Aku merasa tidak punya musuh, apa lawan bisnisku ?. Batin Orion, kembali menggigit buah kedongdong di tangannya, dan mengunyahnya perlahan.
.
.