
Oek Oek Oek....!
Sirin terus memuntahkan isi perutnya ruang perawatan Arsenio. Sudah seminggu Sirin ikut di rawat di rumah sakit, di ruangan yang sama dengan Arsenio , karna mengalami mual dan muntah yang cukup parah. Karna Sirin juga tidak bisa makan sama sekali.
"Kok bisa separah ini ngidamnya ?" tanya Arsenio, sambil memijat mijat leher belakang Sirin.
Sirin tidak menjawab, karna ia sibuk mengekuarkan isi perutnya.
Arsen menghela napasnya, kasihan melihat Sirin yang kesakitan, terus mengeluarkan isi perutnya, sampai asam lambungnya ikut keluar.
"Maaf !" ucap Arsenio
Seandainya ia bisa mengendalikan dirinya saat itu, mungkin Sirin tidak menderita seperti sekarang ini.
Setelah Sirin tidak muntah lagi, Arsenio memberikan Sirin minum teh hangat. Setelah itu, membantu Sirin berbaring. Arsenio mengulurkan tangannya ke perut Sirin, lalu mengelus elusnya dari luar baju.
"Anak Papa ! kasihan Mama !, jangan nakal ya !" ucap Arsenio, berbicara kepada anak mereka yang masih di dalam perut.
"Kepalaku pusing Arsen !" keluh Sirin, dengan suara lemah. Arsenio yang duduk di pinggir brankarnya, langsung memijat keningnya dan mengolesnya dengan minyak kayu putih.
Kini Arsenio sudah mulai sembuh, ia sudah bisa turun dari atas brankar dan pergi ke kamar mandi, walau pun tubuhnya masih terlihat lemah dan sedikit kaku.
Ceklek !
Refleks Arsenio menoleh ke arah pintu karna ada yang membukanya.
"Tante Vani !" ucap Arsenio
Mama Vani melangkahkan kakinya masuk sembari tersenyum."Ini tante bawain makanan untuk kalian. Kamu Arsen, makankah ! biar tante yang mengurus Sirin" ucap Mama Vani, meletakkan kantong plastik yang di bawanya di atas meja nakas.
Seminggu ini Mama Vani dan tante Tari lah yang bergantian mengurus Sirin dan Arsenio di rumah sakit. Karna tidak ada yang mengurus mereka. Sirin yang ibunya di penjara, dan Mama Bunga yang juga mengalami ngidam sama seperti Sirin.
"Trimakasih tante Vani" balas Arsenio." Sirin ! aku sarapan dulu ya !." ucapnya sambil mengusap kepala Sirin lembut. Sirin menggangguk lemah.
Arsenio turun dari brankar Sirin, setelah mengambil satu kotak makanan, ia pun membawanya ke arah sofa, dan memakannya di sana.
"Kepalanya pusing ya ?"tanya Mama Vani, melihat kening Sirin yang mengerut dengan mata terpejam. Mama Vani pun langsung mengulurkan tangannya memjat mijat kening Sirin. Mama Vani menghela napasnya, kasihan melihat Sirin.
"Sirin pengen makan apa ? biar tante masakin" tanya Mama Vani lagi, sambil tangannya terus memijat kening Sirin.
Sirin menggeleng gelengkan kepalanya, mengetakan ia tidak ingin apa apa.
"Tapi kamu harus makan sayang !, bayi mu membutuhkan nutrisi yang banyak" bujuk Mama Vani.
"Tapi Sirin gak pengen makan apa apa tante" lirih Sirin.
"Makan sedikit aja ya !, tente bawain sayur bayam sama jagung muda untukmu" bujuk Mama Vani, sambil tangannya mengusap kepala Sirin.
Sirin menajamkan pandangannya ke arah Mama Vani, sambil berpikir, Apakah dia mau makan atau tidak.
"Ayo tante bantu duduk !" ucap Mama Vani lagi, membantu Sirin duduk bersandar di kepala brankar dengan menggunakan bantal.
Mama Vani mengambil kotak makan yang di bawanya dari rumah. Setelah membukanya, ia pun menyuapkan sayur bayan yang di rebus dengan jagung muda, ke mulut Sirin.
"Bagaimana ? Sirin suka ?" tanya Mama Vani melihat Sirin mau memakan makanan yang dia bawa.
Sirin menganggukkan kepalanya, sambil mengunyah makanan di mulutnya.
"Nih ! makan jagungnya, biar perutnya kenyang !"Mama Vani lagi meyuapkan potongan jagung ke mulut Sirin dengan menggunakan tangannya.
"Tante ! besok bawain Sirin jagung rebus sama sayur bayam lagi ya !, Sirin suka tante !" ucap Sirin setelah menelan jagung di mulutnya.
"Iya sayang !" Mama Vani mengulas senyumnya, karna Sirin mau memakan makanan yang dia bawa.
Arsen yang sudah selesai sarapan, berdiri dari sofa, berjalan mendekati Sirin di atas brankar.
"Tante Vani ! kenapa Sirin ngidamnya parah ya ?. Mama ngidam dari dulu gak sampai seperti ini ?. Dan aku lihat Queen juga baik baik aja, dan malah bang Orion yang mual muntah, itu pun gak parah" tanya Arsenio, mendudukkan tubuhnya di sisi brankar sebelahnya menghadap Sirin, tangannya mengelus elus perut Sirin.
"Tante juga gak tau, setiap orang memang beda beda bawaannya saat hamil" jawab Mama Vani.
"Kalau Sirin seperti ini trus, bisa gak sehat dong bayi kami" ucap Arsenio lagi.
"Makanya di bujuk biar mau makan. Di tanyain pengennya makan apa ?" balas Mama vani.
"Biar Arsen aja yang suapin Sirin tante !" pinta Arsenio, mengambil kotak makan yang berisi sayur itu dari tangan Mama Vani.
"Ya udah ! nih ! tante juga mau ada urusan sebentar. Nanti tante datang ke sini lagi."
"Trimakasih sudah bawain makanan ke sini untuk kami tante !" ucap Arsenio.
"Sama sama !, kalau begitu tante pergi dulu. Apa kalian mau nitip sesuatu ?" tanya Mama Vani. Mama Vani mengarahkan tatapannya ke arah Sirin." Sayang ! apa kamu ingin sesuatu ?, biar nati tante bawain" tanyanya lagi kepada Sirin.
"Gak ada tante !" jawab Sirin dengan suara lemahnya.
"Kalau begitu tantr pergi dulu, nanti kalau pengen sesuatu kabari tante saja ya !" Setelah mengusap kepala Sirin, Mama Vani pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
"Arsen ! bagaimana kalau aku seperti ini terus ?. Mana bisa aku ikut ujian." Sirin menatap Arsenio dengan tatapan meneduh.
"Makanya kamu harus makan lebih banyak lagi, biar ada tenaga !" jawab Arsenio dengan suara lembutnya. Arsen mendekatka wajahnya ke wajah Sirin, lalu mengecup kening Sirin lama.
"Jangan terlalu di pikirkan, sekolah itu milik kita. Nanti Papa pasti mengurusnya, jika memang kamu tidak kuat pergi ke sekolah" ucap Arsenio setelah melepas ciumannya.
Bukan masalah itu yang Sirin pikirkan. Sirin tidak ingin melewatkan moment detik detik terakhir ia menjadi seorang murid. Berjuang sampai garis finis bersama siwa siswi lainnya di dalam kelas. Moment dimana menentukan nilai yang akan membawanya ke masa depan. Sangat di sayangkan rasanya, jika Sirin melewatkan moment itu.
"Masih ada waktu dua minggu lagi. Berusahalah untuk sehat, setiap hari nanti aku akan menemanimu ke sekolah. Aku akan menunggumu di depan kelas" ujar Arsenio lagi tersenyum, satu tangannya mengusap usap kepala Sirin.
Sirin pun menganggukkan kepalanya, meski tak yakin ia akan sehat sampai hari ujian tiba.
.
.
"Bang Orion ! ini celanaku semua pinggangnya sudah gak muat" ucap Queen, sudah berapa celana yang ia coba, celananya sudah tidak ada yang bisa di kancing.
"Gak usah di pake lagi, lagian kalau Queen memakai celana sempit, bayi kita bisa kecepit" balas Orion, sibuk dengan laptop di depannya.
"Queen pakai apa dong ?"
Orion menghela napasnya, kemudian berdiri dari tempat duduknya, berjalan pelan ke arah lemari. Orion membuka lemari pakaian Queen yang terlihat sudah ajak ajakan. Orion mencari baju untuk di kenakan istri manjanya itu.
"Pakai ini aja !" Orion mengambil salah satu baju yang di gantung di dalam lemari.
Orion langsung saja membuang baju itu kelantai. Kemudian mengambil baju yang lain, lagi Queen bilang gak mau dan gak suka. Begitu seterusnya.
"Yang ini !" Orion mengeluarkan baju entah yang sudah ke berapa dari dalam kemari, menunjukkannya kepada Queen.
"Gak mau !" tolak Queen.
"Ya sudah ! Queen gak usah pakai baju !" Orion lelah di kerjai istri liciknya itu. Bukan Orion tidak tau, maksud Queen yang ingin mengajak berbelanjan, sehingga beralasan dengan tidak menyukai baju bajunya di dalam lemari. Tapi sekarang Orion lagi krisis ke uangan. Uangnya habis untuk dana pembangunan kampus miliknya. Belum lagi Orion harus memikirkan biaya hidup mereka, bayar air, listrik dan tagihan lainnya.
"Ya sudah ! Queen begini aja perginya ke rumah sakit" Queen berdiri dari sofa tempatnya duduknya yang hanya memakai gaun tidur berukuran kecil.
"Kalau Queen gak malu..ya udah !" balas Orion.
"Bang Orion !" rengek Queen manja.
"Itu banyak baju Queen !, cepat pakai bajunya !" suruh Orion. Mendudukkan tubuhnya kembali ke sofa.
"bajunya sudah lama semua !, gak ada yang bagus lagi."
"Yakin baju baju itu sudah gak mau lagi ?. Biar abang kasih sama orang" tanya Orion santai, tapi terdengar seperti ncaman di telinga Queen.
"Queen pengen belanja beli baju !" berbicara dengan bibir cemberut.
"Abang gak punya uang sekarang" balas Orion.
"Bang Orion pasti bohong" Queen tidak percaya, jika suaminya itu tidak punya uang. Suaminya itu baru beberapa bulan tidak bekerja, masa duitnya langsung habis.
"Abang gak bohong Queen !, sini sayang ! dekat abang" suruh Orion.
Seperti di tarik, Queen pun berjalan mendekati Orion. Orion menarik Queen supaya duduk di pangkuannya. Tanpa aba aba, Orion langsung menyambar bibir Queen, menciumnya dengan dalam dan lama, sampai Queen meronta ronta karna kehabisan napas, baru Orion melepas ciumannya.
Orion tersenyum melihat Queen yang bernapas ngosngosan." Nanti ya ! setelah abang punya uang, kita berbelanja. Sekarang duit abang lagi menipis, karna terus mengeluarkan dana pembangunan kampus" ucap Orion, sambil melap bibir Queen yang basah karna ulahnya.
"Tapi Queen ! pengen beli baju baru" ucap Queen dengan mata berkaca kaca, dan bibirnya sudah menekuk ke bawah.
"Satu aja boleh ?, tapi jangan yang mahal ya !" tawar Orion, berbicara lembut, tidak tega melihat wajah Queen yang bersedih.
"Gak mau !"
Orion menghela napasnya, Queen mau beli berapa ?."
"lima"
"Ya udah ! tapi kita ke rumah sakit dulu, periksa dede bayinya, sekalian menjenguk Arsen dan Sirin" pasrah Orion. Queen selalu saja berhasil meluluhkan hatinya dengan air mata buaya darat betinanya. "Ayo sekarang Queen pakai baju yang lama dulu" suruhnya.
Langsung saja wajah Queen berbinar cerah, secerah matahari pagi."Pakein !" manja Queen memeluk Orion, menyandarkan kepalanya di dada bidang Orion.
Orion mengecup ujung kepala Queen, kemudian memindahkan Queen dari atas pangkuannya. Orion berdiri dari sofa, berjalan perlahan ke tumpukan baju yang berserak di lantai. Mengambil satu dress yang agak panjang berwarna hitam, membawanya kembalu ke sofa.
Orion membuka baju rumahan Queen, lalu memakaikan baju yang ia bawa ke tubuh Queen.
"Ayo sayang ! kita berangkat, biar kita sempat belanja bajunya." Orion menarik Queen supaya berdiri dari sofa.
"Rambut Queen belum di sisir !" manja Queen lagi, kembali memeluk Orion.
"Manja sekali sih istri abang yang jelek ini !" gemas Orion, menjatuhkan satu kecupan di kening Queen.
"Dedenya yang manja !" ucap Queen.
"Istri abang ini nggak ? Hm..!" Orion merapikan rambut Queen dengan jarinya, lalu mengikatnya rapi ke belakang.
Queen menggelengkan kepalanya dengan wajah berbinar bahagia.
"Sepertinya istri abang ini minta di makan" gemas Orion, menarik hidung mancung Queen.
"Gendong..!" manja Queen lagi
Plakk !!
"Ayo cepat jalan !" suruh Orion, sambil menampar pantat Queen.
Sontak saja Queen mengerucutkan bibirnya, baru juga sayang sayangan. Malah tiba tiba pantatnya di pukul.
"Emang Queen kerbau ! di pukul pantatnya baru jalan !" sungut Queen. Queen melangkahkan kakinya keluar kamar tanpa menunggu Orion.
Orion tersenyum saja mengikuti langkah Queen dari belakang. Habis istri cantiknya itu, bikin gemas aja, seperti ingin di makan sampai habis ke tulang tulang. Burung hantu Orion 'kan jadi meronta ronta ingin masuk sangkar, melihat ke manjaan istri kecilnya itu.
.
.
Sampai di rumah sakit
Setelah selesai periksa, Queen dan Orion pun menjenguk Arsen dan Sirin ke kamar rawat inapnya. Queen membuka pintu perawatan Arsen dan Sirin setelah mengetuknya terlebih dahulu.
"Assalamu alaikum !" seru Queen, sembari melangkahkan kakinya masuk, di ikuti Orion dari belakang.
"Walaikum salam !" balas semua orang yang ada di dalam.
"Mama Bunga ! Papa Arya !" sapa Queen, melihat kedua mertuanya duduk di sofa ruang perawatan itu. Queen melangkahkan kakinya ke arah sofa, kemudian menyalam kedua mertuanya. Begitu juja dengan Orion, menyapa dan menyalam kedua orang tuanya.
"Orion ! kamu sudah gak pakai tongkat lagi sayang !" ucap Mama Bunga, melihat Orion sudah bisa berjalan tanpa tongkat, meski berjalan lambat.
"Iya Ma !" ucap Orion, mendudukkan tubuhnya di samping ratu sejagat. Menyandarkan kepalanya di bahu ratu sejagat, lalu tangannya mengelus perut Mamanya.
"Kira kira adik Orion yang ini, cewek apa cowok ya Ma ?" tanya Orion.
"Mudah mudahan cewek sayang !" jawab Mama bunga, yang sudah lama mendambakan anak cewek.
"Nanti kalau cewek, jelek kaya Mama gimana dong ?" goda Orion, kepada Mamanya.
"Nggak lah ! Papa kalian 'kan ganteng" balas Mama Bunga. Yang sadar diri dari dulu manjadi orang jelek.
"Kalau anak Orion sama Queen lahir cewek, di jamin seratus persen cantik Ma !. Kalau lahir cowok juga,seratus persen di jamin ganteng" ucap Orion lagi. Mumpung gak ada Reyhan, gantian bisa bermanja manja sama ratu sejagat pikir Orion.
"Gantengnya juga nurun dari Papa !, apa yang kamu banggakan ?" bangga Papa Arya, ikut narsis.
.
.