
"Queen ! Abang mengaku salah !, tapi bukankah kita sudah membahas ini sebelumnya ?. Kenapa kamu masih marah Queen ?" tanya Orion, memandang Queen dengan berurai air mata.
"Aku kasihan dengan anak yang berada di dalam perutku ini. Dia pikir dia adalah anak pertama dari bang Orion, nyatanya tidak. Dia bukan buah cinta pertama dari Ayahnya. Nyatanya dia bukan cucu pertama dari keluarga Alfarizqi" jawab Queen, menatap iba perutnya sendiri.
"Kamu tau Queen !, posisi Boy lebih menyakitkan lagi. Dia adalah darah dagingku, tapi secara darah keturunan, dia bukan darah keturunanku !. Karna nasabnya mengikut ibunya. Bagaimana bisa kamu mengatakan, anak yang di dalam kandunganmu itu, bukan anak pertamaku ?. Dia adalah cucu pertama Papa dan Mama, bukan Boy" jelas Orion.
Orion menarik pelan tubuh Queen ke dalam pelukannya, mengecup ujung kepala Queen dengan sayang.Orion pun mengelus perut Queen." Anak kita ini, kita buat dengan cinta, sedangkan Boy..tidak !. Anak kita ini karunia dari pernikahan kita, sedangkan Boy.. tidak. Anak kita ini adalah nasabku, garis keturunan Papa, Papanya Papa, Kakeknya Papa, uyutnya Papa, sedangkan Boy..tidak termasuk. Boy hanya keturunanku secara biologis, ilmu kedokteran saja. Lantas Apa yang membuatmu berpikir anak yang di dalam perutmu ini bukan cucu pertama Papa dan Mama, dan bukan buah cintaku yang pertama ?."
"Abang mengerti dengan posisimu sayang!, abang paham dengan perasaanmu. Abang minta maaf Queen !, abang minta maaf karna sudah membuatmu terluka. Abang sangat mencintaimu Queen !."
Queen diam saja, dan menangis terisak di dalam pelukan Orion. Meski berkali kali mencoba berlapang dada, namun tak mudah menerima kenyataan yang menyakitkan hati.
Ceklek !
"Om !" seru Diana tiba tiba masuk ke dalam ruangan Dokter Aldo.
Dokter Aldo mengulas senyumnya ke arah Diana, yang datang dengan menenteng plastik jajanan di tangannya, wajahnya nampak cerah.
"Queen ! Bang Orion !" Diana bingung melihat sepasang suami istri itu sama sama menangis berpelukan.
"Sini sayang ! duduk di samping Om !" Dokter Aldo menepuk sofa di sampingnya. Diana pun melangkahkan kakinya ke arah Dokter Aldo, mendudukkan tubuhnya di samping Dokter Aldo.
"Kenapa lama sekali ?, kamu beli jajanan kemana sayang ? Hm..!" tanya Dokter Aldo, mengecup pelipis Diana.
"Diana duduk duduk di sekitaran taman rumah sakit Om !" jawab Diana." Queen dan bang Orion kenapa Om ?, kenapa mereka menangis ?" tanya balik Diana.
"Biasa sayang ! masalah rumah tangga" jawab Dokter Aldo. Menarik tubuh Diana supaya menempel ke tubuhnya.
Aku pikir selama ini hidup Queen baik baik saja !, nyatanya tidak !, batin Diana. Merperhatikan Queen dan Orion yang masih menangis berpelukan.
"Queen !" panggil Diana,berdiri dari tempat duduknya berjalan mendekati Queen dan Orion. Diana mendudukkan tubuhnya di samping Queen, kemudian mengusap punggung Queen dari belakang.
"Queen..! ayo minum dulu !" ucap Diana lembut, mengambil botol air mineral yang tersedia di atas meja,dan membuka tutupnya.
Orion mengambil air minum itu dari tangan Diana, kemudian meminumkannya kepada Queen.
"Minum dulu sayang !" ucap Orion, menempelkan ujung botol itu ke bibir Queen. Queen pun meminumnya, karna ia butuh air dingin untuk mendinginkan hatinya.
Diana yang bisa menebak kenapa sepasang suami istri itu menangis, pun hanya diam saja. Dan kembali duduk ke samping Dokter Aldo, karna Dokter Aldo menyuruhnya. Apa yang bisa ia katakan kepada Queen, sedangkan ia sendiri berat menerima takdir hidupnya.
Orion menghapus air mata Queen dari pipinya, kemudian mengecup kening Queen dengan penuh rasa kasih sayang.
"Abang sangat menyayangimu Queen ! sangat menyayangimu. Tidak pernah terlintas di hati abang sedikitpun untuk menyakitimu sayang !" Orion mengeratkan pelukannya ke tubuh Queen.
Queen hanya diam saja, sesekali terdengar cigukan dari mulutnya. Queen juga tidak tau, kenapa tiba tiba ia marah, bukankah dia sudah mengatakan menerima Boy, baik itu Boy anak kandung Orion atau bukan. Tapi tetap saja, kenyataan membuat hati Queen bergejolak. Menerima kenyataan yang sebenarnya, kalau Boy anak kandung Orion, suami yang sangat di cintainya.
"Iya !, hati hati ! kalian bicarakanlah baik baik, jangan bertengkar lagi "balas Dokter Aldo, krpada kedua anak sahabat sahabatnya itu.
Sepeninggal Queen dan Orion, Dokter Aldo berdiri dari sofa, dan langsung mengangkat tubuh Diana ala bridal style.
"Om !" pekik Diana kaget.
Dokter Aldo tertawa cekikikan, kemudian mengecup kening Diana dengan tersenyum." Ayo kita istirahat sebentar sebelum makan siang" ucapnya. Membawa Diana masuk ke dalam ruangan istirahatnya yang berada di ruangan itu.
Dokter Aldo meletakkan tubuh Diana dengan sangat pelan di atas ranjang single. Setelah membuka sepatunya, Dokter Aldo ikut naik, dan membaringkannya di samping Diana.
"Ini masih jam kerja, Om sudah istirahat duluan !"komentar Diana.
"Sebenarnya hari ini Om libur, nanti malam baru jadwal kerja Om. Tapi karna ada pekerjaan yang harus Om selesaikan, jadi Om tidak bisa meliburkan diri" jelas Dokter Aldo.
Dokter Aldo, memeluk tubuh Diana, dan memindahkan kepalanya ke atas lengannya. Kemudian memijat mijat punggung Diana dari belakang, supaya Diana cepat tertidur.
.
.
Orion memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya dan Queen. Queen yang duduk di sampingnya, langsung turun begitu saja, dan menghiraukan dirinya. Dari tadi sepanjang perjalanan dari rumah sakit sampai ke rumah. Queen hanya diam saja, dan tidak mau di ajak berbicara. Melihat itu, Orion hanya bisa menghela napasnya. Orion pun turun dari dalam mobil menyusul Queen masuk ke dalam rumah.
Sampai di dalam kamar mereka, Orion melihat Queen menyusun baju bajunya ke dalam koper. Orion berjalan mendekati Queen, menghentikan kegiatan Queen yang memasukkan baju bajunya ke dalam koper.
"Kalau kamu memang tidak bisa menerima abang dan Boy. Biar abang dan Boy yang angkat kaki dari rumah ini Queen. Rumah ini milikmu, abang sengaja membelinya atas namamu. Hadiah pernikahan kita untukmu" ucap Orion.
"Queen tidak membutuhkaannya, untuk apa hadiah pernikahan berupa istana, jika di dalamnya hanya ada penderitaan ?" balas Queen.
"Terserahmu saja Queen !" pasrah Orion. Ia sudah tidak tau bagaimana membujuk Queen lagi. Orion pun memutuskan meninggalkan kamar itu, masuk ke dalam ruang kerjanya.
Seperti mimpinya, akhirnya menjadi kenyataan, Queen tidak menerimanya lagi. Orion mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya, menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, kemudian memejamkan matanya. Apa yang bisa Orion lakukan ?, jika Queen tak dapat menerima masa lalunya.
Queen sudah lelah bang Orion !, Queen sudah mencoba menerimanya, tapi Queen tidak kuat. Queen tak berdaya, maafkan Queen bang Orion. Queen mengalah dari takdir ini, ini sungguh menyesakkan dada. Batin Queen, melangkahkan kakinya keluar dari istana cinta yang sengaja di bangun Orion untuknya.
Queen masuk ke dalam taxi yang di pesannya lewat online. Dan menyuruh supir taxi itu mengantarnya ke alamat rumah orang tuanya.
Kamu benar pergi Queen ?, kamu benar benar meninggalkan abang Queen ?. Batin Orion melihat kepergian Queen dari balkon kamar mereka, tak terasa air mata mengalir begitu saja dari sudut matanya.
Abang pikir kamu benar benar tulus mencintai abang Queen ?. batin Orion lagi
.
.