
Dokter Aldo kembali menggendong Diana keluar dari rumah masuk ke dalam garasi. Setelah memasukkan istrinya yang tak berperasaan itu ke dalam mobil. Dokter Aldo mengambil kotak makanan yang sudah di masukkan ke dalam plastik dari tangan pembantu rumah itu, yang mengikuti mereka ke garasi.
Dokter Aldo memberikan kantong plastik itu kepada Diana. Dokter Aldo menutup pintu di samping Diana, lalu berjalan memutari bagian depan mobilnya ke pintu sebelahnya. Dokter Aldo memuka pintunya, dan langsung masuk duduk di kursi kemudi. Setelah menutup pintu di sampingnya, Dokter Aldo pun memgeluarkan mobilnya dari dalam garasi. Seperti ke inginan ratu cabe cabean, mereka akan piknik di taman kota malam ini.
"Satenya pengen beli yang dimana sayang ?" tanya Dokter Aldo, sambil mengendalikan setirnya keluar dari pekarangan rumah.
"Yang di depan restorannya abangnya kak Yumna !" jawab Diana.
"Baiklah !" pasrah Dokter Aldo menghela napasnya, karna restoran itu jalannya berlawan arah dengan jalan ke taman kota. Dan perjalanan ke arah restoran juga memakan waktu setengah jam dari rumah mereka, setengah jam ke taman kota. Jadi nanti total waktu mereka nanti di perjalana, memakan waktu satu jam setengah.
Sampai di depan restoran padang saudaranya Yumna bernama Nazib. Dokter Aldo menghentikan laju kenderaannya, memarkirkannya di tempat parkiran yang tersedia. Dokter Aldo membuka pintu di sampingnya, dan langsung turun. Sedangkan Diana, ia hanya menunggu di dalam mobil.
Setelah sate dua puluh tusuk di dapat. Dokter Aldo kembali ke mobil. Dokter Aldo membuka pintu mobilnya dan langsung masuk, duduk di kursi kemudi.
Ya Tuhan !, batin Dokter Aldo melihat Diana sudah tertidur pulas. Harus diapakan istri kecilnya itu ?, kenapa menyebalkan sekali.
Dokter Aldo pun meletakkan satenya di atas dasboart, kemudian melajukan mobilnya meninggalka tempat itu dengan rasa dongkol. Istrinya itu benar benar sudah mengerjainya habis habisan.
Sampai di depan rumah mereka, Dokter Aldo membelokkan kenderaannya memasuki gerbang rumah mereka.
"By !" rengek Diana tiba tiba.
Dokter Aldo langsung menghentikan laju kederaannya, dan menoleh ke arah Diana." kita pulang aja ya !, besok aja kita pikniknya !" ucapnya.
"Sekarang !" rengek Diana dengan mata terpejam.
"Tapi kamu sudah ngantuk sayang !. Besok aja ya !" bujuk Dokter Aldo lagi.
"Sekarang !" kekeh Diana.
"Ya udah !" pasrah Dokter Aldo, kembali mengeluarkan kederaannya keluar dari gerbang rumah mereka.
"Tapi bangun dong !, Hubbymu gak ada teman ngombrol" ucap Dokter Aldo, melajukan kenderaannya ke jalan raya.
"Diana ngantuk By !, Diana tidur dulu sebelum sampai" gumam Diana.
Dokter Aldo hanya bisa menghela napas pasrah.
Sampai di taman, Dokter Aldo kembali memarkirkan kederaannya. Kemudian membangunkan Diana yang duduk di sampingnya.
"Sayang ! bangun ! kita sudah sampai di taman !."Dokter Aldo mengelus pipi Diana dengan jempol tangannya.
"Sudah sampe ya By !" Diana menggeliatkan tubuhnya sambil menguap lebar.
"Sudah sayang ! ayo turun !" ajak Dokter Aldo, Diana menganggukkan kepalanya, kemudian membuka pintu di sampingnya dan langsung turun. Di ikuti Dokter Aldo dari pintu sebelahnya .
Dokter Aldo pun mengambil tikar dari dalam bagasi mobil, kemudian melebarkannya di atas rumput di dekat mobil mereka. Dan Diana langsung mendudukkan tubuhnya di atas tikar, dengan wajah nampak ceria. Dokter Aldo tersemyum, satu tangannya terangkat mengacak acak ujung kepala Diana.
Dokter Aldo kembali membuka pintu mobilnya, mengambil makanan dan minuman yang mereka bawa tadi. Lalu meletakkanya di atas tikar. Dokter Aldo pun mendudukkan tubuhnya di samping Diana.
Cup !
Dokter Aldo menjatuhkan satu kecupan di pipi Diana. Melihat wajah ceria Diana, rasa lelah Dokter Aldo serasa terobati.
Diana yang sudah membuka semua bungkus makanannya pun, langsung melahapnya.
"Apa hubbymu gak di bagi ?" tanya Dokter Aldo, melihat Diana makan dengan lahap dan melupakan keberadaannya.
"Masakan By sangat enak !" ucap Diana, kemudian menyuapkan miehun goreng dengan kerupuk dan di beri kuah sate ke mulut Dokter Aldo. yang langsung di terima Dokter Aldo.
"Enak 'kan By ?" tanya Diana, menyuapkan lagi makanan ke mulutnya.
"Enak sayang !" jawab Dokter Aldo tersenyum, karna memang rasa masakannya enak.
Lagi, Diana pun menyuapkannya ke mulut Dokter Aldo. Kemudian bergantian ke mulutnya. Begitu sampai makanan mereka semua habis.
"Kenyang banget By ! uuukh !" Diana sampai bersendawa sangking kenyangnya. Diana pun mengusap usap perutnya yang masih rata.
"Iya sayang ! kamu hanya memberi hubbymu ini sedikit makanannya" ucap Dokter Aldo, membereskan kotak kotak makanan mereka memasukkannya ke dalam plastik.
"Hehehehe...!"cengir Diana, menampakkan gigi giginya yang berjejer rapi.
"Ayo pulang !, tamannya sudah sunyi, hanya kita saja yang tinggal di sini !" ajak Dokter Aldo, berdiri dari tempat duduknya.
"By by by ! tiba tiba aku mual By ! oek !" Diana langsung memuntahkan makanan yang baru di makannya ke atas rumput.
Dokter Aldo menghela napasnya, kemudian menurunkan tubunya, berjongkok. Dokter Aldo pun memijat mijat leher belakang Diana, yang masih sibuk mengeluarkan isi perutnya. Baru Dokter Aldo senang melihat Diana bisa makan banyak, sudah langsung di muntahkan.
"Sakit By !" ucap Diana, merasakan kerongkongannya sampai perih.
"Iya sayang !" Dokter Aldo pun membasuh mulut Diana yang sudah selesai muntah, kemudian memberi Diana minum air putih." Tunggu sebentar !" ucap Dokter Aldo lagi, berdiri lalu membuka pintu mobilnya.
Kemudian langsung menggendong tubuh Diana yang sudah lemah, memasukkannya ke dalam mobil duduk di kursi penumpang depan.
Setelah membereskan barang barang mereka, memasukkannya ke dalam bagasi. Baru Dokter Aldo menyusul masuk ke dalam mobil.
"Sabar ya !" ucap Dokter Aldo, menarik Diana supaya bersandar di dadanya, dan mengecup ujung kepala Diana dengan rasa sayang. Kemudian Dokter Aldo pun melajukan kenderaannya menuju jalan pulang, dengan kecepatan sedang.
"Apa Diana ngidam seperti ini lama By ?" tanya Diana.
"Gak sayang !, biasanya kalau kandungannya sudah tiga bulan, rasa mual muntahnya sudah mulai berkurang" jawab Dokter Aldo.
"Berarti masih lama dong !, kandunga Diana aja, baru enam minggu" ucap Diana.
"Sabar ya !" hanya itu kata yang bisa Dokter Aldo katakan.
Sampai di dalam kamar Dokter Aldo meletakkan Diana dengan sangat hati hati di atas tempat tidur.
"By ! peluk !" gumam Diana dengan mata terpejam, mengulurkan kedua tangannya ke arah Dokter Aldo.
"Sebentar sayang !, aku ganti baju dulu" ucap Dokter Aldo, membuka kancing baju ke mejanya satu persatu.
"By !" rengek Diana lagi.
"Iya sayang ! sebentar !" balas Dokter Aldo, menyimpan baju kotornya ke keranjang cucian. Kemudian naik ke atas tempat tidur, berbaring di samping Diana, menarik Diana ke dalam pelukannya. Dokter Aldo pun mengusap usap kepala Diana sampai ketiduran lagi, barulah Dokter Aldo membersihkan dirinya ke kamar mandi.
.
.
"Aaryan ! apa tadi maksudmu menyuruh Elang dan Naysila untuk tinggal di rumah ini ?" tanya Mama Bunga, memindahkan Sabina kecil yang sudah tidur ke dalam box bayi.
"Biar kita lebih mudah mengawasinya sayang !" jawab Papa Arya yang sudah membaringkan tubuh di atas kasur.
"Kenapa gak langsung di tunjukkan aja vidio itu kepadanya dan Elang ?. Dan suruh anak itu menjelaskan maksud semuanya" tanya Mama Bunga lagi, membaringkan tubuhnya di sebelah Papa Arya.
Dan Papa Arya langsung meraih pinggangnya, membawanya ke pelukannya.
"Berapa lama lagi burung gagakmu ini harus berpuasa sayang ?, itu yang lebih penting saat ini" tanya balik Papa Arya, mencium cium pipi dan telinga ratu sejagat dari samping.
"Hitung aja usia Sabina berapa !" jawab Mama Bunga.
"Tapi aku sudah gak tahan sayang !, bantuin ya !" pinta Papa Arya.
"Bantuin apa ?"
"Kita tidur bersama sudah puluhan Tahun sayang !. Masih saja kamu pura pura polos" gemas Papa Arya, menarik hidung ratu sejagat.
"Kamu ngomongnya gak jelas mau di bantuin apa, jadi mana kutau !."
"Si burung gagak mau muntahin laharnya !" jawab Papa Arya. Menarik tangan ratu sejagat membawanya ke angka satu miliknya.
"Dari dulu kamu itu gak ada berobahnya, sudah punya cucu masih saja genitnya gak berkurang. Dan malah semakin tua kamu itu semakin genit" ucap Mama Bunga. Jangan lupakan tangannya dimana dan ngapain.
"Genit sama istri itu pahala sayang !" balas Papa Arya, menciumi ratu sejagat.
"Apa kamu mengenal sisiwi yang bernama Andreena ?" tanya Mama Bunga, mengingat siswi yang datang berkunjung ke rumah mereka.
"Mana mungkin aku mengingat semua siswi yang berjumlah ribuan orang di sekolah sayang !" jawab Papa Arya, lalu mendesis.
"Siswi itu tadi siang datang ke rumah menjenguk Arsen. gadis itu mengaku pacarnya Arsen !" ucap Mama Bunga lagi.
"Aku yakin anak anak kita tidak selingkuh sayang !. Mereka tipe laki laki setia seperti Papanya" balas Papa Arya tersenyum.
"Aku juga percaya itu !" Mama Bunga mencium bibir Papa Arya dengan mesra. Mama Bunga pun mendalami perannya sebagai istri di atas ranjang itu.
.
.
Di rumah Orion dan Queen
Queen yang baru menidurkan Baby Syauqi, turun dari atas tempat tidur, karna dari tadi Orion belum masuk ke kamar mereka. Queen melangkahkan kakinya keluar dari kamar, berjalan ke arah pintu ruang kerja Orion.
Buar buar buar !
"Bang Orion di dalam !!?" seru Queen.
Orion yang berada di dalam pun berdecak kesar. Karna kaget mendengar Queen mengedor gedor pintunya. Selalu seperti itu, Queen tidak bisa mengetok pintu dengan baik.
"Masuk sayang ! gak di kunci !" seru Orion.
Queen yang berdiri di depan pintu pun, langsung memutar knop pintu dan mendorongnya sampai terbuka.
"Bang Orion ngerjain apa ?" Queen menutup kembali pintunya, kemudian melangkahkan kakinya ke arah Orion yang duduk di kursi kerjanya. Dan langsung mendudukkan tubuhnya di pangakuan Orion.
Cup !
Satu kecupan langsung Orion daratkan di pipinya.
"Abang ingin membuka perusahaan, ini abang lagi mempelajarinya" jawab Orion." Nanti kamu yang akan mengelola kampus" ucap Orion lagi.
"Rasanya aku malas !, jangankan mengelola kampus, untuk melanjutkan kuliahku saja aku sudah tak berniat. Aku ingin di rumah saja sama Syauqi. Jika aku nanti sibuk, aku takut anak anak kita kekurangan perhatian dan kasih sayang" jawab Queen.
Orion sontak saja menajamkan pandangannya ke wajah Queen. Tidak menyangka pemikiran Queen sedewasa itu. Queen lebih mentingin anak dari pada karir, padahal usia Queen masih sangat muda. Seusia itu pasti Queen masih ingin bebas, pikir Orion. Makanya Orion tak ingin membatasi Queen. Orion selalu mendukung cita cita Queen, tidak melarang Queen untuk berkarya.
"Terserah kamu aja sayang !, tapi abang sarankan tetaplah melanjutkan pendidikanmu. Nikmatilah masa mudamu, abang tidak ingin kamu nanti melewati masa masa itu. Soal Syauqi, kamu nanti bisa bawa pengasuh ke kampus. Abang juga sudah menyiapkan ruangan khusus untuk Syauqi di sana. Pas jam istirahat kamu bisa menemuinya" ucap Orion, merapikan anak anak rambut Queen yang berantakan di wajahnya.
"Pikranku sudah habis di penuhi Syauqi, aku tak ingin meninggalkan dia walau hanya sebentar. Pasti aku kangen dan tidak pokus belajara." Queen menyandarkan kepalanya ke dada bidang Orion, memain mainkan jari telunjuknya.
Orion mengulas senyumnya, satu tangannya terangkat mengusap kepala Queen.
"Abang tidak akan memaksamu sayang !, kamu pasti tau mana yang terbaik untuk dirimu. Kamu bebas melakukan apa saja, yang penting itu baik untukmu, baik untuk rumah tangga kita" ucap Orion lembut.
"Aku lebih memikirkan kebaikan anak anak kita. Buat apa aku nantinya sukses, tapi anak anak kita kurang kasih sayang, dan tidak bahagia. Sekarang hanya kamu dan anak anak kita yang menjadi tujuan hidupku."
.
.