Brother, I Love You

Brother, I Love You
183. Madina



Kini Reyhan dan Yumna sudah sampai di bandara. Dan pesawat yang akan Yumna naiki untuk pulang ke kota B akan segera berangkat.


"Habib ! Yumna pergi dulu !" pamit Yumna menyalam tangan Reyhan dan menempelkannya ke keningnya.


"Iya sayang !, nanti aku akan menjemputmu kesana. Maafin Habib ya gak bisa ikut ngantar" ucap Reyhan, mengusap ujung kepala Yumna.


"Gak apa apa Habib!" balas Yumna." kan ada bang Najib yang menemani Yumna" ucapnya lagi.


"Abang iparku yang tampan yang tidak laku laku !. Trimakasih sudah mau mengantar istriku !." Reyhan mengarahkan pandangan ke arah Najib yang berdiri di sampingnya.


"Cih ! dasar kau suami tidak bertanggung jawab !" dengus Nazib, mengembangkan lobang hidungnya, lalu pergi masuk ke dalam bandara.


"Terserah kau saja !" balas Reyhan.


"Sampaikan salamku sama Papa dan Mama mertua, abang abang dan adik adik di sana !" ucap Reyhan kepada Yumna, kemudian mengecup kilas ujung kepala Yumna.


"Akan Yumna sampaikan !" balas Yumna mengulas senyumnya di balik nikapnya.


"Sana ! abang Najibmu sudah menunggumu !" suruh Reyhan.


"Kalau begitu Yumna pergi dulu Habib !, Habib juga hati hati nanti di jalan" balas Yumna.


"Iya sayang !"


"Yuyu ! jadi pulang gak ?" seru Najib kesal, menunggu Yumna di depan pintu keberangkatan penumpang." Sudah punya suami juga, masih saja menyusahkan !" gerutu Najib.


"Jadi bang !" ujar Yumna," Assalamu alaikum Habib !." Yumna langsung berlari ke arah Najib.


"Walaikum salam !" balas Reyhan, namun Yumna tak mendengarnya lagi.


Setelah Yumna menghilang dari pandangannya, Reyhan pun meninggalkan tempatnya berdiri, kembali ke mobilnya, dan langsung melajukannya ke kantor perusahaannya yang baru di rintisnya.


.


.


Orion menghela napasnya, karna Queen tak kunjung mengangkat teleponnya dari semalam. Orion menutup laptopnya, dan langsung berdiri dari kursinya, melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kerjanya di kampus, ke arah parkiran khusus mobilnya. Orion ingin menyusul istrinya yang sedang merajuk di rumah orang tuanya.


Sampai di parkiran, Orion langgsung masuk ke dalam mobilnya, dan langsung melajukannya keluar dari pekarangan kampus menuju kediaman orang tuanya.


Sampai di kediaman orang tuanya, Orion memarkirkan mobilnya. Tapi ia sudah tidak melihat mobil Queen terparkir di halamannya.


"Kemana dia ?" gumam Orion


Orion pun membuka pintu di sampingnya dan langsung turun, melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah ke arah kamar orang tuanya.


"Ma !" panggil Orion sambil tangannya mengetuk pintu.


"Sebentar !" sahut dari dalam.


Tak lama kemudian, pintu di depannya itu pun terbuka.


"Orion !" ucap Mama Bunga," ada apa ?" tanyanya.


"Queen datang ke sini 'kan Ma ?. Dimana mereka ?, kenapa mobilnya tidak ada ?" cerca Orion.


"Barusan pergi !, katanya pulang !" jawab Mama Bunga, megerutkan keningnya. Kenapa anaknya itu tidak tau istrinya kemana.


"Kalian berantem ?" tanya Mama Bunga.


"Gak Ma !" jawab Orion.


"Trus ?" Mama Bunga menajamkan pandangannya ke wajah Orion yang nampak lelah dan kurang istirahat.


Orion menghela napasnya," Dia merajuk karna aku jarang punya waktu untuknya. Perkerjaanku lagi banyak Ma !" jawab Orion.


"Kamu itu !" tegur Mama Bunga." Kamu itu terlalu mementingkan cita citamu yang ingin menjadi seorang pengusaha. Jangan karna Queen terus mengalah sama kamu. Kamu bisa terus menerus mengabaikan Queen" tegur Mams Bunga lagi.


"Ma ! itu hanya sementara Ma !, nanti kalau semuanya sudah beres, gak gitu lagi" ucap Orion lembut.


"Sebisa mungkin luangkan waktumu untuk keluargamu Orion !. Jangan buat Queen lelah mencintaimu !" tekan Mama Bunga. Kenapa anaknya itu begitu sulit untuk memahami hati wanita ?.


"Iya Ma !, kalau begitu Orion pergi dulu, salam sama semuanya !" pamit Orion. Setelah mengecup kening wanita tercintanya itu, Orion pun melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu.


Sampai di dalam mobilnya, Orion menghela napasnya, kemudian melajukan kenderaannya keluar dari pekarangan rumah orang tuanya, menuju rumahnya dan Queen.


Abang rela mengorbankan diri abang juga untuk masa depan anak anak kita Queen !, batin Orion.


Sampai di halaman rumahnya, Orion juga tidak melihat mobil Queen di halaman rumah. Orion turun dari dalam mobilnya, berjalan ke arah garasi, ternyata di sana juga tidak ada mobil Queen.


"Kemana dia ?" desah Orion, kembali masuk ke dalam mobilnya.


Orion pun mengeluarkan handphonnya dari saku celananya. Menghidupkan layar ponselnya, mencoba mencari Queen lewat pengetahuan magicnya, dengan melakukan peretasan cctv jalan dan GPS yang tersambung ke handphon Queen.


Awas kamu Queen !" gemas Orion, karna handphon Queen ternyata berada di dalam rumah mereka. Sepertinya Queen sengaja meninggalkan handphonnya.


Orion kembali turun dari dalam mobil, dan langsung masuk ke dalam rumah. Orion berlajan menaiki anak tangga ke lantai dua, masuk ke dalam kamarnya dan Queen. Orion ingin memastikan kalau Queen dan anak anaknya berada di dalam kamar.


"Queen !" panggil Orion saat Tangannya berhasil membuka daun pintu di depannya.


"Daddy !" seru Boy berlari ke arahnya, Boy langsung mengulurkan tangannya minta di gendong.


Orion pun langsung membungkukkan tubuhnya meraih tubuh Boy, membawanya ke gendongannya. Lalu mengecup kedua pipi cabi Boy dengan sayang. Kemudian Orion melangkahkan kakinya ke arah Queen yang terbaring miring di atas kasur sambil memberi asi baby Syauqi.


"Sayang !" panggil Orion, namun Queen diam menulikan telinganya.


"Maaf !" ucap Orion, menepis cairan bening yang mengalir dari sudut matanya.


"Bang Orion tidak salah !, akulah yang bersalah, karna terlalu berharap kasih sayang dan perhatian lebih dari bang Orion !" lirih Queen.


"Abang juga sangat merindukanmu di saat kamu tidak berada di depan pandangan abang Queen. Abang juga ingin selalu berada di sisimu setiap saat Queen. Menghabiskan waktu bersama kamu dan kedua anak kita. Tapi Queen, abang tidak bisa melakukan itu, karna sebagai kepala rumah tangga, abang memiliki tanggung jawab atas masa depan kita dan anak anak. Abang mengerti perasaanmu sayang !" ucap Orion lembut.


"Abang pergi pagi dan selalu pulang larut malam" lirih Queen lagi.


"Ini hanya sementara sayang !, nanti kalau semua sudah beres, Abang tidak akan sesibuk ini lagi" jelas Orion.


"Dulu bang Orion meniggalkan Queen bertahun tahun. Sekarang bang Orion sudah kembali, Bang Orion jarang punya waktu untuk Queen. Bang Orion terlalu sibuk mengejar Dunia !" ucap Queen, menghapus air matanya yang mengalir kembali.


Orion menghela napasnya, ternyata luka di tinggalkan bertahun tahun itu masih membekas di hati Queen. Orion pun membelai lembut kepala Queen lagi.


"Ya udah !, mulai besok abang tidak akan pulang larut lagi. Abang akan usahain untuk selalu pulang cepat. Tapi Adikku yang cantik ini jangan menangis lagi ya !" bujuk Orion lembut, dan mengulas senyum di bibirnya.


Orion menurunkan Boy dari pangkuannya, mendudukkannya di atas kasur. Kemudian mengambil baby Syauqi dari samping Queen, memindahkannya ke dalam box bayi. Orion pun, membantu Queen duduk, kemudian manarik tubuh Queen ke dalam pelukannya.


"Maafin abang ya sayang !" ucap Orion lalu mengecup ujung kepala Queen, kemudian mengusap usap kepalanya dengan sayang.


.


.


Esok harinya


Orion memarkirkan kenderaannya di halaman rumah orang tuanya. Orion membuka pintu du sampingnya dan langsung turun, melangkahkan kakinya masuk ke rumah tempatnya di besarkan tersebut. Orion datang ke rumah itu pagi pagi untuk menemui Arsenio adik ke tiganya.


"Selamat pagi Ma !" ucap Orion mengecup pipi Mama Bunga yang sedang memasak di dapur.


"Ada apa kamu datang pagi pagi buta kesini ?" tanya Mama Bunga yang sempat terlonjak kaget.


"Mau menemui Arsen !" jawab Orion mencomot satu potong tahu goreng, lalu memakannya.


Mama Bunga mengerutkan keningnya," untuk apa ?" tanyanya.


"Mau menyerahkan counter HP sama dia !" jawab Orion." Queen merajuk terus karna aku terlalu sibuk dan sering gak punya waktu untuknya" ucap Orion lagi.


"Kamu itu terlalu gila kerja, sampai lupa memperhatikan anak dan istrimu !. Kamu itu beruntung memiliki istri seperti Queen. Di usianya yang masih sangat muda, tapi dia memiliki pemikiran yang dewasa seperti Papanya. Lihatlah ! seharusnya diusianya yang sekarang, dia sibuk belajar dan ngumpul ngumpul sama teman temannya. Tapi dia lebih memilih menghabiskan waktu bersama anak anak kalian. Dia tidak ingin melewatkan sedikit pun moment tumbuh kembangnya anak kalian" ujar Mama Bunga panjang lebar.


"Yustru itu Ma !, makanya Orion ingin menyrtahkan counter HP itu sama Orion. Dan Orion juga ingin menyerahkan pengelolaan kampus kepada Elang. Di sana banyak cewek cewek, mungkin dia bisa cuci mata, untuk mengalihkan pikirannya dari Naysila" balas Orion.


Mengingat Naysila yang sedang mengandung cucunya. Mama Bunga menghela napasnya, karna mereka belum menemukan jalan keluar dari permasalahan Elang.


"Orion rasa Naysila itu wanita yang baik !, kenapa Elang tidak memberikan istrinya itu kesempatan ?. Apa lagi istrinya lagi hamil" ucap Orion mendudukkan tubuhnya di kursi yang berada di ruangan masak itu.


"Mama juga berpikir seperti itu, tapi kita tidak boleh lagi mudah percaya, kita harus lebih hati hati" jawab Mama Bunga.


"Iya sih !" balas Orion." Elang sendiri bagaimana ?" tanya Orion lagi.


"Sepertinya anak itu tidak akan menerima Naysila lagi menjadi istrinya. Katanya dia akan tetap menceraikan Naysila setelah anak mereka lahir, dan akan mengambil hak asuh anak itu" jawab Mama Bunga.


"Bagaimana dengan Papa Ma ?, apa iya ! Papa bukan anak kandung dari kakek ?" tanya Orion lagi.


"Mama juga gak tau sayang !. Mama sama Papa kamu sudah menanyakan hal itu kepada kakek Fariq. Kakek Fariq tidak tau soal hal itu, dan setau dia, Papamu adalah anak kandung dari kakekmu" jawab Mama Bunga lagi, sambil tangannya sibuk merajik bumbu pecal di dalam baskom berbahan kaca.


Orion menghela napasnya," Apa Papa dulu gak pernah pulang ke kampung nenek ?" tanya Orion lagi. Penasaran, darah siapa sebenarnya yang mengalir di tubuhnya dan sang Papa.


"Pernah !" jawab Papa Arya tiba tiba datang ke dapur bersama Sabina kecil di gendongannya.


Sontak Orion dan Mama Bunga mengalihkan pandangan mereka ke arah Papa Arya yang mendudukkan tubuhnya di bangku kosong di ruang masak itu.


"Tapi saat itu Papa masih berusia lima Tahun kalau gak salah. Papa sudah tidak bisa mengingat jalan ke kampung Nenek kalian. Seingat Papa Jalannya melewati hutan, sangat jauh dan jalannya masih tanah merah di kasih batu batu pada saat itu." jelas Papa Arya lagi, kemudian mengambil secangkir kopi yang di siapkan Mama Bunga untuknya di atas meja, lalu menyesapnya.


"Apa Papa gak ingat nama daerahnya ?. Pasti berkas berkas mendiang nenek dulu ada pertinggalnya" tanya Orion.


"Sudah hilang di curi Paman Ali" jawab Papa Arya.


"Cari di internet !, Pasti nenek memiliki akte lahir kan ?" tanya Orion lagi.


Papa Arya menghela napasnya," orang tua jaman dahulu mana ada pakai akte lahir" jawabnya lemah.


Papa Arya juga sudah mencari data data ibunya lewat internet. Tapi tidak ketemu, dan tidak terdaftar di kepemerintahan. Mungkin karna jaman dulu tidak secangih jaman sekarang.


"Lewat buku nikah !" ujar Orion lagi,


Papa Arya mengerutkan keningnya seperti berpikir.


"Papa pasti tau nama lengkap kakek dan nenek, Papa bisa meminta ijin untuk meretas data data kantor urusan Agama" usul Orion.


"Papa sudah mencobanya, tapi tidak ada terdaftar !" Papa Arya menghela napasnya lagi. Berpikir kalau dia adalah anak hasil di luar nikah, atau kedua orang tuanya hanya menikah sirih. Mendengar cerita dari kakek Fariq, jaman dahulu banyak orang yang menikah tapi tidak mendaftarkannya ke kantor urusan Agama. Atau karna dulu belum ada internet, apa lagi di daerah perkampungan, membuat data data keperintahan belum tersimpan di internet seperti jaman sekarang.


"Nama daerahnya pasti Papa masih ingat 'kan ?" tanya Orion lagi.


Papa Arya mengerutkan keningnya, sambil berpikir keras.


"Nama daerahnya Madina !"


Papa Arya, mama Bunga dan Orion, refleks mengalihkan pandangan mereka ke arah Elang yang beriri di pintu dapur.


.


.