
"Assalamu alaikum Ayah !"
"Walaikum salam !"
"Ada apa Ayah ?" tanya gadis berseragam sekolah masuk ke ruangan Bilal.
"Ada yang ingin Ayah bicarakan !" jawab Bilal, ia pun beranjak dari kursi kerjanya, berjalan ke sofa, mendudukkan tubuhnya di samping putri keduanya.
Bilal melingkarkan satu tangannya ke leher belakang putrinya yang sudah duduk di bangku kelas satu SMA itu. Lalu Bilal mengecup kening putrinya itu dari samping.
"Apa kabar dengan Ibumu ?" tanya Bilal kepada putri keduanya itu.
"Alhamdulillah baik Ayah !" jawab Annisa.
Bilal menganggukkan kepalanya sembari tersenyum." Bagaimana kalau Ayah menikah lagi ? apa putri Ayah ini setuju ?."
"Ayah akan menikah lagi dengan Mama ?" antusias Annisa. Annisa menajamkan pandangannya ke wajah Bilal dengan wajah yang berbinar bahagia.
Sudah lima Tahun kedua orang tuanya hidup terpisah. Tentu jika kedua orang tuanya menikah lagi, mereka akan tinggal satu rumah kembali, seperti dulu. Dan sebagai seorang anak, tentu itu sudah menjadi impiannya.
Bilal terdiam, memandangi wajah putrinya.
Annisa memeluk sang Ayah dengan erat, hatinya sangat bahagia, karna Ayahnya akan menikahi ibunya kembali. Ia tidak perlu pindah pindah rumah lagi. Yang kadang di rumah Ayahnya, kadang di rumah Ibunya. Dan Annisa membayangkan kalau ia bisa tidur bersama Ayah dan Ibunya seperti dulu, saat keduanya belum bercerai. Saat itu usianya baru sembilan Tahun, ia baru duduk di kelas empat SD.
Bilal membalas pelukan putrinya, dan mengecup ujung kepalanya yang terbalut jilbab. Ya Tuhan ! bagaimana ini !, bagaimana caranya aku menyampaikan kepada putriku, kalau aku akan menikahi wanita lain ?, bukan kembali menikahi Ibunya, batin Bilal.
Tetttt...! tetttt....!
Bunyi bel pertanda waktu istirahat habis pun berbunyi. Annisa segera melepas pelukannya dari tubuh sang Ayah.
"Ayah ! Annisa masuk kelas dulu !, l love you Ayah !" ucap Annisa mencium kedua pipi Bilal, lalu beranjak pergi.
"Nanti pulang sama Ayah ya !" seru Bilal.
"Iya Yah !" balas Annisa yang sudah keluar dari ruanganya.
Bilal menghela napasnya, hatinya dilema, sepertinya putri keduanya tidak mengijinkannya menikah dengan wanita lain.
.
.
Di pesantren
"Bagiamana ? apa sudah ada kabar dari Ustadz Bilal ?" tanya Susi kepada Ustadz Indra suaminya. Mereka sedang berjalan bersama pulang ke rumah selesai mengajar di pesantren.
"Belum !" jawab Ustadz Indra.
"Apa Ustadz Bilal ingin rujuk lagi dengan mantan istrinya ?" tanya Susi lagi. Susi menghela napasnya, kasihan dengan sahabatnya itu jika Ustadz Bilal memilih rujuk. Menurut Susi, hanya Ustadz Bilal yang mampu merobohkan pertahanan sahabatnya Hani. Yang membentengi dirinya dengan kuat, tidak ingin menikah lagi.
Ya ! mungkin sahabatnya itu sekarang tidak apa apa hidup sendiri, karna masih kuat dan bisa mengurus diri sendiri. Bagaimana nanti kalau sudah tua ?, siapa yang akan mengurus sahabatnya itu. Hani pasti butuh sosok laki laki di sampingnya, atau sosok seorang anak untuk mengurusnya kelak.
"Gak tau juga cinta !, ayo ! jalan lebih cepat, suami mu ini sudah lapar" jawab Ustadz Indra, menarik lengan istrinya supaya berjalan lebih cepat.
"Abi ! makan aja pikirannya, lihat tuh perutnya sudah seperti hamil empat Bulan" ujar Susi.
"Baru empat Bulan cinta, belum sembilan bulan" balas Ustadz Indra tersenyum.
Mereka pun masuk ke dalam rumah, Susi langsung menyiapkan makan siang untuknya dan suaminya.
.
.
Ustadz Amar mengunjungi rumah Hani, ia pun melangkahkan kakinya masuk ke rumah peninggalan kakek mereka itu, sambil mengucap salam. Meski Hani tinggal sendiri, bukan berarti tidak ada sama sekali dirumah itu.
Di rumah itu, ada beberapa santri wanita, tinggal untuk menemani adik sepupunya itu. Biar adiknya itu tidak terlalu kesepian, dan juga ada yang menjaganya.
Ustadz Amar mengetuk pintu kamar Hani, sambil memanggilnya.
"Hani !" panggilnya.
"Tunggu sebentar Bang !" balas Hani dari dalam.
Tak lama menunggu, pintu itu pun terbuka dari dalam.
"Iya Bang ! ada apa ?" tanya Hani
Ustadz Amar menajamkan pandangannya ke wajah Hani yang nampak pucat." Kamu sakit ?" tanyanya.
Hani membuka lebar pintu kamarnya, tanpa menjawab pertanyaan abang sepupunya itu, ia melangkahkan kakinya ke arah ranjang, mendudukkan tubuhnya di sana.
Ustadz Amar pun mengikutinya, mendudukkan tubuhnya di samping Hani. Ustadz Amar menempelkan punggung tangannya ke kening Hani. Mengecek suhu tubuh Hani apakah panas atau tidak.
"Sudah minum obat ?" tanya Ustadz Amar, ternyata adiknya itu sedikit demam.
Hani menganggukkan kepalanya.
"Hani hanya demam sedikit aja bang !" balas Hani.
"Ikutlah ke rumah abang, kamu bisa istirahat di sana !" ajak Ustadz Amar. Tidak tenang jika membiarkan Hani yang lagi sakit, sendiri di rumah itu. Biar pun ada santri yang menemaninya, mereka pasti sibuk belajar.
"Bang Amar terlalu berlebihan !, Aku gak apa apa, sebentar lagi juga pasti demamnya hilang setelah minum obat" tolak Hani.
Ustadz Amar menghela napasnya, meski adiknya itu sudah tak muda lagi, keras kepalanya itu tidak hilang, masih suka membantah.
"Menikahlah !, suatu saat kamu butuh seseorang ada di sampingmu. Kalau kamu sudah sangat tua nanti, kamu membutuhkan seseorang untuk merawatmu. Pasti nanti kamu membutuhkan seseorang untuk menyayangimu" ujar Ustadz Amar.
"Emang Bang Amar sama bang Ikbal gak sayang dengan Hani ?" tanya Hani, menelan air ludahnya bersusah payah.
"Tentu kami menyayangimu!, dan bagaimana jika aku dan Bang Ikbal di panggil Allah lebih dulu ?" jawab Amar, kemudian bertanya.
Hani terdiam menajamkan pandangannya ke wajah Ustadz Amar yang juga memandangnya. Pandangan Hani meneduh, kemudian menunduk. Sekarang dia hanya sendiri, semua sudah pergi meninggalkannya. Baik Uminya, pamannya kedua mertuanya, semua sudah tidak ada, kecuali Ustadz Ikbal dan Ustadz Amar.
Ustadz Amar mengusap kepala Hani," kamu sudah cukup lama hidup sendiri. Tidak bagus menyiksa diri seperti itu. Wanita yang di tinggal meninggal suaminya itu, boleh menikah lagi. Apa kamu tak ingin memiliki anak sendiri ?" ucapnya lembut.
Hani meneteskan air matanya, karna tak tahan menahan kesedihannya. Tentu ia sangat ingin memiliki anak sendiri. Tapi untuk memulai hidup baru dengan laki laki lain, bukan hal yang mudah bagi Hani, entahlah ?.
"Hani sudah nyaman dengan kehidupan Hani sekarang Bang !" isak Hani.
Bohong sekali jika ia mengakui nyaman hidup sendiri, setelah ia pernah menjalani hidup berumah tangga. Dia juga manusia biasa, punya ke inginan untuk bercinta lagi. Dan pasti memiliki keluarga yang bahagia, yang di dalamnya terdapat kehadiran anak anak. Hani jiga pasti membutuhkan sandaran hatinya, tempatnya bercerita dan mengadu setiap apa yang di alaminya setiap harinya.
"Bukalah hatimu kembali untuk menikah. Karna menikah itu juga ibadah !" ucap Ustadz Amar lagi.
Ustadz Amar mengulurkan tangannya, menghapus air mata yang mengalir di pipi Hani." Abi akan terus merasa bersalah, jika kamu terus menghukum dirimu seperti ini. Arwah Abi tidak bisa tenang, melihatmu menyiksa diri" ucapnya lagi.
Hani hanya diam menangis terisak menyimak kata kata abangnya itu.
"Abang pergi dulu, nanti malam abang akan menjemputmu untuk tidur di rumah abang" pamit ustadz Amar.
Ustadz Amar berdiri dari samping Hani. Ia membelai kepala Hani lalu pergi.
Sepeninggal Ustadz Amar, Hani membaringkan tubuhnya ke kasur, menangis meringkuk memegangi dadanya. Rasanya sakit, sangat sakit. Hani tidak tau apa penyebab sakit di dalam dadanya itu. Rasanya sesak seperti ada beban berat menimpanya selama puluhan Tahun ini.
Menikah lagi ! laki laki mana yang mau menikahi wanita janda sepertinya ?. Apa lagi sekarang usianya juga sudah tak muda lagi. Siapa yang mau melamarnya, mengingat selama ini tak satu pun laki laki datang melamanya. Entahlah ? mungkin Tuhan membantunya untuk menjaga hatinya untuk tak jatuh cinta lagi, seperti keinginannya. Atau mungkin karna dia tinggal di lingkungan prsantren, dan sangat jarang keluar. Dan dulu waktu masih muda, Hani lebih banyak menghabiskan diri di asrama putri, bergabung dengan santri, untuk mengusir kesediahannya. Atau lebih tepatnya menyembunyikan diri dari pandangan kamu adam.
.
.
"Ayah ! kapan rencana Ayah untuk melamar Mama kembali ?" tanya Annisa kepada Bilal yang sedang sibuk menyetir di sampingnya. Sekarang mereka perjalanan pulang ke rumah daei sekolah.
Bilal menghela napasnya, satu tangannya terangkat mengusap kepala putrinya dari belakang. Bilal bingung harus bagaimana menjelaskannya kepada putrinya itu, kalau ia akan menikahi wanita lain. Pernyataannya tadi yang akan menikah, ternyata di salah tanggapi putrinya. Putrinya itu mengira ia akan rujuk dengan Aqeela.
"Annisa !" panggil Bilal lembut. Bilal menghela napas lagi." Ayah akan menikah dengan wanita lain sayang !, bukan dengan Ibumu !" ucap Bilal bernada ragu.
Bilal kawatir putrinya itu tidak terima, yang akhirnya mengamuk kepadanya. Mengingat, putrinya itu sangat keras, sama sepertinya dirinya waktu kecil.
Annisa menggeleng gelengkan kepalanya dengan mata berkaca kaca. Ia tidak mau Ayahnya menikahi wanita lain. Ia ingin Ayahnya kembali bersama Ibunya. Selama ini ia sangat berharap, Ayah dan Ibunya bisa kembali bersama, supaya ia tidak perlu mondar mandir mendatangi rumah kedua orang tuanya bergantian.
"Kenapa Yah ?" Tenggorikan Annisa terasa tercekat saat mengatakan itu.
Bilal menghentikan kenderaannya di pinggir jalan melihat putrinya menangis. Bilal menarik putrinya ke dalam pelukannya, mengusap usap punggungnya.
"Setelah kamu dewasa nanti, kamu pasti akan memahami Ayah nak !. Jangan marah atau kecewa dengan keputusan Ayah saat ini. Ayah tau, kamu sangat kecewa dengan perceraian Ayah dengan Ibu kamu. Tapi kembali lagi ke takdir Allah nak. Mungkin jodoh Ayah dan Ibu kamu sampai di situ saja!" jelas Bilal.
"tapi Annisa ingin Ayah sama Mama bisa bersama lagi !. Kenapa Ayah sama Mama tidak memahami Annisa ?. Kenapa Annisa yang harus memahami Ayah dan Mama ?" tanya Annisa.
Bilal terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaan putrinya itu. Kenapa istrinya dulu tidak memikirkan perasaan putri mereka saat mengajukan gugatan cerai kepadanya ?. Ya ! Bilal sempat ingin mengajak rujuk Aqeela istrinya. Namun setelah tiga malam melakukan shalat istikharoh. Bilal merasa perasaannya lebih dominan kepada Hani. Ia berpikir itu adalah jawaban dari doanya dari Allah.
"Meski pun Ayah sama Ibumu tidak bersama lagi. Kami tetap menyayangimu sayang !, kasih sayang kami tidak berobah atau berkurang sedikit pun. Kamu tetap putri kesayangan kami, yang kedua Kakak Yasmin" bujuk Bilal.
"Tapi Annisa tidak bisa tidur bersama Ayah sama Mama lagi, setelah Ayah sama mama berpisah !" Annisa manatap teduh wajah Bilal.
"Setelah Ayah menikah lagi, nanti Annisa bisa tidur bersama Ayah dan istri Ayah..
"Tapi Annisa tidak bisa tidur bersama mama dan suami baru Mama nantinya !" potong Annisa langsung.
Bilal terdiam, menajamkan pandangannya ke wajah putri manjanya itu.
"Putri Ayah pintar !" puji Bilal malah tersenyum kepada Annisa.
"Kenapa Ayah malah tersenyum !" cetus Annisa cemberut.
"Karna putri Ayah sudah pintar, putri Ayah tau mana yang boleh mana yang tidak boleh !" jawab Bilal menarik hidung putrinya itu.
"Annisa gak mau Ayah menikah dengan wanita lain ! titik !" ujar Annisa cemberut, menatap tak suka Ayahnya itu.
Bilal menghela napasnya, kemudian melajukan kenderaannya kembali. Hari ini Bilal akan membawa putrinya itu pulang ke rumahnya. Karna sudah tiga hari, putrinya itu bersama Aqeela mantan istrinya.
.
.