Brother, I Love You

Brother, I Love You
181. Teristimewa



Reyhan dan Yumna menuruni anak tangga ke lantai bawah dengan bergandengan tangan. Sampai di lantai bawah, mereka pun melangkahkan kaki mereka ke arah dapur untuk menyiapkan makanan ke meja makan.


"Maaf ya ! pasti kamu lelah karna mengurus keluargaku !" ucap Reyhan, memeluk Yumna yang mulai menyajikan makanan di atas meja.


Yumna melengkungkan sudut bibirnya ke atas." Dari kecil aku sudah terbiasa melakukan pekerjaan seperti ini. Membantu Momy memasak dan menyiapkan makanan di meja makan. Bahkan dulu usiaku baru sembilan Tahun, Papa sudah menyuruhku belajar memasak" balas Yumna, menyentuh tangan Reyhan yang melingkar di perutnya.


"Papa mertua pasti Papa yang baik !" ucap Reyhan.


"Papa orangnya menyebalkan !" balas Yumna semakin melebarkan senyumnya.


"Besok aku akan mengantarmu menemui Papa yang menyebalkan itu" ucap Reyhan, mengecup pipi Yumna.


"Ehem !"


Refleks Yumna melapas tangan Reyhan dari perutnya, mendengar Papa mertunya berdeham. gegas Yumna melangkahkan kakinya ke dapur dengan menundukkan kepalanya, malu.


"Papa !" ucap Reyhan, menggaruk leher bagian belakangnya.


"Sayang sana bantuin menantumu menghidangkan makanan. Aku sudah sangat lapar !" suru Papa Arya kepada Mama Bunga dan mengambil baby Sabina dari gendongan istrinya.


"Anakmu sangat romantis, dulu aku gak pernah kamu perlakukan seperti itu !" ujar Mama Bunga, melangkahkan kakinya menyusul Yumna ke dapur untuk membantu memindahkan makanan ke meja makan.


Papa Arya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum, sepertinya gesrek istrinya lagi kumat.


Tak lama kemudian, Elang datang masih memakai sarung dan baju kokonya, sepertinya dia baru siap shalat. Elang mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi kosong. Wajahnya masih tampak sembab, matanya bengkak dan nampak sendu.


Melihat itu, Papa Arya menghela napasnya, kasihan melihat nasib anaknya.


"Assalamu alaikum kakek !!! Nenek !!!" teriak seorang wanita masuk ke rumah mereka.


"Walaikum salam !" balas Papa Arya, Reyhan dan Elang.


"Hai tente unyil !" sapa Boy kepada Sabina kecil yang berada di pangkuan Papa Arya. Kemudian mencubit tangan Sabina kecil dengan gemas, membuat Sabina menangis.


"Boy ! Tante kecilnya jangan di cubit sayang !" tegur Papa Arya lembut. Sambil menimang nimang Sabina kecil, untuk menenangkannya.


"Tante unyil lucu !" balas Boy tanpa merasa bersalah.


"Ponakan durhaka lo bule !" ujar Reyhan, menarik pelan telinga Boy yang lewat di sampingnya.


"Paman burung unta ! lepas telinga Boy !, Boy mau makan !." Boy berusaha menarik tangan Reyhan dari telinga Boy.


"Berusahalah lebih keras burug merpati !" ucap Reyhan.


"Kakek ! Paman burug unta jahat !" adu Boy, karna Reyhan semakin mengencangkan jeweran telinganya.


"Reyhan !" tegur Papa Arya.


"Cucumu ini sangat nakal dan menyebalkan Pa !. Bagai mana kalau kita buang aja dia ke tambak lele Pa !" gurau Reyhan mengangkat tubuh Boy, dengan posisi menggantung kaki Boy ke atas.


"Kakek ! Paman Elang ! tolong Boy !" seru Boy, meronta ronta minta di turunkan.


Papa Arya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Paman Elang ! gendong Syauqi dong !"ucap Queen memberikan Syauqi kepada Elang. Kemudian melangkahkan kakinya ke arah dapur untuk membantu menyiapkan peralatan makan ke meja makan.


Queen tau Elang lagi galau, di sengaja memberikan Syauqi untuk menghibur hati Elang yang gundah gulana.


Elang tersenyum, melihat Syauqi yang sudah berada di dekapannya menatapnya sambil tersenyum dan mengisap jempol tangannya. Seketika hatinya terhibur dengan tingkah keponakannya yang ramah senyum.


Setelah semua makanan tersaji di atas meja, anggota keluarga Alfarizqi itu, pun mulai makan. Mereka menikamati makanan dari piring masing masing dengan sesekali mengombrol.


"Jika kamu mencintai Naysila, gak apa apa nak !, jika kamu ingin memberi dia kesempatan berobah atau membuktikan kalau dia juga korban dari kakeknya" ujar Papa Arya, setelah menghabiskan makanan di piringnya.


Sontak semua menoleh ke arah Papa Arya, terutama Elang.


"Sulit untukku percaya sama dia lagi Pah !. Aku gak mau terluka dua kali dengan orang yang sama" ucap Elang, menatap Papa Arya sendu."Jika hanya aku yang dia tipu, aku masih bisa menerimanya Pah !. Tapi yang dia tipu itu kita semua !" tambah Elang lagi." Aku gak mau melakukan kesalahan dua kali Pah !" timpalnya lagi. Air mata Elang luruh tak tertahannya lagi.


"Sabar bang Elang !" ujar Darren, megusap bahu Elang yang duduk di sampingnya."seperti sabarku, menahan rindu sama wanita yang kucintai. Tidak tau di planet mana dia di sembunyiin rahwana!" sindir Darren, melihat Papa Arya dari sudut matanya.


"Kamu menyindir Papa ?" Papa Arya memijingkan matanya ke arah Darren.


"Papa merasa jadi rahwana ?" cibir Darren.


"Apa maksud kalian berdua ?" tanya Mama Bunga tidak paham pembahasan anak dan suaminya.


"Papa nyembunyiin wanita lain Ma !" jawab Darren, kemudian bergegas meninggalkan tempatnya.


"Apa maksud Darren Aaryan ?" mama Bunga menatap tajam wajah Papa Arya.


"Buat apa aku menyembunyikan wanita lain sayang ?. Kalau aku hanya tertarik sama kamu saja" jawab Papa Arya, Tangannya mengusap kepala Mama Bunga dari belakang.


Anak itu !, bisa bisanya dia mengadu domba, memanas manasi mamanya. Batin Papa Arya gemas.


"Gak ada apa apa sayang !, Darren hanya bercanda" jelas Papa Arya.


"Awas aja kalau kamu selingkuh !" ancam Mama Bunga, lalu berdiri dari tempat dudukmya melongos pergi, yang langsung di ikuti Papa Arya.


"Mama belum tau soal wanita jandanya Darren itu ?" tanya Queen, makan sambil menggendong baby Syauqi.


"Sepertinya belum !" jawab Reyhan, yang sibuk menyuapi Boy di pangkuannya.


"Darren ada ada aja !, umur masih kecil naksirnya sama janda" ujar Queen.


Ehem !


Reyhan berdehem,"Ada yang lupa diri" cibirnya.


"Bang Orion bukan duda !" balas Queen.


"Tapi usiamu malah saat itu masih sangat kecildan bahkan kamu mengincar bang Orion mulai dari kecil. Dan usiamu baru 12 Tahun sudah minta di nikahi" cibir Reyhan lagi.


Bibir Queen langsung mengerucut, dan memicingkan matanya ke arah Reyhan yang duduk di depannya."Kamu juga dulu naksirnya sama Sirin, padahal usia Sirin juga masih kecil"balas Queen mencibir.


"Itu karna iming iming perjodohan !" ucap Reyhan.


"Bilang aja benaran naksir !" cibir Queen.


"Woi ! apa kalian gak lihat aku di sini ?" Arsen memutar bola matanya jegah, mendengar istrinya menjadi bahan perbincangan Queen dan Reyhan."Lancang sekali mulut kalian itu, membicarakan istriku di depanku !" dengus Arsenio.


"Kami tidak membiacarakan keburukan !" ucap Queen.


"Kalian tidak menghargaiku, dengan membicarakan masa lalu istriku di depanku !" cetus Arsenio, kemudian berdiri dari tempat duduknya, meninggalkan meja makan, setelah selesai menyiapkan makanan ke piring untuk Sirin.


"Kak Yumna pun pasti tersinggung mendengar pembicaraan kalian !" ujar Arsenio. Sontak Queen dan Reyhan menoleh ke arah Yumna yang nampak wajahnya cemberut.


Asenio pun melangkahkan kakinya ke arah kamarnya dan Sirin. Untuk memberi makan istrinya.


"Maaf sayang !" ucap Reyhan, mengusap kepala Yumna dari belakang.


"Jangan sering sering !" balas Yumna,"Aku bisa cemburu sama masa lalumu" ujarnya lagi.


"Iya sayang !, aku minta maaf !" Reyhan mengecup pelipis Yumna dari samping.


.


.


Dokter Aldo memarkirkan mobilnya, langsung turun dan masuk ke dalam rumah. Dokter Aldo melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya dan Diana. Di lihatnya Diana sudah berdandan cantik dengan dress panjangnya.


"Sudah siap sayang ! Yuk !" ajak Dokter Aldo, berjalan mendekati Diana yang duduk di kursi meja rias. Malam ini mereka akan ke rumah keluarga Alfarizqi, untuk mengunjungi cucu mereka yang baru lahir.


Diana menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Lalu berdiri menyalam tangan Dokter Aldo, menempelkan pungngung tangannya ke keningnya.


Dokter Aldo pun membalas mengecup kening Diana, lalu mengecup bibirnya.Dokter Aldo melingkarkan satu tangannya ke pinggang belakang Diana." Yuk !" ajaknya, menuntun Diana keluar kamar.


Sampai di kediaman Alfarizqi, Dokter Aldo memaekirkan mobilnya, langsung turun berjalan cepat ke pintu yang berada di samping Diana. Setelah membuka pintunya, Dokter Aldo membantu Diana keluar dari dalam mobil. Mereka berjalan bersama sambil bergandengan tangan ke arah pintu rumah itu.


"Awas kalau By ! bercanda terus dengan tante Bunga, Diana cemburu" ucap Diana dengan wajah cemberut.


"Iya sayangnya aku !" balas Dokter Aldo menarik hidung Diana sambil tersenyum.


"Sakit By !" rajuk Diana.


"Jangan terlalu cemburuan, percaya aja sama suamimu ini. Kalau suamimu ini tidak akan menghianatimu sayang" ucap Dokter Aldo.


"Aku cemburu dengan masa lalu kalian yang menghabiskan waktu bersama selama belasan Tahun." Diana menatap Dokter Aldo dengan tatapan sendu, dan tidak percaya diri, karna dirinya yang berasal dari keluarga sederhana. Sangat jauh berbeda dari Mama Bunga dan Shasa mantan istri Dokter Aldo. Diana merasa tidak ada apa apanya di banding kedua wanita yang pernah mengisi hati suami tampan dan matangnya itu.


"Aku mencintainya hanya sebatas menyayanginya seperti saudara, tidak lebih. Sedangkan aku mencintaimu sebagai belahan jiwaku, pelipur laraku. Sandaran hatiku, tempatku berbagi kasih sayang. Yang pasti aku mencintaimu sebagai penyempurna Agamaku" ucap Dokter Aldo menatap Diana dengan mata berbinar cinta.


"Percayalah Diana !, kalau kamu wanita pertama yang kuperjuangkan untuk mendapat cintanya. Kamu wanita pengalaman pertamaku menaklukkan hati seorang wanita. Kamu adalah wanita teristimewa di hati ini." ucap Dokter Aldo lagi.


Ehem !


"Jadi dulu kamu hanya main main mengajakku pacaran ? Ha !" geram Mama Bunga, yang dari tadi berdiri di depan pintu dengan berkacak pinggang, mendengar semua rayuan gombal pulau kelapa Dokter Aldo kepada Diana.


"Iya !" jawab Dokter Aldo, merangkul pinggang Diana, mengajaknya masuk ke rumah mantan kekasihnya itu.


"Ternyata dulu aku memelihara buaya darat !" geram Mama Bunga lagi. Mengikuti Dokter Aldo dan Diana ke kamar Sirin dan Arsenio.


.


.