Brother, I Love You

Brother, I Love You
133.Perhiasan Dunia



Yumna melangkahkan kakinya begitu anggun saat menuruni tangga bersama Nail, dengan menundukkan pandangannya. Nail membawanya duduk di sofa di tengah tengah kedua orang tua mereka. Yumna tersenyum malu malu, tidak berani menatap ke arah tamu yang duduk di sofa lain.


"Ayo sayang ! sapa calon Papa mertuamu, dan ipar iparmu !" suruh Ibu Tika, mengusap kepala putri satu satunya itu sembari tersenyum.


"Iya Momy !" patuh Yumna. Kemudian berdiri dari duduknya.


"Assalamu alaikum Pak !" sapa Yumna menangkupkan kedua tangannya di depan dada, dengan pandangan menunduk.


"Walaikum salam !" balas Papa Arya tersenyum ramah. Melihat wajah Yumna sekilas, ternyata wajah calon menantunya itu sangat cantik."Panggil Papa !, sebentar lagi kamu akan menjadi menantuku" ucap Papa Arya.


"I..iya Pa !" gugub Yumna.


Kemudian Yumna pun menyapa Reyhan dan calon iparnya.


"Assalamu alaikum bang Reyhan !" sapa Yumna.


"Walaikum salam zamila" balas Reyhan.


"Woi ! nama putri saya Yumna ! bukan Zamila, apa lagi jamidong" tegur Papa Yudhi. Enak saja calon menantunya itu mengganti nama putrinya seenaknya.


"Zamila itu artinya cantik Hubby !" jelas Ibu Tika, suaminya itu sudah tua, sifatnya gak berobah robah.


"Oh begitu ya ?, aku lupa yayang Beb !" balas Pak Yudhi.


"Itu maksud saya calon Papa mertua" ralat Reyhan.


Di rumah, Mama yang eror, di sini yang eror sepertinya calon Papa mertua deh !, Batin Reyhan.


"Adik ipar ! kok saya gak di sapa ?, jauh jauh loh ! kami datang ke sini. Harus terbang melewati lautan dan pulau pulau." ujar Orion. Karna Yumna sudah duduk kembali tanpa menyapanya dan Arsenio.


"Iya calon kakak ipar !" sambung Arsenio, yang duduk di samping Reyhan.


"Tidak perlu !, dan juga tolong kalian jaga pandangan kalian kepada calon bidadari surgaku" sanggah Reyhan. Karna dari tadi Orion dan Arsenio, memperhatikan kecantikan wajah Yumna.


Orion dan Arsenio pun langsung terdiam, tadi mereka hanya bercanda. Dan mereka juga tidak mungkin mau memandang calon ipar mereka dengan tatapan mata jahat mereka. Mereka hanya sekedar melihatnya saja, untuk mengenalinya. Terlebih mereka sudah memiliki istri, tentu mereka juga tidak ingin menghianati istri mereka dengan menikmati kecantikan wajah wanita lain. Dan terlebih lagi, Yumna adalah calon ipar mereka, mereka pasti menghargai wanita itu.


Waduh ! aku baru sadar kalau aku tidak memakai nikap. Padahal tadi aku udah siapin di atas meja rias. Bang Reyhan pasti kecewa samaku. Ini gara gara tadi di kagetin bang Nail nih !. Dan menarik Yumna keluar kamar, jadi Yumna lupa. Batin Yumna, semakin menundukkan pandangannya, dan menggigit bagian dalam bibirnya.


"Begini Pak Yudhi ! Buk Tika !, maksud kedatangan kami kesini. Kami datang untuk melamar putri kalian untuk anak kedua saya bernama Reyhan" ucap Papa Arya, membuat suasana menjadi hening dan menegangkan."Apakah Pak Yudhi dan Ibu Tika, bersedia memberikan putri kalian untuk di persunting anak saya Reyhan ?" tanya Papa Arya.


Pak Yudhi dan Ibu Tika sama sama mengusap kepala Yumna dari belakang. Wajah mereka nampak sedih, karna harus merelakan putri mereka menjadi milik orang lain. Putri satu satu mereka, putri tersayang mereka tiada tandingannya.


"Kami akan menyerahkan keputusannya kepada Yumna putri kami. Apakah dia bersedia atau tidak" jawab Pak Yudhi.


Yumna semakin menundukkan kepalanya, meremas gamisnya dari samping.


"Ayo Reyhan sekarang giliranmu, untuk melamar Yumna, bersediakah dia menikah denganmu" suruh Papa Arya kepada Reyhan.


Reyhan refleks mendongakkan kepalanya ke arah Papa Arya." iya Pah !" jawab Reyhan.


Ehem !


Dehem Reyhan kemudian menghela napasnya, sebelum berbicara.


"Bismillahirrohmanir rohim, Yumna Yudhia Putri Tama. Bersediakah kamu menikah denganku, menjadi perhiasan Duniaku dan menjadi bidadari surgaku diakhirat kelak. Mendamping hidupku baik suka maupun duka ?"ucap Reyhan dengan menundukkan pandangannya.


"Bagaimana sayang ?, apa kamu bersedia ?" tanya Ibu Tika, kepada putirnya.


Yumna sedikit mendongakkan kepalanya, ke wajah Ibunya. kemudian menoleh sebentar ke arah Reyhan dan kembali menundukkan pandangannya.


"Sebelum menjawabnya, bolehkah saya mengajukan satu syarat ?" tanya Yumna.


Refleks semuanya menoleh ke araha Yumna.


"Silahkan ! apa itu ?" tanya Reyhan.


"Tidak ada poligami apa pun alasannya !" jawab Yumna. Reyhan dan yang lainnya menghela napas lega.


"Insya Allah !" jawab Reyhan.


Reyhan tidak bisa berjanji akan hal itu. Karna hidup adalah misteri. Dia tidak tau takdir apa yang akan di kehendaki Tuhan kepadanya di masa depan. Yang jelas sekarang Reyhan tidak pernah berniat poligami, bahkan terlintas di pikirannya pun tak pernah. Reyhan akan berusaha untuk mengabulkan syarat itu.


"Maafin Papa sayang !" ucap Pak Yudhi, dengan mata berkaca kaca. Ia tidak akan lupa bagaimana sakit hatinya wanita yang sudah mendampingi hidupnya du puluhan Tahun itu. Dan Pada saat itu, Yumna hadir di rahim istrinya Tika.


"Papa tidak salah !, dan berpoligami bukanlah sebuah dosa, di dalam syariat Islam pun itu di perbolehkan Pa !. Hanya saja Yumna tidak memiliki kesabaran dan keikhlasan seandainya di poligami. Makanya Yumna meminta syarat itu sekarang" balas Yumna membalas pelukan Papanya.


"Papa mengerti sayang !"ucap Pak Yudhi, melepas pelukan mereka.


"Jadi bagaimana Yumna ?, apa kamu bersedia ?" tanya Reyhan sekali lagi.


"Bismillahirrohmanir rohim" Yumna memejamka matanya sembari menarik napasnya dalam." Saya bersedia" jawabnya.


"Alhamdulillah !" ucap mereka semua serentak.


Reyhan pun mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Kemudian meletakkannya di atas meja.


"Maaf Bu !, bisa saya minta tolong untuk menyematkan cincin ini di jari manis Yumna. Ini hadiah dari saya untuknya, karna sudah menerima lamaran saya" ucap Reyhan kepada Ibu Tika.


"Apa ini nak ?" tanya Ibu Tika, mengambil kotak cincin berwarna bening. Nampak di dalamnya cincin berwarna silver, di hiasi berlian kecil berwarna putih di tengahnya."Apa ini cincin tunangan ?, di keluarga kami tidak ada tradisi bertunangan" tanya Ibu Tika lagi.


"Bukan Bu !, hanya hadiah kecil saja untuk Yumna Bu !, sebagai ucapan terimakasih saya karna Yumna sudah bersedia menjadi pendamping hidup saya Bu !" jawab Reyhan.


"Trimakasih ya nak !, kalau begitu Ibu pasangkan ke tangan Yumna" balas Ibu Tika tersenyum lembut khas keibuan. Ibu Tika pun membuka kotak kecil itu, mengambil isinya, dan menyematkannya di jari manis tangan kiri Yumna. Dan cincin itu pas sekali ukurannya di jari Yumna.


"Sama sama Bu !, itu tidak seberapa, di banding Ibu yang ikhlas memberikan putri Ibu kepada Reyhan" ucap Reyhan lagi.


Tau dari mana bang Reyhan ukuran lingkar jari tanganku ?, batin Yumna melirik Reyhan kilas.


"Silahkan duduk Pak Arya !, nak Reyhan, nak Orion dan Arsen" ucap Pak Yudhi, setelah mereka berada di ruang makan.


"Trimakasih !" balas Papa Arya, mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi meja makan. Begitu juga dengan Reyhan, Orion dan Arsenio.


Pak Yudhi pun duduk di samping Papa Arya. Mereka pun mengobrol, mengenang masa mereka waktu sekolah SMP. Pak Yudhi yang sempat sekolah sebentar di kota tempat tinggal keluarga Alfarizqi tersebut. Tapi mereka bisa berteman dekat, meski mereka beda kelas. Karna Pak Yudhi dulu tinggal di kampung Papa Arya, di rumah Tantenya.


"Sepertinya sekarang kamu menjadi orang sukses" ucap Papa Arya.


"Begitulah !, munkin rejeki anak anak" jawab Yudhi." Dan kamu juga kelihatan sukses" ucap Pak Yudhi.


"Seperti yang kamu katakan, rejeki anak anak" balas Papa Arya tersenyum." Trimakasih !" ucap Papa Arya lagi, saat Yumna menuangkan air minum untuknya.


Yumna hanya mengulas senyumnya, dan sedikit mengangguk. Kemudian Yumna berpindah menuangkan air minum ke gelas Papanya.


"Bang Reyhan ! ini lebih cantik dari Diana. Tapi lebih cantik Sirin sih !" bisik Arsenio ketelinga Reyhan.


Reyhan memutar bola matanya malas, mendengar adik durhakanya itu memuji Sirin. Ya ! Reyhan akui, Sirin memang cantik. Tapi cantikan calon bidadari surganya, menurut Reyhan.


Setelah selesai menyiapkan makanan di meja, Yumna pun mendudukkan tubuhnya di samping sang Momy.


"Ayo kita mulai makannya, Daanish ! ayo pinpin do'a" suruh Pak Yudhi kepada anak keduanya. Daanish langsung menengadahkan kedua tangannya ke atas.


"Bis...


"Tunggu ! tidak jadi !" potong Pak Yudhi cepat, membuat Daanish tidak jadi melanjutkan do'anya." Calon mantu aja yang bacain doa makan kali ini" suruhnya kepada Reyhan.


Membuat Yumna, Daanish dan Nail sama sama memutar bola mata malas. Buat meminpin doa makan aja harus pake di ganti segala. Tika istri dari Pak Yudhi, hanya geleng geleng kepala. Sudah tua, sifatnya masih sering menyebalkan.


"Ayo calon mantu ! pinpin do'a makan kita" suruhnya sekali lagi kepada Reyhan.


"Iya Pak !" patuh Reyhan. dan langsung mengangkat tangannya, dan membacakan doa makan. Selesai berdoa, mereka pun memulai acara makannya.


Melihat di atas meja, ada rendang daging sama jengkol. Belut goreng sambal ijo, ada lalapan timun, selada dan kemangi. sayur sop, sambal terasi dan sambal kikil. Ada ikan bakar dan petai bakar, di paduka dengan sambal tuktuk(sambal khas dari daerah istri dari Pak Yudhi). Membuat selera makan si butok ijo, meningkat derastis.


"Reyhan !" tegur Orion, melihat adiknya menaroh banyak nasi ke piringnya.


"Gak apa apa nak !, makan saja yang banyak !, gak usah sungkan. Sekarang kita sudah menjadi keluarga, anggap saja rumah sendiri" ucap Ibu Tika ramah.


"Iya Bu !" balas Reyhan sumiringah.


Orion yang gemas pun, mencubit pinggang Reyhan dari samping.


"Uhuk uhuk uhuk...!" Reyhan terbatuk batuk, karna keseluk, kaget di cubit Orion. Reyhan langsung meminum air putih di depannya sampai habis.


"Reyhan ! Orion ! makan yang benar !, sudah besar besar juga !" tegur Papa Arya. Bikin malu saja kedua anaknya itu.


"Iya Pah !" patuh Orion dan Reyhan berbarengan.


"Maaf Pak Yudhi, Bu Tika" ucap Papa Arya, merasa tidak enak hati.


"Gak apa apa pak Arya !, itu biasa sifat anak anak. Meski mereka sudah dewasa, itu hanya berlaku sama orang luar saja. Di depan kita mereka masihlah anak anak" ucap Pak Yudhi bijak.


Papa Arya tersenyum, menganggukkan kepalanya, setuju dengan yang dikatakan calon besannya itu. Anak tetaplah anak, setua apa pun anak, akan tetap menjadi anak anak di depan orang tua mereka.


"Uhuk uhuk uhuk...minum minum minum !, pedas ! huha huha huha" heboh Yumna tiba tiba, mengibas ibas mulutnya yang kepedasan, karna tak sengaja memakan cabe rawit satu biji.


Entah bagaimana bisa cabe rawit itu tiba tiba ada di piringnya. Perasaan di meja makan tidak ada tersedia cabe rawit. Dan juga Yumna tidak suka makanan terlalu pedas, ia takkan menaroh cabe rawit mentah ke piringnya.


Daanish yang duduk di sampingnya, menahan tawanya. Melihat adik perempuan satu satunya itu heboh, gagal menjaga imag di depan calon suaminya.


"Daanish...!" gemas Ibu Tika, menatap tajam ke arah anak keduanya itu. Ia tau Daanish lah yang menaroh cabe rawit ke piring Yumna. Karna hanya anak keduanya itu yang suka makan dengan cabe rawit mentah, sama seperti Pak Yudhi.


Ibu Tika pun memberikan putrinya itu minum teh manis yang di campur es batu.


Gluk gluk gluk gluk....!


"Ahh !" desah Yumna setelah menghabiskan satu gelas besar teh manis.


"Makanya makan itu lihat ke piring, bukan malah melirik lirik si Reyhan tuh !" cibir Daanish.


"Mana ada !" sungut Yumna mengerucutkan bibirnya.


"Ngaku aja ! abang lihat kok !" goda Daanish lagi.


"Daanish ! kamu sudah tua, masih suka mengganggu adikmu" tegur Pak Yudhi.


"Daanish masih muda Pa !, belum tiga puluh Tahun !" jawab Daanish.


"Papa !" manja Yumna, memasang muka sedihnya.


"Sini sayang ! duduk di samping Papa !" ujar Pak Yudhi kepada putrinya." Yayang Beb ! pindah ke samping Daanish, anak itu nanti akan terus mengganggu Yumna" ucapnya lagi kepada istrinya.


Yumna adalah putri satu satunya, putri kesayangan Pak Yudhi. Tidak ada yang boleh membuat putrinya itu bersedih.


Yumna pun berdiri dari kursinya, Ibu Tika langsung pindah, dan Yumna mendudukkan tubuhnya di samping Pak Yudhi.


Waduh ! sepertinya calon bang Reyhan sama manjanya seperti bang Reyhan. Kalau bang Reyhan anak mama, calonnya anak Papa. Batin Arsenio, melirik lirik Yumna sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Jaga matamu ! kalau gak ingin kucongkel dari situ" bisik Reyhan ke telinga Arsenio.


Arsenio pun mendengus, abangnya itu posesif banget.


.


.