Brother, I Love You

Brother, I Love You
190. Berjanjilah



Naysila mengenyikan langkahnya, saat seseorang tiba tiba berdiri tepat di depannya. Naysila mendongakkan kepalanya ke wajah orang itu, Naysila terdiam.


Pria itu mengangkat satu tangannya, menengadahkannya di depat Naysila. Namun Naysila masih diam membeku tanpa melepas netranya dari pria itu. Air mata Naysila pun kembali mengalir deras dari sudut matanya.


"Elang !" lirihnya dengan bibir bergetar.


"Berjanjilah untuk tidak menipuku lagi Nay !" Elang mengangkat tangannya untuk menghapus air mata yang mengalir di pipi Naysila.


"Berjanjilah untuk menjadi istri yang baik Nay !. berjanjilah untuk selalu jujur kepadaku Nay !. Berjanjilah untuk menjadi bidadari surgaku Nay !. Berjanjilah untuk menjadi ibu yang baik untuk anak anak kita Nay !. Berjajanjilah untuk tidak ada lagi rahasia atau kebohongan Nay !. Katakan Nay ! kalau kamu mencintaiku, tidaklah bohong Nay !" ucap Elang menatap dalam manik mata Naysila.


Bibir Naysila semakin bergetar menahan isak tangisnya supaya jangan sampai pecah. Kemudian langsung menghamburkan tubuhnya memeluk Elang dengan Erat." Aku janji Elang !."


Tangisan Naysila pun akhirnya pecah tanpa bisa ia kendalikan.


"Aku janji ! aku janji ! aku janji !" tagis Naysila, hanya itu kata yang bisa ia ucapkan.


"A..aku..janji..untuk..tidak..membuatmu..kecewa lagi Elang !" ucap Naysila terbata di selah selah tangisnya.


Elang pun membalas pelukan Naysila, mengusap kepala Naysila dari pelakang." Aku sangat mencintaimu Nay !, hatiku sangat sakit jika mengetahui kalau kamu membohongiku !"ucap Elang lagi.


"Maaf ! maafkan aku !, aku terpaksa melakukannya Elang !. Kakek Ali selalu mengancamku untuk menjualku menjadi wanita penghibur. Aku gak mau jika sampai itu terjadi Elang. Aku lebih baik menjadi penipu daripada menjadi wanita santapan laki laki hidung belang. Tapi Elang ! jujur aku jatuh cinta sama kamu saat pertama kali melihatmu. Aku gak bohong Elang !, aku juga mencintaimu !" oceh Naysila di dalam tangisnya.


"Sudah sudah sudah !"


Naysila menghentikan tangisnya mendengar suara Mama Bunga dan mengusap punggungnya dari belakang.


"Ayo Elang ! bawa Naysila masuk ke dalam mobil. Orang orang sudah pada ngelihatin kalian" ujar Mama Bunga lagi.


"Ma !"


Naysila langsung menjatuhkan tubuhnya di kaki Mama Bunga, dan memeluk kedua kakinya." Ampun Ma !, Nay minta maaf Ma !" tangisnya.


"Jangan seperti itu ! berdirilah !, Mama bukan Tuhan yang harus kamu sembah dan tempatmu meminta ampun" ujar Mama Bunga, menarik tubuh Naysila supaya berdiri kembali.


"Nay sudah melakukan kesalahan besar, Nay sudah menipu kalian semua !" ucap Naysila lagi, menundukkan kepalanya.


"Berjanjilah untuk berobah !, karna mama tidak akan memberikan tempat untukmu lagi jika kamu menipu anak Mama dan menyakiti hatinya" balas Mama Bunga.


"Iya Ma ! Naysila janji Ma !" tangis Naysila.


Saat Naysila mengarahkan pandangannya ke arah laki laki yang berdiri di belakang Mama Bunga. Naysila langsung menundukkan kepalanya kembali, Naysila takut melihat wajah tampat pria yang tak lagi muda itu.


Papa Arya melangkahkan kakinya mendekati Naysila dan istrinya." Papa sudah katakan waktu itu, untuk kamu menjadi menantu yang baik. Tapi malah kamu masih terus menuruti permainan kakekmu. Dan kamu tidak mau jujur kepada Elang" ujar Papa Arya.


"Maafin Naysila Pa!, Naysila sangat takut dengan Kakek Ali" lirih Naysila masih tidak berani mengangkat kepalanya.


Papa Arya menghela napasnya," sekali lagi Papa peringatkan, jadilah menantu yang baik" ucap Papa Arya, langsung memutar tubuhnya berjalan ke arah mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.


Untuk menerima Naysila kembali masuk ke dalam keluarga mereka, tentu itu bukanlah hal yang mudah. Tapi demi anak yang berada di dalam kandungan Naysila, mereka harus menerima Naysila kembali. Dan juga karna Elang yang masih mencintai Naysila. Dan tidak ada salahnya, memberikan Naysila kesempatan berobah. Tentu itu Naysila tidak akan lepas dari pengawasan mereka.


Elang dan Mama Bunga pun menuntun Naysila masuk ke dalam mobil milik Papa Arya. Mereka akan membawa Naysila kembali tinggal di rumah mereka.


Di dalam mobil, suasana terasa hening, mereka berempat tidak ada yang berbicara sampai Papa Arya memarkirkan mobilnya di halaman rumah.


"Sayang ! aku langsung pergi ya !" ucap Papa Arya lalu mengecup kening Mama Bunga yang duduk di sampingnya.


"Iya Aryan ! hati hati ! dan cepat pulang !" balas Mama Bunga, menyalam tangan Papa Arya menempelkannya ke keningnya. Mama Bunga pun membuka pintu di sampingnya dan langsung turun.


"Pah ! kami masuk ke rumah dulu !" ucap Elang, juga menyalam tangan Papa Arya dan menempelkannya ke keningnya.


Setelah Elang menyalam Papa Arya, Naysila perlahan mengangkat satu tangannya, memberanikan diri untuk menyalam tangan Papa Arya yang duduk di kursi kemudi.


"Pah !" sapa Naysila pelan, dengan pandangan menunduk.


Papa Arya menerima tangan Naysila, dan satu tangannya mengusap kepalanya.


"Ya sudah ! Papa berangkat dulu !" ucap Papa Arya.


"Hati hati Pa !" ucap Elang, dan langsung turun dari dalam mobil, di ikuto Naysila.


Setelah Elang menutup pintu kursi penumpang belakang. Papa Arya pun langsung melajukan kenderaannya, meninggalkan pekarangan rumah.


Sampai di dalam rumah, Elang langsung membawa Naysila ke kamarnya yang berada di lantai dua rumah itu.


"Isrirahatlah !" ucap Elang, menuntun Naysila berjalan ke arah ranjang.


"Elang !" panggil Naysila pelan.


Elang menoleh ke arah Naysila yang masih berdiri.


"Trimakasih !" ucap Nyasila," trimakasih sudah memberiku kesempatan" ucanya lagi.


Elang menarik Naysila ke dalam pelukannya, kemudian menggendong Naysila, meletakkannya di atas tempat tidur.


"Istirahatlah ! pasti di penjara kamu tidurnya tidak nyaman" ucap Elang, mendudukkan tubhhnya di samping Naysila. Perlahan Elang mengulurkan tangannya ke perut Naysila, mengelusnya dengan lembut.


"Apa dia baik baik aja ?" tanya Elang, wajahnya nampak berbinar senang. Untuk pertama kalinya Elang bisa mengelus anaknya yang masih berada di perut Naysila.


Naysila menganggukkan kepalanya.


"Apa dia rewel ?" tanya Elang lagi,


Naysila mengeleng gelengkan kepalanya dengan bibir di tekuk ke bawah, siap untuk menangis kembali.


"Apa dia pernah menginginkan sesuatu ?" tanya Elang lagi. Berpikir kalau Naysila mengidam menginginkan makanan yang di inginkan anaknya di dalam penjara, tapi Naysila tidak bisa mengabulkannya, dan Naysila juga tidak bisa memintanya kepada siapa pun.


Naysila diam dan menajamkan pandangannya ke wajah Elang yang juga memandangnya. Kemudian Naysila menganggukkan kepalanya ragu ragu.


"Dia pengen apa ?" tanya Elang lembut, kasihan melihat wajah Naysila yang nampak sedih dan sedikit ketakutan melihatnya. Elang pun mengulurkan tangannya, merapikan anak rambut Naysila yang berantakan di wajahnya.


"Ibunya pengen makan apa ?" tanya Elang lagi.


Naysila semakin menajamkan pandangannya ke wajah Elang. Ragu ragu ingin mengatakan ke inginannya.


"Apa ? Hm..! jangan takut !, katakan aja !" ucap Elang, karna Naysila masih tak mengatakannya.


Naysila masih diam dan menggigit bibir bawahnya. Sama sekali tak punya keberanian mengatakan keinginannya.


"So..sop ayam buatan Papa !" gugup Naysila menundukkan pandangannya.


Elang mengulas senyumnya, sepertinya anaknya itu ingin membantu Mamanya untuk mendapatkan hati sang kakek.


"Tapi tunggu Papa pulang kerja dulu ya !" ucap Elang.


Naysila menganggukkan kepalanya.


Elang pun mengeser tubuh Naysila agak ke tengah kasur, kemudian membaringkan tubuhnya di samping Naysila, dan menaril Naysila ke dalam dekapannya.


"Aku pikir tadi dia kangen dengan Papanya !" ucap Elang.


Naysila diam saja, lidahnya kelu untuk membalas ucapan Elang. Dan tentu anak mereka kangen dengan Papanya. Bahkan Naysila sering sekali menginginkan Elang mengelus perutnyan. Tapi tidak mungkin ia meminyanya, karna Elang sudah sangat kecewa padanya. Dan keadaannya pun di dalam penjara.


"Kapan kamu mengetahui kalau kamu hamil ?, kenapa gak mengatakannya sama aku ?" tanya Elang, menatap wajah Naysila dari samping.


"Kenapa gak memberitahuku ?" tanya Elang lagi.


"A..aku ingin mengatakannya, tapi.. tapi melihatmu bersikap dingin kepadaku. Aku takut, takut kamu gak percaya. Karna waktu itu aku sudah menduga kalau kamu sudah mengetahui tentangku !" jawab Naysila, kembali meneteskan air matanya.


"Seandainya dari awal kamu jujur Nay !, mungkin aku tidak kecewa sama kamu dan sampai menjeloskanmu ke penjara. Aku pasti membantumu Nay, untuk lepas dari kakek Ali" ucap Elang, menghapus air mata Naysila.


"Maaf !" tangis Naysila lagi sampai cigukan.


"Aku mencintaimu Nay !" ucap Elang kemudian mencium kening Naysila dari samping.


Naysila semakin menangis terisak dan cigukan, sampai untuk bernapas Naysila merasa kesusahan.


"Sssttt !" Elang menghapus air mata Naysila, dan semakin mengeratkan pelukannya.


"A..a..aku juga me..mencin..tai..mu..E..elang !" balas Naysila terbata dari dalam pelukan Elang.


"Aku juga minta maaf !" ucap Elang lagi.


Naysila menggelengkan kepalanya," A..aku..yang..salah !" ucapnya di selah selah isaknya.


Elang pun mengusap usap kepala Naysila, supaya Naysila berhenti menangis.


.


.


Queen keluar dari dalam kelasnya, melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah ruagan Orion. Queen yakin Orion sudah kembali ke kampus. Queen membuka kasar pintu ruangan Orion, sampai membuat Orion terlonjak kaget.


"Bang Orion ! apa hubungan bang Orion dengan mahasiswi baru itu ?. Kata Nimas, bang Orion kemarin megantarnya ke kelas. Dan kenapa bang Orion menyuruhnya duduk di kursiku ?" cerca Queen menatap Orion tajam dengan hidung yang kembang kempes.


Orion berdecak melihat Queen kembali seperti Queen jaman dahulu kala, saat Queen masih anak anak.


"Tutup pintunya, dan mendekat ke sini !" suruh Orion.


"Jawab pertanyaan Queen bang Orion !" geram Queen.


Orion menghela napasnya, lalu berdiri dari kursinya, berjalan ke arah pintu dan langsung menutupnya dan menguncinya rapat rapat. Orion pun mendekati Queen, dan langsung menyambar bibir Queen, menciumnya rakus.


"Aw !" keluh Orion melepas ciumannya dan langsung memegangi bibirnya, karna Queen menggigitnya.


"Mulai besok bang Orion gak boleh lagi datang ke kampus ini !. Mulai besok biar bang Elang aja yang mengelola kampus ini !"perintah Queen, dan langsung melangkahkan kakinya ke arah pintu.


"Mau kemana ?" Orion menarik ujung rambut Queen dari belakang.


"Sakit bang Orion !" teriak Queen, memegang rambutnya yang di tarik Orion.


"Queen bisa dari pintu itu ke ruangan Syauqi !" ucap Orion menunjuk dengan dagunya pintu yang berada di dalam ruangannya.


"Syauqi sudah di bawa Nimas !" ketus Queen.


"Kamu mau menyusui Syauqi di luar !, di depan orang banyak ?. Gak gak gak !, suruh Nimas membawa Syauqi lagi ke sini !."


Queen memutar bola matanya malas, tidak mungkin ia akan menyusui baby Syauqi di depan orang banyak.


"Kami mau duduk duduk dan baring baring di gajebo yang ada di kebun bunga. Di sana tidak bakalan ada orang. Dan tidak akan ada yang berani datang ke sana tanpa seijinku" ujar Queen, melangkahkan kakinya kembali.


"Gak bisa !" larang Orion lagi, menarik kembali ujung rambut Queen.


Queen yang tidak terima, pun memutar tubuhnya langsung menarik rambut Orion dengan kedua tangannya.


"Sakit Queen !" keluh Orion.


"Rasain ! bang Orion yang duluan. Mending sekarang bang Orion pergi dari kampus ini. Besok bang Orion gak udah datang datang lagi kesini !. Di sini sangat banyak pelakor" gemas Queen, kemudian melepaskan tangannya dari rambut Orion.


"Kenapa menjadi Queen yang mengatur abang ?" kesal Orion.


"Karna bang Orion itu gak tau dimana tempat yang berbahaya dimana yang bukan" cetus Queen, dan langsung keluar dari ruangan itu, menyusul baby Syauqi dan Nimas ke kebun Bunga yang dia bangun sendiri, di pinggir jalan depan kampus.


"Baby nya sangat mirip dengan Pak Orion !"ucap cewek yang duduk bersama Nimas.


Queen yang melihatnya langsung mempercepat lankahnya dengan rahang mengeras. Sepertinya mahasiswi baru itu ingin merebut segalanya darinya.


"Siapa yang mengijjnkanmu datang ke tempat ini ?" tanya Queen, berbicara dengan merapatkan gigi giginya, dan tangannya menarik kerah baju cewek sok kecakapan itu.


"Cih ! kau itu gak arogan sekali !" cibir cewek itu.


"Jangan pernah menyentuh apa yang kumiliki !" ujar Queen lagi, menarik cewek itu supaya turun dari gajebo, dan menghempaskannya.


"Jangan coba coba mengusikku kalau kamu masih ingin kuliah di sini !" Queen mendorong tubuh cewek itu supaya pergi dari sana.


Mahasiswi baru itu menatap tajam Queen, sambil merapikan penampilannya sembari menyunggingkan senyumnya ke samping.


"Kamu pasti tau istilah, selangkah suami keluar dari rumah. Statusnya berobah menjadi lajang lagi" ucap cewek itu, kemudian memutar tubuhnya dengan anggun sampai rambut panjangnya mengibas angin.


"Dasar wanita murahan !" maki Queen.


"Sudah Queen, jangan terpancing emosi, Angle orangnya seperti itu, suka membuat kesal orang" ucap Nimas mengusap bahu Queen.


"Sepertinya dia itu ingin merebut bang Orion dariku !." Queen berbicara dengan bibir mengerucut dan hidung mengembang, sambil mengambil baby Syauqi dari gendongan Nimas.


"Yakin aja ! kalau dia tidak akan berhasil !" balas Nimas tersenyum.


"Aku sudah menyuruh bang Orion untuk tidak datang lagi ke kampus" ucap Queen, sambil memberi asi baby Syauqi." Bang Elang yang akan menggantikannya !"ucap Queen lagi.


"Kamu itu terlalu posesif sama Pak Orion, jangan seperti itu. Bisa bisa nanti Pak Orion jengah dengan sifatmu" nasehat Nimas, membaringkan tubuhnya di atas gajebo.


"Emang kamu gak cemburu kalau ada cewek lain yang berusaha mendekati Calixto ?" tanya Queen.


"Kalau Calixto mendekati cewek lain baru aku cemburu" jawab Nimas.


"Kenapa sih kamu gak mau merobah penampilanmu ?. Cupu kek gitu !, Padahal aslinya kamu cantik" tanya Queen lagi, memperhatikan wajah Nimas.


"Aku sudah nyaman berpenampilan seperti ini !" jawab Nimas lagi.


"Bisa bisanya Calixto naksir dengan cewek Cupu kaya kamu" ujar Queen tanpa berperasaan.


"Tapi aku 'kan cantik !" ucap Nimas terssnyum.


"Sayang !"


Queen dan Nimas langsung menoleh ke sumber suara itu.


"Apa ?" cetus Queen.


"Kamu melukai Angle ?" tanya Orion, berjalan mendekati Queen.


.


.