
Selesai melaksanakan shalat isya di masjid pesantren. Bilal memutuskan untuk pulang, karna besok dia ada jadwal dakwah di tempat lain. Ia tidak bisa berlama lama di pesantren seperti dulu lagi.
"Ustadz Ikbal ! Ustadz Amar dan Ustadz Indra. Sepertinya saya harus pulang. Besok saya harus berangkat ke kota XX untuk berdakwah" pamit Bilal setelah mereka keluar dari masjid.
"Oh ! begitu ya !, kalau begitu hati hati di jalan. Teruslah berdakwah, siarkan terus Agama islam" balas Ustdaz Ikbal tersenyum.
Bangga dengan alumni pesantren yang di dirikan kakek mereka. Berhasil melahirkan pendakwah seperti Bilal. Yang terus bersemangat untuk berbagi ilmu kepada masyarakat.
"Pikirkanlah yang kukatakan tadi Bilal, Soal Hani !" ucap Ustadz Indra.
Bilal menghela napasnya dalam, dia akan memikirkan itu, dan juga akan menanyakan pendapat kedua putrinya, baru ia tau bagaimana keputusannya.
"Atas nama keluarga kami, kami minta maaf karna tidak memilihmu untuk menjadi suaminya Hani. Bukan bermaksud buruk atau menilaimu tak bagus." Ustadz Ikbal menghela napasnya."Hanya saja, menolak permintaan orang yang sudah banyak berbuat baik kepada kita, sangat sulit" lanjutnya.
Bilal semakin menarik sudut bibirnya ke atas." Seandainya aku berada di posisi kalian, aku juga pasti akan melakukan hal yang sama" balasnya.
"Hani sudah lama hidup sendiri, tinggal sendiri di rumah Kakek. Aku kasihan melihatnya, meski katanya dia baik baik saja, tak ingin menikah lagi. Aku bisa melihat dimatanya kalau dia sebenarnya kesepian. Aku pun sering melihatnya menangis sendiri tanpa ia ketahui, setiap aku datang ke rumahnya"ucap Ustadz Amar dengan wajah bersedih.
"Aku rasa dia masih mencintaimu !"lanjutnya.
Bilal hanya bisa diam, entah ! hatinya terasa sakit mendengar cerita dari sepupu Hani itu. Jantung Bilal pun kembali memompa darah semakin kencang menjalar ke seluruh tubuhnya. Bilal hanya tersenyum masam tanpa bisa berkata apa apa.
"Pikirkanlah !" Ustadz Indra menepuk bahu Bilal pelan.
Bilal menganggukkan kepalanya," kalau begitu aku pulang dulu. Assalamu alaikum !" pamitnya sekali lagi.
"Walaikum salam !."
Bilal pun melangkahkan kakinya meninggalkan ketiga Ustadz di pesantren itu. Berjalan ke arah parkiran mobilnya, yang ia parkirkan di depan rumah makan milik Ustadz Indra. Yang dulunya adalah warung makan miliknya, tapi sudah ia berikan kepada Ustadz Indra. Dan kini warung makan itu sudah berubah menjadi rumah makan.
Tiba tiba Bilal memperlambat jalannya, melihat sosok yang sangat ia kenal berjalan datang dari arah depannya. Kembali lagi jantung Bilal berdegub kencang melihat sosok itu.
Ummu Hani !,
Nama itu sudah sangat melekat di hati Bilal. Apakah masih ada cinta di hati seorang Bilal untuk wanita yang masih cantik di usia 40 Tahunan itu ?.
Hani yang berjalan semakin mendekati Bilal, menundukkan pandangannya. Ia baru pulang dari rumah Susi sahabatnya yang masih berada di lingkungan pesantren itu, semenjak dari acara pernikahan putri sahabatnya tadi. Hani kesana tadi untuk membantu sahabatnya itu membereskan sisa sisa acara. Dan kini ia sedang perjalanan pulag ke rumahnya. Siapa menduga kalau dia akan bertemu dengan Ustadz Bilal di tengah jalan.
Hani menghela napasnya, saat akan berpapasan dengan Bilal yang menghentikan langkahnya. Ia tak ingin menyapa Bilal apa lagi untuk mengganggunya seperti dulu. Tiba tiba Hani menghentikan langkahnya, karna merasa ada yang menarik jilbabnya dari belakang.
"Assalamu alaikum Ukhti Hani !" sapa Bilal tersenyum, membalik badannya ke arah Hani yang melewatinya tanpa menegurnya.
"Walaikum salam Ustadz ! tolong lepas tangan Ustadz dari jilbab saya !" balas Hani.
Hani memegangi dadanya di balik jilbab yang menutupi dadanya. Hani tidak menyangka Ustadz Bilal berani menarik ujung jilbabnya.
Bilal pun melepas tangannya yang memegang ujung jilbab Hani. Bilal mengulas senyumnya, meski sebenarnya jantungnya deg degan.
"Kamu terlihat semakin cantik !"gombal Bilal.
Bertambah cepatlah ritme kecepatan detak jantung Hani. Hani menggigit bibir bawahnya, yang masih membelakangi Bilal.
"Kalau di tambah senyumnya, pasti akan bertambah cantiknya !" gombal Bilal lagi, semakin melengkungkan bibirnya ke atas.
"Walaikum salam !" balas Bilal. Bilal membiarkan Hani pergi, tanpa menghalanginya. Melihat Hani semakin jauh dari pandangannya, baru Bilal melanjutkan langkahnya ke arah mobilnya.
Sampai di rumah, Bilal langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur di kamarnya. Rumah itu sangat sunyi, karna kedua putrinya lebih sering tinggal bersama Aqeela mantan istrinya. Bilal menghela napasnya mengingat perkataan Ustadz Amar tadi tentang Hani. Dan anjuruan Ustdaz Indra, menyuruhnya melamar Hani kembali. Hati Bilal menjadi bimbang, sedikit goyah untuk melamar Aqeela rujuk. Jujur ! setelah sempat bertemu Hani tadi, Bilal merasa ia jatuh cinta kepada Hani lagi.
Bilal kembali mendudukkan tubuhnya, melangkah masuk ke kamar mandi. Sepertinya Bilal akan meminta petunjuk dari Allah, apa yang harus ia lakukan. Mengajak Aqeela rujukkah, atau ia akan memulai hidup baru dengan Hani atau wanita lain. Bilal tidak bisa mengambil keputusan begitu saja. Bilal harus memikirkan matang matang keputusan apa yang harus dia ambil. Bilal tak ingin lagi gagal berumah tangga. Jika dia menikah sekali lagi, Bilal berharap itu menjadi pernikahan yang terakhir.
.
.
Di tempat lain, Tepatnya di rumah Hani. Dari tadi Hani tidak bisa tidur, meski sudah beberapa kali membolak balik tubuhnya, menukar posisi tidurnya. Ia terus terbayang wajah Bilal, dan terus mengingat kalimat gombalan Bilal yang mengatakannya bertambah cantik. Entah ! Hani merasa berbunga bunga mengingat Bilal memujinya. Hani merasa seperti orang kasmaran saat ini.
Astagfirullohal azim ! ya Allah ! ada apa denganku ?, kenapa aku terus terbayang banyang dengannya ?. Batin Hani
Hani pusing di buatnya, jam sudah menunjukkan jam sebelas malam, namun matanya masih enggan terpejam. Padahal Hani harus bangun shalat malam lagi. Hani kawatir kalau ia tak bisa tidur, ia tidak bisa bangun di sepertiga malam untuk melaksanakan shalat malam.
Ya Allah ! tolong jaga hati ini ya Allah !, batin Hani lagi, memegangi dadanya.
Melihat jam sudah menunjukkan pukul 12 malam lewat. Hani bangun dari pembaringannya, ia memutuskan untuk melakukan shalat malam di sepertiga malam pertama. Hani akan berdoa kepada Allah, memohon ampun dan meminta pertolongan, supaya bayang bayang Bilal pergi dari hati dan pikirannya. Hani merasa tidak bagus jika terus memikirkan laki laki yang bukan haknya itu.
"Ya Allah ya Tuhanku !, zat yang maha membolak balik hati, tetapkanlah hatiku selalu berada di jalan ajaran Agamu !. Bersihkan hatiku dari bayang bayang Ustadz Bilal. Hamba takut ya Rob, tidak bisa mengendalikan perasaan Hamba seperti dulu, Amin !."
Hani mengakhiri doanya malam itu, dengan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
.
.
"Ya Allah yang maha pengasih dan maha penyayang, maha bijak sana dan maha segalanya. Hamba meminta pertunjuk kepadamu atas keragu raguan hamba, kebingungan hamba dan kebimbangan hamba dalam mengambil keputusan. Tunjukkanlah kepada hamba jalan yang benar, jalan yang engkau ridhai ya Allah !, amin !." Bilal mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya setelah mengakhiri doanya.
Sudah lima Tahun, dia menjalani hidup sebagai seorang duda setelah perceraiannya dengan Aqeela. Karna pertengkaran yang sering terjadi antara dia dan Aqeela, mengharuskan Bilal menceraikan istrinya, karna Aqeela menggugat cerai kepadanya.
Aqeela menggugat cerai karna tidak terima,Bilal sering meninggalkannya. Aqeela beralasan kalau Bilal menyerahkan pengasuhan anak sepenuhnya kepadanya. Dan Bilal tidak memenuhi kebutuhan biologisnya dengan baik, karna Bilal kebanyakan menghabiskan waktunya berdakwah keluar daerah.
Bilal menghela napasnya, mengingat perceraiannya dengan Aqeela. Bilal sadar dengan kesalahannya yang kurang perhatian kepada keluarga kecilnya. Tapi bagaimana lagi, dia harus menjalankan tugasnya sebagai pendakwah. Bukan Bilal tak ingin mengurangi waktu berdakwahnya saat itu. Tapi Bilal sering tidak bisa atau merasa tidak enak hati menolak undangan orang untuk mendengarkan ceramahnya. Sehingga rumah tangganya yang menjadi korban. Seandainya saja Aqeela bisa bersabar lebih sedikit saja, untuk memahami pekerjaannya sebagai pendakwah, mungkin mereka tidak sampai harus bercerai.
.
.
Hani yang mengajar di dalam kelas, mendudukkan tubuhnya di kursi meja guru setelah ia selesai menjelaskan pelajaran. Hani termenung, karna bayang banyang Bilal masih mengisi hati dan kepalanya meski ia sudah berdoa kepada Allah. Untuk meminta pertolongan agar bayang bayang Bilal menghilang dari pikirannya.
Ya Allah ! bagaimana caranya untuk mengusir wajah itu dari pikiran ini. Kenapa semakin hari, aku semakin memikirkannya ?. Batin Hani
Tuhan ! bantu aku, aku tak ingin jatuh cinta lagi. Aku sudah nyaman dengan kehidupan yang kujalani selama ini. Aku tak ingin kecewa lagi, batin Hani lagi.
Hani menghela napasnya berat, mengingat sakitnya mencintai tapi tidak dapat bersatu. Dan sakitnya mencintai, di tinggal pas lagi cinta cintanya. Bukan Hani belum ikhlas dengan takdir, hanya saja Hani tak ingin hatinya merasakan sakit lagi.
.
.