
🎵Nananana🎶nananana🎶nanana🎶
Hani yang baru selesai mandi sore, menyisir rambut panjangnya di depan meja rias sambil bersenandung, bersyair salawat di dalam hatinya. Dari nadanya yang terdengar ceria, sangat jelas menggambarkan hatinya sedang berbunga bunga. Dan juga terlihat wajahnya di pantulan kaca cermin, nampak tersenyum berbinar bahagia.
Ngeeeng brum !
Hani menghentikan nada salawatnya, mendengar mobil Bilal berhenti di depan rumah. Buru buru Hani mengikat rambutnya sambil berjalan ke arah tempat tidur, mengambil jilbabnya yang sempat di letakkannya tadi di atas kasur. Hani memakaikan jilbabnya sambil berjalan keluar dari dalam kamar. Tidak melihat Bilal dari pagi, Hani sudah sangat merindukan suaminya itu.
"Assalamu alaikum !"
"Walaikum salam !" Hani membuka pintu rumah itu dari dalam. Hani merekahkan senyumnya melihat Bilal berdiri di depan pintu.
"Masya Allah ! cantinya istriku meski sudah tak muda lagi" puji Bilal tersenyum, melihat wajah Hani yang di rias dengan make up tipis, tapi yang paling menarik perhatian Bilal adalah bibir Hani yang berwarna merah cabe. Rasa lelah Bilal langsung saja hilang melihatnya.
Bilal pun mendorong Hani untuk masuk ke dalam rumah. Jangan sampai ada laki laki lain yang melihat bibir merah merona istrinya yang menyala itu. Bilal menutup pintu di belakangnya, kemudian menarik Hani masuk ke dalam kamar, dan mengunci pintu kamar mereka rapat rapat.
"Abang Bilal ! Hani baru selesai mandi !."
"Salah kamu sendiri, kenapa menggodaku dengan kecantikanmu ?."
Entah apa yang terjadi di dalam kamar penganten baru itu ?. Hanya Ustadz Bilal dan Ustadzah Hani lah yang tau.
Satu jam berlalu,pintu kamar itu akhirnya terbuka. Nampak Hani keluar dengan wajah cemberut berhalan ke arah dapur. Tubuhnya sangat lelah dan remuk karna baru di patok sama si burung cicit nakal. Bilal benar benar menghabisinya siang dan malam. Mantan duda itu benar benar buas memakannya sampai ke tulang tulang.
"Gak usah masak !" Bilal menarik tangan Hani yang hendak masuk ke dapur.
"Kita makan apa ?" Hani berbicara mengerucutkan bibirnya.
"Jalan jalan yuk !" ajak Bilal
Sontak Hani mengarahkan pandangannya ke wajah Bilal yang tersenyum manis kepadanya. Hani pun menganggungkan kepalanya sembari tersenyum. Dan tiba tiba senyum Hani surut begitu saja.
"Kenapa ?" tanya Bilal menautkan kedua alisnya.
"Nanti kalau kita jalan jalan, gak bisa makan, karna para fans mu heboh mengerumini kita" jawab Hani cemberut.
"Aku bisa pakai ini !" Bilal menunjukkan masker dan topi kepada Hani.
Hani menundukkan pandangannya memperhatikan penampilan Bilal ke bawah. Ternyata suaminya itu sudah rapi dengan pakaian celana longgar di padukan dengan baju koko, dan susah memakai sepatu. Sekali lagi Hani menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
"Aku ganti baju dulu !" Hani langsung bergegas kembali ke kamar untuk mengganti pakaian rumahnya.
Tentu Hani senang di ajak jalan jalan, apa lagi yang ngajak suami sendiri. Mengingat Hani juga sudah sangat lama sekali tidak pergi jalan jalan.
Melihat semangat Hani, Bilal merekahkan senyumnya. Meski sudah tak muda lagi, tapi mereka sama sama merasa kembali seperti anak anak. Hani kecil dan Bilal kecil.
Tak lama kemudian, Hani akhirnya keluar dari dalam kamar, dengan memakai gamis berwarna maron di padukan dengan jilbab syar'i berwarna hitam. Membuatnya terlihat cantik dan anggun, meski sudah tidak memakai lipstik warna merah lagi.
"Ayo !" Bilal merangkul pinggang Hani dari belakang, menuntun Hani keluar pintu.
"Kita jalan kemana ?" tanya Hani.
"Kemana aja yang kamu inginkan !" jawab Bilal, membukakan pintu mobil untuk Hani, dan menuntunnya masuk.
"Ke Bulan !"ucap Hani.
"Nanti malam saja oke !" Bilal mencolek dagu Hani sebelum menutup pintu di samping Hani.
Bilal mendudukkan tubuhnya di kursi pengemudi, setelah menutup pintunya, tidak lupa Bilal memasang sabuk pengamannya sebelum melajukan kenderaannya.
Bilal menarik tubuh Hani dengan sebelah tangannya, menyandarkan kepala Hani ke lengan kirinya. Kemudian menjatuhkan satu kecupan di ujung kepala istrinya yang tertutup hijab itu.
"Hani lapar, tapi sebentar lagi akan masuk waktu magrib !" Hani berucap manja.
Lagi Bilal mengecup kilas ujung kepala Hani." Apa mau beli kue dulu ?" tanyanya, sambil sibuk menyetir.
Hani menganggukkan kepalanya.
Bilal pun menepikan kenderaannya saat ia melihat toko penjual kue. Kemudian Bilal membuka pintu di sampingnya.
"Tunggu di sini !" ucapnya.
"Ikut!" manja Hani.
Bilal mengangkat satu tangannya, mengusap lembut kepala Hani."Jangan bikin gemas sayang !, aku gak tahan melihatnya" ujar Bilal.
"Dari dulu aku memang menggemaskan!" Hani mengedipkan sebelah matanya ke arah Bilal. Kemudian membuka pintu di sampingnya dan langsung turun berjalan masuk ke dalam toko kue.Bilal pun mengikutinya dari belakang.
Selesai membeli kue, mereka keluar dari dalam toko kembali ke mobil. Dan Hani langsung membuka satu bungkus tersebut, mencomotnya satu, lalu melahapnya.
Hani menganggukkan kepalanya sambil mengunyah makanan di mulutnya.
"Abang sudah menguras tenaga Hani sampai habis!" ujar Hani, setelah menelan makanan di mulutnya.
"Bagi sayang!" pinta Bilal, menoleh sebentar ke arah Hani.
Hani pun langsung menyuapkan kue ke mulut Bilal yang lagi sibuk memperhatikan jalan di depan mereka. Bilal langsung menerimanya.
"Abang !" manja Hani, karna Bilal menggigit jari tangannya yang sempat masuk ke mulut Bilal.
"Makanya nyuapinnya yang bagus, jadi kegigitkan tangannya!" ujar Bilal, padahal dia sengaja menggigit jari tangan Hani.
"Abang Bilal sengaja!" cetus Hani, mengerucutkan bibirnya. Hani kembali menyuapkan kue ke mulutnya.
Melihat jam sudah akan masuk waktu magrib, Bilal pun membelokkan kenderaannya masuk ke salah satu pekarangan masjid. Mereka akan melaksanakan ibadah mereka dulu, sebelum melanjutkan acara jalan jalan mereka.
"Apa aman kita shalat di sini ?" tanya Hani.
Hani kawatir para jamaah masjid itu nanti mengerumuni mereka. Dan yang paling kawatirnya, di antara jamaah masjid itu ada wartawan.
"Aman!" jawab Bilal, setelah memakai masker dan kopiahnya.
Mendengar suara azhan berkumandang dari masjid itu. Mereka segera keluar dari dalam mobil, untuk melaksanakan shalat magrib.
Selesai shalat magrib, mereka kembali ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan mereka yang untuk mencari tempat makan, karna dari tadi Hani sudah mengeluh lapar. Sepanjang perjalanan, Bilal yang sibuk menyetir tidak melapas pengangan tangannya dari tangan Hani. Dan sesekali ia membawa tangan mungil itu ke bibirnya dan mengecupnya.
"Abang ! kita mencari makanan kemana ? ini sudah jauh !" tanya Hani menatap wajah Bilal yang sedang sibuk memperhatikan jalan.
"Gaka tau ! abang 'kan ngikuti kemauan istri Abang!" jawab Bilal.
Hani mengerucutkan bibirnya." Hani sudah lapar Abang !" manjanya.
"Kita makan di angkringan itu aja mau ?" tanya Bilal, melihat ada angkringan tidak terlalu jauh di depan meraka.
"Masakannya enak gak ?" tanya Hani. Hani sangat jarang keluar, apa lagi untuk menikmati makan di luar, bisa di hitung dengan jari.
"Insya Allah enak !" jawab Bilal.
"Ya udah ! kita makan di situ aja !" ucap Hani.
"Iya cinta !" balas Bilal menepikan kenderaannya, ke arah angkringan yang berada di depan pertokoan.
Bilal membuka pintu di sampingnya, dan langsung turun. Kemudian melangkahkan kakinya ke arah pintu sebelah Hani, dan langsung membukanya.
"Ayo sayang !" Bilal mengulurkan satu tangannya kepada Hani.
Hani tersenyum bahagia, karna Perlakuan Bilal yang sangat manis. Sudah tampan, romantis lagi. Hani pun menerima uluran tangan Bilal, lalu mengecupnya dan terkekeh.
Bilal yang gemas melihat tingkah Hani, pun mencubit pipi Hani. Di ajak turun, malah mencium tangannya." Kantanya lapar ? hm..!" gemasnya.
"Ayah ! Umi !"
Bilal dan Hani langsung mengarahkan pandangan mereka ke arah kedua gadis berhijab yang berlari ke arah meraka. Hani pun langsung turun, menyambut kedua anak sambungnya. Hani merentangkan kedua tangannya, memeluk Yasmin dan Annisa.
"Assalamu alaikum Umi !" sapa Yasmin dan Annisa bersamaan.
"Walaikum salam putri putri umi !" balas Hani, kemudian mencium kening Yasmin dan Annisa bersamaan.
Kemudian Yasmin dan Annisa berpindah menyalam Bilal dan memeluknya.
"Assalamu alaikum Ayah !" sapa keduanya bergantian.
"Walaikum salam putri putri Ayah !" balas Bilal, juga mengecup kening kedua putrinya bergantian." Sama siapa ke sini?" tanyanya.
"Berdua Yah !, ini Annisa minta makan di luar tadi" jawab Yasmin.
"Habis di rumah sunyi ! gak ada Ayah. Di rumah Mama juga gak ada orang" Annisa berbicara dengan wajah cemberut.
"Maafin Ayah ya !"ucap Bilal merasa bersalah.
"Ayo Yah ! Umi ! kita duduk di sana. Yasmin sudah lapar banget" ajak Yasmi, memeluk lengan Hani, menariknya ke salah satu meja kosong angkringan itu.
Di ikuti Bilal dan Annisa dari belakang.
.
.