Brother, I Love You

Brother, I Love You
56. Ngumpul bareng



"Bagaimana kalau nanti malam kita bakar bakar ?" usul Queen. Mumpung mereka semua ngumpul bareng, pikirnya. Soalnya setelah mereka besar semua, jarang sekali mereka sama sama punya waktu, semua pada sibuk.Hari ini mumpung Papa Arya mengijinkan mereka libur sekolah.


"Ide bagus !" ujar Ghissam


"Tapi kita bakar apa ?" tanya Queen.


"Bakar ikan sama jagung aja" Orion yang menjawab.


"Yang belanja ikan sama jagungnya siapa ?"tanya Queen lagi.


"Reyhan sama Ghissam" jawab Orion." Sana kalian ke pasar, kalian bawa Diana dan Kania" suruhnya.


"Kalau kami yang belanja, kalian ngapain ?" tanya Ghissam kesal. Malas sekali dia kalau harus ke pasar, di sana pasti bau. Seumur umur dia tidak pernah yang namanya ke pasar.


Orion mencebikkan bibirnya,"Jangan jadi adik durhaka, sana pergi !" perintahnya.


Dokter Ghissam mendengus" Elang aja yang ikut pergi" ucapnya.


"Sama Kania ?" sahut Elang, pasti Dokter Ghissam gak bolehin pikirnya.


"Enak saja !" dengus Dokter Ghissam, Dia sudah jomlo sejak lahir, takut dong ! Kania kekasih barunya di hembat Elang.


"Ya udah sana pergi !" suruh Elang.


"Duitnya mana ?" tanya Reyhan


Orion memutar bola matanya malas, tak ingin menjawab pertanyaan adik butok ijo nya itu. Hanya untuk membeli ikan sepuluh kilo, tidak mungkin Reyhan dan Ghissam gak punya uang.


"Queen ! ayo istirahat ke kamar" ajak Orion kepada Queen, langsung berdiri dari sofa, yang langsung di ikuti Queen. Walaupun Queen tidak mengalami apa apa dengan kehamilannya. Orion tidak mau Queen sampai kecapean dan kurang istirahat.


"Burung cicit ! ayo ! kamu juga tidur siang" ajak Orion kepada Bilal.


"Bang Orion sama kak Queen, gak urusan pribadi ?" tanya Bilal polos, meletakkan remot mobil mobilannya di lantai.


"Sekarang gak !, ayo !" ajak Orion lagi.


Bilal yang kangen dengan abang tertuanya, menganggukkan kepalanya dan langsung mengikuti Orion dan Queen berjalan menaiki anak tangga ke lantai dua.


"Enak sekali mereka ?" kesal Dokter Ghissam, cemberut.


"Ayo kita beli ikan sama jagungnya, biar cepat" Reyhan berdiri dari rebahannya, mengambil kunci mobilnya dari atas meja sofa."Ayo Di !" ajaknya kepada Diana, menarik Diana dari tempat duduknya supaya berdiri.


"Sirin gak di ajak ?" tanya Diana


"Gak usah !, nanti tugasnya yang membersihkan ikannya" jawab Reyhan."Ayo Ghis !" ajaknya lagi kepada Dokter Ghissam.


Dokter Ghissam mencebik, tapi tetap berdiri dari sofa, menarik tangan Kania supaya ikut juga.


Si jomlo Elang dan Darren, mereka kembali sibuk dengan game on line masing masing.


Arsen dan Sirin yang tadinya di taman belakang rumah, kini sudah berada di dalam mobil Arsen. Mereka duduk di kursi penumpang belakang. Kedua muda mudi yang asik berpacaran itu, sama sama menautkan bibir mereka, entah sudah berapa kali mereka berciuman, sampai mereka merasa bibir mereka sudah terasa kebas.


"Sirin !" panggil Arsen dengan suara sengaunya, menatap sirin yang berada di bawah kungkungannya dengan tatapan sendu dan berhasrat, Sirin pun menajamkan tatapannya ke manik mata Arsen." Aku mau kamu !"ucapnya mendamba.


Sirin menggigit bibir bawahnya, sambil berpikir.


"Boleh ?" tanya Arsen lembut.


"Tapi kita belum menikah !"jawab Sirin.


"Aku janji akan bertanggung jawab" ucap Arsen meyakinkan.


Sepertinya mereka berdua sudah di rasuki setan mesum, sehingga mereka berpikir untuk melakukan yang tidak seharusnya.


"Janji !" Sirin meyakinkan, Arsen menganggungkan kepalanya sembari tersenyum. Kemudian kembali mencium bibir Sirin.


.


.


Di kamar Queen dan Orion, Bilal sudah tertidur pulas di samping Orion, dengan posisi memeluk Orion dari samping. Adik paling bungsunya itu, benar benar sudah sangat merindukannya. Karna sudah kehilangan abangnya selama tujuh Tahun.


"Bilal sudah tidur bang Orion ?" tanya Queen, yang juga memeluk Orion dari samping kanan. Queen tidak masalah, jika Bilal ikut tidur di kasur yang sama dengan mereka. Karna Queen juga sudah menganggap Bilal adik sendiri.


"Sudah !" jawab Orion." Queen kenapa belum tidur ?" tanyanya.


"Peluk !" manja Queen, memindahkan kepalanya ke atas lengan Orion. Orion pun mengecup kening Queen.


"Mungkin seperti ini ya ! rasanya kalau sudah punya anak yang sudah gede" ucap Orion, yang berada di antara Queen dan Bilal.


"Mungkin iya !, nanti anak kita akan tidur bersama kita" balas Queen, pikirannya menerawang, membayangkan bagaimana setelah anak mereka lahir, dan sebesar Bilal, pasti seru bermain dengan anak sendiri.


Orion mengusap lembut perut Queen," Abang sudah gak sabar nunggu anak kita lahir. Kalau cewek pasti cantik seperti Queen, dan kalau cowok, Ganteng seperti abang" ucap Orion, matanya nampak berbinar bahagia.


Queen mengembangkan senyumnya membalas tatapan Orion, lalu mengangguk.


"Semenjak kapan bang Orion mencintai Queen ?." wajah Queen seketika tampak kesal mengingat dulu Orion terus menolaknya.


Orion mengangkat tangannya dari atas perut Queen. Berpindah mengelus pipi mulus Queen dengan jempolnya.


"Abang gak tau Queen, mungkin saja sejak kamu bayi" jawab Orion. Queen mengerucutkan bibirnya tidak puas dengan jawaban Orion.


"Trus ! kenapa dulu pacaran sama si Kezia Kezia itu ?." kesal bangat Queen sama cewek saingannya dulu.


Orion mencebikkan bibirnya, ceritanya sudah lama, masih saja Queen kesal dan tidak menyukai Kezia." Masa Queen masih cemburu ?."


"Dia bukan sainganku !" jawab Queen, angkuh.


"Iya sayang ! kamu yang paling cantik, ayo tidur, biar kamu dan bayi kita sehat." Orion menarik tubuh Queen, memeluknya posesif.


"Mama ! Papa !, ini adik siapa ?, kok gak ada burung cicitnya kaya Bilal" gumam bocah sepuluh Tahun yang tidur di samping Orion itu. Sontak saja Orion dan Queen menoleh ke arah Bilal yang tertidur pulas. Orion dan Queen pun saling berpandangan.


"Sepertinya Mama Bunga benar hamil" ucap Queen.


"Alhamdulillahi robbil alamin !" balas Orion, ia harus bersyukur seperti kata Mama dan Papanya.


"Sepertinya cewek kayanya" ujar Queen.


"Iya sayang !, Tante sama ponakan nanti usianya sama" balas Orion.


"Gak apa apa !" ucap Queen.


"Ayo tidur, abang sudah sangat ngantuk" Orion memejamkan matanya, ia butuh tidur siang, untuk merilekskan tubuh dan pikirannya, setelah semua masalah terselesaikan.Begitu juga dengan Queen, ia juga memejamkan matanya untuk tidur.


.


.


Reyhan memarkirkan mobilnya di halaman rumah Queen dan Orion, mereka sudah pulang dari belanja. Mereka berempat pun turun dari dalam mobil. Kania dan Diana langsung masuk ke dalam rumah, sedangkan Reyhan dan Dokter Ghissam harus mengambil belanjaan mereka dulu dari dalam bagasi.


Hari sudah sore, nampak rumah pengantin baru stok lama itu sunyi. Diana dan Kania melihat Elang dan Darren sudah tertidur pulas di atas karpet ruang tamu. Sirin dan Arsenio dimana ?.


"Apa mereka semua tidur ?" tanya Diana


"Mungkin !" jawab Kania


"Tidur juga !" jawab Kania, tubuhnya terasa lelah, matanya ngantuk. Tadi malam mereka begadang nonton Drathai di laptop milik Sirin. Dan biasanya Kania pulang sekolah, tidur siang sebentar kalau tidak ada kegiatan.


"Aku juga sudah ngantuk dan lelah, ke kamar Yuk !" ajak Diana, langsung melangkahkan kakinya masuk ke kamar yang mereka tempati tadi malam. Disana sudah ada Sirin tertidur pulas. Setelah mencuci tangan dan muka mereka ke kamar mandi yang ada di kamar itu, Kania dan Diana pun langsung menjatuhka tubuh mereka di samping Sirin.


"Mana cewek cabe cabean kita ?" tanya Reyhan, setelah mereka meletakkan belanjaan mereka di dapur.


"Palingan di kamar" jawab Dokter Ghissam, Meletakkan ikan yang banyaknya sepuluh kilo di atas washtapel.


Reyhan mendesah pasrah, melihat tidak ada yang bisa di harapkan di rumah itu untuk membersihkan ikan yang mereka beli.


"Ayo kita bersihin ikannya, nanti di lariin meong pula satu satu, kalau di biarin terletak di sini" ajak Reyhan, berjalan ke arah washtapel.


"Aku gak pernah melakukan bedah pada ikan" balas Dokter Ghissam, ia malas sekali untuk membersihkan ikan itu.


"Aku rasa membedah perut emak emak bunting lebih sulit dari pada membedah perut ikan. Gak usah cari alasan, bantuin biar cepat selesai. Kamu yang membedah perutnya, biar aku yang mencucinya" ucap Reyha seperti memerintah anak buahnya.


"Kenapa gak kamu saja yang membedah perutnya ?, baru aku yang menyucinya" sela Dokter Ghissam.


"Ayolah ! aku gak ahli di bidang bedah membedah" ujar Reyhan lagi, Dokter Ghissam mendengus kesal, yang malas jika berurusan dengan dapur. Tapi ia menurut juga apa yang di suruh Reyhan. untuk melakukan pembedahan pada perut perut ikan yang terlelap dengan mata terbuka itu.


.


.


Malam Hari


Di halaman belakang rumah suami istri muda itu, sudah terlihat rame. Terlihat asap mengepul ke atas saat Reyhan dan Elang meletakkan ikan di atas panggangan.


"Didi sayang sana aja duduk !, nanti kamu bau asap, biar abang saja yang bakar" ujar Reyhan, karan Diana mendekatinya. Langsung meleleh lah hati Diana, mendengar perkataan manis babang Reyhan itu.


"Iya Bang !" patuh Diana, kalau cowoknya perhatian kaya bang Reyhan, tak apalah nikah muda, pikir Diana. Senyum senyum tak jelas, melangkahkan kakinya ke kursi yang berada di teras rumah. Disana ada Queen, Orion, Dokter Ghissam, kania, duduk sambil memakan cemilan.


Elang yang melihat abangnya begitu perhatian, memutar bola matanya malas. Sekarang sayang sayang, ntar kalau putus di panggil peang, pikir Elang, si jomlo sejak lahir.


Sedangkan Sirin dan Arsenio, mereka duduk terpisah dari abang abang mereka, tapi masih di sekitaran taman belakang rumah.


"Apa masih sakit ?" tanya Arsenio pelan kepada kekasihnya Sirin.


"Sedikit !" jawab Sirin.


"Sini aku pijat lagi kakinya" tawar Arsenio.


"Gah usah, Bang Ghissam tadi udah kasih salap" tolak Sirin, karna memang kakinya yang keseleo, akibat terjatuh kesandung karpet saat main kejar kejaran dengan Bilal, sudah tidak begitu sakit lagi.


Arsenio mengangkat satu tangannya, mengacak acak ujung kepala gadis yang usianya setahun di atasnya itu.


"Kamu suka sekali main kejar kejaran dengan Bilal, padahal kamu sudah tau" cibir Arsenio, membuat Sirin langsung memanyunkan bibirnya, yang langsung di comot Arsenio dengan tangannya.


Calixto ia bersama gadis culunnya, duduk tidak terlalu jauh dari Arsenio dan Sirin. Tadi siang, Calixto menjemput Nimas pulang sekolah, setelah mengantarnya pulang ke rumahnya, Calixto pun meminta ijin kepada orang tua Nimas, untuk membanya, dan akan mengembalikannya malam hari.


"Kalian semua sering ngumpul bareng begini ?" tanya Nimas, cewek culun gebetan Calixto.


"Gak terlalu sering, setiap ada kesempatan aja" jawab Calixto.


"Aku pikir Queen itu orang yang sombong" ucap Nimas.


"Sedikit sombong dan angkuh !" jawab Calixto tersenyum." tapi Queen orang yang baik kok" tambah Calixto.


"Aku pikir Queen dengan teman temannya gak mau berteman dengan orang sepertiku, aku pikir mereka akan ilfil melihatku" ucap Nimas lagi, dari tadi memperhatikan Queen, idola cewek tercantik di sekolah mereka.


"Queen ! ambilin abang ikan yang sudah masak, abang mau makan, lapar!" suruh Orion kepada Queen, yang duduk menyender di lengannya.


"Queen lagi malas gerak bang !" rengek Queen manja.


"Katanya menyiapkan makanan untuk suami itu, pahalanya sebesar pahala umroh" cibir Orion. Karna Queen tidak mau di suruh.


"Iya deh !" patuh Queen akhirnya, berdiri dari kursinya meski ia malas. Malas jika harus tersapu asap pembakaran.


"Ikannya susah masak ?, Mama sudah lapar pengen makan!" suara heboh itu, membuat mereka semua mengalihkan pandangan mereka kepada ratu sejagat yang baru datang dengan Papa Arya.


"Mama ! gimana hasilnya ?" tanya Orion langsung.


"Positif !" jawab Mama Bunga senang.


"Alhamdulillah ! selamat ya Ma ! Pa !" ucap Orion lemas. Memikirkan perut istri dan Mamanya nanti sama sama tekdung, Orion malu.


"Mama Bunga positif kenapa ?" tanya Dokter Ghisam yang mendengarnya.


"Si burung cicit sebentar lagi punya adik !" jawab Orion dengan muka masam.


"Oh ! iya ! si burung perkutuk sama si burung cicit mana ?" tanya ratu sejagat, ia sudah kangen dengan kudua anak bontotnya itu.


"Sepertinya di kamar main PS" jawab Orion.


"Aaryan sayang ! panggilin kedua anak kita, aku sudah kangen sama mereka" rengek ratu sejagat manja, manjanya bertambah.


"Iya sayang ! duduklah" balas Papa Arya, memutar tubuhnya masuk kembali ke dalam rumah.


Tak lama kemudian, Papa Gandi, Mama Vani, Ghaisan dan Arcila pun datang. Di susul Om Leo dan Tante Tari bersama Laria putri bungsu mereka. Membaut suasana semakin rame.


.


.


Di tempat lain


Suami istri yang tak lagi muda itu, terus berdebat di dalam kamar mereka.


"Ayolah Sha !, kita sudah tak muda lagi, tidak sepantasnya lagi kamu memelihara rasa cemburumu itu kepada Bunga. Lagian apa yang kamu cemburui ?, kami tidak pernah jalan berduaaan. Aku sudah memiliki kamu, dan Bunga sudah memiliki Pak Arya. Kenapa kamu belum bisa berdamai dengan keadaan." ucap Dokter Aldo dengan suara rendahnya.


Sejak Dokter Aldo membantu persalinan Mama Bunga saat melahirkan Bilal. Semenjak itu, Shasa tidak pernah mau ikut gabung lagi bersama sahabat sahabat suaminya. Dan setiap Dokter Aldo mengajaknya ikut gabung, pasti pertengkaran yang terjadi.


"Tapi kamu masih mencintai Bunga sampai sekarang !" sela Shasa istrinya Dokter Aldo.


Dokter Aldo menghela napas beratnya, ia sudah tidak tau lagi bagaimana cara mengatakannya kepada istrinya, jika ia tidak mencintai Bunga lagi.


"Aku memang pernah mencintainya Sha !, dan aku masih menyayanginya sampai sekarang. Tapi kalau untuk cinta, aku tidak mencintainya lagi" ungkap Dokter Aldo bernada lemah dan pasrah.


Setiap kedua anak mereka tidak ada di rumah, mereka selalu saja bertengkar dengan masalah itu itu aja, masalah cemburu.


"Kamu pasti bohong Al !."


"Apa yang harus kulakukan supaya kamu percaya Sha ?"tanya Dokter Aldo.


"Putuskan hubunganmu dengan Bunga dan keluarganya dan juga anak anak" jawab Shasa.


"Baiklah !, kita akan pindah dari kota ini, berkemaslah, nanti anak anak pulang kita langsung berangkat" jawab Dokter Aldo. Mengalah menuruti ke inginan istrinya, demi keutuhan rumah tangga mereka. Dokter Aldo pun keluar dari kamar, yang seperti neraka baginya sejak tujuh Tahun yang lalu. Kamar yang dingin tanpa ada kehangatan.


.


.