
"Lepaskan wanita sombong itu, aku gak mau punya kakak ipar seperti dia!" geram Laria.
"Laria, gak bagus bicara seperti itu, Nak!" tegur Ibu wanita paru baya itu.
"Kak Sabin gak bisa menerima kekurangan Bang Jho, untuk apa di pertahanka?" ucap Laria lagi.
"Abang mencintainya Dek. Abang yang salah, Abang yang tidak bisa membahagiakannya" balas Jhonatan yang masih memeluk adik bungsunya itu.
"Tapi Kak Sabina gak mencintai Bang Jho. Kalau dia mencintai Abang, dia pasti menerima kekurangan Abang." Laria menghapus air matanya.
"Dia mencintai Abang juga Kok, hanya...."
Jhonatan tidak melanjutkan kalimatnya karna mendengar handphonenya tiba tiba berbunyi. Saat melihat no yang menghubunginya tidak ada nama, Jhonatan mengerutkan keningnya.
Siapa?, batinnya lalu mendial tombol hijau di layar ponselnya.
"Halo! selamat siang. Apa ini benar dengan Bapak Jhonatan Radeya?" tanya seorang wanita langsung dari dalam teleponnya.
"Iya, benar" jawab Jhonatan.
"Kami dari pihak rumah sakit, Pak!. mengabari kalau istri Bapak saat ini berada di rumah sakit. Istri Bapak baru mengalami kecelakaan" ucap suara wanita itu.
"Di rumah sakit mana mbak?."
"Rumah Sakit Sejahtra, pak."
"Saya akan segera ke sana."
Jhonatan langsung mematikan sambungan teleponnya, gegas berlari ke luar rumah.
"Jho! ada apa?, kamu mau kemana?" teriak Ibunya Jho, melihat Jhonatan berlari ke arah mobilnya.
"Sabina di rumah sakit Ma. Dia baru mengalami kecelakaan" jawab Jhonatan.
Buru buru Jhonatan masuk ke dalam mobilnya dan langsung melakukannya dengan kecepatan tinggi.
"Ya Allah, selamatkan istri dan anakku ya Allah" gumam Jhonatan lupa dengan keselamatannya sendiri.
"Ampuni aku ya Allah, seharusnya tadi aku tidak meninggalkannya. Kalau terjadi apa apa sama mereka, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri" gumam Jhonatan lagi, merasa bersalah dan menyesal.
Sampai di rumah sakit, Jhonatan memarkirkan mobilnya sembarangan dan bergegas turun berlari masuk ke dalam gedung rumah sakit.
"Atas nama pasien Sabina Adel Aaryana Alfarizqi dimana Sus?" tanya Jhonatan langsung setelah berada di depan meja resepsionis.
"Sebentar ya Pak, saya check dulu" balas resepsionis rumah sakit itu.
Jhonatan menghembuskan napasnya kasar dari mulut, untuk menghilangkan rasa lelahnya karena baru saja balapan dan berlari.
"Di kamar Tulip no dua, Pak" ucap resepsionis itu setelah menemukan yang ia cari.
"Trimakasih mbak!" balas Jhonatan langsung melangkahkan kakinya dengan cepat masuk ke dalam lif rumah sakit yang akan mengantarnya ke lantai dimana Sabina di rawat.
Setelah Sampai, Jhonatan langsung keluar dari dalam lif, melangkahkan kakinya ke arah pintu ruangan Tulip no dua. Tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu, Jhonatan langsung membukanya.
Di lihatnya Sabina terbaring di atas brankar dengan mata tertutup, sepertinya istrinya itu sedang ketiduran.
"Sayang!" panggil Jhonatan, mengambil tangan Sabina yang di tusuk jarum infus, lalu membungkukkan tubuhnya, memberikan satu kecupan di kening istrinya itu."Maaf!" ucap Jhonatan setelah melepas kecupannya.
Sabina yang tertidur pulas, tidak terusik sama sekali dengan kehadiran Jhonatan.
Ceklek!
Refleks Jhonatan menoleh ke arah pintu, melihat siapa yang datang.
"Paman sudah datang?" tanya wanita berpakaian putih itu.
"Bagaimana keadaan Tantemu dan bayinya?" tanya balik Jhonatan kepada gadis berusia 26 Tahun itu, tapi belum juga menikah. Dia adalah Gaia Zahra anak kedua dari Arsenio dan Sirin.
"Aku juga baru sampai Om, dan langsung ke sini setelah mendapat kabar" jawab Gaia.
Jhonatan menghela napasnya, kemudian kembali mengarahkan pandangannya ke arah Sabina.
"Sayang!" panggil Jhonatan mencoba membangunkan istrinya itu. Jhonatan menepuk nepuk lembut pipi Sabina.
"Bang Jho hiks hiks hiks !."
"Sayang" Jhonatan mengecup punggung tangan Sabina yang berada di genggamannya.
"Bang Jho hiks hiks hiks."
Sabina menggeleng gelengkan kepalanya. Ia tidak mau membuka matanya, takut Jhonatan tidak benar ada di sampingnya.
"Sabina, aku di sini sayang." Jhonatan pun mengecup bibir Sabina dengan lembut.
Pluk!
"Awu!" keluh Jhonatan tiba tiba merasakan sesuatu melayang mengenai lengannya.
"Om gak sopan" cetus Gaia.
Jhonatan cium cium bibir di depan anak perawan, membuat mata dan pikiran Gaia ternodai aja.
"Maaf, Om lupa" cengir Jhonatan menggaruk leher belakangnya.
Gaia mendengus, lalu pergi meninggalkan pasangan suami istri itu.
Sepeninggal Dokter Gaia, Jhonatan mengulurkan tangannya meraba perut Sabina, mencari apakah bayinya masih ada atau bagaimana.
"Bang Jho, jangan pergi hiks hiks hiks."
"Iya sayang, aku gak jadi pergi. Bangunlah, jangan menangis lagi ya" bujuk Jhonatan supaya istrinya itu bangun.
Sabina langsung membuka matanya, duduk dan memeluk tubuh Jhonatan yang berdiri di samping brankar.
"Benaran? Bang Jho gak jadi pergi?" ucap Sabina di bawah telinga Jhonatan. Sabina tersenyum, akhirnya ia berhasil mengurungkan niat Jhonatan untuk pergi ke luar Negri.
Jangan lupakan sifat tengil si istri muka datar itu menurun dari siapa?. Tentunya sifat akal bulusnya menurun dari si Nenek Bunga.
"Sabina kamu baik baik aja?" tanya Jhonatan mencoba melepas pelukan Sabina dari tubuhnya. Namun Sabina malah mengeratkan pelukannya.
"Jadi bang Jho pengen aku sakit benaran? Ops!." Sabina menutup mulutnya yang keceplosan.
"Jadi kamu pura pura sakit dan kecelakaan?" tanya Jhonatan. Ternyata Sabina sudah membohonginya.
Sabina melepas pelukannya, mengarahkan pandangannya ke wajah Jhonatan suaminya." Jangan pergi, aku mohon. Kalau Bang Jho pergi, jadi suamiku siapa?." Sabina mengerucutkan bibirnya, imut banget.
"Kucing" kesal Jhonatan. Kalau wajah istrinya sudah imut seperti itu, mana bisa Jhonatan marah lagi.
"Bang Jho aja ya yang jadi kucingnya." Sabina memeluk kembali tubuh Jhonatan dengan wajah mendongak.
"Oke ikan"
Jhonatan pun mengangkat tubuh Sabina dari atas brankar, membawanya keluar dari ruang perawatan itu.
Sekarang, ikan dan kucing sudah baikan. Sampai di rumah mereka, kucing langsung memakan ikan sampai ke tulang tulangnya.
"Aku minta maaf Bang Jho, aku janji akan merubah sikapku. Bingbing aku bang Jho, jadikan aku istri Soleha mu" ucap Sabina meraba lembut wajah Jhonatan yang berada di depan wajahnya.
"Aku mencintaimu Sabina, maaf karna belum bisa membahagiakanmu." Jhonatan mengecup tangan Sabina yang di genggamnya dari tadi.
"Aku yang tidak pandai bersyukur. Aku pikir rezeki itu hanya materi saja. Aku lupa, mendapat suami yang baik itu juga sebuah rezeki" balas Sabina.
"Mendapat istri yang cantik itu juga sebuah rezeki."
Sabina mengulas senyumnya merasa tersanjung mendengar pujian dari Jhonatan.
"Lagi yuk!"
"Lagi apa?" Sabina mengerutkan keningnya tidak paham.
"Makan ikan sayang."
"Tap...."
Belum sempat Sabina menyelesaikan kalimatnya, Jhonatan sudah menindih tubuhnya dan ******* bibinya mesra. Lama kelamaan Jhonatan berhasil membuat Sabina berteriak teriak kembali.
Ulu ulu ulu! istrinya Jhonatan itu menggemaskan sekali.
"Bang Jhoooooo!."
.
.
.
.