
Sirin mendudukkan tubuhnya di sofa usang ruang tamu yang berukulan kecil itu. Karna Arsenio melarangnya ikut membersihkan rumah kontrakan itu. Sedangkan Arsenio, ia sedang membersihkan kamar kontrakan itu dari debu debu yang menempel di lantai dan di dinding. Arsenio menghela napasnya, melihat tidak ada apa apa di kamar itu, selain kasur single yang sudah usang tergeletak di lantai. Arsenio sangat bersyukur untuk itu, untuk sementara mereka punya alas untuk tidur. Setelah selesai, Arsenio pun memanggil Sirin untuk istirahat.
"Sirin ! ayo istirahat !"
"Sudah selesai ?" Sirin beranjak dari tempat duduknya berjalan ke arah kamar.
"Kasurnya hanya ada itu !" tunjuk Arsenio dengan dagunya, ke arah kasur single yang sebenarnya sudah tak layak pakai.
Sirin terdiam, menggigit bibir bawahnya, melihat kasur itu. Membayangkan betapa tidak nyamannya tidur berdua di atas kasur usang dan tipis itu.
"Maaf !" ucap Arsenio dengan pandangan meneduh. Karna perbuatannya Sirin harus merasakan hidup susah." Setelah nanti aku dapat pekerjaan, aku akan membeli kasur yang lebih layak."
Sirin menganggukkan kepalanya sembari tersenyum getir. Sirin tidak menyangka akan mengalami hidup semiris itu. Yang selama ini tidur di kamar yang luas di atas tempat tidur yang empuk. Kini ia harus terpaksa tidur di atas kasur usang.
"Sebentar !" ucap Arsenio, Sirin mengurungkan niatnya untuk berbaring di atas kasur itu."Tadi aku membawa sarung, biar aku ambil dulu untuk alasnya."
Arsenio melangkahkan kakinya ke arah koper miliknya, dan langsung membuakanya mengambil dua kain sarung dari dalamnya.
"Mungkin kasurnya masih ada sisa sisa debu, nanti badan kita bisa gatal kalau gak di kasi alas." ucap Arsenio sambil membuka lipatan kain itu, melebarkannya di atas kasur.
"Selimut kita ?" tanya Sirin.
Arsenio mengembangkan terseyum menunjukkan satu sarung di tangannya lagi. Setelah membuka lipatannya, Arsenio pun masuk ke dalam sarung itu.
"Untukku ?" Sirin mengerucutkan bibirnya, masa Arsenio saja yang memakai selimut, dia nggak ?.
Arsenio mengangkat sarung yang melingkari tubuhnya itu, lalu menyerukkannya ke kepala Sirin. Sehingga kini mereka berdua berada di dalam sarung itu.
"Tau gak Sirin !, Tidur dalam satu selimut, adalah salah satu cara Rasulullah berkasih sayang dengan istrinya."
Bukh !
"Aw !" keluh Arsenio karna Sirin memukul dadanya tepat di bekas operasinya.
"Tapi Rasulullah tidak mengawini istrinya sebelum ia menikahinya" ketus Sirin.
Dengan kemiskinan yang melanda mereka saat ini. Arsenio mendadak menjadi cowok yang pandai merayu. Apa sekarang otaknya sudah mulai geger karna tak punya uang?.
"Itulah kesalahanku, aku tidak menjagamu!. Seharusnya aku tidak membuatmu terbuai saat itu. Tapi Sirin, aku melakukannya karna sangat mencintaimu. Aku berjanji Sirin, aku akan membahagiakanmu" ucap Arsenio, memeluk erat tubuh Sirin, dan mengecup ujung kepalanya."Maukan kamu bersabar ?."
Sirin mendongakkan kepalanya ke wajah Arsenio. Memandang manik mata Arsenio yang juga menatapnya. Seperkian setik mereka diam saling berpandangan, akhirnya Sirin mengembangkan senyumnya, menganggukkan kepalanya pelan dan hanya sekali.
"Apa kita sudah bisa memulainya ?"
Sirin mengerutkan keningya mendengar pertanyaan Arsenio yang ambigu.
Arsenio mencebikkan bibirnya, karna Sirin tidak mengerti pertanyaannya. Hilang kemana otak istrinya yang pintar itu?.
"MP Sirin !" ucap Arsenio
Sontak saja wajah Sirin memerah, mendengar kata MP.
Arsenio meraih dagu Sirin yang menunduk, mendongakkan wajah Sirin kembali ke wajahnya. Arsenio tersenyum melihat wajah Sirin memerah salah tingkah. Jempol tangannya yang mengelus elus pipi mulus Sirin, perlahan berpindah mengelus bibir manis Sirin.
Tidak tahan menahan gejolak ingin bercinta lagi. Perlahan Arsenio pun mendekatkan wajahnya ke wajah Sirin, sampai bibir mereka menempel. Arsenio perlahan menyapu lembut bibir mungil yang merontokkan imannya itu. Perlahan tapi pasti ciuman itu semakin dalam, dan menjalar kemana mana. Entah kapan keduanya pun sudah berada di atas kasur single yang lesehan dilantai. Membuat suhu ruangan semakin panas bergelora, sehingga kedua anak manusia yang berada di dalam kain sarung itu, sampai bermandikan keringat. Keduanya saling mengucapkan kata kata cinta, dan saling memuji, sangat terdengar merdu dan indah, di telinga keduanya.
.
.
"Dulu aku yang di tinggalkan keluargaku karna bandel. Sekarang Arsenio, dia di usir Papanya dadi rumah!" ucap Mama Bunga cemburut di dalam pelukan Papa Arya.
"Dulu kita sangat marah saat orang orang menuduh kita kumpul kebo dan berzina, karna itu adalah perbuatan yang kezi. Dan sekarang malah anak kita sendiri yang melempar kotoran itu ke wajah kita."
Mama Bunga langsung mendongakkan kepalanya ke wajah Papa Arya. Menatap wajah suaminya itu intens.
"Itu sebabnya dulu aku meminta supaya Orion menikahi Queen. Queen yang selalu menempeli Orion, aku kawatir Orion khilaf. Tapi tidak mungkin juga aku harus menyarankan setiap anak anak kita yang jatuh cinta, dan menjalin hukuman dengan seorang gadis, menyarankan untuk menikah segera. Tapi dengan membiarkan Arsenio dan Sirin berpacaran, ternyata hal yang salah." ucap Papa Arya lagi, sambil tangannya mengusap usap kepala Mama Bunga yang berada di atas lengannya.
Sekarang aku baru mengerti, kenapa dulu Mama sama Papa sangat melarang kami anak anaknya berpacaran. Selain bisa menyebabkan patah hati, berpacaran hanya akan mengundang maksiat, sungguh tidak ada kebaikan dari hubungan berpacaran . Batin Mama Bunga menerawang ke masa silam.
.
.
Waktu berlalu
Kini hari sudah pagi, Sirin yang mendengar ayam kate tetangga berkotek, membuatnya terbangun dari tidur lelapnya. Sirin membuka kelompak matanya, pertama kali yang di lihatnya adalah wajah Arsenio yang masih terlelap dan mendengkur halus. Sirin menarik kedua sudut bibirnya ke atas, mengingat percintaan mereka tadi malam yang begitu nikmat.
Ternyata tidur berdua di atas kasur kecil dan sempit tidak seburuk yang kubayangkan. Asal itu bersama dengan orang yang di cintai. Batin Sirin, lupa dengan keadaan mereka yang tidak punya uang.
Tiba tiba Sirin mengerutkan keningnya, karna perutnya terasa mual dan ingin segera muntah.
"Arsen ! bangun dulu !, aku mau muntah" ucap Sirin sambil menggoyang kuat tubuh Arsenio. Sirin tidak bisa ke kamar mandi, karna mereka berada di dalam satu sarung, dan tidak memakai apa apa.
"Arsen !! Oek !!"
"Ya ampun Sirin !" pasrah Arsenio, tak bisa marah sama sekali. Arsenio pun mendudukkan tubuhnya yang masih mengantuk dan shok, karna dadanya yang berlumur muntahan Sirin. Sepertinya anak mereka itu dendam kepada Papanya, karna menciptakannya di luar nikah.
"Maaf !" ucap Sirin
Oek Oek Oek....!!!
Muntahnya pun berlanjut, tanpa bisa ia tahan.
"Gak apa apa sayang !" balas Arsenio, sambil memijat tekuk Sirin, dan membiarkannya muntah ke atas selimut mereka. Nanti bisa di cuci, pikir Arsenio.
"Sakit Arsen !" tangis Sirin. Seperti itu setiap pagi, ia akan muntah sampai asam lambungnya ikut keluar.
"Sabar ya sayang !" hanya itu yang bisa Arsenio ucapkan untuk memberi Sirin kekuatan." sudah ?" tanyanya, melihat Sirin sudah berhenti muntah.
Arsenio mengambil handphonnya yang terletak di lantai, menghidupkan layarnya untuk melihat jam. Ternyata masih setengah lima, pantasan matanya masih sangat ngatuk, itu terlalu cepat jika ia harus bangun, di tambah lagi tadi malam mereka menghabiskan malam yang panjang. Itu berarti mereka tidurnya baru sebentar.
Arsenio menghela napasnya, mulai hari ini ia harus cepat bangun dan tidak boleh malas, karna ada Sirin yang harus ia urus. Mengingat Sirin yang lagi ngidam mual dan muntah setiap pagi.
"Istirahatlah sebentar lagi, nanti aku membangunkanmu" ucap Arsenio keluar dari dalam kain sarung."Kenapa menutup mata ?" Arsenio mengulum senyumnya melihat Sirin masih malu melihat tubuhnya tanpa pakaian.
"Cepat sana !" usir Sirin, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Tapi aku harus mengambil kain ini, membawanya ke kamar mandi." Arsenio perlahan menarik kain yang terkena muntahan, dari tubuh Sirin.
"Biar aku saja nanti !" Sirin menahan kain itu kuat, jangan sampai terlepas dari tubuhnya, Sirin nanti sangat malu.
"Pemalu sekali !" cibir Arsenio, Tangannya menyentak kuat kain itu sampai lepas dari genggaman Sirin. Dan segera membukanya dari tubuh Sirin.
"Arsen !!! Kenapa kamu menyebalkan !!!" pekik Sirin, langsung membalik badan membelakangi Arsenio.
"Habis kamu menggemaskan sayang !" balas Arsenio, membaringkan kembali tubuhnya ke kasur, memeluk Sirin dari belakang. Kecupan kecupan singkat pun ia daratkan di bahu polos Sirin. Sambil tangannya mere*** tonjolan di dada Sirin. Dan kembali keduanya terhayut di buai asmara, dan kembali hilang kewarasan di pagi buta itu.
Satu jam berlalu, kini keduanya sama sama keluar dari dalam kamar mandi. Mereka pun sama sama bersiapa siap untuk ke sekolah.
Arsenio tertawa cekikikan, melihat mereka berdua sama sama memakai seragam putih abu abu, tapi mereka sudah berstatus suami istri.
"Kenapa ?" Sirin mengerutkan keningnya ke arah Arsen.
"Seharusnya aku yang menjadi suami, memakai baju kemeja berdasi, memkai celana bahan, dan sepatu fantopel, siap berangkat bekerja, ini malah memakai seragam sekolah" jawab Arsenio tersenyum.
"Dan sekarang kita makan apa ?, bahkan untuk memasak saja kita tidak punya alat memasak dan yang mau di masak" Sirin mengerucutkan bibirnya. Rumah kontrakan mereka benar benar tidak ada apa apa. Ibu kontrakan mereka tidak ada menyediakan apapun sama sekali.
Arsenio menghela napasnya," nanti pulang sekolah kita pikirin, untuk sementara kita beli dulu. Kamu pengen sarapan apa ?."
"Pengen makan mie kuah pecal" jawab Sirin.
Arsenio mengembangkan senyumnya, kemudian berjongkok di depan Sirin, mengusap perutnya dan menciumnya.
"Benar benar anak Papa, cucu ratu sejagat, kesukaannya sama" ucap Arsenio mencium sekali lagi perut Sirin.
Arsenio berdiri kembali, dan langsung mencium kening Sirin." Trimakasih ya ! sudah membiarkannya tumbuh di rahimmu !" ucap Arsenio setelah melepas ciumannya.
"Dia anak kita, buah cinta kita, dia tidak ikut bersalah dalam dosa kita. Kitalah yang bersalah kepadanya" balas Sirin menajamkan pandangannya ke wajah Arsenio.
"Kamu tidak bersalah, aku lah yang bersalah" ucap Arsenio. tanpa aba aba langsung menyerang bibir Sirin, menciumnya rakus.
"Arsen !!!" pekik Sirin, setelah berhasil melepas pagutan Arsenio.
"Oh ! sayang ! kenapa kamu semakin menggemaskan!." Arsenio menangkupkan kedua tangannya di sisi wajah Sirin, kemudian menghujaninya dengan ciuman. Membuat Sirin merekahkan senyum bahagianya.
"Yuk kita berangkat !" Arsenio menurunkan kedua tangannya, meraih sebelah tangan Sirin, menariknya keluar dari rumah kontrakan kecil mereka. Sebagai garis start kehidupan baru mereka.
Tanpa melepas tautan tangan mereka, mereka sama sama melangkahkan kaki mereka ke arah mobil milik Arsenio yang terparkir di halaman rumah. Wajah keduanya nampak berbinar bahagia.
Ternyata tinggal di rumah kontrakan sempit, meski perut mereka belum terisi makanan, ternyata tidak mengurangi rasa cinta mereka. Malah cinta mereka semakin bertambah setelah menikmati yang namanya sorga Dunia yang sesungguhnya. Hm..! ini baru awal, mereka belum merasakan dimana gas sama beras habis secara bersamaan, dan uang di dompet tinggal seribu perak, kemudian mencari cari uang koin di tempat bawang dan di keranjang sabun di kamar mandi.
Mereka tidak menyadari banyak kamera reporter mengintai mereka. Dan para pencari berita mulai berbisik bisik.
Arsenio membukakan pintu untuk Sirin, dan menuntunnya masuk. Setelah menutup pintu kembali, Arsenio berjalan cepat memutari bagian depan kenderaannya. Hadiah ulang Tahun ke 17 dari ratu sejagat. Setelah masuk dan menutup pintu di sampingnya, Arsenio langsung melajukan kenderaannya, berangkat ke sekolah.
Satu
Dua
Tiga
Para reporter dari berbagai stasiun teve langsung merapat, untuk berdiskusi. Siapa gerangan tetangga baru mereka ?.
.
.