Brother, I Love You

Brother, I Love You
141. Wanita murahan



Elang menepikan mobinya di depan sebuah rumah berlantai dua yang tidak terlalu besar, dan langsung turun, berjalan ke arah pintu rumah itu. Tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu, Elang membuka pintu itu dan langsung masuk.


Elang berjalan menaiki anak tangga ke lantai dua rumah itu. Membuka pintu salah satu kamar rumah itu, masuk melangkahkan kakinya perlahan ke arah tempat tidur. Elang mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur itu. Membungkukkan tubuhnya mencium kening seorang wanita yang terbaring di sana.


Sontak wanita itu pun terbangun, dan membuka kelopak matanya."Elang ! kamu datang, kamu gak ke kampus ?" tanya wanita itu dengan suara lemahnya.


Elang tidak langsung menjawab, ia pun membaringkan tubuhnya di samping wanita itu. Menarik wanita itu ke dalam pelukannya.


"Ini belum siang, nanti jam dua baru aku ada kelas" jawab Elang.


"Kapan kamu akan memperkenalkanku kepada keluargamu ?." wanita itu berbicara dengan bibir mengerucut.


Elang melengkungkan bibirnya ke atas, kemudian menarik hidung minimasil wanita itu.


"Apa kamu sudah tak sabar untuk melihat burung elangku ?" tanya Elang.


Wanita itu semakin mengerucutkan bibirnya." Gak !."


"Trus ?" tanya Elang.


"Aku takut kamu khilaf !" jawab wanita yang seumuran dengan Elang itu.


Elang tertawa cekikikan, sambil menarik hidung wanitanya itu dan menggoyang goyangkannya ke kiri ke kanan. Sampai wanita itu mengaduh kesakitan.


"Khilaf sama istri gak masalah !" ucap Elang.


"Istri dari mana ?" ketus gadis itu.


"Istri dari nenek moyang !" Jawab Elang lalu terkekeh.


"Sana pergi ! aku mau istirahat" usir gadis itu.


"Yang menyuruh aku datang 'kan kamu !, kok sekarang aku malah di usir ?" rajuk Elang.


"Aku lagi kurang enak badan !, aku mau istirahat" ujar gadis bertubuh mungil itu.


"Ya sudah ! istirahat aja!, aku akan menemanimu sampai ketiduran. Baru aku akan berangkat ke kampus" balas Elang. Mengusap usap kepala gadisnya itu.


.


.


Sirin turun dari dalam taxi, dan langsung melangkahkan kakinya ke arah gerbang rumah besar dan mewah. Tapi itu bukan rumah orang tuanya. Sirin menghampiri pos security rumah itu. Meminta security tersebut untuk membuka gerbang untuknya. Security itu pun langsung membukanya, karna security itu mengenal Sirin.


Dengan langkah cepat, Sirin melangkahkan kakinya ke arah pintu masuk rumah besar itu. Sirin menekan bel rumah itu tiga kali. Tak lama kemudian, pintu rumah itu ada yang membukanya dari dalam. Sirin langsung masuk dan berteriak memanggil pemilik rumah itu.


"Tante Melia !!!, keluar !!!"


Pembantu yang membuka pintu untuk Sirin itu langsung berjalan cepat ke arah kamar majikannya, dan langsung mengetuk pintunya.


"Tante Melia !!! keluar !!!, kalau tidak ingin rumahmu ini kuhancurkan !!!" teriak Sirin lagi.


Sudah dari semalam ia menahan emosinya, karna Kakak dari Ibunya itu, sudah mengganggu ketenangan rumah tangga Papanya.


"Keluar Tante Melia !!!" teriak Sirin lagi.


"Sirin ! kamu kanapa sayang ?, ada masalah apa ?, kenapa kamu berteriak teriak marah di rumah tante ?" tanya wanita paru baya itu. Berjalan santai ke arah Sirin yang marah berapi api.


"Setelah tante berhasil menghasut mama, untuk memusuhi Papa selama ini !!. Sampai rumah tangga mereka hancur !!, dan Mama berakhir di penjara !!. Apa tante belum puas !!?. Apa sebenarnya yang tante inginkan !!?" marah Sirin menatap tajam kakak dari Ibunya itu.


"Papa kamu !" jawab wanita itu santai, berjalan ke arah sofa yang ada di ruang tamu rumahnya. Duduk di sana dengan menyilangkan kakinya.


"Dasar tante wanita murahan !, tidak tau malu !, pelac*r !" maki Sirin.


"Hei anak kecil ! kau mengataiku murahan. Lihat dirimu, hamil di luar nikah" cibir wanita tua itu.


Sirin pun terdiam.


"Kalau sudah tidak ada lagi yang akan kamu katakan, sekarang pulanglah !. Jangan marah marah terus, kasihan anak haram yang berada di dalam perutmu itu. Jika sampai ikut terbawa emosi" usir wanita itu santai, mengibaskan tangannya, lalu berdiri dari sofa, berjalan ke arah kamarnya.


"Dasar nenek sihir !!!"


Brukk ! prang !


Sambil berteriak, Sirin medendang meja sofa berbahan kaca di ruang tamu itu sampai terbalik dan pecah. Kemudian segera pergi meninggalkan rumah itu. Sirin benar benar di buat geram dengan tantenya itu.


Sirin keluar dari gerbang rumah peninggalkan kakek dan nenek dari ibunya itu. Dengan dada yang naik turun, dan kedua tangannya mengepal. Tak ingin berlama lama di tempat itu, Sirin pun memesan taxi online untuk mengantarnya ke rumah orang tuanya. Ia ingin menemui Diana mama kecilnya.


Sampai di rumah orang tuanya, Sirin langsung berjalan ke arah pintu kamar orang tuanya itu. Saat Sirin hendak mengetuk pintunya, Sirin mengurungkan niatnya karna mendengar samar samar suara suara aneh dari dalam kamar itu. Sirin langsung memberenggut kesal menjauhi pintu kamar itu.


Aku sudah capek capek mengeluarkan energi, memarahi tante Melia demi kebahagiaan rumah tangga Papa.Ternyata yang di bela asyik bersenang senang di siang siang panas begini. Batin Sirin. Mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan setelah mengambil satu botol minuman dingin dari dalam kulkas, kemudian meneguknya dengan rakus.


"Bu...!" panggil Sirin kepada pembantu di rumah itu.


"Eh ! ada Nak Sirin !, ada apa nona cantik ?" tanya pembantu yanga sudah mengabdi puluhan Tahu di rumah itu.


"Sirin lapar !, ada makanan Bu ?" jawab Sirin, wajahnya nampak kesal, dan marah.


"Ada Nona cantik !, sebentar ya ! Ibu ambilkan" ucap wanita yang tak lagi muda itu, dan langsung pergi ke dapur, untuk menyiapkan makanan untuk putri majikannya itu.


Selang beberapa menit, pembantu itu datang membawa nampan yang berisi nasi lengkap dengan lauk pauknya, dan segelas jus jeruk.


Sirin pun langsung melahapnya dengan rakus, sampai semua makanan di depannya ludas tak bersisa.


"Bu ! ambilin lagi lauknya, Sirin masih kurang, bawa aja kesini semua Bu !" perintah Sirin. Ia ingin melampiaskan kekesalannya dengan banyak makan.


"Tapi Bapak sama Ibu belum makan Nona cantik !" ujar pembantu itu.


"Ambilin Bu ! ini perintah !" kesal Sirin.


"Ba..baik Nona cantik !" patuh pembantu itu, kembali ke dapur untuk mengambil semua lauk yang dia masak tadi. Meski ia bingung, ada apa dengan putri majikannya itu ?.


"Ini Nona ! silahkan !" ucap Pembantu itu, meletakkan semua lauk yang di bawanya di atad meja.


Ya Tuhan ! sepertinya Nak Sirin kesurupan. Masa ia bisa menghabiskan ayam satu kilo sekali makan. Batin pembantu itu


"Uuukh !" Sirin bersendawa setelah berhasil menghabiskan semua ayam untuk jatah Papanya dan Diana. Biarkan saja Papa dan Mama kecilnya itu nanti sama sama kelaparan, pikir Sirin.


"Trimakasih Bu !, Ibu istirahat aja, gak usah memasak lagi" ucap Sirin berdiri dari kursinya, dan meninggalkan dapur.


Sirin menaiki tangga kelantai dua rumah itu, menuju kamarnya. Sampai di dalam kamar, Sirin mendudukkan tubuhnya di sofa, setelah menyalakan colokan teve, kemudian memencet remot, untuk menghidupkan layarnya. Sirin pun mencari hiburan di teve itu, untuk melupakan kemarahan dan kekesalannya.


.


.


Tak lama kemudian, kedua sejoli yang sedang di mabuk asmara itu sama sama keluar dari dalam kamar. Wajah keduanya nampak segar dan berbinar, dengan rambut keduanya sama sama lembab, pertanda kalau mereka habis mandi.


Keduanya berjalan ke arah ruang makan, dengan Diana melingkarkan tangannya ke lengan Dokter Aldo yang sudah berpakaian rapi, siap berangkat ke rumah sakit.


"Bu !" panggil Dokter Aldo kepada pembantu rumahnya. Sambil tangannya menarik kursi untuk Diana, kemudian menuntun Diana duduk.


Pembantu itu pun tergopoh gopoh datang dari dapur menghadap majikannya yang memanggil.


"Maaf Pak ! sebentar lagi makanannya baru masak" ucap Pembantu itu.


"Kenapa lama ?, ini sudah hampir lewat waktu makan siang" tanya Dokter Aldo, mendudukkan tubuhnya di kursi sebelah Diana.


"Tadi Nona cantik menghabiskan lauk yang sudah saya masak Pa !. Terpaksa saya memasak ulang" jawab pembantu itu.


"Sirin ?" ucap Dokter Aldo


"Iya Pak !, tadi dia datang, wajahnya terlihat marah dan kesal Pak !. Dia makan sangat rakus seperti kesurupan, sampai menghabiskan ayam satu kilo yang saya masak" lapor pembantu itu.


"Dimana dia sekarang ?" tanya Dokter Aldo lagi.


Putrinya itu, datang ngabisin makan aja, gak mikir orang yang juga lapar. Tubuh mereka sudah lelah kehabisan tenaga lagi.


"Sepertinya di kamarnya Pak !" jawab pembantu itu.


"Ya sudah Bu !, silahkan lanjut masaknya, kami akan menunggu" suruh Dokter Aldo.


"By ! aku ke kamar Sirin dulu sebentar" pamit Diana.


"Ia sayang !, tapi jangan marahi putrimu itu, jangan jadi ibu yang galak ya !" janda Dokter Aldo.


Diana memutar bola matanya malas, emang masih jamannya, lagu ibu tiri hanya cinta kepada Ayahku saja. Apa lagi suaminya kaya, semua kebutuhan tercukupi, untuk apa lagi marah marah kepada anak tiri ?, pikir Diana.


Diana pun berdiri dari kursinya, dan melangkahkan kakinya ke arah tangga rumah itu. Sampai di lantai dua, Diana langsung membuka pintu kamar Sirin dan langsung masuk.


"Sirin !" Diana mendekati Sirin yang duduk menonton di sofa sembari tersenyum.


"Sudah selesai bercintanya ?."


Wajah Diana langsung merona mendengar pertanyaan Sirin. Dan dari mana Sirin tau kalau ia dan Papanya Sirin beru selesai bercinta.


"Makanya teriak teriaknya jangan terlalu kencang, sampai suaranya samar samar bocor keluar. Biasakan mode silent, biar gak kedengaran orang" ucap Sirin lagi tanpa peduli Diana yang malu.


Emang emang bunting grub gosib itu, semakin lama mulutnya semakin bocor. Ini nih kebiasaan kalau sering ngerumpi, pikir Diana.


"Apa Papaku sangat buas sampai kamu gak bisa nahan suara ?. Aku menghabiskan emosiku berteriak teriak melambrak tante Melia ke rumahnya. Malah kamu di sini berteriak teriak ke enakan" oceh Sirin lagi.


"Kenapa kamu terlihat marah ! aku tak menyuruhmu melabraknya ?" sungut Diana."Dan juga mulutmu tidak sopan membahas masalah ranjang orang tuamu ?." ucap Diana lagi.


Kenapa anak tirinya yang terlihat lembut itu, mulutnya tidak beretika ?. Apa karna mereka seumuran ?.


"Kamu memang cocok menjadi ibu tiri, karna sudah berani menegurku" sinis Sirin.


Ia masih kesal dengan Diana dan Papanya yang bersenang senang di atas perjuangannya, melabrak tantenya yang sudah mengganggu ketenangan rumah tangga Papanya. Apa lagi saat hamil seperti ini, Sirin sangat susah mengontrol emosinya.


"Kenapa aku harus takut denganmu ?, sekarang akulah ratu di rumah ini. Papamu sudah berada di bawah kendaliku, aku bisa menguasai harta Papamu kapan aku mau. Dan juga kamu yang memintaku menjadi ibu tirimu" cetus Diana.


Diana pun berdiri dari samping Sirin," Seharusnya aku menghukummu ! karna sudah menghabiskan makanan di rumah ini. Dasar anak tiri durhaka !." Kemudian Diana melangkahkan kakinya ke arah pintu.


Bukh !


"Uwek !" Sirin memeletkan lidahnya ke arah Diana setelah melempar bantal sofa mengenai punggung Diana.


Diana mengambil bantal itu dari lantai, kemudian melemparnya ke kepala Sirin, dan langsung kabur berlari ke lantai bawah.


"Sayang ! kenapa berlari ?" tanya Dokter Aldo yang masih duduk di kursi meja makan, sambil memain mainkan handphonnya.


"Pah ! Mama kecil memarahi Sirin karna menghabiskan makanan di rumah ini" adu Sirin tiba tiba, datang ke meja makan." Dia ibu tiri yang kejam Pah !" ucapnya lagi mendramatiskan wajahnya.


Diana memutar bola matanya malas melihat sahabat yang sudah menjadi anak tirinya itu.


Dokter Aldo pun menarik Diana sampai bersandar ke dadanya. Kemudian menarik hidung Diana sembari tersenyum." Benaran itu sayang ? kamu memarahi putri kita ?" tanyanya.


Dokter Aldo tau kalau kedua sahabat itu sedang bergurau. Dokter Aldo pun mengecup pipi Diana di depan Sirin.


"Dasar bucin !" ejek Sirin, cemberut, kemudian mendudukkan tubuhnya di kursi yang bersebrangan dengan kedua orang tuanya itu.


"Makanya cari suami yang romantis seperti Papa. Bukan suami preman seperti Arsen" balas Dokter Aldo. Masih kesal dia dengan menantu sialannya itu.


"Iya deh ! romantis kaya Papa..!. Cepat kalian kasih aku adik yang banyak !" ujar Sirin.


"Tunggu kabarnya saja sayang !, Papa lagi berusaha" balas Dokter Aldo.


"Berusaha sih berusaha, tapi gak usah sampe kedengaran orang kali" cibir Sirin lagi. Mulutnya benar benar tambah lemes semenjak menjadi anggota ibu ibu tukang gosib. Sirin pun meminum jus jeruk yang baru ia tuang dari teko.


Dokter Aldo terdiam, menatap putrinya yang banyak perobahan sifat semenjak menikah. Apa itu bawaan hamilnya, kenapa putrinya itu mulutnya lemes sekali dan gampang marah. Dulu Sirin adalah gadis yang tidak banyak bicara, pembawaannya sangat kalem, dan tidak pernah marah.


.


.