Brother, I Love You

Brother, I Love You
160.Pelit sekali



Sampai di rumah Orion dan Queen, terlihat rumah itu sudah rame dengan para orang orang tua mereka.


"Assalamu alaikum !" ucap Elang, melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah itu.


"Walaikum salam !" balas para orang tua itu, tak lain Papa Arya, Mama Bunga, Papa Gandi, Mama Vani, Tante Tari, Leo, Rania dan Davit, Sofia dan Andre, tidak ketinggalan kakek Fariq dan nenek Indah.


Elang mendekati kedua orang tuanya yang duduk berdampingan, dan langsung menyalam tangan Mama Bunga, dan memeluknya.


"Apa kabar anak mama ?" tanya Mama Bunga, membalas pelukan Elang.


"Baik Ma !" jawab Elang.


Elang pun berpindah menyalam Papa Arya." Pah !" sapa Elang, menempelkan tangan papa Arya ke keningnya dengan mata yang berkaca kaca.


Papa Arya hanya diam, satu tangannya terangkat mengusap kepala anak ketiganya itu.


Elang pun berpindah, menyalam kakek dan neneknya. Dan menyalam Papa Gandi, Om Leo, Dokter Aldo, mama Vani dan Tante Tari.


"Kalau begitu, Elang melihat baby Syauqi dulu" pamit Elang kemudian meninggalkan ruang tamu itu, berjalan ke arah tangga. Elang yakin, saudara saudaranya berada di kamar Orion dan Queen.


Elang mengetok pintu kamar di depannya, setelah terdengar sahutan dari dalam, Elang baru memutar knop pintu kamar itu dan melangkah masuk.


"Paman Elang !" seru Boy, berlari ke arah Elang yang baru masuk.


Elang langsung membungkukkan tubuhnya, menangkap tubuh Boy, mengendongnya dan langsung mengecup kedua pipi cabi bocah itu bergantian.


"Mana istrimu ?, kenapa gak membawanya kesini ?" tanya Orion, menajamkan pandangannya kepada adik ke duanya itu.


Elang melangkahkan kakinya ke arah box bayi yang berada di samping ranjang, melihat baby Syauqi yang tertidur pulas.


"Dia gak mau di bawa kesini bang !" jawab Elang.


"Kenapa ?, ini rumahku, bukan rumah Papa !" Orion mengerutkan keningnya ke arah Elang.


Elang menghela napasnya," Dia takut mendapat penolakan lagi" jawab Elang, dengan wajah bersedih


"Kamu juga sih ! kenapa menikah diam diam seperti itu ?" Orion menghela napasnya, tidak bisa melakukan pembelaan kepada adiknya. Sebagai seorang Ayah, tentu Orion mengerti di posisi Papa Arya.


Orion pun beranjak dari tepi kasur, mendekati Elang. Orion menepuk pelan bahu adiknya itu."Kalau begitu selamat menjadi suami. Dan teruslah berusaha mengambil hati Papa" ucapnya, iba melihat wajah adiknya yang bersedih, karna tak bisa membawa istrinya gabung bersama keluarga.


"Trimakasih bang !" Tak terasa air matanya pun mengalir dari sudut matanya.


Orion memeluk adiknya itu, sambil tangannya mengusap usap punggungnya."Jangan bersedih seperti itu, Nanti biar kami saja yang datang ke rumahmu dan istrimu. Bersabarlah, Papa mungkin masih shok aja. Nanti kalau hatinya sudah baikan, pasti Papa sendiri nanti yang datang mengunjungi kalian" ucap Orion menenangkan hati adiknya yang lagi gundah itu.


"Iya bang !" isak Elang.


"Paman Elang kenapa nangis ?" tanya Boy, menekuk bibirnya ke bawah, matanya sudah merah berkaca kaca, dan juga ujung hidungnya. Boy ikut bersedih melihat Pamannya menangis, meski sebenarnya ia tidak tau apa penyebab Pamannya menangis.


Elang tidak menjawab, karna ia masih sibuk menangis, meluahkan kegundahannya, istrinya yang tidak diterima Papanya sebagai anggota keluarga.


Reyhan pun berdiri dari sofa, berjalan mendekati abang dan adiknya, dan langsung memeluk Elang, setelah Orion melepas pelukannya.


"Kamu tidak sendiri !, kamu masih tetap adikku meski pun kamu melangkahiku sama seperti su balam" ujar Reyhan." besok kami semua akan datang ke rumahmu, kita buat acara di sana ngumpul ngumpul di sana. Biar istrimu merasa tidak di asingkan. Dan juga bukankah istrimu masih sepupu kita ?" ucap Reyhan lagi.


"Maafin Elang bang !, Elang gak bermaksud untuk menyinggung perasaan abang !" balas Elang di sisa sisa tangisnya.


"Gak apa apa !, lagian abang juga sudah bertemu bidadari surga abang" ucap Reyhan, melapas pelukannya, kemudian menepuk pelan bahu Elang, dan kembali ke tempat duduknya, di samping Yumna yang menggendong baby Sabina.


"Sudah sudah sudah !, jangan menangis lagi, bukankah kamu kesini untuk melihat keponakanmu ?" ujar Orion, mengambil Boy dari gendongan Elang.


Elang menghapus air matanya, kemudian membungkukkan tubuhnya mengambil baby Syauqi dari box bayi. Elang mencium kedua pipi keponakannya itu bergantian.


"Maafin Paman ya ! baru bisa menemui Syauqi sekarang !" ucap Elang kepada bayi yang setia memejamkan mata itu.


"Mana hadiah untuk Syauqi Paman Elang ?" sahut Queen dari atas tempat tidur.


Elang mengulas senyumnya, mencium kembali pipi Syauqi." Ponakan Paman ini mau minta hadiah apa ?" tanyanya.


"Motor gede dong Paman !" jawab Queen menirukan suara anak kecil.


"Nanti kalau Syauqi nya sudah gede , baru Paman kasi !" balas Elang.


Queen mendengus," Palingan nati lupa !" ucapnya.


Siang itu, keluarga besar Alfarizqi itu pun, mengadakan acara sukuran kecil kecilan untuk kelahiran baby Syauqi. Hanya acara makan bersama keluarga saja, dan mengundang anak anak yatim, dan anak panti asuhan. Tak lupa Orion juga menyantuni anak anak kurang beruntung itu.


.


.


Malam hari Elang baru sampai di rumah, rumah itu nampak sunyi, karna memang hanya mereka berdua tinggal di rumah itu. Tidak ada pembantu di rumah itu. Karna rumah itu tidaklah besar, masih mampu di bersihkan sendiri.


Elang membuka pintu kamarnya dan Naysila yang berada di lantai dua rumah itu. Elang melihat Naysila sudah tidur pulas di atas tempat tidur, Karna malam memang sudah larut. Elang langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu, barulah ia menyusul Naysila tidur ke atas kasur. Ini malam kedua Elang menemani Naysila tidur di rumah mereka.


Elang merapatkan tubuhnya ke tubuh wanitanya itu, dan memeluknya erat. Sehingga berhasil membuat Naysila terusik menggeliatkan tubuhnya.


"Nay !" panggil Elang lembut, berharap Naysila membuka matanya, nyatanya Naysila tidak mendengar suaranya.


"Lelap banget tidurnya !" gumam Elang, memandangi wajah Naysila yang nampak sembab dan bengkak seperti habis menangis." Sabar ya Nay ! aku akan terus berjuang untuk meminta restu Papa, supaya kamu di terima menjadi anggota keluargaku" guman Elang lagi, kemudian mengecup pipi Naysila.


Elang pun memejamkam matanya, menyusul Naysila ke alam mimpi. Meski sebenarnya Elang sangat ingin mengulangi percintaan mereka kemarin.


.


.


Dan hari itu, kebetulan Naysila masuk ke kelas Elang. Dan tempat duduk mereka bersebelahan. Semenjak itu, Elang mulai memperhatikan Naysila, dan perlahan lahan mendekatinya.


Naysila adalah gadis yang manis, bertubuh mungil. Kulitnya berwarna coklat, rambutnya hitam lurus dan panjang, hidungnya sedikit mancung, matanya seperti kacang almond, alisnya rapi dan tidak terlalu tebal. Bibirnya sedikit dower, sangat terlihat seksi apalagi di oles dengan lipgloss.


Berkisar enam bulan berteman, Elang menembang Naysila, mengajaknya berpacaran. Meski awalnya Naysila menolak, dengan kesungguhan hati Elang membuktikan kalau dia serius mencintainya. Akhirnya hati Naysila pun luluh.


Tanpa sepengetahuan Elang, ternyata kakek Naysila mengenalnya. Mengetahui kalau Elang adalah anak dari keponakannya. Setahun hubungan mereka berjalan, saat Naysila memperkenalkan Elang kepada kakeknya yang sedang sakit. Saat itu Kakek Naysila meminta Elang untuk menikahi cucunya.


.


.


"Pagi !" Sapa Elang, memeluk Naysila dari belakang yang sedang sibuk memasak sarapan.


"Pagi juga !" balas Naysila tersenyum menoleh sebentar ke wajah Elang yang berada di samping wajahnya.


"Ai lopiu !" ucap Elang lagi.


"Ai lopiu juga !" balas Naysila, sibuk mengaduk aduk nasi goreng buatannya.


"Lapar !" rengek Elang, dari tadi tidak melepas pelukannya, sehingga mengganggu pergerakan Naysila.


"Sabar ! ini sudah hampir masak. Sana pakai baju, suka sekali di rumah gak pakai baju" omel Naysila.


"Kita hanya berdua di sini, hanya kamu yang melihatku tak pakai baju" balas Elang. Menggesek gesek bagian bawah tubuhnya ke pinggang Naysila.


Sontak membuat wajah Naysila memerah salah tingkah, meraskan sesuatu mengeras di balik celana bokser Elang. Pasti itu si burung Elang yang ingin terbang mencari mangsa, pikir Naysila.


"Nay ! kenapa wajahmu memerah ?" Elang mengulum senyumnya.


"Sana pakai baju Elang !" Naysila meletakkan sendong gorengnya, kemudian memutar tubuhnya mendorong tubuh Elang.


"Gak mau !, kalau kamu ingin aku memakai baju, kamu yang ambilin, dan pakein !" tolak Elang, mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan berukuran kecil. Meja itu hanya muat makan untuk empat orang saja.


"Pekerjaanku masih banyak, gak sempat. Aku belum bersihin rumah, nyuci baju, nyuci piring dan masih banyak lagi. Belum lagi aku belum mengerjakan tugas kuliahku" omel Naysila.


"Ya udah ! aku gak mau pakai baju !."


"Terserah !" cetus Naysila, meletakkan sepiring nasi goreng di depan Elang dan sepiring untuknya.


"Wih ! bibirnya hampir jatuh !" gurau Elang, melihat bibir dower istrinya mengerucut.


Elang menyendok nasi di piringnya, lalu menyuapkannya ke mulut Naysila yang duduk di sampingnya, yang langsung diterima Naysila.


Selesai sarapan, Elang kembali ke kamarnya, untuk bersiap siap pergi bekerja. Sedangkan Naysila ia harus membereskan rumah dulu. Nanti siang baru ia berangkat ke kampus.


Selesa bersiap siap, Elang keluar dari kamar melangkahkan kakinya menuruni tangga ke lantai bawah.


"Nay ! kamu dimana !!? aku mau berangkat !!!" seru Elang berteriak setelah kakinya menapaki lantai bawah rumah mereka.


"Ish Elang ! suka sekali teriak teriak !" kesal Naysila, melangkahkan kakinya mendekati Elang. Naysila kaget dengan teriakan Elang yang tidak jauh darinya.


"Aku gak melihatmu Nay !" ucap Elang tersenyum.


Naysila mengerucutkan bibirnya, kemudian menyalam tangan Elang, menempelkannya kekeningnya.


"Jangan cemberut dong sayang !, entar kulitmu tambah coklat, dan tubuhmu tambah pendek !" gurau Elang. Mengejek istrinya yang berkulit lebih gelap darinya itu.


"Gini gini kamu yang naksir duluan sama aku tau !" balas Naysila.


"Bagaimana lagi, aku gak tahan dengan senyum manis bibir seksimu ini !" Elang meletakkan jari telunjuk dan jempolnya di kedua sudut bibir Naysila, lalu menyapu bibir itu dengan jempol tangannya.


"Cepat sana berangkat !" Naysila mendorong dada Elang yang akan mencium bibirnya.


"Pelit sekali !" ucap Elang


"Uwek !" Naysila memeletkan lidahnya ke arah Elang, dengan wajah berbinar.


Elang mengembangkan senyumnya, melihat wajah Naysila tak lagi bersedih. Elang mendekati Naysila kembali, tanpa aba aba mencium rakus bibir yang selalu menggodanya itu.


Naysila yang tidak siap, langsung kelabakan, tidak bisa mengimbangi ciuman Elang, dan langsung memukul mukul dada bidang Elang, sampai Elang melepaskan ciumannya.


"Kau ini !" Naysila cemberut, karna hampir saja Elang membuatnya gagal napas.


Cup!


Elang menjatuhkan satu kecupan di kening Naysila." Ya udah ! aku berangkat dulu, sampai ketemu di kampus !" pamit Elang. Kemudian langsung meninggalkan Naysila yang cemberut, namun matanya nampak berbinar. Naysila pun melanjutkan pekerjaannya membereskan rumah.


Tok tok tok !


Mendengar ada yang mengetok pintu, sontak Naysila menghentikan kegiatan menyapunya.


Siapa yang datang ?, gak mungkin Elang 'kan ?. Batin Naysila, meyandarkan sapunya di pagar tangga, kemudian melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.


.


.