
Setelah Ibu Tika memarkirkan kederaannya di parkiran bandara. Bergegas Yumna langsung turun dari dalam mobil, berlari masuk ke dalam bandara. Di dalam bandara sudah sangat dipadati pengunjung, karna para keluarga pemunpang pesawat itu berdatangan untuk memastikan keluarga mereka selamat dan baik baik saja.
Yumna berlari ke arah tempat para penumpang di evakusi. Yumna memutar pandangannya mencari sosok yang sudah mencuri hatinya saat pandangan pertama.
"Bang Reyhan !" tangis Yumna, berlari ke arah Reyhan yang duduk di salah satu bangku bersama Papa Arya, Orion dan Arsenio.
Brukh !
Yumna langsung memeluk Reyhan, menjatuhkan tubuhnya di pangkuan Reyhan. Biarlah kali ini ia melakukan dosa karna memeluk calon suaminya. Yumna sudah tidak bisa membendung perasaannya. Yumna sudah tidak bisa menyimpan kekawatirannya, ketakutannya akan kehilangan pria yang sudah menabuh genderang di hatinya.
Reyhan yang masih kaget pun terdiam, ia tidak menyangkan Yumna memeluknya duduk di pangkuannya. Perlahan, Reyhan pun membalas pelukan Yumna, mengusap kepala Yumna yang terbalut hijab.
"Aku sangat takut kamu pergi meninggalkan cinta di hati ini, habiby Qolby" tangis Yumna.
Reyhan terdiam, mendengar ucapan Yumna yang mengatakan, dia adalah kekasih hatinya. Mereka baru bertemu beberapa kali, secepat itu Yumna mencintainya ?. Dan mereka belum memiliki kenangan yang istimewa, yang membuat mereka jatuh cinta, pikir Reyhan.
"Kamu adalah pria yang kuminta dalam do'aku Habiby !. Kamu adalah pria yang pertama menggetarkan hati ini. Kamu adalah pria yang pertama masuk ke dalam Qalbu ini. Yang membuat dada ini sesak jika rasa rindu menyentuhnya. Kamu adalah pria yang telah menggangu tidurku selama ini. Aku sering tak bisa tidur karna kamu selalu berada di pelupuk mata ini. Selalu berlari lari di pikiran ini, selalu menabuh genderang di dada ini.Kau sungguh jahat, kau sudah mengalihkan Duniaku, kau sudah membuatku berdosa semenjak pertemuan pertama kita. Kau sungguh jahat habiby !" tangis Yumna.
Papa Arya, Orion dan Arsenio mengulum senyum mereka, melihat tingkah Yumna, yang kadang anggun terkadang eror.
"Zamila ! semua orang pada ngelihatin kita, semua orang yang di sini mendengar semua yang kamu ucapkan, suaramu sangat keras mengatakannya. Tapi aku senang mendengar pengakuan cintamu. Dan kamulah yang membuatku berdosa, karna kamu sudah menduduki burung untaku, membuatnya jadi terbangun" bisik Reyhan sembari tersenyum ke telinga Yumna.
Astagfirullahal 'azim, batin Yumna
Sontak Yumna melepas pelukannya dan berdiri dari pangkuan Reyhan dan menghapus air matanya. Yumna menjadi malu dan salah tingkah. Apa lagi saat Reyhan mengatakan ia sudah menduduki si burung unta. Dan benar juga yang di katakan Reyhan, semua orang melihat ke arahnya, untuk Yumna memakai nikap, orang orang tidak bisa mengenali wajahnya. Yumna pun memeluk Ibu Tika yang berdiri tidak jauh darinya, menyembunyikan dirinya di pelukan sang Momy. Wajah Yumna terasa panas, mungkin sudah tampak merah di balik nikapnya.
Pak Yudhi mendengus ke arah Reyhan," kamu kesempatan dalam kesempitan, memanfaatkan kekhilapan putriku" uca Pak Yudhi, melihat Reyhan menikmati pelukan Yumna ke tubuhnya.
"Kami tidak bersentuhan kulit sama sekali calon Papa mertua" balas Reyhan.
"Tapi kamu suka 'kan ? di peluk putriku" ketus Pak Yudhi. Malah Reyhan mengedipkan matanya ke arah colon Papa mertuanya yang terlihat masih tampan itu.
"Ternyata aku salah telah menjodohkan putriku kepadamu !" ketus Pak Yudhi.
"Hubby !" tegur Ibu Tika.
Papa Arya tersenyum, melihat sifat teman lamanya itu, masih menyebalkan seperti dulu.
Waktu berlalu setelah beberapa jam di dalam bandara. Para penumpang pesawat bertujuan ke kota P, di suruh masuk ke dalam pesawat yang lain. Setelah pesawat yang akan menggantikan pesawat yang hampir celaka itu tiba di bandara. Banyak penumpang pesawat yang menunda ke berangkatannya, karna mengalami trauma. Dan sebagian terpaksa harus melawan traumanya, karna ia tetap haris pulang, dan keluarga sudah menunggunya, seperti keluarga Papa Arya.
"Pa ! apa kita akan pulang naik pesawat lagi ?" tanya Arsenio.
"Iya !, jadi kamu mau pulang naik apa ?. Naik kapal ?" tanya balik Papa Arya.
"Arsen takut Pa !, Arsen belum siap mati" jawab Arsenio.
"Kalau kamu naik kapal, di lautan juga kapal bisa tenggelam. Jika memang sudah waktunya ajal menjemput. Kamu tidak bisa menghindarinya. Bahkan ada orang yang mati saat tidur, tidak melakukan apa apa, dan tidak kemana mana. Takut atau tidak takut pun kamu, mati itu sudah pasti" ucap Papa Arya kepada anaknya si preman setengah jadi itu.
Arsenio terdiam, memikirkan perkataan Papa Arya.
"Pak Yudhi ! Bu Tika kalau begitu, kami pergi dulu !" pamit Papa Arya kepada kedua orang tua Yumna.
"Saya do'akan, semoga perjalanan kalian lancar, tidak terjadi apa apa lagi, dan kalian selamat sampai tujuan. Kami menunggu kehadiaran keluarga besar kalian untuk menjemput putri kami menjadi menantu kalian" balas Pak Yudhi.
"Amin !" ucap mereka serempak.
"Pak ! Bu ! Reyhan pulang dulu!" pamit Reyhan menyalam tangan Pak Yudhi. Kemudian menangkupkan kedua tangannya di dada di depan Ibu Tika.
"Iya nak ! semoga kalian selamat sampai tujuan. Jangan lupa memberi kabar" balas Ibu Tika mengulas senyum khas keibuannya. Senyum itu masih terlihat manis, meski di sudut bibirnya sudah mulai terlihat garis garis halus.
Begitu juga dengan Orion dan Arsenio, mereka pun berpamitan kepada calon besan baru orang tua mereka itu.
"Almira ! abang pulang dulu!" pamit Reyhan kepada Yumna yang masih menyembunyikan wajah di balik lengan Ibu Tika.
"Tadi Zamila !, sekarang Almira !" dengus Pak Yudhi kesal.
Apa calon menantunya itu tidak tau !, saat memberi nama putrinya, dua ekor kambing jantan yang sudah berjenggot di korbankan ?. Enak sekali mengganti ganti nama panggilan putrinya.
"Ya Habiby !, Yumna do'akan semoga selamat sampai tujuan" balas Yumna, menunduk malu.
"Sekali lagi kami pamit !" ucap Papa Arya.
Papa Arya dan ketiga anaknya pun berjalan masuk ke arah lorong, menuju pesawat yang menggantikan pesawat yang mereka tompangi tadi.
Yumna dan keluarganya pun segera meninggalkan bandara kembali ke rumah mereka.
.
.
Di kota tempat keluarga Alfarizqi tinggal.
Mama Bunga, anak anak dan kedua menantunya, beserta keluarga dan para sahabat mereka. Sudah menunggu di bandara, setelah mendapat kabar, kalau Papa Arya, Orion, Reyhan, dan Arsenio, sudah berangkat kembali menggunakan pesawat lain dari kota B. Meski mereka bukanlah penumpang, mereka terlihat tegang, kawatir terjadi hal yang tidak di inginkan lagi, sepertinya mereka juga mengalami trauma mendengar kabar itu.
Jika Mama bunga berada di dalam pelukan Elang dan Darrem. Queen berada di pelukan Pqpa Gandi dan Mama Vani. Sedangkan Sirin, ia berada di dalam pelukan Dokter Aldo dan Diana.
Di badara itu juga, tidak kalah ramenya dengan bandara kota B sebelumnya. Para keluarga penumpang pesawat yang hampir naas itu. Berdatangan ke bandara, karna tidak sabar menanti kabar baik dari keluarga mereka yang menjadi penumpang pesawat itu.
Saat mendengar pengumuman pesawat dari kota B, sudah berhasil mendarat dengan sempurna. Serentak para keluarga yang menunggu menghela napas lega, dan mengucap syukur dalam hati. Tidak terkecuali keluarga besar Alfarizqi. Semua meneteska aor mata, menangis terharu, dengan kebesaran Tuhan, memberikan keselamatan kepada orang tersayang mereka.
"Pa ! Ma ! bang Orion akhirnya selamat Pa !Ma !" tangis Queen, memeluk Mama Vani.
"Iya sayang !" ucap Mama Vani ikut menangis.
'Tuhan ! berikanlah putriku kebahagiaan, sudahilah pederitaannya, hilangkanlah kegundahannya" batin Papa Gandi.
Hatinya sakit, semenjak lama, semenjak Orion meninggalkannya. Keceriaan putrinya hilang , karna mencintai seorang Orion.Cobaan terus datang bertubi tubi, menimpa putrinya.
Tak lama kemudian, Para penumpang pesawat pun keluar dari dalam bandara.
"Bang Orion !"
"Aaryan !"
"Arsen !"
Ketiga wanita yang sedang hamil itu, langsung berlari ke arah suami mereka yang baru keluar dari dalam bandara. Sementara mereka lupa, kalau mereka sedang hamil. Mereka sama sama menubrukkan tubuh mereka ke tubuh suami mereka. Ketiga laki laki berstatus suami itu pun, langsung membalas pelukan permaisuri masing masing.
"Queen pikir bang Orion tak kembali lagi, Queen pikir bang Orion akan meninggalkan Queen selamanya" tangis Queen, memeluk erat tubuh Orion.
Orion mengecup ujung kepala Queen. Apa yang bisa ia katakan, sedangkan dia pun tak menyangka akan selamat.
"Arsen !, tadi aku sangat takut kehilanganmu. Aku sangat mengkahwatirkanmu !. Aku tidak bisa membayangkan tidurku tanpamu !" tangis Sirin di dalam pelukan Arsenio.
Arsenio pun diam, tidak tau harus berbicara apa. Tadi ia pun sangat takut tidak selamat. Arsenio hanya bisa mengeratkan pelukannya ke tubuh Sirin.
"Aaryanku..!" hanya itu yang kata yang terucap dari bibir Mama bunga.
"Sssttt...! aku dan anak anak kita sudah kembali dengan selamat sayang !. Jangan menangis lagi ya !" ucap Papa Arya. Mengusap usap kepala Mama Bunga yang tertutup hijab.
Mama Bunga semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Papa Arya,
Dug !
Keluh Mama Bunga tiba tiba, kaget dengan tendangan dari dalam perutnya.
Papa Arya langsung mengulas senyumnya, merasakan tendangan dari perut istrinya, karna perut Mama Bunga yang menempel di perutnya. Papa Arya menurunkan tanganya mengelus sang buah hati yang berada di dalam. Kemudian Papa Arya menurunkan tubuhnya, berjongkok di depan Mama bunga, dan langsung mencium perutnya.
"Anak Papa kangennya ?" ucap Papa Arya lembut kepada sang anak yang belum lahir.
Papa Arya semakin mengembangkan senyumnya, merasakan anaknya bergerak gerak di dalam. Anaknya sangat aktif, sepertinya anaknya ikut merasa senang karna sang Papa dan saudara saudaranya kembali dengan selamat. Lagi, Papa Arya mencium anak yang masih berada di dalam perut. Kemudian Papa Arya kembali berdiri.
Reyhan dan Diana sama sama menundukkan pandangan masing masing, saat pandangan mereka tak sengaja bertubrukan. Terakhir mereka bertemu saat Diana datang berteriak teriak di depan rumah Reyhan. Perpisahan itu belum terlalu lama, tentu sisa sisa cinta itu masih ada di hati keduanya.
Reyhan mengulas sedikit senyumnya, melihat Diana sudah baik baik saja. Perasaan Reyhan tidak lagi terasa sakit. Entah kemana rasa itu pergi, Reyhan sendiri pun tak tau.
Aku senang melihatmu baik baik saja Diana!, aku senang melihatmu bahagia. Batin Reyhan
Aku senang melihat kamu kembali dengan selamat bang Reyhan. Aku senang kamu sudah mendapat penggantiku. Aku berdoa, semoga kamu juga bahagia dengan wanita yang akan menjadi istrimu. Batin Diana
Setelah Reyhan menyalam semua keluarga dan kerabat yang menunggu kedatangan mereka. Sekarang giliran Reyhan menyalam Dokter Aldo.
"Kamu masih menganggap Om pamanmu kan Reyhan ?" tanya Dokter Aldo, saat Reyhan berdiri di depannya.
Reyhan langsung memeluk Dokter Aldo." Tentu ! itu tidak akan berobah sampai kapanpun" jawab Reyhan.
Dokter Aldo pun menepuk nepuk punggungnya dari belakang." Trimakasih sudah mengiklaskan Diana untuk Om !" ucap Dokter Aldo lagi.
"Reyhan tidak berhak untuk tidak mengiklaskan Diana untuk Om. Karna Diana saat itu masih milik orang tuanya, bukan milik Reyhan" balas Reyhan, melepas pelukan mereka.
"Mulai sekarang, kamu harus memanggil Diana Tante. Karna Diana sudah menjadi istriku" suruh Dokter Aldo.
Reyhan menghela napasnya, dan mengalihkan pandanganya ke arah Diana dengan tersenyum." Apa kabar Tente Diana ?" sapa Reyhan.
"Baik !" jawab Diana tersenyum.
Diana juga sudah merasakan sakit di hatinya lagi, menerima kenyataan kalau dia dan Reyhan tidak berjodoh. Rasa sesak di dadanya sudah hilang entah kemana. Sudah di gantikan bunga dengan bunga bunga cinta, yang bertebaran.
"Bagaimana ? apa calon adik untukku sudah ada ?" tanya Reyhan lagi.
Diana diam, ia mengalihkan pandangan ke arah Dokter Aldo yang berdiri di sampingnya.
"Tunggu saja kabarnya !" Dokter Aldo yang menjawab.
"Reyhan rasa senjata Om sudah karatan, mengingat Om yang sudah tidak muda lagi. Sudah tidak tajam lagi" cibir Reyhan.
Diana langsung menundukkan pandangannya, menyembunyikan wajahnya yang memerah. Kenapa mantannya itu harus membahas soal ranjang ?. Apa semua laki laki itu mesumnya sama ?, pikir Diana.
"Kamu meremehkanku yang jelas jelas sudah terlihat hasilnya. Dan kau sendiri !, bagaimana dengan kualitas burung unta mu itu ?" dengus Dokter Aldo.
"Burung untaku masih ori, jelas terjamin kualitas dan kehebatannya" ucap Reyhan.
"Sayang ! ayo kita pulang, nanti malam suamimu ini harus bekerja lagi" ajak Dokter Aldo merangkul pinggang Diana dari belakang di depan Reyhan. Seperti ingin memanas manasi Reyhan.
Dasar lansia puber, Batin Reyhan kemudian mendengus, setelah Dokter Aldo san Diana memutar tubuh mereka dan segera meninggalkannya.
Reyhan pun mencari Ibunda tersayangnya, yang ternyata masih berada di dalam pelukan sang Papa. Reyhan pun melangkahkan kakinya mendekati kedua orang tuanya, dan langsung menarik Mama Bunga dari pelukan Papa Arya.
"Sekarang giliran Reyhan meluk Mama, waktu Papa susah habis" ucap Reyhan kepada Papa Arya.
"Mama !" manja Reyhan.