
Acara jalan jalan Bilal dan Hani tidak sampai di situ saja. Malam harinya, sepasang kekasih yang di mabuk cinta itu berputar putar keliling kota menikmati wisata malam di kota yang mereka kunjungi. Kini Bilal dan Hani sudah berada di sebuah pasar malam.
Di sana banyak terdapat permainan untuk anak anak dan orang dewasa. Dan banyak juga penjual makanan, baju, asesoris dan lainnya. Tapi yang menarik perhatian Hani dari tadi hanya makanan yang di jual di sana.
"Abang ! pengen makan bakso itu !" Hani menarik Bilal ke arah mobil box penjual bakso kerikil.
"Tapi abang gak ikut makan!" ucap Bilal.
Hani menganggukkan kepalanya, karna tak ingin Bilal muntah lagi karna kekenyangan. Dan Hani pun hanya memesan satu porsi bakso krikil.
"Bu ! baksonya satu !" ucap Hani kepada si penjual bakso.
Ibu si penjual bakso itu menajamkan pandangannya ke wajah Hani, kemudian mengerutkan keningnya. Ibu ini mirip istrinya Ustadz Bilal ya ?, batin Ibu penjual bakso itu.
kemudian si Ibu itu mengarahkan pandangannya ke arah laki laki yang berdiri di samping Hani. Namun si Ibu penjual bakso itu tidak dapat mengenali wajah Bilal. Karna Bilal memakai masker dan topi, hanya mata dan keningnya yang kelihatan.
"Bu !" panggil Hani lagi melihat si Ibu penjual itu bengong.
"Eh ! maaf !, Ibu mirip istrinya Ustadz Bilal. Makanya saya memperhatikan wajah Ibu dan suaminya. Eh ! malah suaminya memakai masker" cengir Ibu penjual itu, kemudian menyiapkan bakso untuk Hani.
Hani tersenyum, begitu juga dengan Bilal di balik maskernya.
Beginilah tidak enaknya menjadi orang terkenal, tidak bisa bebas kemana mana, batin Bilal.
Semenjak terkenal menjadi Ustadz, Bilal merasa pergerakannya terbatasi. Jika bepergian sendiri, Bilal harus menutupi wajahnya dengan masker. Jika tidak, para fansnya di pastikan akan mengerumuninya.
Setelah mendapatkan pesanannya, Hani mendudukkan tubuhnya di atas tikar lesehan yang di sediakan penjual bakso itu bersama Bilal duduk di sampingnya. Hani pun melahap bakso itu sampai habis, menurut Hani rasa bakso itu sangat enak.
"Apa anak Ayah ini kerjanya makan aja?" tanya Bilal sembari mengelus perut Hani.
"Sama seperti Ayahnya !" jawab Hani setelah meneguk segelas air putih.
"Itu dulu ! sekarang gak lagi"Bilal menyandarkan dagunya di bahu Hani, dengan tangan terus mengelus elus perut Hani.
"Hm..!" balas Hani.
"Sayang ! kita kembali ke hotel ya!" ajak Bilal melihat jam di tangannya sudah menunjukkan hampir larut malam.
Hani menggeleng gelengkan kepalanya, mengatakan ia belum ingin pulang ke hotel. Hani masih ingin jalan jalan, menikmati sejuknya udara malam. Dari dulu, Hani belum pernah sama sekali merasakan yang namanya berwisata malam atau hanya sekedar jalan jalan. Karna selama ini tidak ada suami yang menemaninya.
"Aku baru pertama kali menikmati malam di luar seperti ini, bergabung dengan orang lain" Hani menengadahkan wajahnya ke atas, memperhatikan taburan bintang bintang di langit.
"Selama ini Duniaku hanya di lingkungan pesantren. Aku tidak pernah kemana mana. Aku pikir selama ini Dunia itu kecil dan orangnya sedikit.. ternyata aku salah!" Hani mengalihkan pandagannya ke wajah Bilal yang berada di sampingnya.
"Biarkan aku menikmati sisa usia ini dengan bahagia Ustadz!. Bawa aku mengelilingi seberapa luas Dunia ini!" ucap Hani lagi.
"Akan sayang !. Aku akan membawamu kemana pun aku pergi. Dan kemana tempat yang kamu inginkan. Tapi.. sekarang kita istirahat dulu, suami tampan mu ini sudah sangay lelah dan ngantuk, besok kita bisa jalan jalan lagi, oke sayang sayangku !" bujuk Bilal dengan wajah tersenyum, dan Bilal juga mengedipkan sebelah matanya ke arah Hani.
"Sebentar lagi !" manja Hani.
Bilal menghela napasnya.
Semenjak Hamil, Hani nya itu suka sekali makan dan jalan jalan. Hani sering kali merengek minta ikut, setiap Bilal keluar rumah.
"Ya udah !" pasrah Bilal.
Setelah membayar bakso yang di makan Hani. Mereka pun lanjut jalan jalan mengelilingi pasar malam. Terlihat Hani mendekati beberapa kios di sana, dan membeli beberapa barang yang menurut Hani bagus dan bermamfaat.
"Aku lihat, Annisa sangat menyukai bros jilbab berbentuk bunga" ucap Hani, saat ia memilah milah asesoris untuk jilbab. Hani aka membeli beberapa asesoris untuk buah tangannya kepada Annisa.
"Iya ! dia sama seperti Aqeela. Mereka sama sama menyukai Bunga" balas Bilal.
Sontak Hani menghentikan gerakan tangannya dan mengalihkan pandangannya ke wajah Bilal. Hani tidak suka mendengar Bilal menyebut nama mantan istrinya itu.
"Aku tidak akan bisa memutuskan hubungan dengan Aqeela. Selain dia adalah wanita yang melahirkan Yasmin dan Annisa. Aqeel adalah sepupuku sayang. Jangan marah apa lagi cemburu. Aqeela sudah menjadi istri di masa laluku!" jelas Bilal, paham melihat tatapan Hani kepadanya.
"Dan jangan berpikir aku tidak cemburu saat kamu menerima lamaran Almarhum Hidayah dulu. Aku sangat marah, dan saat itu rasanya aku ingin menculikmu!" lanjut Bilal.
Kebetulan hanya mereka berdua pembeli yang datang ke kios asesoris itu. Membuat Bilal todak kawatir ada yang mendengar pembicaraan mereka.
"Dan sekarang ! aku memakai wanita bekasnya!" bisik Bilal ke telinga Hani. Berhasil membuat Hani megeraskan rahangnya dan menatap tajam wajah Bilal.
Apa kata suaminya itu?, mengatakannya wanita bekas?. Sepertinya suaminya itu sedang lupa ingatan. Kalau suaminya itu lebih rongsokan dari pada dirinya. Ia hanya dua Tahun bersama Almarhum Hidayah. Sedangkan Bilal, sampai belasan Tahun bersama Aqeela.
"Mulai nanti malam, aku tidak akan memberi jatah abang lagi!" ucap Hani pelan hampir tak terdengar. Tapi Bilal memahaminya dari gerakan bibir Hani.
Bilal tertawa cekikikan, ia sangat suka menggoda Hani.
Setelah memberikan uang kepada penjual asesoris itu. Bilal melingkarkan satu tangannya ke leher Hani. Menarik Hani untuk pulang ke hotel melihat malam sudah sangat larut.
Sampai di hotel, Mereka sama sama masuk ke dalam kamar mandi. Melihat jam sudah menujukkan sepertiga malam pertama, mereka pun sama sama berwudhu untuk melaksanakan shalat malam.
.
.
Hani menggeliatkan tubuhnya saat terbangun dari tidur lelapnya karna merasakan dinginnya sentuhan tangan di kulit perutnya.
"Abang sudah selesai mandi?" gumam Hani tanpa membuka kelopak matanya.
"Sudah! ayo bangun !, biar kita shalat berjamaah" jawab Bilal mengecup perut Hani.
Hani langsung membuka matanya, mengarahkan pandangannya ke arah Bilal yang masih sibuk mengecup ngecup dan mengelus ngelus perutnya. Hani melengkungkan bibirnya ke atas dan tangannya terulur mengusap kepala Bilal. Hani senang dengan perlakuan Bilal yang begitu menyayanginya dan bayi yang masih berada di dalam perutnya.Kemudian Hani mendudukkan tubuhnya, lalu mengecup ujung kepala Bilal.
Bilal mengangkat kepalanya dari perut Hani, kemudian mengecup kening Hani kilas."Aku mencintaimu !" ucapnya lembut dengan tersenyum.
"Gendong !" Hani mengulurkan kedua tangannya ke arah Bilal yang duduk di depannya.
Bilal semakin melebarkan senyumnya. Ia pun segera berdiri dan langsung mengangkat tubuh Hani membawanya ke kamar mandi.
"Mandiin !" manja Hani saat Bilal menurunkan tubuhnya di pinggir Buthtub.
"Manjanya istriku ini !" Bilal mengecup kilas bibir Hani dan segera membuka pakaiannya dan melilitkan kain basahan ketubuh istrinya itu.
Bilal pun menyiram tubuh Hani dengan shawer di tangannya, mulai dari ujung kepala hingga kaki. Setelah ritual di kamar mandi itu selesai, Bilal membawa Hani kembali ke kamar, dan memakaikan pakaian ke tubuh Hani. Setelah selesai, seperti kata Bilal tadi, mereka pun melaksanakan shalat berjamaah di kamar hotel itu.
.
.
Hari pun berlalu, minggu berganti Bulan. Kini usia kandungan Hani sudah sembilan Bulan. Hanya tinggal menunggu hari untuk melahirkan. Tubuh Hani terlihat sangat besar dan gemuk, seperti gajah duduk, kata Bilal.
"Sebentar sayang !" balas Bilal, sibuk mengancing baju kokonya.
Sore ini Bilal mempuyai jadwal berdakwah ke kampung sebelah. Seperti biasa, Hani akan merengek minta ikut, tidak mau di tinggal. Memang akhir akhir ini, Bilal tidak mau menerima tawaran berdakwah jauh jauh. Karna tidak mau meninggalkan Hani jauh jauh yang sedang hamil besar. Apa lagi mendekati melahirkan, istrinya itu semakin manja karna merasakan waswas akan melahirkan.
Setelah selesai merapikan bajunya, Bilal melangkahkan kakinya mendekati Hani yang duduk di pinggir kasur. Bilal menurunkan tubuhnya berjongkok di depan Hani lalu memasang kaos kaki dan sendal ke kakinya. Kemudian Bilal mencium perut besar Hani sambil tangannya mengelusnya.
"Aw !" keluh Hani tiba tiba.
"Ya ampun sayang ! kenapa Uminya di tendang?" ucap Bilal kepada anak mereka yang sebentar lagi akan lahir. Bilal juga merasakan tendangan bayi mereka saat ia mengelus perut Hani.
"Akhir akhir ini dia semakin aktif, dan semakin kuat menendang" ucap Hani.
Bilal mengulas senyumnya ke arah Hani." Dia itu sedang mencari jalan lahir sayang. Makanya dia sering menendang."
Hani juga mengulas senyumnya, namun di wajahnya terlihat gurat ketakutan. Bilal pun mengambil sebelah tangan Hani, menggenggamnya erat, seperti menyalurkan kekuatan kepada Hani. Kemudian Bilal membawa tangan itu ke bibirnya, mengecupnya penuh dengan perasaan.
"Wanita itu lebih tinggi derajatnya tiga tingkat dari laki laki. Itu artinya wanita lebih mulia dari laki laki. Kamu tau kenapa sayang ?, karna wanita bisa mengandung, melahirkan dengan bertaruh nyawa, setelah itu menyusui selama dua Tahun." Bilal menjeda kalimatnya kemudian mengecup tangan Hani sekali lagi." Laki laki tidak bisa melakukan itu" lanjutnya.
Bilal berdiri dari depan Hani, kemudian membantu Hani untuk berdiri, mengiring Hani berjalan keluar dari dalam kamar mereka."Wanita hamil itu dilimpahkan pahalanya. Di ampuni dosanya saat melahirkan karna merasakan sakit. Di beri lampaukan pahalanya jika menyusui bayinya dan merawatnya dengan ikhlas. Masya Allah !." ucap Bilal lagi untuk menghibur hati istrinya.
Bilal menghentikan langkahnya saat mereka sampai di pintu keluar, begitu pun dengan Hani. Kemudian Bilal mengusap kepala Hani dari belakang." Jangan takut ! aku tidak akan membiarkanmu berjuang sendirian!" ucapnya.
Hani menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
"Aku tidak takut dengan diriku!, aku lebih kawatir jika aku tidak bisa melahirkan anak kita dengan selamat!" Hani mengelus perutnya dengan kepala menunduk.
Bilal mengulas senyumnya, lalu mengecup kening Hani."Kamu pasti bisa sayang !, anak kita pasti lahir dengan selamat."
Tentu itu sudah menjadi doa seorang suami kepada istri dan anaknya.
Bilal pun membuka pintu di depannya, menarik tangan Hani keluar dari dalam rumah.
.
.
Selesai berdakwah, Bilal dan Hani tidak langsung pulang ke rumah mereka. Hani ingin berkunjung ke rumah Sabina. Hani ingin sekali memakan masakan adik iparnya itu. Karna kata Bilal, masakan Sabina rasanya mirip masakan ratu sejagat. Jadi Hani ingin memakan resep masakan mendiang Ibu mertuanya yang belum sempat di kenalnya.
Sampai di halaman rumah Sabina, Bilal langsung memarkirkan kenderaannya. Setelah mematikan mesinnya, Bilal turun terlebih dahulu, untuk membukakan pintu untuk Hani dan membantunya turun dari dalam mobil.
"Paman Ustadz !!! Tante Hani !!!" teriak bocah laki laki berlari ke arah Bilal dan Hani.
"Agam !" Bilal mengusap kepala keponakannya itu dengan wajah berbinar senang.
Agam mengarahkan pandangannya ke perut besar Hani. Agam semakin tersenyum kemudian tangannya terulur mengusap lembut perut itu.
"Apa adeknya lahirnya masih lama Tante?."
Hani mengusap kepala Agam," sebentar lagi sayang !"ucapnya.
"Assalamu alaikum Bang ! Kak !" sapa si wajah datar menyusul ke halaman rumah.
"Walaikum salam " balas Hani dan Bilal bersama.
Bilal menaikkan satu alisnya melihat wajah murung adiknya itu." Kamu kenapa ?."
Sabin mengerucutkan bibirnya lalu berbalik badan berjalan masuk ke dalam rumah. Di ikuti Hani, Bilal dan Agam dari belakang.
"Papa minta tambah anak, tapi Mama gak mau!" celetuk Agam.
Sabina langsung berbalik badan mendekati Agam dan langsung menutup mulutnya dengan tangan. Bikin malu aja anaknya itu, ikut campur urusan orang tua. Dan juga dari mana anaknya itu tau kalau Bapaknya minta tambah anak. Ah ! jangan jangan tadi malam Agam tau, kalau Bapaknya memaksa memproduksi tadi malam.
"Dari mana kamu tau ?" tanya Sabina kepada anaknya.
"Tadi malam kamar Mama sama Papa gak di kunci. Agam mau ke kamar Mama, Agam dengar Papa minta adek !" jawab polos Agam.
"Kebiasaan kamu buka buka pintu ya !, Mama sudah bilang 'kan ! kalau mau masuk ke kamar Mama, ketuk pintu dulu !" gemas Sabina menjewer telinga Agam.
"Sakit Mama !" keluh Agam meringis.
Takk !!
Satu sentilan pun mendarat di kening Agam.
"Sabin !" tegur Bilal lembut.
"Dia sudah tidak sopan !" cetus Sabina.
Hari ini moodnya lagi tidak baik, karna tadi malam Jhonatan suaminya membuang pil penunda kehamilannya dan memaksanya membuat adonan si dede bayi. Sabina belum siap tambah anak, malah suaminya memaksa.
"Agam masih kecil, tidak bagus di didik dengan kasar. Lagian kalian yang ceroboh !" bela Bilal mengangkat keponakannya itu ke gendongannya, lalu mengusap usap kening Agam.
Kenapa pula adik perempuan satu satunya itu bisa menghukum anak dengan kasar. Sedangkan Papanya dulu tidak pernah menghukum mereka dengan melukai fisik. Meski dulu Papa mereka terkenal dengan guru galak.
"Dia itu mulutnya ember !" cetus Sabin lagi. Ia orangnya tidak banyak bicara, kenapa pula bibir anaknya itu menjadi ember bocor, asal nyeletuk aja.
"Iya ! tapi bisa di nasehati dengan baik. Jangan langsung menyakiti fisiknya. Dia masih anak anak" Bilal mengingatkan adik perempuannya itu.
Sabina menunduk
Bilal pun mendekati adik perempuannya itu, mengecup keningnya sambil tangannya mengusap kepala Sabina dari belakang.
"Marah lah kepada anak jika sudah tidak bisa di nasehati. Tapi ada batasannya, jangan melukai fisiknya. Kamu bisa memberinya hukuman yang lain tanpa kamu menyakitinya" ucap Bilal lembut.
"Sabin minta maaf Bang !" Sabina mengarahkan pandangannya ke wajah Bilal.
Bilal mengulas senyumnya dan mengangguk." Apa kamu sudah selesai memasak?. Kakak iparmu sudah lapar."
"Sudah !, ayo Kak !" Sabina tersenyum kemudian menarik tangan Hani, menuntunnya berjalan ke arah meja makan.
"Suami kamu mana?, belum pulang kerja?" tanya Hani.
"Di kamar!" jawab Sabina wajahnya kembali datar.
.
.