
"Je ! kenapa Khanza memanggil Pak bos Ayah ?, kanapa Khanza bisa datang bersama Pak bos ?. Kenapa Khanza bisa dekat dengan Pak bos ?. Apa hubungan kalian ?. Kemarin juga kata orang orang, Pak bos memelukmu saat di kantin, ayo cerita !" cerca Nadia langsung, saat Jean baru mendudukkan tubuhnya kembali, dan mengambil kotak bekalnya dari laci mejanya.
"Kamu ingin mendengar cerita apa dariku ?, aku sendiri pun bingung !" jawab Jean, berdiri kembali dari kursinya.
"Ayo ke kantin ! kamu gak usah pesan makanan lagi. Kamu bisa memakan makanan yang ini!." Jean memberikan kotak makanan yang di berikan Darren kepada Nadia.
"Tidak mungkin 'kan hanya sekali bertemu saja, kalian langsung sedekat itu ?." Nadia masih penasaran, kenapa sahabatnya itu bisa dekat dengan bos besar mereka itu.
Jean diam tidak menjawab, ia pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, membawa bekal dan botol minum di tangannya.
"Je ?" Nadia langsung mengikuti Jean keluar dari ruangan itu.
"Panjang ceritanya Nad !, dan juga apa kamu memintaku bercerita di depan orang banyak !. Ada ada aja kamu !" jawab Jean.
Sampai di kantin, Jean mendudukkan tubjhnya di kursi meja yang menghadap kaca, di ikuti Nadia duduk di sampingnya. Jean pun membuka kotak bekaknya dan langsung melahapnya.
"Je ! ada kartunya !." Nadia membaca tulisan di kartu itu.
📄Aku mencintaimu ! 💗💘
"Je ! ayo cerita, apa sebenarnya hubunganmu dengan Pak Bos?" tanya Nadia, memberikan kartu kecil itu kepada Jean.
Jean menghela napasnya.
.
.
Kilas balik
Sebelas Tahun yang lalu
"Ya ampun ! hujan lagi, kalau seperti ini jualanku tidak akan ada yang membelinya" gumam Jean.
Oe oe oe oe...!
"Dingin ya nak ?, kita cari tempat berteduhnya !" ucap Jean kepada putrinya yang masih bayi.
Khanza kecil pun terus menangis karna tubuhnya sudah basah.
Sambil menggendong Khanza kecil, Jean pun menenteng termos es nya untuk mencari tempat berteduh.
"Kak ! mau beli es !"
Jean langsung mengarahkan pandangannya ke arah bocah SMP yang sudah berdiri basah kuyup di sampingnya. Jean meletakkan termosnya di atas trotoar jalan. Bocah laki laki itu pun langsung membuka tutup termos es itu, dan langsung mengambil dua batang es lilin.
"Ini duitnya Kak !" bocah itu memberikan uang tukaran dua ribu kepada Jean.
"Trimakasih dek !"ucap Jean.
"sama sama kak !" balas bocah itu menatapnya dengan teduh dengan mata memerah, kemudian langsung pergi.
Melihat hujan bertambah deras dan disertai petir. Jean pun memutuskan untuk pulang, karna putrinya terus menangis.
Sampai di rumah, Jean langsung memandikan putrinya dengan air hangat. Kemudian memberinya minyak telon dan pakaian hangat, lalu menyelimutinya.
"Maafin Mama ya nak !" isak Jean, karna sudah membawa putrinya yang baru berusia hitungan bulan itu berjualan dan sampai ikut hujan hujanan.
Jean pun memberi asi Khanza kecil, supaya putrinya itu tertidur, sambil tangannya mengusap usap kepala Khanza kecil. Melihat putrinya sudah tertidur pulas, Jean pun bangkit dari samping bayinya berjalan keluar kamar.
Jean mengambil termos es nya yang masih terletak di ruang tamu rumah kecil itu. Jean harus memasukkan es itu kembali ke dalam Frezer supaya tidak hancur dan besok bisa di jual kembali.
Kertas apa ini ?, batin Jean saat ia menemukan kertas kecil di selipan es lilinnya.
Jean membuka lipatan kertas itu, ia menemukan selembar uang berwarna merah di dalamnya. Dan Jean pun membaca tulisan yang ada di kertas itu.
📄 Tidak bagus jika menolak rejeki, terimalah !
Jean pun memandangi tukaran uang berwarna merah itu. Tak terasa air matanya mengalir deras. Terharu dengan uang di tangannya itu, dan kagum dengan kebaikan bocah SMP itu.
Tuhan ! murahkan rejekinya, karna aku tidak akan bisa membalas kebaikannya. Batin Jean
Jean mendudukkan tubuhnya di lantai. Tangis Jean semakin menjadi, memikirkan nasibnya yang hidup mengharap belas kasihan orang lain. Jean tidak berdaya, ia tidak bisa bekerja, karna memiliki bayi yang masih kecil. Ia hanya bisa membuat Es dan menjualnya sendiri.
Off
.
.
"Itu pertama kalinya aku mengenal Pak Darren. Sepertinya ia sudah lama memperhatikanku tanpa sepengetahuanku. Semenjak saat itu, dia sering memborong es ku jika tak laku atau masih sisa. Dia selalu diam diam memasukkan uang lebih ke dalam termos jualanku" cerita Jean lalu menghela napasnya.
"Aku terpaksa harus menyingkirkan rasa maluku untuk menerima uang bocah itu dulu !" tambah Jean lagi, tersenyum miris.
"Semenjak seseorang menawarkanku bantuan, mengirimku ke kota lain untuk melanjutkan pendidikan. Semenjak itu kami tidak pernah bertemu lagi." Jean menghentikan kalimatnya sebentar, kemudian melanjutkannya lagi."Karna itu aku tak bisa menolaknya saat Pak Darren meminta Khanza untuk menjadi anak angkatnya."
"Nad ! aku gak pantas untuknya Nad !. Usiaku jauh di atasnya, aku juga seorang janda. Dan aku sudah tak berniat untuk menikah lagi Nad !. Cukup sekali aku menderita karna laki laki" jawab Jean.
Nadia menyentuh lembut bahu Jean." Je ! tidak semua laki laki jahat ! ucapnya.
Setelah menghabiskan makanan mereka, Jean dan Nadia pun meninggalkan tempat duduk mereka, berjalan masuk ke dalam musola.
.
.
"Paman ! tante yang tadi pacarnya Paman ?" tanya Syauqi, kemudian menyuapkan ayam goreng krispi ke mulutnya.
"Iya ! cocok gak sama Paman ?" tanya balik Darren tersenyum.
"Itu 'kan mamanya Khanza" ucap Sabina.
"Benaran ?" Arsi membolakan matanya ke arah Khanza.
"Iya !" jawab Khanza.
"Jadi Paman Darren pacaran sama Mama mama !" ujar Nora.
"Dulu juga Ocil pacarannya sama Bapak Bapak !"balas Arsi.
"Kok kamu tau ?" tanya Sabeel.
"Nenek bilang gitu !" jawab Arsi." Gak lihat ! Ocil masih terlihat cantik, dan Kakek sudah terlihat tua" jelasnya." Makanya nenekku tiga. nenek Ocil, nenek Shasa, sama nenek Bunga" tambahnya.
"Ikh ! Arsi ! kok ngomongin Mama sama Papa ?" Nora cemberut dan menyipitkan matanya ke arah Arsi keponakannya.
"Kan ! benaran gitu !" jawab Arsi.
"Gimana ? cocok gak mamanya Khanza sama Om ?" tanya Darren lagi.
"Ayah Darren suka sama Mama ?" tanya Khanza , menatap wajah Darren.
Darren menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Darren pun menarik Khanza untuk duduk di pangkuannya." Bantuain Ayah supaya Mama mau nikah sama Ayah ya !. Nanti kalau Ayah sama Mama Khanza sudah nikah. Kita bisa tinggal satu rumah. Kita bisa bermain bersama sama Mamanya Khanza" bujuknya.
Khanza pun mengangguk anggukkan kepalanya, dengan mata berbinar senang. Darren pun mengacak acak ujung kepala Khanza.
"Nanti pulang kerja, kalian keruangan yang tadi ya !. Ajak Mamanya Khanza untuk mandi bola, nanti kita beli es krim dan jajanan yang banyak !" ujar Darren, mengajak bocah bocah itu bekerja sama.
"Nanti kalau Mama gak mau gimana ?" tanya Khanza.
"He um !" Nora menganggukkan kepalanya, begitu juga yang lainnya.
"Kalian tarik aja masuk ke dalam mobil" jawab Arsenio.
"Okeh !" balas Sabina santai.
"Ya udah ! sekarang cepat kalian habiskan makanan kalian. Biar tempatnya di bersihkan, kalian bisa istirahat" ucap Darren, menurunkan Khanza dari pangkuannya.
Ke enam bocah bocah itu pun segera menghabiskan makanan mereka. Setelah itu mereka membersihkan tangan masih masing ke kamar mandi yang berada di ruangan itu.
"Bang Darren ! Sabin mau tidur !."Sabina langsung naik ke pangkuan Darren yang sudah duduk di kursi kerjanya.
"Mau tidur di pangkuan abang ?." Darren pun mendekap tubuh Sabina dengan posisi menyamping, lalu mengusap usap kepalanya.
"HP Paman mana ?, Arsi mau main game" Arsi menengadahkan tangannya ke arah Darren.
"Itu !" tunjuk Darren ke arah HPnya yang terletak di atas meja.
"Nora tidur dimana bang ?" tanya Nora yang baru keluar dari kamar mandi.
"Sana tidur di sofa !" jawab Darren.
"Khanza Yah ?"
"Di sofa sebelahnya sayang !" jawab Darren.
"Sabeel juga mau main game !"
"Syauqi juga !"
"Kalian berdua, sana pinjam HP Paman Calixto dama Paman Dikhra" suruh Darren kepada anak Orion dan Elang itu.
"Ayo Bang Syauqi !" Sabeel langsung berlari ke arah pintu, yang langsung di ikuti Syauqi dari belakang.
Darren menghela napasnya.'Jean ! aku tau kamu shok dan tidak percaya dengan pernyataan cintaku. Tapi aku akan membuktikannya pelan pelan. Membujukmu ! merayumu ! sampai hatimu menjadi milikku, aku akan melakukan itu Jean !' batin Darren.
.
.