Brother, I Love You

Brother, I Love You
206. Terpaku



Papa Arya berusaha mendudukkan tubuhnya di bantu Mama Bunga untuk bersandar di kepala ranjang. Papa Arya menatap wajah Darren dengan tatapan meneduh. Papa Arya sudah sangat merindukan anaknya itu. Meski mereka tinggal di kota yang sama, tapi Papa Arya tidak bisa meraih anaknya itu. Karna Darren yang terus menjauhinya dan menghindarinya.


Darren yang sudah duduk menghadap Papa Arya, mengambil tangan Papa Arya lalu meletakkannya di atas kepalanya.


"Ampun Pa !" ucap Darren dengan bibir bergetar dan air mata sudah mengalir dari sudut matanya.


"Papa gak mau kamu nanti menyesal Nak !" ucap Papa Arya dengan suara tercekat.


"Demi Allah aku mencintai wanita itu Pah !" balas Darren menangis terisak, menempelkan telapak tangan Papa Arya di pipinya.


"Selama ini aku sudah sering mencoba melupakan wanita itu Pah !. Mencoba ingin mengabaikannya, tapi sosok itu semakin kuat melekat di pikiranku Pah !. Sosok wanita itu tidak mau hilang dari pelupuk mata ini, membayangiku kemana pun aku pergi Pah. Aku harus bagaimana Pa ?" tangis Darren lagi.


"Apa di hatimu sudah tidak ada tempat untuk Papa ?. Sehingga kamu menjauhi Papa ?. Apa wanita itu sudah mengambil seluruh kasih sayangmu Nak ?. Kenapa kamu tidak memikirkan Papa yang merindukanmu ?" isak Papa Arya dengan air mata bercucuran membasahi wajahnya.


"Aku menyayangi Papa !" balas Darren.


"Kembalilah ke rumah ini Nak !, rumah ini sangat sepi tanpa kamu. Kenapa semua meninggalkan Papa, setelah anak anak Papa sudah besar ?" tangis Papa Arya lagi.


Jelas rumah itu kembali terasa sunyi, karna hanya Reyhan dan Sabina yang tinggal di rumah itu menemani mereka.


"Iya Pa ! Darren akan kembali tinggal di rumah ini. Tapi Pa ! biarkan Darren mencintai Jean Pa !. Darren janji tidak akan mengabaikan Papa lagi. Darren akan menjadi anak yang baik Pa !" bujuk Darren memeluk Papa Arya sambil menangis. Darren dapat merasakan, kalau tubuh Papa Arya terasa hangat.


Papa Arya pun membalas pelukan Darren dan mengusap kepala anak yang sudah sepuluh Tahun tidak dapat ia sentuh itu.


"Bawalah wanita itu ke sini nak !" ucap Papa Arya.


"Trimakasih Pa !" tangis Darren meraung raung semakin mengencangkan pelukannya ke tubuh Papa Arya.


"Sabin pikir selama ini bang Darren anak angkat !" celetuk Sabina tiba tiba.


"Enak aja ! bilangin anak mama yang imut imut menggemaskan itu anak angkat !" gemas Mama Bunga, mencubit pelan lengan Sabina.


"Bang Darren jarang datang ke rumah !. Kalau jemput Sabin pulang sekolah. Bang Darren hanya mengantar sampai di gerbang aja" ucap Sabina lagi.


"Apa Sabin gak bisa lihat ! wajah bang Darrennya ada mirip miripnya dengan Papa ?" kesal Mama Bunga.


"Bang Darren banyak miripnya sama Mama ! jelek !" jawab Sabina lagi.


"Jelek jelek gini, Papa mu klepek klepek sama Mama !" balas Mama Bunga.


"Kaya ikan kehabisan air ya Ma ?" tanya polos Sabina..


"Ikan itu mengglepar glepar, bukan klepek klepek !" jawab Mama Bunga.


"Apa bedanya Ma ?"


Mama Bunga terdiam, karna tidak bisa menjelaskan perbedaan mengglepar glepar dengan klepek klepek.


"Mama gak tau !, tanya Papa aja !" jawab Mama Bunga setelah berpikir sejenak.


Sabina pun menghela napasnya.


Papa Arya dan Darren pun melepas pelukan mereka, setelah merasa puas melepas rindu.


"Ternyata anak Papa sudah besar !" ucap Papa Arya memandang tubuh Darren yang sudah nampak gagah dan juga tampan bin unyu seperti istrinya.


"Sekali lagi maafin Darren Pa ! sudah menjauhi Papa selama ini !" ucap Darren lagi mengusap sisa sisa air matannya dari pipinya.


"Papa juga minta maaf sudah terlalu egois, tidak memikirkan perasaan anak Papa. Papa pikir selama ini anak Papa belum besar. Papa pikir anak Papa masih lah anak kecil, ternyata Papa salah."


"Sekarang Papa berobat ke Rumah Sakit ya ! biar Papa sembuh !" bujuk Darren.


Papa Arya menganggukkan kepalanya. Mama Bunga dan Sabina mengulas senyum mereka, karna raja dikeluarga itu sudah mau di ajak berobat. Ternyata sang raja sakit karna merindukan anaknya. Ingin mendapat perhatian dari anak ke limanya itu. Padahal, sebelumnya Orion dan Elang sudah membujuk sang Papa untuk berobat, namun pria tua itu menolaknya.


Darren pun membantu sang Papa turun dari atas kasur, memapahnya berjalan keluar dari dalam kamar,di ikuti Mama bunga dan Sabina dari belakang.


Sampai di halaman rumah, Darren membantu Papa Arya masuk ke dalam mobil duduk di kursi penumpang depan. Mama Bunga dan Sabina duduk di kursi penumpang belakang. Darren menyusul masuk ke dalam mobil dan langsung melajukannya ke Rumah Sakit.


.


.


Waktu berlalu, kini Papa Arya sudah berada di ruang rawat, terbaring lemah dengan jarum infus tertancap di tangan kirinya.


Mama Bunga yang duduk di samping Papa Arya, dari tadi tidak melepas tangan Papa Arya, dan sebelah tangannya terus mengusap usap kepala yang sudah banyak di tumbuhi rambut putih itu.


"Sayang ! ayo baring, nanti kamu bisa capek !" ucap Papa Arya lembut kepada istrinya.


Mama Bunga pun langsung menuruti permintaan suaminya. Mama Bunga yang sudah berbaring di samping Papa Arya, langsung memeluk Papa Arya, meletakkan kepalanya di dadanya.


Papa Arya pun langsung membalas pelukan istrinya itu, mengangkat satu tangannya, mengusap kepalanya dan mengecupnya dengan sayang.


"Kamu memang menyukai yang nakal nakal, tapi kenapa kamu sering sakit kepala dengan kenakalan mereka ?" tanya Mama Bunga, memain mainkan jari telunjuknya di dada Papa Arya.


"Tapi kepalaku lebih sakit saat menghadapi kenakalanmu dulu !" jawab Papa Arya, tersenyum mengingat tingkah aneh murid teristimewanya itu."Sekaligus membuatku gregetan dan ingin terus menggigitmu !"lanjutnya.


Tok tok tok !


Pintu ruang perawatan itu pun terbuka setelah di ketok terlebih dahulu.


"Papa ! Mama ! Sabin bawain makanan kesukaan Papa sama Mama !" seru Sabina berlari menenteng plastik berisi kotak makanan ke arah brankar.


Sabina meletakkan plastik ditangannya di atas meja nakas dan langsung naik ke atas brankar, berbaring di samping Papa Arya.


"Tuan putri beli makanan apa untuk Papa ?." Papa Arya mengecup ujung kepala Sabina.


"Sop ayam untuk Papa, Batagor untuk Mama !"jawab Sabina.


"Baik banget putri mama !" puji Mama Bunga, menarik gemas hidung mancung Sabina.


"Sakit Ma !!!" teriak Sabina tiba tiba.


"Kenapa suka sekali teriak sih sayang ?" gemas Papa Arya ikut ikutan menarik hidung Sabina.


Sabina tidak menjawab, ia pun mengerucutkan bibirnya sambil mengelus elus hidungnya.


"Abang Darrennya mana ?" tanya Mama Bunga.


"Bang Darren di suruh Om Aldo bantuin ngangkatin korban kecelakaan" jawab Sabina, melingkarkan tangannya ke perut Papa Arya.


"Oh !"Mama Bunga menganggukkan kepalanya.


.


.


Di lantai bawah Rumah Sakit tepatnya di ruangan UGD. Darren diam terpaku melihat korban kecelakaan yang terbaring lemah tak sadarkan diri di atas dua brankar. Tanpa sadar air matanya mengalir deras dari sudut matanya. Melihat wanita yang di cintainya berdarah darah di sekujur tubuhnya bersama seorang bocah berusia sebelasan Tahun.


"Darren !" tegur Dokter Aldo.


Darren langsung menoleh ke arah Dokter Aldo yang akan menangani pasien kecelakaan yang di pandanginya.


"Apa kamu mengenal mereka ?" tanya Dokter Aldo, karna melihat Darren menangis dan seperti orang linglung.


Darren menganggukkan kepalanya tanpa berbicara.


"Duduklah di sana ! aku akan menangani mereka !" Dokter Aldo menunjuk meja Dokter yang ada di ruangan UGD.


"Tolong selamatkan mereka Om !. Aku mencintai wanita itu !" lirih Darren.


Dokter Aldo menajamkan pandangannya ke wajah Darren dengan kening mengerut. Pantas saja dia shok saat mengangkat tubuh korban ini !, batin Dokter Aldo.


Dokter Aldo tidak bicara lagi, ia pun segera memeriksa pasien kecelakaan itu dan menyuruh perawat membersihkan luka lukanya.


Darren pun mendudukkan tubuhnya yang lemah di kursi Dokter ruangan itu. Pandangannya tidak lepas dari tubuh Jean dan Khanza di atas brankar.


"Khanza !"


"Jean !" Darren langsung berdiri dari tempat duduknya, berjalan ke arah brankar, mendekati Jean yang sadarkan diri.


"Khanza !" gumam Jean lagi.


"Jean !" lirih Darren, mengambil tangan Jean lalu mengecupnya.


"Khanza !" gumam Jean lagi.


"Jean ! bangun sayang !" ucap Darren menangis.


Jean pun membuka kelopak matanya perlahan, kemudian memejamkannya lagi.


"Ayo sayang ! buka matanmu !" ucap Darren lagi.


Kembali Jean membuka matanya, dan menuntupnya kembali."Pak Darren ! tolong jaga putriku !" ucapnya pelan dan langsung tak sadarkan diri lagi.


"Om ! kenapa dia pingsan lagi ?" tanya Darren kepada Dokter Aldo yang masih memeriksa keadaan pasien itu.


Dokter Aldo menghela napasanya.


.


.