Brother, I Love You

Brother, I Love You
116. Aku membencimu bang Orion



"Halo !"


"Non Queen ! Pak Orion di bawa ke rumah sakit !. Pak Orion mencoba bunuh diri dengan memotong urat nadi tangannya" ucap seorang wanita dari sebrang telephon.


"Apa ?"


Queen tidak percaya dengan apa yang di katakan pembantu di rumah orang tuanya.


"Iya Non !"


Handphon yang di tangan Queen pun terjatuh dari tangannya. Begitu juga air matanya langsung luruh.


"Ada apa Queen ?, siapa yang meneleponmu ?" tanya Sirin.


"Pembantu di rumah, katanya bang Orion di bawa ke rumah sakit, karna mencoba bunuh diri"jawab Queen.


"Ha ! kok bisa bang Orion bunuh diri ?"kaget Sirin, tidak percaya.


"Karna aku mebolaknya untuk berbaikan !" jawab Queen, menghapus air matanya, sambil turun dari atas tempat tidur.


"Momy !" panggil Boy" Kenapa Momy menangis ?."


"Sini sayang !,kita pulang sekarang." Queen meraih Boy dari atas kasur, dan menggendongnya.


"Queen ! biar aku aja yang mengendong Boy, nanti kamu bisa kecapean." Diana mengambil Boy dari gendongan Queen, membawanya keluar kamar, di ikuti Queen dan Sirin. Mereka akan menyusul Orion ke rumah sakit.


"Sirin ! coba tanyakan Om bagaimana keadaan bang Orion !" ujar Diana kepada Sirin.


"Oh iya ! aku lupa" balas Sirin, mengeluarkan handphon dari tas kecilnya.


.


.


Di rumah sakit


"Apa kamu sudah gila Orion ? Ha !!!" marah Dokter Aldo kepada Orion yang terbaring di sofa ruangannya. Sambil mengobati pergelangan tangan Orion yang terluka sayatan.


Sampai di rumah sakit di bawa salah satu supir di rumah orang tua Queen tadi. Dokter Aldo langsung membawa Orion ke ruangannya. Untuk mengihindari tanggapan buruk pengunjung rumah sakit. Jangan sampai terendus berita, anak dari pemilik sekolah Harapan grup, mencoba bunuh diri karna putus asa.


"Queen sangat keras kepala !, aku sudah gak tau bagaimana cara membujuknya lagi" jawab Orion.


"Kenapa gak kepalamu saja kamu penggal sekalian ?" geram Dokter Aldo.


"Aku belum mau mati Om !" jawab Orion santai, meski wajahnya sudah nampak mulai pucat, karna banyak mengeluarkan darah.


"Kamu itu ! pikirannya sama pendeknya dengan ibumu. Apa kamu tidak memikirkan resiko yang kamu lakukan ?. Bagaimana kalau kamu tidak bisa di selamatkan ?. Apa kamu ingin anak anakmu hidup tanpa Papa ?. Ya ampun Orion !" desah Dokter Aldo.


Setelah selesai membungkus luka Orion dengan kain kasa, Dokter Aldo pun mengambil handphonnya yang berbunyi dari tadi di atas meja kerjanya, dan langsung mendial tombol hijau di HPNya.


"Pa ! bagaimana keadaan bang Orion ?" tanya Sirin langsug dari sembrang telepon..


"Dia baik baik saja !" jawab Dokter Aldo.


"Aku, Queen, Boy dan Mama kecil mau kesana !" ucap Sirin.


"Buat apa ?, kalian tidak perlu menjenguk orang bodoh ini !"Dokter Aldo menatap sinis Orion. Dan Karna memamg tidak ada yang perlu di kawatirkan dari pasien bodohnya itu.


"Queen kawatir Pa, kami sudah menuju kesana!" ucap Sirin lagi.


"Terserah kalian saja !, ya sudah kalau begitu, Papa harus melakukan transfusi darah dulu sama si bodoh ini !" ujar Dokter Aldo, dan langsung memutuskan sambungan telephonnya sepihak. Karna melihat tubuh Orion yang sudah melemah karna kekurangan darah.


"Apa kamu tidak memikirkan perasaan Ibumu, jika dia mendengar kabar anaknya mencoba bunuh diri ?. Sudah tau Ibumu memiliki riwayat defresi, masih saja kamu berbuat yang aneh aneh" omel Dokter Aldo, memasang jarum infus ke tangan kanan Orion. Kemudian di kaki bagian kirinya, untuk memasukkan darah ke tubuhnya.


"Om ! masa iya aku di rawat di sofa ini ?. Ini rumah sakit pelit apa miskin ?" cibir Orion.


"Kamu pindah saja sendiri ke kamar rawat" geram Dokter Aldo, menekan jarum yang sudah di tusukkannya ke tubuh Orion.


"Sakit Om !"pekik Orion.


"Sukur Om membawamu ke ruangan Om !, jadi tidak ada yang tau kalau kamu pasien bunuh diri !. Apa kamu tidak berpikir ?, kalau ada yang mengetahuinya, bisa rusak reputasimu dan orang tuamu sebagai pemilik sekolah.. bodoh !" gemas Dokter Aldo.


Rasanya Dokter Aldo ingin membiarkan bocah di depannya itu mati perlahan karna kehabisan darah.


"Apa pun akan Orion lakukan asal Queen mau kembali tinggal bersamaku" jawab Orion.


Bukh !


"Aw !! sakit Om !!" keluh Orion karna Dokter Aldo meninju perutnya.


"Dasar bodoh !" gemas Dokter Aldo. Kemudian Dokter Aldo pun menjauhi Orion, kembali ke meja kerjanya.


Tak lama kemudian, terdengar ada yang mengetok pintu dari luar. Setelah Dokter Aldo menyuruh masuk, pintu itu pun langsung terbuka.


"Pa ! bang Orion mana ?" tanya Sirin melangkahkan kakinya masuk ke ruangan khusus Dokter Aldo, di ikuti Queen, Boy dan Diana dari belakang.


Ketiga gadis remaja itu langsung mengarahkan pandangan mereka ke arah sofa. Disana terlihat Orion sudah terbaring lemah, di tusuk jarum infus di tangan dan di kaki. Dan pergelangan tangan kirinya di balut dengan perban.


"Daddy !" panggil Boy, meminta turun dari gendongan Diana. Setelah Diana menurunkannya, Boy langsung berlari ke arah Orion, dan memeluknya.


"Apa Daddy sakit lagi ?" tanya Boy menangis.


"Sakit sedikit aja Boy !, Daddy gak apa apa !" jawab Orion, mengusap kepala Boy dengan tangannya yang di tusuk jarum infus.


Queen melangkahkan kakinya perlahan mendekati Orion, dengan pandangan marah, sedih dan kawatir.


Plak !!!


"Apa tidak ada cara yang lebih menstrim lagi selain menyayat tanganmu sendiri bang Orion ?" Queen berbicara dengan merapatkan giginya, dan menekan nada setiap katanya.


Semua terlonjak kaget, dan terdiam, melihat Queen yang menampar kuat pipi Orion. Sampai Orion sendiri membeku, sambil memegangi pipinya. Orion tidak menyangka, Queen akan menamparnya.


"Aku membencimu bang Orion !" lirih Queen.


"Queen !"lirih Orion menggeleng gelengkan kepalanya. Memandang teduh ke arah Queen yang berdiri di sampingnya.


"Kenapa bang Orion melakukan itu !!? Ha !!!. Dari dulu bang Orion ingin selalu meninggalkanku !!!. Dari dulu bang Orion ingin selalu lari dari masalah !!!" teriak Queen marah.


"Ya !!! abang ingin pergi meninggalkanmu selamanya Queen !!!. Kamu selalu dengan keinginanmu !!!, kemauanmu !!!. Dulu saja kamu selalau memaksa abang untuk jadi milikmu !!!?. Kenapa sekarang tidak ! Queen !!!. Kenapa sekarang kamu tidak ingin memiliki abang Queen !!?. Kenapa kamu tidak bisa menerima abang apa adanya Queen !!!. Bukankah kamu mencintai abang !!?. Kenapa kamu tidak bisa menerima kekurangan abang Queen !!?. Lantas buat apa abang hidup lagi !!?. Jika orang yang mencintai abang tidak bisa menerima abang lagi !!?. Kamu hanya memikirkan perasaanmu saja Queen !!!. Kamu tidak pernah memikirkan perasaan abang Queen !!!. Kamu hanya memikirkan rasa kecewamu Queen !!!, tanpa memikirkan aku yang hancur !!!" cerca Orion dengan amarahnya.


Queen terdiam membeku, Queen kaget, seumur hidup ini pertama kalinya Orion meninggikan suara kepadanya.


"Abang tanya sekarang sama kamu Queen, cukup sekali abang bertanya. Abang tidak akan menanyakan ini dua kali apa lagi ketiga kali dan seterusnya." Orion menjeda kalimatnya, kemudian mangajukan pertanyaan kepada Queen." Masih maukah kamu menerima abang Queen?, bisakah kamu menerima abang bersama Boy di dalam hatimu Queen. Masihkah kamu mau, kita membina rumah tangga kita Queen ?."


Orion menghela napas beratnya, kemudian berbicara lagi." Abang sangat mencintaimu Queen !, tapi jika kamu tidak mendapat kebahagiaan hidup bersama abang lagi. Apa yang bisa abang lakukan Queen ?. Abang hanya bisa pasrah dengan takdir ini. Takdir menjadi orang yang ternoda dengan dosa. Abang dan Boy tidak akan mengusik hidupmu lagi Queen. Abang juga ingin membuatmu bahagia Queen. Tapi masa lalu abang sudah mengambil semua kebahagiaanmu. Abang minta maaf sudah membuatmu kecewa dan terluka Queen." Orion berbicara dengan bibir bergetar dan berurai air mata.


Dada Orion sesak dan sakit, Sekarang ! apakah dia akan mengakhiri pernikahannya dengan Queen. Pernikahan yang sudah berusia tujuh Tahun lebih. Pernikahan yang mati matian mereka pertahankan. Apakah harus berakhir ?.Jika cinta sudah tak dapat di satukan, apa yang bisa dilakukan ?,selain mengiklaskannya.


Orion yang sempat mendudukkan tubuhnya lagi, membaringkan tubuhnya lagi di sofa, dan memejamkan matanya. Orion pasrah !


Queen menangis terisak, dan menjatuhkan tubuhnya di lantai. Karna masalah rumah tangga mereka semakin runyam.


Kenapa menjadi seperti ini ?, Batin Queen.


Dokter Aldo mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menyasikan pertengkaran anak anak sahabatnya itu. Ia pun baru bercerai dengan Shasa, bagaimana bisa ia menasehati keduanya.


Jika hati sama sama sudah terluka, mempertahankan hubungan itu adalah hal yang berat. Bertahan berarti memilih luka, mundur berarti meninggalkan cinta.


"Daddy ! Momy !" lirih Boy, menangis ketakukan, melihat pertengkaran kedua orang tuanya.


Orion yang tersadar langsung membuka matanya. Karna emosi, ia melupakan keberadaan Boy yang berada di sampingnya. Orion pun meraih tubuh Boy, membawanya ke dalam pelukannya.


Orion pun mendudukkan tubuhnya, kemudian menghela napasnya melihat Queen menangis terisak duduk di lantai, berada di pelukan Sirin dan Diana.


Orion mencabut infus darah di kakinya, kemudian menurunkan kakinya ke lantai. Melangkahkan kakinya perlahan mendekati ketiga remaja yang berpelukan itu. Membawa Boy di gendongannya. Orion menyentuh pundak Sirin, supaya Sirin dan Diana melepas pelukan mereka dari tubuh Queen.


"Abang minta maaf Queen !" ucap Orion meraih tubuh Queen, dan langsung mendekapnya. Orion pun mencium ujung kepala Queen dengan bibir bergetar, meyesal sudah meneriaki gadis kecil yang ia sayangi dari bayi itu.


"Abang minta maaf sayang !, abang sangat mencintaimu adikku !. Abang sangat menyayangimu !" lirih Orion.


"Abang dan Boy sangat membutuhkanmu Queen !. Kami menyayangimu Queen. Hidup kami akan hancur dan tidak ada artinya tanpa kamu Queen. Abang mohon Queen !, terimalah abang dan Boy Queen. Abang sadar Queen, abang sudah melakukan kesalahan besar. Sudah tidak jujur padamu. Abang melakukan itu, karna abang takut kehilanganmu Queen. Terimalah abang yang berlumur dosa ini Queen. Jangan tinggalin abang Queen" bujuk Orion.


Orion pun menyibak rambut Queen yang berantakan menutupi wajahnya ke belakang. Setelah menghapus cairan bening yang membasahi pipi mulus istri kecilnya itu. Orion pun menempelkan benda kenyal miliknya di kenig Queen, menciumnya agak lama.


"Momy ! apa Boy anak yang nakal ?" tanya polos Boy. Refleks Queen mengelihkan pandangannya ke arah Boy yang berada di pangkuan Orion sebelah kiri.


Boy mengulurkan tangan mungilnya, menghapus air mata Queen, yang masih tidak berhenti mengalir di pipinya.


"I love you Mom !" ucap Boy. Bibirnya bergetar dan menekuk kebawah. Mata Boy merah dan berair, begitu juga pipi dan ujung hidungnya.


Air mata Queen semakin mengalir deras, kasihan melihat bocah yang menganggapnya wanita yang sudah melahirkannya. Queen menghamburkan tubuhnya memeluk kedua laki laki beda generasi itu.


"Momy juga mencintai kalian !, maafin Momy !" isak tangis Queen.


Meski ada rasa kecewa dan terluka, nyatanya rasa cinta itu lebih unggul, bisa mengalahkan kedua rasa itu.


Orion mengeratkan pelukannya ke tubuh Queen, dan kembali mencium ujung kepala adik kesayangannya itu, Adik yang sudah menjadi istrinya itu semenjak tujuh Tahun lebih yang lalu. Adik yang mencintainya sejah lama. Adiknya yang licik dan keras kepala. Adik yang memaksanya menjadi miliknya.


Bagaimana bisa mereka berpisah hanya karna di terpa badai kecil. Sedangkan cinta sudah tumbuh subur di hati mereka sejak kedua wajah itu bertatapan untuk pertama kali, sejak Queen lahir ke Dunia ini, mereka sudah di ikat tali cinta, lewat kasih sayang yang tumbuh.


Janganlah mencintai hamba Tuhan yang lain, terlalu berlebihan. Karna jika kamu mencintai berlebihan, kamu pasti akan merasakan kecewa yang mendalam. Karna tidak akan ada manusia yang sempurna.


.


.


# hayo ! mana like dan komennya ?.