Brother, I Love You

Brother, I Love You
215.Kabar duka



Setelah selesai berwudu di kamar mandi. Reyhan mengangkat tubuh Yumna kelua kamar mandi, Karna kepala Yumna yang terasa pusing. Reyhan pun mendudukkan Yumna di atas sajadah yang sudah di siapkannya terlebih dahulu. Kemudian mamasangkan mukena ke tubuh Yumna.


"Selesai shalat kamu harus berobat, jangan membantah Habib lagi" ucap Reyhan lembut, namun terdengar tegas di telinga Yumna.


Yumna mengangguk pelan, karna merasa tubuhnya semakin lemah dan kepalanya tambah pusing, dan perutnya pun terasa mual, meski tak sampai muntah.


Reyhan pun berdiri di atas sajadah yang berada di depan bagian kiri Yumna. Setelah Reyhan mengucap takbir, Yumna pun melakukannya di belakang dengan suara hanya dia yang bisa mendengar sendiri.


Selesai melaksanakan Shalat ashar sore itu, Yumna pun mengulurkan tangannya ke arah Reyhan, untuk menyalamnya. Yang langsung di sambut Reyhan, dan mengecup keningnya.


Brukk !


Tiba tiba tubuh Yumna ambruh ke pangkuan Reyhan.


"Sayang !" Panggil Reyhan kawatir.


Reyhan pun langsung mengangkat tubuh Yumna, meletakkannya di atas tempat tidur. Gegas Reyhan langsung meraih handphonnya yang terletak di atas meja nakas. Menelepon pengurus villa itu untuk meminta tolong, memanggil Dokter tau Bidan yang bisa memeriksa keadaan Yumna.


Setelah selesai menelepon, Reyhan meletakkan handphonnya kembali di atas nakas. Reyhan mengulurkan tangannya membelai wajah Yumna. Wajah istrinya itu nampak pucat, karna akhir akhir ini kurang berselera makan. Reyhan pun meraih minyak kayu putih di atas meja nakas. Setelah membuka tutupnya, Reyhan menumpakkannya ke telapak tangannya, lalu menggosok gosoknya, kemudian mengolesnya ke kening dan juga leher Yumna. Reyhan pun megoles ke perutnya, kemudian memijat mijat selah jari jempo dan telunjuk Yumna.


"Almira ! bangun sayang !" panggil Reyhan, berusaha menyadarkan Yumna sebelum bidan atau Dokter yang ia pesan datang.


Reyhan pun membungkukkan tubuhnya, mengecup kening Yumna dengan sayang. Tak terasa air mata Reyhan menetes, sedih melihat istrinya sakit. Sakit gara gara terlalu bersedih memikirkan nasib mereka yang belum beruntung mendapatkan keturunan. Terlebih, dirinyalah penyebab hati istrinya itu selalu gundah. Namun, istrinya itu masih setia mendampinginya.


"Maaf sayang ! aku sudah membuatmu bersedih sampai sakit seperti ini. Semoga rasa sakitmu ini menjadi penghapus dosa dosamu istriku. Semoga setelah ini Tuhan menabahkan hatimu. Dan doa dan harapan kita terkabul" lirih Reyhan, lalu mengusap kepala Yumna yang masih terbalut mukena.


trrrrut trrrrut...!


Reyhan mengalihkan pandangannya ke arah meja nakas, dan langsung meraih handphon Yumna yang bergetar. Dan langsung menerima panggilan telepon dari salah satu saudara Yumna.


"Assalamu alaikum Bang Daanish !"sapa Reyhan.


"Walaikum salam !" balas dari sebrang telepon.


"Iya Bang ! ada apa ?" tanya Reyhan.


"Yumnanya mana ?" lirih dari sebrang telepon.


"Ini bang ! lagi tidur !" jawab Reyhan berbohong, memandang wajah Yumna dengan intens.


"Ada apa bang ?, aku akan menyampaikannya !" tanya Reyhan lagi. Jantungnya seketika berdetak kencang, mendengar isak tangis dari Abang iparnya itu.


"Mama barusan meninggal !" ucap Daanish.


Duarr !


Bagai di sambar pertir, cairan bening langsung mengalir dari sudut mata Reyhan. Reyhan terdiam memandangi wajah istrinya yang belum sadar.


"Cepatlah bawa Yumna ke sini.Mama akan di makamkan besok. Kamu akan menunggunya" tangis Daanish lagi.


"Innalillahi wainna ilaihi rozi'un !" ucap Reyhan tersadar dari lamunannya setelah mendengar suara abang iparnya lagi.


"Iya bang !" jawab Reyhan.


Setelah mengucap salam, Reyhan langsung mematikan sambungan teleponnya. Reyhan bergegas menyusun barang barang mereka, Reyhan hanya akan membawa yang perlu saja. Karna villa itu sudah di sewanya selama tiga Bulan. Mereka bisa kembali ke villa itu lagi untuk mengambil barang barang mereka nanti.


Setelah selesai, Reyhan mengambil handponnya untuk menelepon sepupu Yumna yang berada di kampung itu, untuk meminta tolong menyetir mobilnya. mengantar mereka ke bandara yang lebih dekat dari kampung itu, untuk terbang ke kota B.


Setelah selesai menelepon Reyhan langsung memasukkan handphonnya ke dalam tas kecilnya. Reyhan mendekati Yumna, dan berusaha membangunkannya kembali.


"Sayang ! bangun !" lirih Reyhan, entah bagaimana caranya ia menyampaikan kabar duka itu kepada istrinya yang lagi sakit.


"Assalamu alaikum !"


Reyhan langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu kamar yang di buka dari luar.


"Walaikum salam !" balas Reyhan, kepada adik sepupu Yumna yang datang bersama seorang bidan.


"Yumna kenapa Bang ?" laki laki sepupu Yumna itu melangkahkan kakinya mendekati ranjang.


"Selesai shalat, dia tiba tiba pingsan. Memang beberapa hari ini, dia tidak berselera makan dan sering pusing. Tapi dia tidak mau di ajak berobat" jelas Reyhan.


Bidan yang di pesan Reyhan tadi pun langsung memeriksa Yumna.


Reyhan diam dan mengerutkan keningnya, sambil berpikir, mengingat ingat tanggal bulanan istrinya itu.


"Menurut pemeriksaan saya, istri Bapak hamil"ucap Bidan itu.


"Apa Bu ? Ha..hamil ?"


Reyhan menggeleng gelengkan kepalanya, sepertinya ia salah dengar apa yang di katakan Bidan itu.


"Tapi istriku belum telat datang Bulan, dan bahkan masih ada lima hari lagi"ucap Reyhan. Tidak berani berharap, jika yang di katakan Bidan itu benar.


"Untuk memastikannya, Bapak bisa membawa istri Bapak ke Dokter kandungan. Dan kita bisa melakukan tes awal dengan menggunakan tespeck. Tapi kita harus menyadarkan istri Bapak dulu." jelas Bidan itu


Bidan itu pun, mengambil kapas dan alkohol dari dalam tasnya. Setelah menuangkan sedikit ke atas kapas, Bidan itu menciumkannya ke hidung Yumna.


"Sayang ! bangun !" panggil Reyhan yang duduk di samping Yumna di atas kasur.


Yumna mengerjapkan matanya, setelah tersadar dari pingsannya. Yumna langsung menangis terisak. Reyhan pun menarik Yumna ke atas pangkuannya, memeluk istrinya itu sambil mengusap usap kepalanya. Entah apa yang membuat istrinya itu tiba tiba menangis, sepertinya batin istrinya itu merasakan kepergian Momy tercintanya.


"Kenapa menangis sayang ? Hm..!" lirih Reyhan lembut. Tenggorokannya terasa sakit saat berbicara, seperti ada yang mengganjal.


Yumna menggeleng gelengkan kepalanya, ia juga tidak tau apa yang membuat hatinya bersedih, sampai menangis.


"Ayo ke kamar mandi, kata bidannya kamu haris di periksa kencingnya. Supaya Bidannya tau kamu sakit apa ?" ucap Reyhan lembut, menghapus air mata Yumna dari pipinya. Reyhan mengecup kening Yumna, lalu membawanya turun dari atas tempat tidur, membawanya masuk ke kamar mandi.


Setelah selesai, Reyhan membawa Yumna kembali keluar. Reyhan kembali membaringkan Yumna ke atas tempat tidur. Reyhan menghela napasnya, ia bingung bagaimana caranya menyampaikan kabar duka itu.


"Sayang !" lirih Reyhan, ia harus tetap menyampaikan kabar meninggalnya Momy dari istrinya itu."Tabahkan hatimu ya.., Momy sudah pergi !" ucap Reyhan pelan.


"Momy !" ucap Yumna pelan.


"Iya sayang !, saat kamu pingsa, Bang Daanish mengabarinya" Reyhan menghapus air mata Yumna yang mengalir semakin deras di pipinya.


"Innalillahi wainna ilahi rozi'un !" gumam Yumna, langsung tak sadarkan diri lagi.


"Sayang !" lirih Reyhan terisak.


"Ayo bang Reyhan, barang barang kalian sudah kumasukkan ke dalam mobil. Kita harus segera berangkat, supaya bisa mengejar pesawat" ucap laki laki yang berusia dua puluhan itu.


"Pak ! ini garisnya dua ya !, itu artinya istri Bapak positif hamil. Untuk lebih jelasnya, nanti kalian konsultasikan ke dokter spesialis kandungan" ucap Bidan yang baru keluar dari kamar mandi itu. Dan memberikan tes pecknya kepada Reyhan.


Reyhan semakin menangis terisak, melihat tes peck bergaris dua berwarna merah di tangannya. Kabar duka itu, langsung di bayar kontan dengan kabar bahagia. Entah ! Reyhan tidak bisa berkata kata lagi selain mengucap syukur dalam hatinya. Reyhan menjatuhkan tubuhnya dari atas kasur, dan langsung melakukan sujud syukur. Tangis Reyhan semakin pecah, bercampur sedih dan bahagia.


Sepupu Yumna itu pun menyentuh bahu Reyhan. Untuk menyadarkan Reyhan dari rasa haru dan sedihnya.


"Ayo bang Reyhan, perjalanan ke bandara itu sangat jauh. Kita harus segera berangkat" ucap laki laki itu. Yang sebenarnya juga ikut bersedih, karna mendengar kabar meninggalnya sepupu dari Ayahnya itu.


Reyhan pun menganggukkan kepalanya dan menghapus air matanya. Reyhan berdiri dari lantai, dan langsung mengangkat tubuh Yumna yang tak sadarkan diri, membawanya keluar kamar. Reyhan harus membawa Yumna ke kota B saat itu juga. Supaya istrinya itu bisa melihat wajah Momy nya untuk yang terakhir kalinya.


Di dalam mobil, Reyhan terus mencium kening Yumna yang terbaring di pangkauannya. Reyhan membiarkan istrinya itu istirahat sebentar, nanti ia baru membangunkannya kembali.


.


.


"Waktu berlalu


Esok harinya, menjelang siang, barulah Reyhan dan Yumna sampai di kota B. Reyhan turun dari dalam mobil yang menjemput mereka ke bandara. Kemudian menggendong Yumna dari dalam mobil, karna istrinya itu sakit, dan tidak punya tenaga untuk berjalan. Reyhan membawa istrinya itu masuk ke dalam rumah mertuanya. Tentu mereka tidak lepas dari pandangan para tamu yang datang berjiarah. Melihat Yumna di gendong dan sedang menangis.


Reyhan pun mendudukkan Yumna di samping jasat sang Momy. Membiarkan Yumna melepas kasih sayangnya untuk yang terakhir kalinya.


Brukk !


Reyhan langsung mengambil Yumna yang pingsan lagi dari jasat Ibunya. Membawanya keluar dari kerumunan, supaya tidak menjadi bahan tontonan. Reyhan pun membawa Yumna masuk ke salah satu kamar di lantai bawah rumah itu.


.


.


#Ayo dong ! mana semangatnya buat akiuh?.